Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Dunia Manusia
Senja telah lama luruh, menyisakan sisa-basi cahaya jingga yang perlahan tertelan oleh kepekatan malam ketika Ye Chenxu melangkah keluar dari batas vegetasi Pegunungan Hitam.
Kabut tipis merayap di antara bebatuan dan akar pohon, seolah-olah berusaha menariknya kembali ke dalam kegelapan hutan yang liar.
Bulan pucat menggantung di langit seperti mata perak yang dingin, memantulkan cahayanya ke permukaan tanah yang lembap oleh embun malam.
Setiap langkah yang diambilnya terasa berbeda. Tidak ada lagi napas yang tersengal-sengal, tidak ada lagi lutut yang gemetar karena beban tubuh yang lemah.
Langkahnya kini ringan, presisi, dan hampir tanpa suara—sebuah kontras yang tajam dari sosok pemuda lemah yang nyaris roboh dihantam tanah beberapa hari lalu.
Di dalam tubuhnya yang kurus, dua meridian utama kini telah terbuka sepenuhnya. Jalur-jalur itu tidak lagi tersumbat oleh kotoran fana, melainkan dialiri oleh arus energi kelabu yang dingin namun bertenaga.
Itu menandai bahwa ia telah resmi melangkah ke tahap awal Pengolah Tubuh, sebuah tingkat paling dasar—namun krusial—dalam dunia kultivasi.
Pada tahap ini, seorang kultivator mulai memurnikan daging, memperkuat tulang, dan membangun jembatan bagi energi langit untuk menetap di dalam diri.
Bagi pendekar biasa di kecil tempatnya lahir, membuka satu meridian saja bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun latihan keras.
Namun, Ye Chenxu telah merobek dua gerbang itu hanya dalam waktu dua hari, meski ia harus menanggung rasa sakit yang hampir merenggut kewarasannya.
Di matanya yang pernah menyaksikan kelahiran dan kematian bintang-bintang, pencapaian ini tidaklah mengesankan.
“Fondasi ini masih terlalu rapuh …” gumamnya pelan, suaranya ditelan oleh desau angin malam. “Jika ingin menahan getaran kehampaan sejati tanpa menghancurkan wadah ini, setidaknya aku harus membuka delapan meridian utama sebelum mencapai tahap berikutnya.”
Ia mengembuskan napas panjang, sebuah uap tipis keluar dari mulutnya di udara dingin. Ye Chenxu berusaha menenangkan gejolak energi di dalam dadanya, dan menyembunyikan aura tajam yang baru didapatnya di balik selubung ketenangan yang datar.
Dengan langkah yang tenang, ia berjalan menuju gerbang kota yang cahayanya mulai terlihat di kejauhan.
Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di sepanjang jalan utama, memberikan semburat cahaya hangat di tengah kegelapan yang kaku. Suasana ramai terdengar dari pasar yang masih menyisakan beberapa pedagang kaki lima.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan semangat dan denting senjata, para kultivator muda Klan Ye sedang berkumpul di halaman latihan, memamerkan kemajuan mereka di bawah tatapan instruktur klan.
Kepulangan Ye Chenxu nyaris tidak menarik perhatian siapa pun.
Pakaiannya compang-camping, penuh noda darah kering dan lumpur hitam. Tubuhnya masih terlihat kurus, dan wajahnya tetap pucat di bawah sinar bulan.
Di mata penjaga gerbang atau pejalan kaki yang berpapasan, ia tetaplah anak tanpa bakat yang entah bagaimana berhasil selamat dari hutan.
Namun, ketika melangkah masuk melalui gerbang samping menuju kediaman Klan Ye, suasana sedikit berubah.
Beberapa murid klan yang tengah mengasah teknik pedang mereka berhenti sejenak. Mereka memandangnya dengan tatapan yang berkisar antara jijik dan geli.
“Bukankah itu Ye Chenxu?”
Salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh gempal, tertawa kecil sambil menyeka keringat di dahinya.
“Masih hidup rupanya. Aku pikir dia sudah menjadi kotoran serigala di Pegunungan Hitam.”
“Sayang sekali,” sahut yang lain dengan nada sarkasme yang kental. “Sampah seperti dia mestinya mati saja di sana. Kehadirannya di sini hanya merusak pemandangan klan kita.”
Ye Chenxu tidak menggubris mereka. Jangankan membalas, ia bahkan tidak melirik sedikit pun.
Di matanya, ejekan mereka tidak lebih dari dengung lalat yang mengganggu. Ia berjalan lurus melewati koridor batu yang dingin, menuju sebuah gubuk kecil yang terisolasi di sudut paling belakang wilayah klan.
Pintu kayu gubuk itu berderit saat ia mendorongnya perlahan.
Di dalam, di bawah cahaya temaram dari sebatang lilin yang hampir habis, seorang wanita paruh baya duduk dengan punggung yang sedikit membungkuk.
Wajahnya pucat, dihiasi garis-garis kelelahan, namun matanya memancarkan ketabahan.
Wanita tua itu sedang merajut kain dengan tangan yang sesekali gemetar karena udara dingin.
Ketika melihat sosok di ambang pintu, wanita itu tertegun. Jarum rajutnya terjatuh ke lantai.
“Chenxu!” serunya tertahan, suaranya pecah antara rasa tidak percaya dan kelegaan yang luar biasa. “Kau … kau kembali?”
Ibu Ye Chenxu segera berdiri, kakinya yang lemah terseret sedikit saat ia berlari kecil menghampiri anaknya. Ia meraih bahu Ye Chenxu, memeriksa tubuhnya dengan cemas, dan menyentuh luka-luka kecil di wajahnya dengan jemari yang kasar namun penuh kasih.
Di matanya, meski Ye Chenxu terlihat sedikit lebih tegak, ia tetaplah anak rapuh yang selalu menjadi sasaran penindasan.
“Aku baik-baik saja, Ibu,” jawab Ye Chenxu. Suaranya melunak secara signifikan.
Untuk sesaat, sebuah kehangatan yang asing menyentuh dasar jiwanya yang dingin.
Sebagai Dewa Kehampaan, ia telah hidup jutaan tahun tanpa keluarga dan tanpa ikatan darah yang tulus. Namun, di dunia ini, wanita di hadapannya adalah satu-satunya alasan mengapa ia belum sepenuhnya menanggalkan sisi kemanusiaannya dan menjadi entitas kehampaan yang murni.
Pelukan ibunya adalah sauh yang menjaganya agar tidak hanyut dalam dendam masa lalu.
Sayangnya, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.
BRAKK!!!
Pintu gubuk yang sudah rapuh itu didorong terbuka dengan kasar hingga menghantam dinding. Angin malam yang dingin merangsek masuk, memadamkan api lilin yang tersisa.
Seorang pemuda berpakaian sutra biru rapi melangkah masuk dengan wajah angkuh, diikuti oleh dua pengikut yang selalu siap menjilat.
Aura energinya jelas, bergejolak dengan kekuatan yang melampaui murid biasa.
Dialah Ye Feng, salah satu murid inti dari cabang samping klan, yang baru saja mencapai tahap ketiga Pengolah Tubuh.
“Paman memerintahkanku untuk memeriksa kalian,” kata Ye Feng dengan nada dingin yang dibuat-buat.
“Uang sewa halaman belakang bulan ini belum dibayar. Klan tidak memberikan ruang untuk mereka yang hanya bisa makan tanpa memberi kontribusi.”
Wajah Ibu Ye memucat seketika. Ia menunduk dalam-dalam, tangannya meremas pinggiran bajunya yang lusuh.
“Tuan muda Feng ... maafkan kami. Chenxu baru saja kembali, dan aku belum memiliki cukup koin tembaga ...”
Ye Feng tersenyum sinis, sebuah ekspresi yang penuh dengan niat jahat. Matanya yang tajam beralih ke Ye Chenxu, mengamati penampilan sepupunya yang berantakan.
“Kalau begitu, bayar dengan tenaga,” ucap Ye Feng perlahan. “Kebetulan, klan membutuhkan 'pancingan' untuk ekspedisi. Besok pagi, kau ikut rombongan berburu siluman ke bagian dalam Pegunungan Hitam. Hidup atau mati, itu urusanmu. Jika kau menolak, kalian berdua akan ditendang keluar dari klan malam ini juga.”
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭