NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: tamat
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO / Tamat
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Dengan penampilan mereka yang sangat membaur—Ganis dengan dasternya dan Permadi dengan kaos oblongnya—mereka benar-benar tak terdeteksi.

Mereka menyusuri lorong-lorong pasar sambil menenteng kresek berisi kue lumpur yang lumer di mulut, bakso goreng yang garing, hingga menyeruput susu sapi hangat langsung dari gelas plastik.

Puncaknya, mereka duduk di pojok pasar untuk menikmati mie ayam bakso.

Rengganis makan dengan sangat lahap, menambah sambal hingga kuahnya memerah, sementara Permadi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat nafsu makan istrinya yang kembali pulih.

Sore harinya, mereka tiba kembali di rumah dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih ringan.

Rengganis merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah, merasa sangat puas.

"Aduh, kenyangnya. Besok kita ngapain lagi ya?" tanya Rengganis sambil mengusap perutnya.

Permadi yang sedang membuka kaosnya karena gerah, menoleh dengan alis terangkat.

"Besok? Ya lanjut liburan dong."

Rengganis melirik suaminya jahil. "Mas kerja aja deh besok. Aku mau di rumah saja, mau santai-santai sambil baca buku kedokteran."

Permadi langsung menghampiri Rengganis dan mengungkung tubuh istrinya di sofa.

"Nggak! Itu curang! Kamu sengaja ya mau buat aku lupa sama si Kitty?"

Rengganis tertawa kecil, mencoba menghindar dari tatapan tajam nan nakal Permadi.

"Mana ada aku buat lupa, Mas..."

"Kamu kan sudah janji besok adalah harinya," ucap Permadi dengan nada rendah yang posesif.

"Jangan coba-coba menghindar dengan menyuruhku ke kantor. Kantor bisa jalan sendiri tanpa aku, tapi 'Kitty' tidak bisa jalan sendiri tanpa dokternya."

Rengganis mencubit hidung Permadi, gemas dengan sifat keras kepala suaminya yang satu ini.

"Iya, iya, Mas. Aku tidak lupa. Galak sekali sih kalau soal itu."

Permadi tersenyum puas, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Rengganis.

"Pokoknya, kita di rumah terus sampai hari Senin. Tidak ada gangguan, tidak ada Laras, tidak ada urusan rumah sakit atau kantor. Hanya kita berdua. Setelah itu, baru kita bekerja kembali menjadi manusia normal."

Rengganis mengusap rambut Permadi dengan lembut.

Ia tahu, setelah semua ketegangan ini, mereka memang butuh waktu berdua untuk benar-benar terhubung kembali sebagai suami istri.

"Janji ya, Mas? Sampai Senin kita hanya fokus pada kita?" bisik Rengganis.

"Janji. Dan besok pagi, aku akan menagih semua janji 'lusa' yang kamu tunda-tunda itu," jawab Permadi sambil mengecup telapak tangan istrinya.

Baru saja Permadi ingin semakin dalam membenamkan kepalanya di pangkuan Rengganis, suara bel pintu mansion mereka berbunyi dengan nada yang sangat akrab.

Tak lama kemudian, asisten rumah tangga membukakan pintu dan terdengarlah suara riuh yang sudah tidak asing lagi.

"Permadi! Ganis! Lihat Mama bawa apa!"

Ternyata, kedua orang tua mereka datang berkunjung secara mendadak.

Papa Baskoro dan Mama Permadi, serta orang tua Rengganis, melangkah masuk dengan senyum lebar.

Di tangan Papa Baskoro, terjinjing sebuah kotak besar yang aromanya langsung memenuhi seisi ruangan.

"Ayam Panggang Kediri!" seru Papa Baskoro dengan bangga.

"Mama sengaja pesan langsung dari langganan lama yang baru buka cabang kualitas super di sini. Masih panas, bumbunya meresap sampai ke tulang."

Rengganis yang tadinya mengantuk langsung duduk tegak.

Aroma bumbu santan kental yang dipanggang di atas kayu bakar itu memang tak ada tandingannya. Gurih, sedikit manis, dan ada aroma smoky yang khas.

Permadi menghela napas panjang, sempat melirik Rengganis dengan tatapan "Gagal lagi momen kita" yang membuat Rengganis tertawa tanpa suara.

"Ayo, duduk semua! Kita makan malam keluarga," ajak Mama Rengganis sambil menata piring di meja makan besar.

Suasana makan malam itu terasa sangat hangat. Tidak ada pembahasan soal Laras atau berita buruk.

Papa Baskoro justru sibuk bercerita tentang betapa bangganya dia melihat Permadi dan Rengganis tetap kompak di depan media semalam.

"Makan yang banyak, Ganis. Kamu harus kuat, dokter itu tidak boleh pucat," ujar Mama Permadi sambil menyendokkan bagian paha ayam yang paling empuk ke piring menantunya.

Permadi yang duduk di sebelah Rengganis hanya bisa pasrah.

Rencananya untuk "berduaan" harus ditunda beberapa jam lagi demi ayam panggang dan obrolan orang tua. Namun, di bawah meja, tangan Permadi tidak tinggal diam.

Ia menggenggam jemari Rengganis, seolah memberikan tanda bahwa "pesta" mereka yang sesungguhnya baru akan dimulai setelah para orang tua pulang.

"Enak banget ayamnya, Pa," puji Rengganis sambil menikmati setiap gigitan.

"Tentu saja! Ini asupan tenaga buat kalian," jawab Papa Baskoro sambil tertawa penuh arti, yang membuat pipi Rengganis memerah seketika.

Kemudian Papa dan Mama berpamitan dengan mereka berdua.

Suara deru mobil orang tua mereka perlahan menghilang di kejauhan.

Begitu pintu depan tertutup rapat Permadi membalikkan badan, menatap Rengganis dengan seringai predator yang sudah ia tahan sepanjang acara makan ayam panggang tadi.

Tanpa suara, ia melangkah menuju pintu utama, memutar kunci ganda dengan bunyi klik yang tegas, lalu mematikan lampu ruang tengah, menyisakan pencahayaan redup dari koridor.

"Mas, janjinya kan besok?" Rengganis mulai mundur perlahan, merasakan aura berbahaya namun menggoda dari suaminya.

"Tidak ada besok. 'Lusa' itu dihitung dari jam kita mandi kemarin, dan secara teknis, sekarang sudah masuk waktunya," jawab Permadi dengan suara rendah yang serak.

"Ayam panggang tadi memberikan 'Kitty' tenaga ekstra, Sayang."

"Mas!! Ini curang!" Rengganis berbalik dan langsung lari menaiki tangga menuju kamar utama mereka.

Aksi kejar-kejaran pun pecah. Seperti anjing dan kucing, Permadi mengejar istrinya dengan tawa kemenangan.

Rengganis berlari gesit, daster batik bunganya berkibar-kibar tertiup angin dari gerakannya yang lincah.

Begitu sampai di dalam kamar, Rengganis mencoba menutup pintu, namun tenaga Permadi jauh lebih kuat.

Pria itu menahan pintu dengan bahunya, lalu menyelinap masuk dan langsung mengunci pintu kamar dari dalam.

"Mau lari ke mana, Dokter?" goda Permadi.

Rengganis tertawa sambil terengah-engah, berputar mengelilingi ranjang king size mereka agar tidak tertangkap.

"Mas, ingat kesehatan! Aku baru sembuh!"

Bukannya berhenti, Permadi justru merentangkan tangannya lebar-lebar.

Tiba-tiba, ia melakukan gerakan tari India yang kaku namun kocak, menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil mulai bernyanyi dengan nada yang dibuat-buat merdu.

" Tum paas aaye... yun muskaraye... "

Permadi bernyanyi dengan penuh penghayatan, matanya menatap Rengganis dengan tatapan maut.

" Kuch Kuch Hota Hai, Sayang. Ada sesuatu yang terjadi di sini!"

"Permadi!!" Rengganis menjerit geli sekaligus malu.

Tawanya pecah melihat suaminya yang biasanya dingin dan berwibawa di depan karyawan, kini bertingkah konyol demi menggoda istrinya sendiri.

"Berhenti menyanyi! Suaramu sumbang!"

"Biar sumbang yang penting sayang!" .

Permadi langsung melompat melewati ranjang, menyambar pinggang Rengganis dalam satu gerakan cepat.

Rengganis terjatuh ke atas kasur yang empuk dengan Permadi yang mengungkungnya di bawah.

Tawa mereka perlahan mereda, digantikan oleh deru napas yang saling bersahutan.

Daster Rengganis tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit mulusnya yang membuat mata Permadi menggelap seketika.

"Sekarang, tidak ada lagi alasan, Dokter," bisik Permadi tepat di depan bibir Rengganis.

"Janji adalah utang, dan malam ini aku penagih utang yang paling kejam."

Rengganis hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Permadi, menyerah pada pesona suaminya yang luar biasa.

"Pelan-pelan ya, Mas. Ingat, aku istrimu, bukan musuh bisnismu."

"Aku akan sangat lembut, sampai kamu lupa kalau kamu pernah mengompol," Permadi nakal sebelum membungkam bibir istrinya dengan ciuman khasnya.

1
falea sezi
ya tamat
Endang Sulistia
keren
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🙏
total 1 replies
sitanggang
jalan ceritanya agak sedikit kebodohan👎👎👎
falea sezi
bibir mu bekas jalang permadi
Rais Raisya
selamt ya buah rahul dan anjali 😅🤣
Anonymous
Ini lirik melompat lebih tinggi... klo pemuja rahasia
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
my name is pho: 🤭🤭 terimakasih kak
total 1 replies
Nur Rsd
🤣🤣🤣
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!