Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima belas
"Lo suka sama si Angel?" Tanya Satria.
"Najis.." ucap Kenzo bergidik.
"Terus siapa?" Tanya Satria lagi.
"Kagak tahu." sahut Kenzo santai membuat Satria menganga.
Plak...
Karna geram dengan jawaban Kenzo, Satria pun menggeplak lengan sahabatnya membuat Kenzo meringis..
"Lo gimana sih, suka tapi kagak tahu." gemas Satria sambil menggerutu.
"Sakit dugong.." umpat Kenzo mengusap lengannya.
"Ya gue gak tahu, orang baru ketemu dua kali, itupun secara gak sengaja." ujar Kenzo lagi.
"Oh.. Lo sih ngomongnya setengah-setengah." sahut Satria santai tak merasa bersalah.
Membuat Kenzo mendengus.
"Lo yakin kalau itu cewek masih sigle? Gimana kalau dia udah punya pasangan atau bahkan sudah menikah?" Tanya Satria membuat Kenzo terdiam.
"Lo ngerusak kebahagiaan gue aja." ucap Kenzo membuat hatinya tersentil, walau apa yang diucapkan Satria ada benarnya.
Bagaimana kalau perempuan yang berhasil mencuri perhatiannya itu sudah memiliki pasangan atau bahkan sudah bersuami.
"Gue kan cuma mempringatkan bos, gak ada salahnya kan lo cari tahu dulu apa status cewek yang lo taksir itu. Jangan sampai lo suka sama istri orang." ucap Satria.
Ia juga merasa bersalah karna melihat sahabatnya berubah murung, tak seperti sebelumnya. Beberapa hari ini Kenzo terlihat berseri-seri, kadang senyum-senyum sendiri.
"Kenapa lo gak coba terima si Angel aja, dari dulu tu anak getol banget pengen deketin lo." ucap Satria menahan tawanya.
Pasalnya dari dulu Angel tidak pernah menyerah untuk mendekati seorang Kenzo. Walau Kenzo selalu bersikap acuh ketika melihat keberadaan Angel.
Kenzo pernah dijodohkan oleh orang tuanya dengan Angel yang juga anak dari sahabat orang tuanya. Tapi langsung ditolak oleh Kenzo.
"Lo aja sono, gue gak suka sama cewek yang mukanya ketutupan dempul." ucap Kenzo bergidik mengingat Angel yang selalu berpenampilan glamor, tak lupa dengan make up yang selalu menor.
Membuat Satria tertawa, ia juga selalu ngeri ketika melihat Angel yang selalu menempel pada Kenzo.
"Kamu kapan mau kasih ibu uang untuk beli seserahan sama mahar Ris? Pernikahan kamu sama Fela empat hari lagi lho." ucap bu Ratna pelan ketika melihat Shafira masuk kedalam kamar membawa pakaian yang baru selesai dilipat.
"Besok sepulang dari kantor Aris tarik uangnya bu." sahut Aris yang masih asik memainkan handphonenya.
"Nanti kalau sudah menikah, kamu bawa Fela tinggal disini aja, jangan ngontrak. Lebih baik uang untuk bayar kontrakannya dipakai buat tambah-tambah kebutuhan disini." ucap bu Ratna membuat Aris langsung menoleh.
"Ya jangan dong bu, emangnya ibu mau Shafira ngamuk kalau tau Aris nikah lagi." ucap Aris.
"Memangnya si Shafira bisa apa kalau kamu sudah menikah dengan Fela, kalau dia gak terima, ya udah kamu ancam aja bakalan cerein. Si Shafira itu hidupnya sudah sebatang kara, juga gak punya apa-apa, dia pasti gak berani ngebantah. Emangnya dia mau kemana kalau kamu sudah ancam begitu." ucap bu Ratna sombong.
Ia terus memperngaruhi Aris, kalau bisa ia ingin sekali Aris menceraikan Shafira.
"Tapi kan Shafira masih punya rumah
peninggalan orang tuanya bu." ucap Aris masih ragu dengan ide ibunya.
"Halah.. rumah reot gitu, mungkin juga sekarang udah ambruk karna udah lama gak diurus."
"Nanti Aris pikir dulu deh bu." ucap Aris yang mulai sedikiti terpengaruh dengar ucapan ibunya.
"Loh... kok saldonya tinggal tujuh juta." Aris seketika syok, ia pun mengucek-ngucek kedua matanya berharap penglihatannya salah.
"Ini beneran tujuh juta atau tujuh puluh juta."
gumam Aris dengan jantung berdebar.
Dan dengan tangan bergetar ia mengeluarkan kartu ATM nya dan memasukkannya kembali ke mesin ATM. Berharap mesin ATM nya error.
"Ini beneran tujuh juta." gumamnya sembari menghitung jumlah nol dibelakang angka tujuh. Karna merasa mesin ATM nya sedang error, Aris pun berpindah mencari mesin ATM yang lain.
"Ya ALLAH... ini beneran tujuh juta. Terus kemana sisa uang ku, harusnya kan tinggal tiga puluh tujuh juta. Kemarin aku ambil cuma tiga juta, untuk kasih ibunya Fela dua juta. Terus yang tiga puluh jutanya kemana." Aris sudah lemas karna uang di ATM nya hilang tiga puluh juta.
Kemarin ia mengambil tiga juta ketika akan kerumah Fela. Kebetulan sekali ketika Aris menarik uangnya, ia tidak memeriksa saldonya, dan resinya pun tidak ada yang keluar. Mungkin belum diisi oleh petugas.
"Masa sih ATM nya dibobol orang, kalau dibobol pasti isinya diambil semua." gumamnya yang hampir menangis.
Aris pun berjalan gontai kearah motornya setelah menarik semua sisa uang yang ada direkenignya, dan langsung pulang dengan perasaan yang tidak karuan.
Ia mengingat-ngingat kapan ia menarik uangnya yang tiga puluh juta itu. Berharap ia lupa kalau sebelumnya pernah mengambilnya dan ia simpan dirumah.
Tapi dari perjalanan sampai rumah ia tidak merasa kalau pernah mengambil uang tersebut.
Ketika gajian ia hanya mengambil lima juta saja. Dua juta ia berikan pada bu Ratna, lima ratus ribu ia berikan ke adiknya Tia untuk uang jajan sekolah, sisanya ia pegang sendiri untuk beli bensin dan makan ketika dikantor, dan Shafira ia jatah dua puluh ribu sehari untuk keperluan rumah.
"Assalamu'alaikum.." ucap Aris tidak semangat dan masuk rumah dengan wajah lesu.
"Wa'alaikumsalam.." seru bu Ratna sambil menghampiri anaknya.
Bu Ratna pun langsung menyeret lengah Aris menuju kamarnya.
"Mana, kamu udah ambil uangnya kan." todong bu Ratna langsung sambil menengadahkan tangannya di depan wajah Aris.
"Bu.. emm.. u-uangnya." gagap Aris.
"Mana, kasih ke ibu, besok ibu mau ke pasar beli keperluan untuk seserahan sama beli maharnya." ucap bu Ratna.
"Bu.. u-uangnya gak ada." cicit Aris
Plaak...
"Gak ada gimana? kamu bilang kalau kamu punya tabungan. Terus sekarang kenapa kamu bilangnya gak ada." ucap bu Ratna sambil menggeplak bahu Aris.
"Uang yang direkenig Aris hilang bu." ucap Aris takut-takut sambil mengusap-usap bahunya yang terasa panas akibat geplakan ibunya yang tak kira-kira.
"Hilang gimana? kamu jangan bohongin ibu, nanti kalau hilang beneran baru tau rasa kamu." ucap bu Ratna melotot. Ia mengira kalau Aris hanya membohonginya, lagian masak uang direkenig bisa hilang sendiri kalau tidak pernah diambil. Begitu pikir bu Ratna.
"Aris gak bohong bu, uang direkenig Aris hilang, sekarang tinggal sisa tujuh juta aja." ucap Aris sambil mengambil uang yang ada didalam tasnya.
"Emangnya uang simpanan kamu ada berapa?" Tanya bu Ratna.
"Harusnya sisa tiga puluh tujuh juta, karna kemarin waktu kerumah Fela Aris ambil tiga juta." ucap Aris.
"Apa.." pekik bu Ratna melotot.
"Berarti yang hilang tiga puluh juta, gitu?" ujar bu Ratna lagi sambil meraba dadanya.
"I-iya." angguk Aris takut-takut.
"Kenapa bisa sampai hilang Ris, itu uang banyak. Tiga puluh juta bukan tiga puluh ribu." ujar bu Ratna sambil mengacungkan tiga jarinya.
Baginya uang segitu sangat banyak, sangat rugi kalau hanya hilang cuma-cuma.
"Aris juga gak tahu bu, tiba-tiba aja tinggal tujuh juta. Kemarin terakhir Aris ambil yang tiga juta itu perasaan masih utuh empat puluh juta." ucap Aris yang sudah uring-uringan memikirkan kemana perginya uangnya itu.
"Kamu yakin gak pernah ambil uang sebelumnya selain yang tiga juta?"
Aris menggeleng.
"Berarti ada yang nyuri uang kamu ini. Apa kamu pernah terima telpon dari nomor asing, kan banyak tuh video di yotop kalau orang bisa kena hipnotis dari handphone." ucap bu Ratna yang juga sudah lemes memikirkan uang anaknya.
"Kalau kena hipnotis atau rekeningnya dibobol orang, biasanya uangnya diambil semua bu. Masak dia mau sisain sepuluh juta, kecuali malingnya baik." ujar Aris yang sudah ngelantur.
Mana ada maling baik.!
Plaaakk...
Lagi-lagi bu Ratna menggeplak bahu Aris yang sedang sibuk memikirkan uangnya.
"Ssss... sakit bu." keluh Aris yang terkejut bercampur panas dibahunya.
"Atau jangan-jangan istri kamu ini yang ngambil uang kamu. Makanya dia sering keluyuran keluar rumah, pasti itu dia lagi ngabisin uang kamu Ris." ujar bu Ratna melotot.
Ia yakin pasti menantunya yang mengambil uang anaknya.
Membuat Aris langsung berdiri dan keluar dari kamar ibunya.
Brakk...
Aris pun membuka kasar pintu kamarnya dan melihat istrinya santai sedang memainkan handphonenya.
"Kamu bisa gak sih mas buka pintunya pelan-pelan." ucap Shafira yang terkejut dengan suara pintu yang dibanting.
"Kamu kan yang ngambil uang direkening mas!" ucap Aris to the poin.
Deg...