NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Walau Braja hanya menanggapi dengan anggukan kecil dan sesekali suara gagap yang tak jelas, Laras tak henti-hentinya berbicara. Ia senang sekali memiliki pendengar yang tampak begitu antusias—yang selalu menatapnya dengan mata berbinar dan senyum lebar setiap ia bercerita.

Mereka duduk di atas sebuah batu besar di tepi hutan, di bawah bayang-bayang pohon yang menjulang tinggi.

“Kau tahu, Braja,” ujar Laras riang, mengayun-ayunkan kakinya. “Ayahku itu seorang pendekar. Ia punya pedang keramat yang sangat sakti.”

Braja mengangguk pelan.

“Tapi kata Ayah, pedang itu sebenarnya tidak sakti. Orang yang memakainya lah yang membuat pedang itu jadi hebat.” Laras tersenyum bangga. “Ayah juga tak pernah takut kalau pedangnya dicuri. Katanya, ia bisa membuat yang lebih bagus lagi.”

Ia menepuk dadanya kecil.

“Karena Ayah bukan hanya pendekar. Ia juga empu pembuat keris, kujang, dan pedang. Hebat, kan?”

Braja kembali tersenyum dan mengangguk-angguk, seolah benar-benar mengerti.

Laras menoleh ke arah langit.

“Eh… hari sudah hampir sore.” Ia berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku harus pulang. Besok kita bertemu lagi, ya?”

Namun belum sempat Braja memberi reaksi, terdengar suara derap kuda dari kejauhan.

Dari ujung ladang sebelah utara, tampak seorang pria muda memacu kudanya menuju arah mereka.

Laras menyipitkan mata, lalu tersenyum.

“Itu Kakang!”

Penunggang kuda itu adalah Jatisangkar. Tampaknya ia datang menjemput Laras yang terlalu lama bermain di ladang bunga.

Namun ketika jarak mereka semakin dekat, wajah Jatisangkar berubah tegang.

Ia melihat adiknya duduk bersama bocah berkulit kehijauan, berambut kusut, tanpa baju.

Kecurigaan langsung menyambar pikirannya.

Siluman.

Tanpa ragu ia melompat turun dari kudanya. Tangannya cepat meraih sebongkah kayu kering di tanah, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah Braja.

“Wusss!”

Braja yang masih berdiri di dekat batu itu bergerak sigap. Dengan satu ayunan tangan, ia menangkis bongkahan kayu tersebut.

“Brakkk!”

Kayu itu hancur berkeping-keping sebelum menyentuh tubuhnya.

Jatisangkar membelalak. Namun kemarahannya justru semakin membara.

Dengan mata melotot, ia membentak, “Hei, siluman! Pergi kau! Jangan ganggu adikku!”

“Kakang, jangan!” teriak Laras panik.

Namun Jatisangkar sudah dikuasai amarah. Ia kembali meraih beberapa kayu kering di sekitarnya dan melemparkannya satu per satu ke arah Braja.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semua hancur sebelum sempat menyentuh tubuh bocah itu.

Braja berdiri mematung, keheranan. Ia tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Namun tiba-tiba ia diserang tanpa sebab.

Matanya beralih ke Laras, seolah bertanya dalam diam.

Mengapa manusia ini marah?

“Laras! Menjauhlah dari siluman itu! Ke sini, cepat!” bentak Jatisangkar.

Laras tersentak, lalu berlari menghampiri abangnya.

“Kakang, dia bukan siluman! Kakang salah! Kenapa kau melemparinya? Kakang jahat!” serunya kesal.

“Apa kau sudah gila, Laras?” balas Jatisangkar keras. “Apa kau tak pernah mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu? Kau sudah bermain melampaui waktu yang ditentukan. Kau juga melanggar pesan Ayah agar tidak mendekati hutan angker ini. Dan sekarang… kau malah duduk berbincang dengan bocah siluman itu! Apa kau masih waras?”

Mendengar kata-kata itu, Laras terdiam. Ia tahu dirinya memang bersalah karena terlalu jauh dan terlalu lama bermain.

Namun melihat Braja dilempari tanpa diberi kesempatan menjelaskan, hatinya tetap kesal.

“Kakang… aku tahu aku salah,” ucapnya lebih pelan. “Tapi Kakang juga tak boleh semena-mena begitu. Bocah itu tidak menyakitiku. Dan dia bukan siluman. Kalau dia siluman, sejak tadi mungkin aku sudah celaka.”

Jatisangkar terdiam sejenak.

Ia menoleh ke arah Braja.

Bocah itu masih berdiri di tempatnya. Tidak melawan. Tidak marah. Bahkan masih menyunggingkan senyum samar saat tatapan mereka bertemu.

Namun bagi Jatisangkar, wujudnya tetap mencurigakan. Kulit kehijauan. Rambut kusut. Tatapan aneh. Semua itu terlalu ganjil untuk disebut manusia biasa.

Dan sebagai kakak, ia tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.

Tiba-tiba Jatisangkar mencabut pedangnya dari sarung.

“Crrrang!”

Kilatan baja memantulkan cahaya senja.

“Dasar siluman! Pergi kau! Enyahlah dari sini!”

Tanpa ragu, ia melompat maju dan menebaskan pedangnya ke arah tubuh Braja.

Laras menjerit, “Kakang, jangan!”

Braja yang semula tersenyum mendadak terkejut. Dengan gerakan cepat, ia menghindar dari tebasan itu. Tubuhnya melenting ringan, nyaris tak menyentuh tanah.

Untuk pertama kalinya, senyumnya lenyap.

Ia memandang Laras sejenak.

Ada kebingungan di matanya.

Seakan ia baru saja mengerti sesuatu: bahwa dirinya tak diinginkan.

Detik berikutnya, tubuhnya berkelebat cepat—seperti bayangan hijau yang disapu angin—dan melesat masuk ke dalam lebatnya Hutan Jagabodas.

Dalam sekejap, ia menghilang.

Jatisangkar tercekat. Nafasnya tertahan.

“Nah, kau lihat itu?” katanya tegang. “Kalau bukan siluman, lalu apa? Gerakannya cepat sekali… seperti bayangan hantu. Apa kau tidak merinding, Laras?”

Laras hanya menatap ke arah hutan, hatinya terasa kosong.

“Ayo pulang,” lanjut Jatisangkar, menyarungkan kembali pedangnya. “Ayah pasti sudah cemas menunggu.”

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!