Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHHHHH !!!
"Bapak tidak mengambilnya, Bu. Terus siapa? Masa iya di sini ada maling?" tanya Pak Harun dengan nada bingung sekaligus cemas.
Maling?
Di ambang pintu, Laras bergumam pelan. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan serius kedua orang tuanya dari dalam kamar. Laras segera melangkah masuk dan tak lupa menutup pintu rapat-rapat.
"Maling? Di mana ada maling, Bu? Apa yang hilang?" tanya Laras penasaran.
"Pak...?" Bu Sulis menatap suaminya, ragu apakah harus menceritakannya pada putri mereka.
"Cerita saja, tidak apa-apa, Bu." sahut Pak Harun pasrah.
"Sebenarnya ada apa sih, Bu? Uang siapa yang hilang?" Laras mendesak lagi.
"Uang Ibu, Laras... lima belas juta hilang." ucap Bu Sulis dengan suara gemetar.
Laras tersentak. "Lima belas juta?"
Ia terkejut bukan main. Siapa yang berani mencuri uang sebanyak itu di rumahnya sendiri? Selama ini, rumah yang ia selalu aman.
"Ibu tidak lupa menaruhnya? Lagipula, kenapa Ibu bawa uang tunai sebanyak itu?"
"Ibu tidak lupa, Laras. Tadi sore sebelum Ibu memasak, Bapak mau ke masjid. Uang sepuluh juta sudah Ibu berikan ke Bapak, sisa dua puluh juta masih ada di dalam tas. Ibu simpan di lemari rias ini. Tapi saat Ibu selesai memasak dan masuk ke kamar, tas itu sudah berpindah ke atas ranjang dan uangnya raib." jelas Bu Sulis panjang lebar.
Laras berdehem pelan. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Ia merasa tahu siapa pelakunya, namun ia tak ingin asal menuduh tanpa bukti kuat.
" Sepertinya aku tahu siapa pencurinya. Meskipun di kamar ini tidak ada kamera pengawas, tapi di ruang tengah ada CCTV. Aku bisa cek siapa yang masuk ke kamar ini tadi sore. Pantas saja dia tadi diam saja, tidak ribut soal uang lagi." batin Laras geram.
"Mungkin belum rezeki kita, Bu. Anggap saja siapa pun yang mengambilnya memang sedang sangat butuh." ucap Laras mencoba menenangkan ibunya sambil menyembunyikan kecurigaannya.
"Iya, Laras. Mau bagaimana lagi kalau sudah hilang. Kamu juga harus lebih hati-hati sekarang." pesan Bu Sulis.
"Iya, Bu." jawab Laras patuh.
Laras dan orang tuanya kemudian keluar kamar menuju teras belakang. Di sana, mereka melihat Bu Ajeng dan Tiara sedang asyik menonton drama Korea, seolah tak terjadi apa-apa.
**
Lima hari berlalu.
Hari yang dinanti-nanti Arga dan Angel akhirnya tiba. Hari ini mereka melangsungkan pernikahan di rumah majikan orang tua Angel. Kebetulan, sang majikan sudah dua hari pulang kampung untuk urusan mendesak.
Bu Sitti sebelumnya sudah meminta izin untuk mengadakan acara keluarga di rumah itu, tanpa memberi tahu bahwa acara tersebut adalah pernikahan putrinya. Jika tahu itu adalah pernikahan Angel, sang majikan pasti tidak akan keberatan untuk hadir.
"Sah!!!"
"Sah!!!"
Arga dan Angel resmi menjadi suami istri secara siri. Pak Komar sendiri yang menikahkan mereka. Meski awalnya Pak Komar menolak keras karena tahu Arga masih berstatus suami sah Laras, ia tak punya pilihan lain setelah tahu Angel sudah berbadan dua. Syaratnya cuma satu, setelah menikah Angel harus ikut suaminya. Pak Komar tidak mau Arga menumpang di rumah majikannya itu.
"Akhirnya kamu resmi jadi keluarga kami, Angel. Ingat ya, setelah ini kamu harus buat Laras tidak betah di rumah itu. Wanita miskin dan pelit seperti dia lebih baik ditendang saja. Kami dari dulu tidak pernah suka padanya." bisik Ratih, mulai memanas-manasi.
"Tenang saja, Mbak. Aku pastikan dia akan segera pergi dari rumah itu dengan tangan kosong." jawab Angel dengan rasa percaya diri yang meluap-luap.
"Nanti kami bantu. Ibu dan Tiara juga akan ikut turun tangan. Satu lawan lima, jelas kita yang menang." timpal Maya sambil tertawa keras.
Di sudut ruangan, Rangga suami Maya hanya bisa membatin. " Ini tidak benar. Kita semua membohongi Laras. Arga yang berbuat dosa, kenapa kita semua harus ikut-ikutan menanggungnya?". Rangga adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih memiliki hati nurani.
Acara berlangsung sederhana. Angel sengaja tidak mengundang kerabat luas karena ia malu jika mereka tahu orang tuanya hanyalah asisten rumah tangga di rumah mewah itu. Kepada Arga dan keluarganya, Angel berbohong bahwa ia adalah anak orang kaya yang harus menjalani masa uji kemandirian selama satu tahun hidup pas-pasan sebelum bisa mencicipi warisan orang tuanya.
"Angel, malam ini kamu dan suamimu menginap di sini dulu ya. Besok baru pindah ke rumah Arga." pinta Bu Sitti.
Pak Komar tidak setuju, namun ia memilih menarik istrinya ke sudut ruangan untuk bicara empat mata.
"Bu, apa-apaan sih? Ini bukan rumah kita. Kita sudah diizinkan pakai rumah ini untuk acara saja sudah bagus, jangan sembarangan minta mereka menginap. Bapak tidak suka."
"Bapak ini bagaimana? Kita kan sudah izin mau ada acara keluarga. Bu Sulis saja mengizinkan dan bilang anggap rumah sendiri. Pokoknya malam ini mereka menginap di sini." tegas Bu Sitti tak mau dibantah.
Pak Komar hanya bisa menghela napas kasar, tak sanggup membendung sikap keras kepala istrinya.
**
Di ruang keluarga, Arga dan Angel tampak sangat bahagia.
"Mas, terima kasih ya sudah menjadikanku istrimu. Aku bahagia sekali hari ini." ucap Angel sambil merangkul manja lengan Arga.
"Iya sayang, Mas juga bahagia. Mulai sekarang kita bersatu, tidak ada yang bisa memisahkan kita." balas Arga dengan janji-janji manisnya.
Tak lama kemudian, Bu Ajeng dan rombongan berpamitan karena hari sudah sore. Mereka pulang menggunakan mobil masing-masing. Di dalam mobil, Tiara bertanya pada ibunya.
"Bu, jadi ke Balinya kapan? Perasaan ditunda terus, apa tidak hangus uang tiketnya?"
"Untung kemarin ditunda, Tiara. Uangnya aman karena Ibu belum sempat beli tiket. Kemarin pas mau booking, ada teman Ibu yang masuk rumah sakit, jadi ditunda dulu. Mungkin minggu depan." jelas Bu Ajeng.
Setelah perjalanan cukup lama, mobil Tiara sampai di depan rumah. Dari kejauhan, terlihat Laras sedang tenang menyiram bunga di halaman.
" Heh, sudah pulang mereka. Pasti Mas Arga tidak ikut pulang karena sedang menikmati malam pertama dengan istri simpanannya itu." batin Laras sinis.
Laras belum tahu bahwa Angel sebenarnya tinggal di rumah orang tuanya sendiri sebagai anak ART. Namun, Laras sudah tidak peduli. Ia sudah mengumpulkan semua bukti perselingkuhan Arga untuk memperkuat gugatan cerainya di pengadilan nanti. Termasuk bukti kepemilikan rumah itu yang akan ia pertahankan mati-matian dari keserakahan keluarga Arga.
"Kok Mas Arga tidak kelihatan? Dia tidak pulang?" tanya Laras, pura-pura tidak tahu saat melihat Bu Ajeng turun dari mobil.
"Besok pulangnya. Dia masih kumpul sama saudara, maklum sudah lama tidak bertemu jadi dia menginap di sana." bohong Bu Ajeng, persis seperti skenario yang mereka susun tadi pagi.
"Oh... begitu." jawab Laras singkat dengan senyum yang sulit diartikan.
itung itung kamu sambil PDKT sama damar.
dan aku sangat yakin damar mau membeli itu tanah
tolonglah arga.
jangan biarkan ibu mertuamu memanfaatkan harta ayahnya arga.