NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Kehidupannya yang Baru

Demi menjadi aktif kembali dalam hidup, aku memutuskan untuk pergi kursus Bahasa Inggris di sebuah kampus negeri idamanku ketika SMA setiap akhir pekan. Rasanya hal ini bisa menjadi langkah efektif untuk menghindari undangan-undangan pernikahan dimana hidupku akan diintervensi oleh orang-orang asing yang memiliki pertanyaan paling menyakitkan dan tak akan pernah bisa kujawab dengan ekspresi wajah yang bahagia. Hal yang paling menyebalkan adalah bersikap menyebalkan kepada orang lain yang aku tak kenal baik dan merasa menyesal kemudian.

Tapi sebenarnya, ini adalah tindakan pencegahan paling efektif untuk mengisi hari liburku ketika aku sudah tidak bisa bertemu Magi dan Iman seperti biasanya. Malam minggu yang penuh tawa dan obrolan interlokal yang begitu tak senonoh jika ada orang lain yang mendengarnya, aku harus merasa siap kehilangan momen terbaik bersama mereka kini dan nanti.

Sudah beberapa minggu aku tak pernah mendengar suara Magi dan Iman di telingaku. Dan kamu tahu, efeknya sungguh luar biasa mempengaruhi suasana hatiku setiap hari. Semua pemandangan sekitar yang biasanya biru muda menjadi abu kecoklatan dan gelap gulita. Setiap tanah yang kupijaki langsung berubah retak dan dingin seketika. Aku tak punya tenaga untuk menjadi Najma yang ceria. Kini gestur tubuhku berubah bungkuk dan mataku selalu mengarah ke bawah di manapun aku berada. Aku yakin jika aku adalah seorang pria, akan tumbuh jenggot yang tak terurus seperti rambut jagung yang terlalu lama kena sinar matahari.

Lubang hatiku bertambah di sisi kiri, dua biji dan kopong hingga aku merasa udara bisa masuk dan lewat hilir mudik sehingga aku merasa dingin sekali.

“Tapi sorry ya, kayaknya lo nggak worth it deh sampai harus ikut gue kursus. Lo kan udah jago.”

“Emang kenapa kalo udah jago? Kan belajar lagi nggak ada salahnya.”

“Gini deh Van, tujuan lo sebenarnya apa sih kursus di sini? Lo kan kuliah di Singapura gitu loh. Bullshit kalo lo kursus cuma karena pengen belajar.”

Lamunanku buyar karena mendengar pembicaraan super serius di luar kelas. Aku baru sadar bahwa tinggal diriku seorang yang masih duduk di kelas baru ini. Kupingku langsung membesar dan mendekat ke arah posisi mereka tanpa membuatku beranjak dari bangku sehingga aku masih terdiam dan memfokuskan diriku, mendengarkan dengan saksama tentang apa yang mereka bicarakan.

“Emang nggak boleh ya gue kursus? Gue juga kan pengen…”

“Lo pengen kursus bareng gue? Pengen ketemu gue setiap weekend?”

Perempuan itu sepertinya diam, tidak terdengar bahwa ia menjawab pertanyaan lelaki barusan. Lelaki itu tertawa kecil.

“Vanya, gue kasih tahu sekali lagi. Please banget sih, lo harus dengerin gue sekarang. Gue tuh nggak suka sama lo. Mau lo berusaha sekeras apapun, perasaan gue sama lo nggak akan berubah. Ngerti kan? Harus berapa kali lagi gue bilang sih?”

Perempuan itu pun lemah pertahanan, ia menangis cukup keras karena suara isakannya sangat jelas.

“Gue minta maaf, tapi kalau gue nggak bilang dengan cara seperti ini, sampai kapanpun lo nggak akan pernah ngerti.”

“Sampai kapan sih lo nolak gue?”

Wah, akhirnya perempuan itu meledak juga.

“Sampai lo berhenti mencoba.”

“Jahatnya.”

“Iyap, gue memang begini. Makanya lo mending menyerah dan cari orang yang jauh lebih baik. Pasti banyak kok. Lo kan cantik.”

“Kalau gue cantik, kenapa lo nggak mau? Lo nggak suka cowok kan?”

“Hehe.” Aku menutup mulutku karena tak menyangka suara tawaku terdengar cukup lantang. Jangan-jangan aku ketahuan?

“Vanya, cantik bukan alasan cowok bisa langsung jatuh cinta sama perempuan. Kalo fisiknya mulus, wajahnya cakep tapi sifat dan karakter nggak oke ya buat apa coba?”

“WHAT?”

“Udah deh, Van. Lo pulang aja. Sampai kapanpun lo ngikutin gue, buat gue lo akan tetap menyebalkan.”

Laki-laki itu pun berlalu. Ketika dia berjalan melewati pintu kelas dan melihat ke arahku sesaat, dia-tahu-aku-nguping.

**

“Suka nguping ya, Mbak?”

Aduh, kenapa harus ketemu orang ini di kantin ya?

Aku melihat wajahnya yang sungguh usil itu, dan mencoba tersenyum penuh harapan untuk dimaafkan. Tapi sepertinya gagal.

“Mbak kalau suka nguping ntar kupingnya dipotong sama iblis loh di neraka.”

Aku refleks melihat ke arahnya lagi. Mulutnya spesialis. Aku harus hati-hati.

“Mbak denger sampai mana? Semuanya, ya?” Tanyanya menghampiriku. Kini kita duduk berhadapan.

“Nggak sih kayanya. cuma sepintas aja.”

“Gue nggak percaya,”

“Ya udah. No problem kalau gitu.”

“Kok bisa no problem? Kan ini masalah gue. My problem dong harusnya?”

Aku bingung harus bagaimana menghadapi pria bermulut kejam ini?

“Mbak ketawa kenapa? Mbak pikir gue homo ya?”

“Nggak.”

“Terus?”

Aku menatap matanya bingung. Dia membalas tatapanku dengan mata yang sangat penasaran. Ya Tuhan, aku ingin pulang naik kereta dari depan kantin, boleh?

“Saran gue ya, Mbak. Kalau emang mau nguping jangan ketahuan. Kan repot urusannya kalau kayak gini ya, nggak? Hehe...”

Apa sih maksudnya?

“Sebagai permintaan maaf, lo traktir gue makan ya. Gue pesen nasi goreng spesial sama milo dingin. Nanti bayar sekalian ya. Nih, bonnya. Makasih.”

Lalu dia pergi meninggalkan piring kotor dan bon makanannya tepat di mukaku.

**

Kembali ke ruang kelas rasanya tak pernah setegang ini. Aku beranjak duduk dengan sangat hati-hati sambil sesekali memandang sekelilingku. Konsep bangku yang ada di kelas ini adalah melingkar sehingga aku bisa melihat semua wajah teman kelasku. Lalu, aku menyesal telah melakukannya karena ternyata pandanganku ditangkap langsung oleh pandangan mematikan di depanku, jelas dan tajam. Pria mulut kejam itu memandangku, lalu senyumnya menyapaku. Matanya menatap buku lalu sedetik kemudian kembali menatapku. Ia melakukannya selama lebih dari tiga kali dan aku hanya terpaku memandangnya, seperti terperangkap di ruang super sempit dan tak bisa memandang kemana-mana lagi karena tak ada ruang.

“Are you okay? Are you sick?”

seseorang bertanya dari kiriku dan mengagetkanku dengan sentuhan halus di punggungku.

“Hah? No. I am... healthy. Hehe..”

Kok healthy?

“You look pale.”

“No. Baik-baik aja kok. Hehe.”

Ia pun menyerah dan kembali menulis di bukunya, sedangkan aku mengikuti gerak seseorang yang berada di seberangku berjalan menuju arahku, lalu menggeser bangku di sebelah kananku sambil tersenyum. Si mulut kejam itu duduk di sampingku.

“Hello, new friend.” Serunya menatapku.

Tadi manggil MBAK, sekarang NEW FRIEND. Maunya apa?!

“Kok pindah?”

“Hey, you should talk in English here. We’re at class now.” Serunya lagi, tak kalah ceria.

Peduli amat!

Aku hanya tersenyum dan sebisa mungkin tak menghiraukannya.

Sekejap aku seperti menangkap pandangan setajam petir dari arah seberangku, begitu mengkilat dan menyilaukan seluruh ruangan ini selama sepersekian detik. Namun sekejap hilang sehingga aku tak mengetahui darimana asalnya.

**

“Nama lo Najma, ya?” tanya seseorang di belakangku. Kutengok lalu kutertegun kemudian. Rupanya Mas SMK alias Si Mulut Kejam tadi.

“Iya.” Jawabku sekenanya sambil berjalan cepat.

“Sebentar.” Ia menarik lenganku. Aku kembali terkejut. Kami berdiri di tengah jalan.

“Najma, nggak baik ngobrol sambil lari. Mending kita duduk dulu situ yuk!”

“Ngapain?”

“Gue mau ngobrol.”

“Untuk?”

“Berteman. Nggak boleh?”

Wahai Si Mulut Kejam, tahukah bahwa engkau memerasku untuk membayar semua makananmu beberapa jam sebelumnya? Lalu, sekarang minta temenan? Gila apa, ya?

“Mm, gimana ya. Pada dasarnya kita udah berteman sih karena satu kelas. Jadi, itu semacam pertanyaan retoris.”

Ia hanya tertawa. Bisa kulihat giginya rapi sekali, seperti sudah dikikir dengan sengaja.

“Nama gue Fedi, barangkali lo nggak tahu.” ujarnya lembut.

“Hai, Fedi.” sapaku melambaikan tangan .

“Terus, Najma. Soal yang tadi pagi…” entah kenapa sikapku kembali waspada mendengar ia membahas hal tadi pagi. “…gue akan melupakan kalau lo pernah nguping pembicaraan gue yang super privat itu, tapi lo harus bayar ya.”

“Bayar? Pakai apa?”

“Pakai makan siang. Hehehe.”

“He.”

“Pokoknya setiap makan siang lo sama gue, ya! Bye, Najma. Muah!” ujarnya berlalu. Tidak lupa ia melemparku dengan ciuman jauhnya.

Aku hanya memandangnya dengan tatapan nanar hingga penampakannya tak lagi terlihat oleh mataku. Mulai sekarang sepertinya aku akan sangat hafal siluet tubuhnya meski dalam radius sepuluh kilometer jauhnya.

Fedi, seorang laki-laki pemeras bermulut kejam.

Selamat datang di kehidupanku.

**

“Lo kenal Fedi?”

Wajahku yang menunduk lesu terangkat perlahan, mencari sumber suara.

Siapa lagi perempuan ini? Oh, sepertinya teman kelasku.

“Baru aja kenal. Lo juga temen kelas gue, kan?”

“Iya. Gue Vanya. Barangkali lo nggak tahu.”

Apa? Kok omongannya sama dengan Fedi?

“Halo Vanya.” sapaku melambaikan tangan.

“Gue mau nanya, lo ada hubungan apa sama Fedi? Seriuskah? Atau main-main aja?”

“Mm, nggak ada hubungan apa-apa sih karena gue baru kenal juga.”

“Gue cuma pengen ngasih tahu lo aja sih, Fedi itu punya gue. Jadi, kalau bisa jangan terlalu dekat, ya.” ancamnya dengan nada yang sangat manis.

“Lo pacarnya?”

Vanya lalu menatapku. Tatapannya berubah dari lembut ke tajam, setajam petir. Aku kini mengerti siapa yang membuat tatapan siang tadi di kelas yang begitu cepat menghilang.

“Soon will be.” Jawabnya penuh dendam, lalu meninggalkanku.

Bagaimana ya aku harus mendeskripsikan gadis cantik di depanku ini? Baiklah, dia cantik, seperti yang aku bilang barusan. Tapi ia seperti menyimpan rahasia yang mengerikan. Wajahnya seperti Barbie dengan mata bulat dan bulu mata palsu yang begitu terlihat nyata menempel di matanya, juga rambutnya yang lurus sepunggung dan tertata rapi seakan tak pernah ada angin di alam semesta ini. Lalu, penampilannya membuatku merasa seperti memasuki toko-toko franchise mal yang digandrungi para generasi milenial. Pendek kata, Vanya adalah gadis cantik yang misterius dimana aku tahu aku harus menghindarinya.

Apa yang menyebabkan ia begitu merasa tak aman hingga harus memberi identitas bahwa Fedi adalah miliknya kepadaku?

Apa yang menyebabkan gadis ini begitu bersikeras mengikuti Fedi walau ia jelas-jelas dengan kejam menolaknya?

Tentang Fedi, tunggu dulu. Bisa kudeskripsikan seadanya mengenai penampilan dan perilakunya dalam sehari ini. Memang jelas, pria ini sangat menarik. Ia seperti karakter komik yang digandrungi para gadis manis yang akan menjerit ketika ia duduk dan melamun di bangkunya. Namun bagiku, Fedi ini sejenis makhluk super oportunis yang pandai menelan mangsa. Ia seperti mafia yang akan menerjang lawannya jika dirasa mengganggu dan mengerjai korbannya jika dirasa menguntungkan. Ya, Fedi adalah mafia.

Celakanya, aku akan dikejar-kejar untuk membayar makan siangnya setiap kursus tiba.

Celakanya, gadis cantik ini akan selalu mengawasi gerak-gerikku dan tak segan untuk melabrakku jika aku terlihat berkhianat kepada ancamannya.

Wahai pohon, rerumputan, dan ilalang.

Apakah salahku sehingga harus diganggu satu pasangan yang bahkan aku tak tahu asal-usulnya?

Apakah waktuku yang salah untuk mengambil kursus di akhir pekan karena memiliki niat yang tidak mulia?

Apakah belum cukup kesusah payahanku dengan pekerjaan menggunung setiap harinya?

Tiba-tiba hujan datang membasahi seluruh tubuhku yang belum siap mencegahnya.

Baiklah, jika itu memang maumu, Semesta!

Silakan perlakukan aku semaumu!

**

Dering telepon yang terus menerus bersuara ikut meramaikan kantorku yang besarnya cuma satu lantai namun penuh dengan orang-orang yang beraneka ragam jenisnya. Aku, sebagai manusia dengan gelar paling malas mengangkat gagang telepon harus merelakan keegoisanku untuk mendekati telepon yang mewajibkanku untuk menyeret kursiku ke sisi pojok.

“Halo, Najma di sini.”

“Mbak, taksi udah di depan.”

“Oh iya, Pak. Bilang tunggu sebentar, ya.”

Aku bersiap membawa laptopku dan perangkat pendukung lainnya. Aku dan beberapa orang dari timku harus kembali ke Sambung karena kami terpilih menjadi shortlisted candidate yang memiliki prospek untuk memenangkan proyek.

“Najma, senyum dong!”

Aku menoleh ke arah Gian di hadapanku. Ia menatapku datar dengan menyunggingkan senyum di bibirnya sendiri. Aku membuka mulutku dan memamerkan kedua gigiku.

“Apaan tuh, jelek banget! Najma yang gue tahu lebih cakep dikit, walau masih cakepan pacar gue.”

Aku berjalan ke arahnya karena ia berdiri di pintu keluar, “Sebenarnya gue curiga apakah pacar lo itu benar adanya atau hanya imajinasi.” Lalu aku berangsur pergi meninggalkannya menuju lift.

“Jahat lo, Ma!” Gian meneriakiku. Aku mengerling genit kepadanya, namun sepertinya itu tak cukup untuk mendapatkan ampunan darinya.

Tiba di kantor Sambung, kami langsung disambut oleh User kami yang bernama Mbak Esya. Kami menuju ruang meeting dan bersiap-siap untuk melakukan presentasi lanjutan.

“Kita tunggu dulu, ya. Ada beberapa temenku yang mau ikutan lihat.” Ujar Mbak Esya ramah. Aku bersyukur jika kami menang di kemudian hari dan memiliki urusan dengannya, maka bisa kupastikan kami tidak akan terlalu kesulitan karena ia begitu baik dan murah senyum. Jauh lebih oke dibanding klien-klien yang biasanya kuurusi.

“Mbak Najma, it’s okay ya if you have to explain everything that you said to us earlier. Aku punya teman yang nanti akan more focused to do this project sama kalian if you win this later.

Begitulah pekerja kantoran di Jakarta, ngomongnya campur sari.

“Nggak apa-apa, Mbak. Aku siap.”

Sebenarnya yang aku ingin katakan adalah: nggak apa-apa, Mbak. Aku ikhlas.

Aku ikhlas, Mbak. Panggil saja kami dan minta revisi terus sampai gila walau belum ada keputusan apakah kami akan memenangkan proyek ini atau kalian hanya ingin mencuri ide kami.

Tidak lama kemudian beberapa orang menghampiri ruang meeting dan duduk di depanku. Salah satunya sukses membuatku mataku terbelalak hingga ingin keluar kedua bola mata ini.

“Vanya???” Aku tak bisa menyembunyikan rasa tak percaya telah melihatnya di sini. Dan Vanya, ia hanya tersenyum manis dan menyapaku dengan begitu ramah.

“Hai, apa kabar?”

“Mm, baik. Ternyata kerja di sini, ya?”

“Kalian kenal?” Tanya Mbak Esya penasaran.

“Yap, but not too close, hehe.”

Air mukaku langsung berubah, dan kuyakin begitu juga dengan ekspresi semua wajah di ruang meeting. Vanya begitu santai menjawab dan ia membuka laptopnya tepat di depanku dan memandangku kemudian, seperti bersiap menunggu aku untuk melakukan presentasi.

“Oke, saya mulai ya presentasinya.” Aku kembali membuka slide proposal yang sudah kusiapkan dan mengecek apakah cukup terbaca oleh semua orang yang ada di sini. Aku memandangi satu persatu wajah para klien yang mungkin saja akan menjadi orang yang paling mengangguku di beberapa minggu ke depan. Juga Vanya yang begitu cantik tapi terasa begitu salah di mataku, namun aku tak mengerti tepat di bagian mana. Tak sadar aku memandanginya lebih lama daripada seharusnya.

“Jadi, ide dasarnya adalah pendekatan kepada karakteristik mahasiswa yang cool bukan karena mereka sukses menjadi mahasiswa idaman seperti punya pacar, IP empat, atau jadi opinion leader di kampusnya, tapi mahasiswa yang santai menghadapi hiruk pikuk dunia kampus yang begitu dinamis dan walaupun serba kekurangan karena masih bergantung pada uang saku, mereka tidak peduli. Shit happens everyday, I’m cool. “

Aku kembali melanjutkan sambil berdiri di tempat, “Berdasarkan ide itulah kita sama-sama akan membuat roadshow event yang mencakup aktivitas-aktivitas seru yang berkesan bagi mereka hingga akhirnya kita menemukan Brand Ambassador untuk laptop AMD Sambung di setiap universitas. Nantinya seluruh Ambassador akan dikarantina selama satu minggu untuk pengembangan diri dan berkompetisi. Hadiahnya adalah beasiswa bagi mereka untuk belajar pertukaran selama masa liburan di Aussie atau New Zaeland. Kita juga bisa buat Variety Show untuk activation yang kita buat supaya buzz-nya lebih viral di media sosial.

“Oke, mau lihat budgetnya dong.” Seru Mbak Esya kepadaku. Giliran Icana yang datang bersamaku sebagai Junior Business Executive yang mengurusi quotation dan segala tetek-bengeknya.

Di saat mereka semua membahas uang dan kemungkinan proses produksi, aku malah gatal untuk melirik ke arah Vanya. Sialnya, ia sudah menatapku duluan. Tidak terlalu tajam seperti saat ia menanyakan Fedi kepadaku, tapi tetap saja tatapannya menusuk dan aku tidak tahan lama-lama membalasnya.

Ada apa ini? Apakah ia memusuhiku?

“Baik, Mbak Najma and team, nanti kami kabari announcement-nya ya by email. Thanks so much.”

“Thank you for having us.” Jawabanku seadanya.

Tunggu dulu, Vanya tidak menghambatku pergi? Apa dia tidak merasa bersalah sudah membuatku kikuk dan malu atas perlakuannya tadi?

Aku dan dua orang timku menunggu di lift untuk turun dan pulang kembali ke kantor. Aku hanya menunduk tak fokus dan menunggu seluruh orang di lift sebelumnya untuk keluar. Seketika aku masuk dan bersiap menunggu lift menutup dirinya secara otomatis.

Tak lama lift itu terbuka kembali, seseorang masuk secara rusuh dan menganggu posisiku yang sudah stagnan di tengah.

“NAJMA!”

aku spontan menengadah ke arah suara yang sudah membuat gaduh satu lift. Lalu, aku tak bisa berkata-kata lagi.

“Kok lo di sini? Mau ketemu gue, ya?”

Ih, biasa aja kali, pikirku. Sungguh berlebihan sekali pria yang selalu meminta traktir makan siang dariku setiap sabtu.

“Lo yang ngapain?”

Ia tidak menggubris pertanyaanku dan lebih memilih untuk mengamati tombol lift yang menyala. Sesaat setelah pintu lift terbuka, ia langsung menarik tanganku tanpa izin.

“Ayo ikut gue sebentar.”

“Mau kemana? Gue harus balik ke kantor.”

“Sebentar aja.”

Aku hanya pasrah ditarik begitu. Kupandangi dua orang timku yang melambaikan tangan mereka pelan-pelan, seakan-akan merestui tindakan semena-mena lelaki yang begitu rapi dan trendi ini. Beda sekali penampilannya dibanding ketika kursus kemarin.

**

Sepuluh menit berlalu dan Fedi hanya mengamati wajahku dengan ekspresi cengegesannya yang begitu khas. Aku baru tahu ada jenis manusia yang sok akrab dan merasa seenaknya memperlakukan orang lain seperti dia.

“Jadi?” tanyaku mengawali perbincangan.

“Apa?”

“Ya jadi kenapa lo narik gue ke sini? Gue nggak punya uang buat traktir lo makan siang. Lagipula ini udah sore juga.”

“Idih, siapa yang mau minta bayarin makan?”

Aku melotot ke arahnya, agak gengsi dengan pertanyaannya yang lantang. Bikin malu saja.

“Terus?”

“Gue cuma pengen ngobrol sama lo,” Fedi berdiri dan menatapku kembali, “Lo suka minuman rasa apa?”

“Chocolate mint.”

“Kayaknya nggak ada deh.” Ujarnya sambil melihat papan menu di baliknya.

“Kalau gitu gue nggak minum.”

Fedi langsung menatapku dekat, “Kenapa?”

“Karena buat gue minuman enak cuma iced chocolate mint.”

Fedi kembali duduk dan menghadapku, “Kenapa? Apa alasannya?”

“Alasannya? Karena ketika gue minum chocolate mint, gue merasa sedang merebah di awan jam empat sore. Nyaman dan nggak terlalu panas. Cerah tapi nggak menyengat.”

“Kalau gitu gue akan belikan lo sesuatu yang lain, tunggu di sini.”

“Beli apa?”

“Minuman yang membuat lo merasa bisa tiduran di padang rumput penuh bunga daisy.”

“Wah, tahu darimana gue suka bunga daisy?” Aku berdecak kagum.

“Sini, handphone lo gue bawa. Biar nggak kabur.”

Entahlah, Fedi selalu saja bersikap diluar harapan. Aku malah tak pernah kepikiran untuk kabur darinya walaupun ingin sekali pulang rasanya.

Tak lama dari kepergiannya memesan minuman, ia kembali dan tersenyum lebar hingga gigi kikirnya begitu jelas di hadapanku.

“Kenapa?” tanyanya penasaran sesaat aku memandangnya dengan ekspresi tanya.

“Gue sedang berpikir kenapa gue harus bertemu lo dan Vanya di satu gedung yang sama. Apakah kalian satu paket yang tak terpisahkan?”

“Iya, dia sekantor sama gue.”

“HAH? Lo kerja di Sambung juga?”

Fedi mengangguk polos.

“Kenapa?” gumamku bertanya pada dunia.

“Kenapa?” giliran Fedi yang bertanya kepadaku.

“Gue boleh nggak bertanya tentang lo dan Vanya, karena kalian berdua cukup membingungkan untuk dimengerti.”

“Hm, nggak. Better kalau lo bertanya tentang gue aja. Atau akan sangat baik kalo lo ngomongin tentang film yang pernah lo presentasiin di kelas minggu lalu. Apa judulnya?”

“Kings of Summer.”

“Nah, itu jauh seribu kali lebih menarik untuk dibahas.”

Kenapa ya? Apa yang salah dengan Vanya sehingga ia sangat tak mau membahas perempuan cantik yang tampak seperti Kendall Jenner bagiku. Pasti ada rahasia getir antara mereka berdua yang tak ingin Fedi ungkapkan kepada orang lain. Petunjuk satu-satunya yang sangat krusial adalah Vanya punya perasaan yang mendalam kepada Fedi namun ia terus menolaknya. Tapi jika dilihat dari situasi bahwa mereka adalah teman kantor, pasti hubungan mereka lebih dari dua manusia yang mengejar dan dikejar karena cinta.

Aduh, aku penasaran sekali dengan pasangan ini.

“Najma.”

Aku hanya memandangi wajahnya.

“Lo tahu nggak sih, gue pernah berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika gue bertemu dengan lo selain di kampus setiap sabtu. Eh, terwujud dengan sempurna. Mungkinkah ini takdir?”

“Mm, gimana kalau lo nggak usah berpikir sejauh itu?”

“Kenapa?”

“Kenapa lo selalu bertanya kenapa?”

Pertanyaanku tidak terjawab karena dua minuman datang ke meja kami. Fedi kemudian mendekatkan minuman yang ia pesankan untukku : Iced Mango Yakult dengan selipan daun yang tujuannya hanya untuk mempercantik kemasan.

“Ini yang bikin gue merasa tiduran di padang rumput?”

“Yea. Coba deh.”

Aku mencicipi minuman ini dengan sedotan perlahan-lahan. Lalu sejenak kulihat pegunungan hijau di belakang Fedi membumbung tinggi. Kulihat di sekitarku hanyalah rerumputan hijau yang setengah mendung karena ditutupi awan-awan raksasa yang membentuk sesuatu mega besar melewati kami dengan kecepatan cukup kencang. Lalu tiba-tiba ada ombak air laut yang surut membasahi kedua kakiku yang telanjang.

“Asyik kan rasanya?”

“Tapi iced chocolate mint is the best.”

Fedi memajukan bibirnya dan menarik gelas minumanku, lalu tak segan menyedotnya dan menghabiskan setengah gelas yang tersisa, “Ini tuh enak secara objektif, sedangkan selera lo adalah subjektif! Jadi jangan disamain dong!”

Kok dia marah, sih? Kan ini tidak penting.

“Iced chocolate mint adalah zona nyaman buat lo sehingga nggak bisa ke lain hati. Lo nggak sadar ya, ada banyak hal yang menarik di luar sana selain minuman kesukaan lo itu?”

“Sadar kok. Tapi gue tetap merasa nggak ada yang bisa menggantikan iced chocolate mint di dunia ini.”

“Emang nggak bisa digantikan! Tapi kan mencoba hal baru tidak berarti menggantikan sesuatu! Lo harus mencoba melihat sesuatu diluar sudut pandang lo yang biasanya.”

“Kenapa harus?”

“Agar lo tahu bahwa selalu ada yang lebih baik untuk mengisi hari-hari lo. Dengan begitu lo nggak harus memikirkan masa lalu lo atau hal-hal yang sudah pernah lo lakukan dan lo menyukainya. Lo tahu, masa lalu itu nggak menawarkan apa-apa selain penyakit dan kegelisahan.”

“Haaaah?”

Aku kehabisan kata-kata selagi menatapnya. Tak kusangka ada yang begitu keberatan tentang kesukaanku kepada iced chocolate mint dan menyanggahnya mati-matian.

Ada apa ya dengan pria ini? Selain bermulut kejam, apakah dia juga hobi berdebat tentang masalah abstrak?

“Najma, sampai ketemu besok ya. Gue udah dipanggil meeting nih. Bye!”

“Oke.” Sahutku pelan. Aku hanya menyaksikan kepergiannya seperti sebelumnya. Aku duduk dan menatap dua minuman di depanku. Iced mango yakult yang ia beri untukku namun ia habiskan juga dan minumannya sendiri, sesuatu berwarna ungu tapi entah apa namanya.

Tunggu dulu! Besok, katanya?

OMG! Besok aku harus bertemu dua manusia itu lagi? Ya Tuhan, salah aku apaaaaa???

**

Keesokan harinya.

Aku berjalan lunglai, seolah-olah sedang menggendong karung goni isi batu kerikil untuk dijadikan senjata pencegahan penyerangan untuk Fedi, dan juga untuk Vanya jika memang diperlukan. Tak sadar ada tangan yang merangkul pundakku, kutengok ternyata Fedi.

“Ada apa?” tanyaku berusaha melepaskan tangannya.

“Just wanna say good morning to you.”

“Morneng.” Sahutku sekenanya. Ia sekejap sudah mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Apa sih?”

“Karakter lo yang seperti ini atau lo sebenarnya sedang patah hati?”

Aku terkesiap dengan pertanyaannya. Kucoba cari jawabannya dengan memainkan bola mataku ke kiri dan ke kanan.

“Kenapa? Canggung, ya?”

“Hah?”

“Lo nggak biasa dipandangi cowok kayak gini, ya?”

Pernah! Sangat pernah! Aga pernah memandangiku wajahku begitu lekat dan dalam. Tapi bedanya, aku menyukainya. Sedangkan kepadamu? Jangan harap!

“Bisa nggak agak menjauh sedikit? Gue nggak bisa nafas.”

“Sorry. Kalau segini?” Fedi memundurkan wajahnya sekita sepuluh sentimeter, bagiku tak ada perubahan. Apa sih maksudnya, dia naksir kepadaku?

“Kok diem aja?” tanyanya terus menatap mataku, sedangkan mataku merunduk, tak sudi melihatnya. Aku deg-degan setengah mati.

“Najma.”

“Awaaaaashhh!”

Tanpa sadar aku mengeluarkan suara nyaring layaknya kucing yang mengamuk. Ia menjauhkan wajahnya segera dan terbahak sambil memegang perutnya.

“Lo tuh lucu juga, ya.”

“Hah?”

Sumpah, sebenarnya ingin sekali aku bertanya kepadanya apa maksud dari perlakuannya kepadaku selama ini. Tapi aku tak mau menanyakannya karena aku tak siap menerima malu atas jawaban-jawabannya yang selalu diluar dugaan. Aku lebih baik diam saja dan tidak membuat masalah dengannya. Sudah cukup dengan membayar makan siang untuknya, tidak boleh ada yang lebih dari ini.

“Makan siang sama apa, ya? Gue bahkan udah nggak sabar untuk istirahat makan siang, padahal kita belum masuk kelas. Hahaha.”

Apanya yang lucu, sih?

“Kayaknya Teacher udah masuk tuh. Yuk.” Serunya sambil menarik tanganku, lagi-lagi dengan seenaknya. Aku berusaha melepasnya sekeras yang aku bisa. Fedi langsung berbalik menatapku bingung dan aku hanya melotot kepadanya sebagai respon jawaban. Aku beranjak duluan ke arah kelas setengah berlari agar Fedi tak akan menarik tanganku lagi.

**

Sudah waktu istirahat.

Aku dan Fedi masuk ke dalam kantin yang tidak terlalu ramai, namun cukup mengisi bangku-bangku oleh para mahasiswa yang sibuk sendiri dengan laptop dan catatannya. Di saat mata Fedi sibuk memonitor semua kedai makanan di sekitar kami, aku malah sibuk mencari orang yang kukenal agar punya alasan bisa menjauhi Fedi sementara waktu, namun naas impianku tidak terkabul.

Fedi sudah memegang piring makanannya dan menarik tanganku untuk duduk di sampingnya. Sungguh seenaknya manusia ini menarik tanganku seakan-akan aku adalah asistennya. Malah lebih buruk, aku merasa seperti jongos untuknya.

“Lo nggak makan, Najma?”

“Nggak. Gue bawa bekal. Nanti aja makannya.”

“Bekal? Wah, bekal apa?”

“Kimbap. Bikin sendiri.”

“Serius???” tanyanya begitu antusias hingga ia seluruh tubuhnya mengarah kepadaku.

“Apanya?”

“Kimbap itu apa? Sushi gitu, kan?”

“Iya, Korean sushi roll.”

“Oke, sudah diputuskan! Next week lo nggak usah bayarin gue makan siang di kantin.”

“Serius???” kini aku yang kegirangan.

“Iya! Tapi lo harus bikin dua bekal di mana yang satu adalah untuk gue. Sepakat?”

Aku kembali lesu dan memilih untuk menghiraukannya.

“Najma, jawab dong!”

“Iya, nanti gue bikinin.”

“Nomor lo berapa? Biar gue bisa request semalam sebelumnya untuk bekal makan siangnya. Hahaha.”

Sekali lagi, apanya sih yang lucu? Aku ingin sekali menjambak rambutnya yang berkonsep rambut bangun tidur itu.

“Sini handphone lo,” dan tanpa izin ia langsung mengambil ponselku yang kupegang dari tadi, “oke, sudah disimpan. Nama gue Fedi ya, jangan ditukar sama nama lain.”

Wah, ide bagus tuh. Aku pun tersenyum diam-diam sambil memikirkan nama paling cocok untuk Fedi di ponselku.

“Udah ah, yuk. Kita keluar dari kantin.”

“Makanannya?” tanyaku yang ternyata bisa kujawab sendiri. Semua makanan sudah ludes dan Fedi langsung beranjak sembari menarik tangan kananku seenaknya, seakan membuatku merasa seperti anjing yang dijaga pemiliknya.

**

Aku dan Fedi berjalan santai di area kampus.

“Najma.”

“Apa?”

“Kerjaan lo tuh bikin ide, ya?”

Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk pelan, “kenapa emang?”

“Gue cuma penasaran, kalau lo mampu bikin ide menjadi karya, kenapa lo tampak tidak punya ide untuk membuat hidup lo lebih ceria?”

Aku mendeliknya penuh dengan ketidaksukaan. Kenapa sih jadi manusia usil banget? Hanya karena aku tak sengaja nguping pembicaraannya, Fedi jadi semena-mena denganku seperti ini.

“Karena gue tidak ingin, sesederhana itu.”

“Lo tahu apa yang sebenarnya sederhana?” Fedi memposisikan wajahnya ke depanku sekali lagi sehingga ia berjalan mundur, “kalau lo merasa terganggu, lo akan marah. Kalau lo sedih lo akan nangis. Kalau lo ngantuk ya lo tidur. Kalau lo kangen, lo tinggal hubungin orang tersebut. Dan kalau lo suka dengan seseorang, lo tinggal bilang. Menurut gue apa yang lo lakukan bukan kesederhanaan, tapi kerumitan. Kalau lo merasa tidak ingin menjadi lebih baik dan memilih diam, menurut gue itu bukan tindakan sederhana, tapi tindakan seorang yang penakut.”

Aku langsung diam di tempat.

“So? Gimana?”

“Apanya?!”

Fedi tampak kaget dengan ucapanku yang meninggi, tapi segera tersenyum kembali.

“Najma.”

“Nggak usah sebut nama gue lagi deh. Gue nggak suka sama lo!”

“Kenapaaaa?”

Aku beranjak pergi meninggalkan Fedi yang penuh tanya. Cukup cepat langkahku meninggalkannya di belakang sehingga tak kurasa Fedi mengejarku dengan langkahnya yang lebar, atau mungkin ia masih terpaku di tempat tadi atas sikapku yang menyebalkan.

“Hai, Najma.”

Aku terkejut dengan kehadiran Vanya yang tiba-tiba di depan wajahku.

“Kalau lo pulang, lo naik apa?”

“Gue? Kereta.”

“Oh ya, ke mana?”

“Ya pulang, daerah rumah gue sekitar lima stasiun dari sini. Nggak terlalu jauh.”

“Gue ikut sama lo, ya?”

“Hah? Tapi, kenapa? Bukannya lo bawa kendaraan?”

“Iya sih, tapi gue pengen aja ngerasain naik kereta. Sepertinya seru.”

“Ya, boleh sih. Nggak apa-apa.”

“Yang bener? Asyiknya! Oke deh, kita bareng, ya!”

“Gue ikut.” Sahut seseorang di belakang. Aku menghela nafas super panjang, Kemunculan ia yang begitu tiba-tiba membuatku nyaris mati di tempat. Tapi kulihat, Vanya juga sama kagetnya.

“Fedi, lo ikut?”

“Iya, kenapa?”

“Nggak apa-apa kok.” Jawab Vanya manis, manis sekali.

Aku secara tak sadar terus memperhatikannya. Begitu penasarannya pada wanita ini tentang watak dan kepribadiannya. Kenapa ia tiba-tiba ingin pergi naik kereta bersamaku dan begitu ramah menyapaku? Seakan Vanya yang kemarin berhadapan denganku bukanlah orang yang sama dengan Vanya yang kini berada tepat di depan mataku.

“Najma, gue ikut. Apapun yang terjadi gue ikut.” Ujar Fedi berlalu. Aku terus memandangi Fedi dari belakang hingga ia tak tampak lagi, lalu aku beralih melihat Vanya yang terus mengamati wajahku dengan detil dan tanpa jeda.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Ma. Nanti jangan tinggalin gue, ya.”

Lalu Vanya pun berlalu masuk menuju kelas. Sedangkan aku? Rasanya ingin sekali pulang ke rumah dan melupakan bahwa aku pernah bertemu dan mengenal dua manusia yang ajaib seperti mereka.

Disitu aku sadar bahwa janganlah kita iri dengan manusia yang cantik atau tampan parasnya, karena sebenarnya mereka memiliki kepribadian yang mencengangkan jika kita mengetahuinya.

Aku yakin ada yang aneh dengan Vanya bagaimanapun ia terlihat normal-normal saja seperti teman-teman kelasku yang lainnya. Kamu tahu, menurutku Vanya memiliki pandangan ‘crazy eyes’ atau mata gila. Jika kamu cukup memahami maksudku, Vanya memiliki cara pandang seperti orang yang mempunyai kecenderungan ketidakstabilan mental yang membuatnya terlihat sakit jiwa, namun dengan lihai ia sembunyikan dengan kecantikan dan kepintaran otaknya. Tapi, aku tidak boleh buruk prasangka dulu padanya, siapa tahu mungkin ia hanya sedikit cemburu karena Fedi terlihat senang mengangguku.

Iya, bisa saja seperti itu.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!