Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN DI GERBANG SEKOLAH
Motor yang dikendarai Rian berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Arini turun perlahan, lalu menatap Rian dengan raut cemas sekaligus heran.
"Rian, kamu benaran tidak apa-apa ke sekolah? Bukannya kamu masih di skor?" tanya Arini sambil merapikan jaket Levisnya.
Rian tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa nyeri di kakinya. "Iya, Bunda tidak tahu kalau aku sedang diskors, jadi aku pakai seragam saja. Lagipula, biar ada alasan kuat buat jemput kamu. Waktu itu kamu sudah izinkan aku buat antar jemput, kan?" goda Rian.
Arini tersenyum lebar, merasa tersentuh dengan kegigihan Rian. "Iya, Rian. Aku senang deh sekarang ada yang antar jemput. Jadi bisa hemat ongkos, kan?" ucapnya bercanda.
"Tidak apa-apa kamu anggap aku ojek, yang penting aku bisa selalu bareng kamu," sahut Rian menggoda
"Ih, kamu itu bisa saja!" jawab Arini dengan wajah yang mendadak merona malu.
Namun, tanpa mereka sadari, dari kejauhan Siska, Gery, dan Yusa sudah memperhatikan kedatangan mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Itu Rian? Kok dia ke sekolah? Bukannya dia masih diskors ya?" tanya Yusa dengan nada tidak suka.
Siska melirik Yusa "Ya tidak tahu deh, mungkin memang mau antar Arini saja. Kenapa? Cemburu ya lo?" goda Siska.
"Apa sih! Nggak, biasa saja," ucap Yusa, meski matanya terus mengikuti gerak-gerik Rian.
Arini pun menghampiri teman-temannya. "Hai, guys!" sapanya ceria.
Rian menatap Arini sejenak. "Arini, aku ke kantin ya. Capek juga jalan jauh," pamit Rian.
"Makasih ya sudah antar aku," jawab Arini
Gery, yang sejak tadi diam, langsung beranjak. "Gue susul Rian dulu ya, Yan!" serunya sambil berlari kecil menyusul sahabatnya.
Begitu Rian dan Gery menjauh, Yusa langsung melontarkan pertanyaan pada Arini. "Arini, kamu kok bisa berangkat bareng Rian?"
"Sudah jadian lo ya sama Rian?" timpal Siska penuh rasa ingin tahu.
Arini tampak gugup. "Enggak... apa sih. Tadi Rian tiba-tiba jemput aku di rumah, jadi ya sudah aku ikut saja,"
Yusa menatap Arini dalam-dalam. "Kamu mulai suka ya, Rin, sama Rian?"
Arini mengangkat dahinya. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Ya tidak apa-apa, aku tanya saja," jawab Yusa dingin, menyimpan kecemburuan.
Suasana kantin masih cukup sepi karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Gery duduk di hadapan Rian sambil menjahili, tidak sabar untuk menginterogasi sahabatnya itu.
"Yan, gila... makin dekat saja nih sama Arini. Sudah jadian kah?" goda Gery sambil menyenggol lengan Rian.
Rian menyesap minumannya pelan sebelum menjawab dengan jujur. "Gue belum jadian sama Arini. Tapi, gue berencana menembak dia pulang sekolah nanti,".
Mata Gery membelalak kaget. "Wah, gokil! Sat set banget lo! Oh ya, jangan lupa kalau lo sudah jadian, jangan sampai lupa sama teman dan tim basket. Jangan bucin terus!".
Rian tertawa kecil menanggapi kekhawatiran sahabatnya. "Sudah, lo tenang saja. Pokoknya yang penting sekarang gue harus dapetin Arini. Kemarin Arini juga ungkapkan perasaannya kalau dia suka juga sama gue,".
"Wah, serius lo?!" tanya Gery tidak percaya.
"Iya, serius gue. Jadi gue pikir, tunggu apa lagi, kan?" jawab Rian dengan binar mata yang penuh keyakinan.
Baru saja Gery ingin menimpali, bel masuk sekolah berbunyi dengan nyaring ke seluruh penjuru gedung.
"Ya sudah, gue masuk kelas dulu ya. Nanti basket nggak kita?" tanya Gery sambil berdiri dan merapikan seragamnya.
"Nggak tahu, lihat nanti saja. Gue mau samperin Arini," sahut Rian santai.
Gery mendengus kesal namun tetap tertawa. "Yee... nggak asyik lo ah! Ya sudah, gue cabut dulu!".
"Iya, hati-hati lo!" seru Rian sambil melambaikan tangan, sementara pikirannya sudah melayang membayangkan rencana romantis yang akan ia lakukan sore nanti untuk Arini.
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan koridor sekolah. Gery segera berlari menuju kantin dan menemukan Rian yang masih setia duduk di sudut meja yang sama.
"Yan, basket yuk! Kalau lo tidak bisa main, ya temani kami saja di lapangan," ajak Gery sambil menepuk bahu Rian.
Rian menggeleng pelan sambil melirik kakinya. "Nggak bisa, Ger. Gue lagi nunggu Arini. Lagipula kaki gue juga masih sakit, belum bisa buat lari-larian main basket,".
"Ya lo nggak usah ikut main, Yan! Nonton saja, ajak Arini juga buat nonton di pinggir lapangan," bujuk Gery tidak mau menyerah.
"Ya sudah, lo duluan saja deh nanti gue menyusul," jawab Rian singkat.
Tak lama kemudian, mata Rian berbinar saat melihat sosok yang ditunggunya. Arini tampak berjalan menuju kantin bersama Siska dan Yusa. Rian segera berdiri dengan perlahan.
"Arini! Bentar ya Ger, gue samperin Arini dulu," pamit Rian. Sambil berjalan terpincang-pincang, ia berusaha mempercepat langkahnya menghampiri Arini.
Gery menghela nafas melihat tingkah sahabatnya. "Huu... sekarang si Rian sudah cewek melulu yang diurusin. Makin nggak asyik lah!" gerutu Gery pelan.
"Arini!" teriak Rian memanggil.
Langkah Arini, Siska, dan Yusa seketika terhenti. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Yusa yang melihat Rian datang mendekat langsung menatap dengan sinis.
"Ngapain sih si Rian ini?" batin Yusa kesal.
Begitu sampai di depan mereka, Rian langsung menatap Arini dengan serius, mengabaikan kehadiran Yusa dan Siska. "Boleh kita bicara berdua sebentar?"
Arini tampak bingung melihat raut wajah Rian yang tidak biasa.
"Rian? Mau bicara apa?"
"Sudah, ayo ikut aku sebentar," ucap Rian tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengajak Arini menjauh dari kerumunan kantin,
meninggalkan Yusa yang mengepalkan tangannya karena merasa diabaikan.
Rian menarik lembut tangan Arini menuju sebuah meja kosong yang sedikit menjauh dari keramaian, lalu menyuruhnya duduk.
"Arini, ada yang mau aku bicarakan," ucap Rian dengan nada serius.
Arini menatap Rian penuh tanya. "Kamu mau bicara apa, Rian?"
"Aku mau bicara tentang perasaan aku ke kamu," jawab Rian jujur, membuat jantung Arini berdegup kencang.
Arini tampak terkejut. "Maksudnya? Kamu... tapi sebentar, kamu dari tadi di sini?"
"Iya, aku menunggu kamu sampai pulang sekolah nanti," sahut Rian tanpa ragu.
Raut wajah Arini berubah cemas. "Rian, kamu kan masih sakit. Kenapa kamu tidak pulang saja dulu untuk istirahat?"
Melihat kekhawatiran Arini, Rian tersenyum tipis dan mencoba mencairkan suasana. "Ya sudah, kalau begitu aku bicaranya nanti saja pas pulang.
Rian memanggil penjual di dekat mereka. "Pak, siomay-nya dua ya!"
Namun, baru saja mereka hendak menikmati momen berdua, Siska dan Yusa datang menghampiri meja mereka.
"Yeeu... malah makan berdua! Arini, Arini... sombong banget ya sekarang," goda Siska sambil tertawa kecil.
Arini yang merasa tidak enak hati langsung mengajak mereka. "Ya sudah, sini kalian gabung saja duduk, Sis, Yus," ajak Arini.
Rian terdiam. Ia menatap Yusa dengan tatapan tajam, seolah memberi peringatan agar tidak mengganggu wilayahnya.
Yusa tidak tinggal diam; ia membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tak kalah dingin, menciptakan suasana tegang di antara mereka berdua di tengah riuhnya kantin sekolah.