NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

​Makan malam berakhir.

Alex segera beranjak, meminta maaf karena masih ada beberapa laporan yang harus dia periksa di laptop. "Aku akan di kamar kerja, Sayang. Jangan tunggu aku kalau sudah mengantuk, ya," katanya sambil mengecup kening Laura.

​"Baik, Mas," jawab Laura, suaranya kembali datar. Ia memperhatikan punggung suaminya menjauh.

​Di sana, Lexi masih duduk tenang, menyandarkan siku di sandaran kursi. Ia mengambil gelas air dan menyesapnya pelan, seolah tidak peduli dengan kesibukan adiknya.

​"Lihat," bisik Lexi, cukup keras hanya untuk didengar Laura, "Dia bahkan tidak tertarik untuk menanyakan apa yang kamu lakukan sepanjang hari. Dia memberimu rumah dan uang, tetapi aku memberimu gairah."ucapnya mengejek.

​Laura menutup mata sejenak, menahan amarah yang mendidih di dadanya.

Perkataan Lexi itu menusuk tepat di ulu hati karena ada benarnya. Pernikahannya dengan Alex terasa aman, nyaman, dan... membosankan. Lima menit kepuasan yang sinis itu adalah kenyataan pahit yang sering ia hadapi.

​Ia mulai membereskan piring-piring kotor dengan gerakan terburu-buru, mencoba menciptakan jarak fisik.

​"Aku akan mencuci piring," ucap Laura tanpa melihat Lexi.

​"Tidak perlu," Lexi tiba-tiba berdiri, melangkah mendekat. Jantung Laura mulai berdetak kencang lagi. "Biarkan saja. Pelayan akan datang besok pagi."

​Lexi berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat sehingga Laura bisa merasakan panas tubuhnya. Aroma maskulin yang berbahaya itu kembali menyelimutinya.

​"Aku butuh udara segar," Laura berbalik tiba-tiba, berusaha melewatinya.

​Namun, Lexi lebih cepat. Ia menjebak Laura di antara dirinya dan meja makan. "Kamu pikir bisa kabur dari kamar mandi tadi? Atau dari sentuhan kecilku di depan Alex?" Suara Lexi berubah serak, memancarkan dominasi.

​"Jauhkan tanganmu, Lexi," desis Laura tidak memakai embel embel kak lagi, mencoba mendorong dada bidang Lexi, tetapi tangan itu terkunci di pinggangnya, menariknya lebih dekat.

​"Kamu bergetar, Laura. Jangan bohongi dirimu. Kamu membenci ini, tetapi kamu juga menginginkannya," Lexi menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Laura. "Kamu tidak akan menemukan kepuasan dari suamimu seperti yang kuberikan padamu, tidak akan pernah."

​Air mata Laura menggenang. Bukan karena ketakutan sepenuhnya, tetapi karena rasa marah dan kebingungan yang bercampur aduk.

Ia tahu, jika ia berteriak, Alex akan turun dan kekacauan akan terjadi, membuka rahasia yang akan menghancurkan segalanya.

Dan yang paling ia takuti, dia sendiri tidak yakin apakah dia ingin Lexi berhenti.

​"Aku.. aku membencimu," kata Laura, suaranya nyaris seperti rintihan.

​Lexi tersenyum licik. Ia tidak menjawab, tetapi melonggarkan pelukannya. Ia hanya mengelus pipi Laura dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan yang ambigu—menghibur sekaligus mengancam.

​"Tidurlah, Laura. Malam ini, aku akan membiarkanmu istirahat. Tapi besok..." Lexi berbisik, "Kamu tahu di mana aku bekerja. Kamu tahu kapan Alex tidak ada. Pikirkan baik-baik, siapa yang benar-benar memegang kendali atas hidupmu di rumah ini."

​Lexi akhirnya melepaskan Laura, berjalan santai menuju ruang tamu, menyalakan televisi dengan volume rendah, seolah ia adalah tuan rumah yang baik hati.

​Laura terhuyung mundur ke dapur, bersandar pada countertop dingin. Air mata yang tadinya tertahan kini mengalir deras. Ia merasa kotor, terperangkap, dan yang terburuk, ia mulai meragukan kekuatannya sendiri untuk melawan.

​Bagaimana jika Lexi benar? Bagaimana jika ia memang membutuhkan gairah yang ditawarkan pria itu, terlepas dari rasa bersalahnya pada Alex?

​Ia menghapus air matanya dengan kasar, tekad baru mulai terbentuk di hatinya. Tidak. Aku harus keluar dari sini. Aku harus memberitahu Alex. Tapi bagaimana? Jika Alex tahu, bukan hanya pernikahannya yang hancur, tetapi juga hubungan kakak beradik itu.

Alex bisa kehilangan pekerjaan, dan mereka akan kehilangan tempat tinggal.

Karena hingga detik ini pertolongan kakak iparnya itulah yang mereka nikmati.

Alex bekerja di cabang perusahaan Lexi,sementara mereka juga tinggal dirumah mewah pria pendominasi itu.

​Situasi itu terlalu rumit. Laura tahu, satu-satunya jalan keluar adalah dengan membuat Alex segera mandiri.

​Aku harus membantunya menabung. Aku harus mencari pekerjaan paruh waktu diam-diam, pikirnya.

Aku akan lakukan apa pun agar kami bisa pindah dari rumah ini.

​Tapi rencana itu terasa lambat, sementara Lexi bergerak cepat dan berbahaya.

​Lexi, dari ruang tamu, melirik sekilas ke arah dapur. Ia bisa merasakan aura kegelisahan Laura.

Ia tahu, adik ipar kecilnya sedang berjuang.

Lexi tersenyum puas. Biarkan saja.

Perlawanan Laura hanyalah bumbu penyedap dalam permainan yang baru saja ia mulai.

​Ia mematikan televisi, mengambil kunci mobilnya.

Malam ini, ia punya urusan lain, meninggalkan Laura sendirian dengan pikirannya. Ini adalah bagian dari rencana: membiarkan Laura direbut oleh pikiran dan rasa bersalahnya sendiri.

​"Aku keluar sebentar, Laura! Jangan tunggu aku. Kunci pintu baik-baik," seru Lexi dari ruang depan, suaranya kembali normal dan bersahabat.

​Laura hanya mengangguk tanpa suara, mengunci dirinya di kamar tidur setelah memastikan Alex masih sibuk di ruang kerjanya.

​Ia berbaring di tempat tidur, mencoba memejamkan mata, tetapi yang muncul hanyalah bayangan Lexi: seringai puasnya, sentuhan dominan di dadanya, dan bisikan yang menjanjikan dosa.

​Keesokan Harinya...

​Alex sudah berangkat pagi-pagi sekali. Laura terbangun sendirian. Ia merasa lemas, energinya terkuras habis oleh pertarungan batin.

​Di dapur, ia menemukan catatan tempel dari Lexi di kulkas.

​Aku harus ke kantor untuk pertemuan mendadak.

Asistenku sedang sakit. Aku akan kembali saat makan siang. Jangan lupa minum vitaminmu, adik ipar.

​Kata 'adik ipar' ditulis tebal, dan di akhir catatan itu ada gambar senyum kecil yang terlihat seperti seringai.

​Napas Laura tercekat. Ini adalah kesempatan. Rumah kosong.

​Ia harus mulai mencari cara untuk mendapatkan uang tambahan, tetapi ia juga tahu, ini adalah celah bagi Lexi.

Jika Lexi kembali lebih awal...

​Laura menggelengkan kepala, mengusir rasa takut itu. Ia harus mengambil risiko.

Ia mengeluarkan laptop Alex dari tasnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakukan dari rumah.

​Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

​"Halo?"

​"Kamu sibuk, Sayang?" Suara berat Lexi terdengar, membuatnya terkejut.

​"Lexi? Kenapa kamu menelpon? Bukannya kamu di kantor?" Laura bertanya, berbisik sebisanya.

​"Ya, aku di kantor. Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku terus mengarah pada sarapan yang tidak kumakan hari ini," Lexi tertawa kecil di seberang sana. "Atau mungkin, pada bibirmu."

​Laura memejamkan mata. "Jangan main-main. Alex bisa saja menelpon."

​"Dia sibuk, Sayang. Aku tahu jadwalnya," sahut Lexi santai, dengan nada otoritas yang membuat Laura gemetar. "Aku hanya ingin bilang. Aku merindukanmu. Dan aku tidak sabar untuk kembali ke rumah."

​Lexi memutus panggilan itu tanpa menunggu jawaban Laura.

Meninggalkan Laura dengan jantung yang berdebar kencang, dan pikiran yang kembali dipenuhi ketakutan dan gairah terlarang yang mulai tumbuh, layaknya benih racun, di dalam hatinya.

"Lexi,kamu terlalu mendominasi hidupku,kamu bahkan tidak takut sama sekali Alex mengetahui hubungan sialan ini,kamu terlalu berani mengambil resiko." Desisnya mengepalkan tangannya.

Laura kembali tidur,hatinya terlanjur kesal,moodnya berantakan.

Untung ada pelayan yang setiap pagi datang membersihkan rumah,juga memasak. Dengan begitu dia bisa berleha leha tanpa harus melakukannya.

Laura belum sarapan,walau perutnya berbunyi minta diisi,tapi mulutnya malas makan,apalagi badannya malas turun kebawah buat sarapan.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!