NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 2

Gerhana Sembilan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur / Transmigrasi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)

Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.

Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lahirnya Tabib Hantu

Benua Tengah.

Pusat dari dunia kultivasi. Tempat di mana Qi di udara begitu padat hingga terasa seperti embun pagi di paru-paru. Di benua ini, seorang kultivator Ranah Pondasi yang bisa menjadi raja di Laut Selatan, hanyalah prajurit rendahan atau penjaga pintu.

Di Pelabuhan Kota Jinling—kota perdagangan terbesar di wilayah selatan Benua Tengah—ribuan kapal dagang bersandar.

Dari salah satu kapal penumpang kelas bawah yang kumuh, turunlah seorang pria paruh baya.

Langkahnya pelan, sedikit diseret. Dia mengenakan jubah rami abu-abu kusam yang biasa dipakai oleh rakyat jelata. Rambutnya setengah putih, diikat asal-asalan dengan jepit kayu. Wajahnya dipenuhi kerutan halus di sekitar mata dan mulut, memberikan kesan seorang pria yang telah ditusuk oleh kejamnya kehidupan.

Lengan kirinya selalu disembunyikan di dalam lengan jubahnya yang lebar, tidak pernah ikut berayun saat dia berjalan.

Itu adalah Han Luo.

Atau lebih tepatnya, eksistensi yang dulunya bernama Han Luo.

"Hah..." Dia terbatuk pelan ke saputangannya. Sedikit bercak merah tertinggal di kain putih itu.

Kehilangan lima puluh tahun umur bukanlah lelucon. Vitalitasnya mengering. Inti Emas Gerhana-nya saat ini bekerja keras hanya untuk menjaga organ dalamnya agar tidak gagal total. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan lebih dari sepuluh persen, atau jantungnya akan berhenti berdetak karena beban.

"Aku butuh umur," gumamnya, matanya yang berwarna abu-abu mati menatap kemegahan Kota Jinling. "Atau aku akan mati sebagai pria tua yang menyedihkan dalam enam bulan."

Han Luo berjalan menyusuri jalanan kota. Dia tidak mencari penginapan. Dia tidak mencari makanan. Dia langsung menuju ke Jalan Seribu Ramuan, distrik medis dan alkimia terbesar di Jinling.

Jalanan itu dipenuhi oleh toko-toko megah yang menjual pil mujarab, klinik dengan tabib-tabib berpakaian sutra, dan para kultivator kaya yang mencari pengobatan.

Han Luo tidak masuk ke toko mana pun. Dia memilih sebuah gang sempit di antara dua klinik besar yang saling bersaing.

Dia menggelar sebuah tikar jerami tipis di atas tanah yang kotor. Lalu, dia memajang sebuah spanduk kayu kecil yang dia tulis sendiri dengan tinta hitam.

Tulisannya sangat sederhana, namun memancarkan arogansi yang gila:

$$Menyembuhkan yang Ditolak oleh Dewa Kematian. Bayaran: Setengah dari Sisa Umurmu, atau Seluruh Hartamu.$$Tidak ada nama tabib. Tidak ada daftar penyakit yang bisa disembuhkan. Hanya klaim yang terdengar seperti bualan orang gila.

Han Luo duduk bersila di belakang spanduk itu, memejamkan mata, dan mulai bermeditasi seolah dunia di sekitarnya tidak ada.

Satu jam berlalu. Tiga jam berlalu.

Orang-orang yang lewat hanya melirik spanduk itu, tertawa mengejek, lalu membuang muka.

"Orang gila dari mana ini? Berani buka lapak di antara Balai Xuan dan Paviliun Giok?" "Lihat pakaiannya. Dia sendiri terlihat seperti mau mati besok. Bagaimana dia bisa menyembuhkan orang?"

Han Luo mendengarkan semua hinaan itu dengan telinga yang kebas. Dia tidak peduli. Dia sedang mencari target yang spesifik. Seseorang yang cukup kaya untuk membayar, dan cukup putus asa untuk mencoba apa saja.

Menjelang sore, target itu datang sendiri.

Sebuah keributan besar terjadi di jalan utama. Kereta kuda mewah yang ditarik oleh dua Singa Bersisik Api berhenti mendadak di depan Balai Xuan yang berada tepat di sebelah gang Han Luo.

Beberapa pengawal berbaju zirah perak melompat turun, membawa sebuah tandu kayu berukir emas.

Di atas tandu itu, terbaring seorang pemuda berusia dua puluhan. Kulit pemuda itu hitam legam, urat-uratnya menonjol seperti cacing ungu, dan mulutnya terus memuntahkan bisa berwarna hijau.

"Tabib Utama Xuan! Keluar! Tolong Tuan Muda Kami!" teriak kepala pengawal dengan panik.

Pemilik Balai Xuan, seorang tabib tua dengan kultivasi Inti Emas Awal, bergegas keluar. Dia memeriksa denyut nadi pemuda itu, lalu wajahnya berubah pucat pasi.

"Ini... ini Racun Laba-Laba Kematian Seratus Langkah dari Rawa Hantu!" Tabib Xuan mundur selangkah. "Racunnya sudah menyebar ke jantungnya! Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Siapkan peti matinya."

"Tidak mungkin! Anda adalah tabib terbaik di Jinling!" Kepala pengawal itu menarik kerah Tabib Xuan. "Dia adalah Tuan Muda dari Klan Pedagang Ye! Jika dia mati, Ketua Klan akan meratakan Balai ini!"

"Bahkan jika kau membunuhku, aku tidak bisa menghidupkan orang mati!" Tabib Xuan berteriak ketakutan. "Racun itu sudah membekukan darahnya! Sentuh saja dadanya, sudah sekeras batu!"

Kepanikan melanda. Pengawal itu menangis putus asa. Pemuda di tandu itu mulai kejang-kejang, napasnya tinggal satu dua.

Di tengah hiruk pikuk itu, sebuah suara serak, pelan, dan datar terdengar dari arah gang sempit.

"Dia belum mati. Jantungnya masih berdetak satu kali setiap sepuluh detik."

Semua orang menoleh.

Mereka melihat pria paruh baya berjubah lusuh duduk di atas tikar jerami.

"Siapa kau?!" bentak kepala pengawal.

Han Luo menunjuk spanduk kayunya dengan tangan kanan. "Kalian... terlihat seperti orang yang sedang ditolak oleh Dewa Kematian."

Tabib Xuan mendengus marah. "Jangan dengarkan pengemis gila ini! Racun Laba-Laba Kematian tidak punya penawar jika sudah mencapai jantung!"

"Itu karena kau mencoba menawarkannya dengan obat," Han Luo perlahan bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati tandu itu dengan langkah terseret. "Racun tidak selalu harus ditawarkan. Kadang, dia hanya perlu... dibekukan."

Han Luo berdiri di samping tandu. Para pengawal hendak mengusirnya, tapi entah kenapa, mata abu-abu mati pria ini memancarkan tekanan yang membuat mereka membeku di tempat.

"Apa kau bisa menyelamatkannya?" tanya kepala pengawal, suaranya bergetar antara harapan dan keraguan.

"Bisa. Tapi harganya mahal."

"Klan Ye punya gunung emas! Selamatkan dia, dan kau akan kaya raya!"

"Aku tidak butuh gunung emas," Han Luo menatap kepala pengawal itu. "Aku butuh Teratai Penambah Umur Seratus Tahun. Aku tahu Klan Ye menyimpannya di gudang kalian."

Mata kepala pengawal itu melebar. Itu adalah harta pusaka klan!

"Cepat putuskan," Han Luo melirik pemuda yang kejang itu. "Sepuluh detik. Sembilan. Delapan..."

"BAIK! LAKUKAN! KETUA KLAN AKAN MEMBAYARNYA!"

Tabib Xuan tertawa sinis. "Menyelamatkannya? Bagaimana caranya? Pemuda itu bahkan tidak bisa menelan pil lagi!"

Han Luo tidak menjawab. Dia mengulurkan tangan kirinya.

Tangan yang selalu tersembunyi di balik lengan bajunya yang panjang.

Saat lengan baju itu tersingkap, orang-orang menahan napas.

Tangan kiri itu dibungkus rapat oleh sarung tangan sutra putih tebal. Namun, gerakannya aneh. Sangat kaku. Tidak ada lekukan sendi yang wajar. Dan yang paling mengerikan... tangan itu tidak memancarkan hawa kehidupan sama sekali.

Tangan kiri itu adalah Lengan Boneka Sutra yang menutupi bilah pedang di bahunya.

Han Luo memfokuskan Sutra Hati Es Abadi melalui lengan palsunya. Dia menempelkan telapak "tangan" kirinya itu tepat di dada pemuda yang keracunan.

Cesssss!

Seketika, hawa dingin yang absolut meledak. Udara di sekitar mereka membeku menjadi butiran salju.

"T-Tangan apa itu?!" pekik seorang pengawal mundur.

Han Luo menutup matanya. Dia tidak menggunakan obat. Dia menggunakan Qi Es-nya untuk secara harfiah membekukan aliran darah di sekitar jantung pemuda itu.

Racun Laba-Laba Kematian menyebar melalui darah. Jika darah berhenti mengalir dan membeku di tempat, racun itu tidak bisa masuk ke jantung.

Krak. Krak.

Es tipis terbentuk di kulit dada pemuda itu. Kejang-kejangnya berhenti seketika. Urat hitam di wajahnya berhenti menyebar.

Namun, membekukan darah sama saja dengan membunuh pasien secara perlahan.

Di sinilah trik kedua Han Luo dimainkan.

Dengan tangan kanannya (tangan manusianya), dia mengeluarkan sebuah jarum perak yang sangat panjang. Ujung jarum itu telah dilumuri Api Bumi yang sangat tipis dan presisi.

Jleb.

Han Luo menusukkan jarum itu tepat ke titik akupunktur di bawah jantung pemuda itu.

Panas dari jarum Api Bumi mencairkan sebagian kecil darah yang membeku hanya di jalur vena utama, memungkinkan jantung tetap memompa darah bersih, sementara racunnya tetap terjebak di dalam es di jaringan sekitarnya.

Sebuah operasi energi yang sangat rumit dan gila, dilakukan di tengah jalanan kota.

Pemuda itu tiba-tiba membuka matanya. Dia menarik napas dalam-dalam, memuntahkan gumpalan darah hitam yang membeku, lalu napasnya menjadi teratur.

Dia hidup.

Keheningan total melanda jalanan itu.

Tabib Xuan menjatuhkan kotak obatnya ke tanah. Matanya hampir keluar dari rongganya.

"Mustahil... Menghentikan sirkulasi parsial menggunakan es ekstrem, lalu memanaskan jalur spesifik dengan api?! Itu butuh kontrol Qi tingkat dewa! Siapa kau?!"

Han Luo menarik kembali tangan kirinya yang kaku ke dalam lengan jubah. Dia menyeka darah hitam dari jarumnya dengan tenang.

Dia menoleh ke arah kepala pengawal yang sedang menangis haru memeluk Tuan Mudanya.

"Racunnya sudah kukunci," kata Han Luo datar. "Dia punya waktu sebulan sebelum es itu mencair. Jika kau ingin aku mengeluarkannya sepenuhnya... kau tahu di mana harus mencariku."

Han Luo menunjuk spanduk lusuhnya.

"Kirimkan Teratai Penambah Umur itu ke alamat penginapanku sebelum matahari terbenam. Jika tidak, jantung tuan mudamu akan hancur menjadi serpihan es malam ini."

Han Luo melipat tikarnya, mengambil spanduknya, dan berjalan pergi melewati kerumunan yang membelah jalan untuknya seperti menyambut seorang dewa kematian yang baru turun ke bumi.

"Tabib Tangan Hantu..." bisik seseorang di kerumunan. "Tangannya sedingin mayat..."

Han Luo tersenyum tipis.

Identitas baru telah tertanam. Papan catur Benua Tengah resmi dibuka.

Dan kali ini, dia tidak akan bermain dengan pedang. Dia akan bermain dengan nyawa mereka yang putus asa.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Dpt budak pertama 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ceritanya muantebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
Irman
mantap banget
Irman
kasih bonus besok Thor... 🙏🙏🙏
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk di baca
Budi Wahyono
jahat juga han luo...
tpi gw demen....
Budi Wahyono
good
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
Dianrp
secangkir kopi nikmat
Budi Wahyono
vote minggu ini untuk tabib qiu
izar
mntpp
Mamat Stone
tetap semangat dan terus berkarya
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤭
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!