NovelToon NovelToon
KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alat mandiku hilang

"Laras pulang hari ini kan, Ga?" tanya Bu Ajeng pada Arga.

Keduanya sedang bersantai di depan televisi. Pemandangan di dalam rumah sungguh berantakan. Cucian piring menumpuk di dapur, sementara pakaian kotor memenuhi keranjang hingga meluap. Bu Ajeng maupun Tiara sama sekali tidak menyentuh pekerjaan rumah itu. Bahkan, piring bekas makan malam dua hari yang lalu pun masih teronggok di meja makan.

"Iya, katanya sore baru sampai."  jawab Arga cepat.

"Lalu orang tuanya ikut ke sini juga?" Bu Ajeng bertanya lagi.

"Tidak tahu, Bu. Laras tidak bilang. Hmm... Ibu ada simpanan uang tidak? Arga pusing, Bu. Angel minta mahar gelang emas 30 gram dan uang tunai 50 juta. Belum lagi urusan cincin kawin. Arga tidak punya uang sebanyak itu sekarang." Arga memijat pelipisnya, tampak terbebani oleh tuntutan Angel.

Sebelumnya, Angel dan Arga memang sudah membahas soal mahar. Angel meminta uang 50 juta dan emas 30 gram sesuai. Tanpa pikir panjang, Arga langsung menyanggupinya hanya demi menjaga gengsi di depan kekasih gelapnya itu.

"Banyak sekali permintaannya, Ga? Dia kan anak orang kaya, kenapa malah minta mahar sebesar itu? Dulu waktu kamu menikah dengan Laras saja maharnya cuma 700 ribu." ucap Bu Ajeng, sedikit terperanjat.

"Tentu beda kelas, Bu. Angel itu anak orang terpandang, dia ingin dihargai dengan pantas. Kalau Laras, ya Ibu tahu sendiri... meskipun orang tuanya punya kebun cengkeh dan kakao di pedalaman sana, tapi tetap saja beda. Masalahnya uang Arga tidak cukup. " keluh Arga.

"Benar juga, sih. Angel dan Laras memang jauh berbeda. Kenapa kamu tidak minta saja pada Laras? Gaji Laras sebagai orang kantoran kan besar. Pakai saja uangnya untuk maharmu nanti." cetus Bu Ajeng memberikan ide yang tak masuk akal.

"Hmm... benar juga ide Ibu. Aku menikah lagi menggunakan uang istri pertamaku untuk mahar? Aku yakin tabungan Laras pasti banyak." Arga seolah buta pada kenyataan bahwa selama empat tahun pernikahan mereka, hampir seluruh kebutuhan rumah tangga ditopang oleh Laras.

Arga sudah benar-benar terobsesi pada Angel. Di kepalanya hanya ada keinginan untuk segera menikahi wanita itu agar satu tahun kemudian sesuai janji Angel soal syarat hidup mandiri, ia bisa mulai mencicipi kekayaan warisan keluarga Angel.

"Istrimu itu pelit sekali. Ibu minta transfer untuk beli bahan makanan dari kemarin saja tidak digubris. Dia pergi tanpa meninggalkan uang atau stok makanan. Memangnya dia pikir kita di sini tidak butuh makan? Terpaksa kami beli makanan jadi terus. Menyebalkan. Lihat saja, kalau nanti sudah kamu ceraikan, dia pasti akan menangis darah." gerutu Bu Ajeng.

Tin tin tin!

Suara klakson mobil memecah obrolan mereka. Arga dan Bu Ajeng segera mengintip ke luar jendela. Itu mobil Laras.

"Laras, Bu. Katanya sore, kenapa jam segini sudah sampai?" tanya Arga heran.

"Halah, biarkan saja dia pulang cepat. Biar ada yang membereskan rumah ini. Lihat itu dapur sudah seperti kapal pecah. Biarkan dia yang mencuci semua piring itu." ucap Bu Ajeng santai, menganggap menantunya tak lebih dari seorang asisten rumah tangga.

Arga melangkah ke luar untuk menyambut istrinya dengan senyum manis yang sengaja dipasang. Namun, bagi Laras, senyuman itu justru membuatnya mual. Laras sudah tahu semua kebusukan di balik wajah manis itu.

"Istriku sayang, akhirnya sampai juga. Mas kangen sekali." ucap Arga seraya hendak memeluk Laras.

Laras dengan sigap menghindar. Ia merasa jijik disentuh oleh pria yang telah mengkhianatinya, apalagi saat membayangkan Arga membawa wanita lain ke atas ranjang mereka.

"Jangan peluk-peluk, Mas. Malu dilihat tetangga." kilah Laras dingin.

"Hehe, iya sayang. Sini kopernya biar Mas yang bawa. Kamu pasti lelah sekali. Ibu dan Bapak tidak ikut?" tanya Arga berbasa-basi.

"Bapak dan Ibu masih di sana. Mungkin lain waktu mereka baru berkunjung." jawab Laras singkat.

Laras sengaja melarang orang tuanya datang. Ia tidak ingin terus-menerus bersandiwara seolah hidupnya bahagia di depan mereka. Ia ingin menyelesaikan masalah perselingkuhan suaminya ini dengan tangannya sendiri.

Begitu masuk ke rumah, Laras disambut oleh wajah masam mertuanya di ruang tengah.

"Assalamualaikum, Bu." sapa Laras seadanya.

"Waalaikumsalam. Pulang juga kamu? Menantu pelit. Tidak memikirkan suami dan mertuamu di sini. Dari kemarin aku minta uang buat beli beras tidak kamu kasih. Kamu pikir kami makan angin?" Bu Ajeng langsung menyemprot Laras.

Laras menghela napas panjang. Baru menginjakkan kaki di rumah, ia sudah harus menghadapi omelan. Rasanya ia ingin meledak, tapi ia masih mencoba menahan diri.

"Bu, di rumah ini ada Mas Arga sebagai kepala rumah tangga. Kalau mau beli bahan makanan, ya mintanya ke Mas Arga, kenapa harus ke Laras? Lalu apa gunanya Mas Arga di sini, Bu? Lagipula, sebelum Laras pergi, stok beras masih ada satu karung sepuluh kilo, telur dua kilo dan udang satu kilo di kulkas. Masa iya dalam dua malam semuanya habis?"

"Masa sih, Bu, sepuluh kilo beras habis secepat itu?" Arga ikut bertanya karena memang ia tidak pernah peduli urusan dapur.

"Bagaimana tidak habis kalau dirampok oleh Mbak Ratih? Semuanya dibawa pulang ke rumahnya kan, Bu?" Laras tersenyum sinis.

"Memangnya kenapa kalau dibawa Ratih? Dia itu istrinya Dimas, menantuku juga. Apa yang ada di rumah ini adalah milikku, jadi aku berhak memberikannya pada siapa saja. Kamu tidak usah ikut campur." sahut Bu Ajeng tidak tahu diri.

Laras tertawa getir dalam hati. Padahal rumah ini adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya untuknya.

"Ya sudah kalau begitu. Nikmati saja semuanya. Kalau Ibu lapar, jangan salahkan Laras lagi. Aku capek, mau istirahat." ucap Laras lalu melenggang masuk ke kamar.

"Dasar menantu sialan. Laras, kurang ajar kamu." teriak Bu Ajeng lantang.

Di dalam kamar, Laras memandang ranjangnya dengan tatapan nanar. Sepreinya masih sama dengan yang ia lihat di rekaman CCTV. Rasa jijik menjalar di sekujur tubuhnya.

Sabar, Laras. Jangan menangis sekarang. Berpura-puralah tidak tahu apa-apa sampai semua bukti terkumpul untuk menggugat cerai pria ini,batinnya menguatkan diri.

Laras hendak berganti pakaian, namun saat masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, ia terperangah. Sabun, sampo dan seluruh peralatan mandinya hilang dari tempatnya.

"Kok tidak ada? Padahal aku tidak membawanya kemarin. Ini semua baru aku beli dan harganya mahal. Pasti ulah Tiara." gumam Laras kesal.

Ia segera keluar kamar dan menuju kamar Tiara.

"Laras, mau apa kamu masuk ke kamar adikmu?" tanya Bu Ajeng yang langsung bangkit menghampiri.

"Mau mengambil barang-barangku." jawab Laras dingin sambil membuka pintu.

Tiara tampak masih tertidur pulas. Gadis itu memang tidak punya kesibukan selain makan dan tidur jika sedang tidak kuliah.

"Tiara, bangun." Laras mengguncang tubuh adik iparnya.

"Laras, apa-apaan kamu ini?" Bu Ajeng mencoba menghalangi.

"Tiara, bangun. Mana sampo dan semua peralatan mandiku?" seru Laras lantang.

"Laras, Tiara tidak mungkin mengambilnya. Dia tidak masuk ke kamar kita. Mungkin kamu salah taruh." Arga mencoba membela adiknya.

Dulu Tiara memang sering mengambil kosmetik Laras tanpa izin sampai Laras mengancam akan memotong uang bulanannya. Sejak itu, Tiara tidak berani lagi.

"Mbak Laras, apa sih? Ganggu orang tidur saja." keluh Tiara dengan wajah bantal.

"Mana barang-barangku yang kamu ambil dari kamar mandi?"

"Barang apa? Aku tidak pernah masuk kamarmu lagi, Mbak. Jangan asal tuduh." sahut Tiara ketus.

Laras memeriksa meja rias Tiara, tapi memang tidak ada apa-apa di sana.

"Lalu kalau bukan kamu, siapa? Ibu?" Laras melirik Bu Ajeng.

"Jangan sembarangan menuduh ya." bentak Bu Ajeng.

Laras terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV saat Arga membawa Angel masuk ke kamar mereka. Sebuah kecurigaan muncul. Apa mungkin wanita itu yang mengambilnya?

"Sudah lihat kan? Tidak ada di kamarku. Makanya jangan asal tuduh." ujar Tiara.

"Di rumah ini cuma ada tiga wanita. Aku, kamu dan Ibu. Kalau kalian tidak mengambilnya, berarti ada wanita lain yang masuk ke rumah ini dan masuk ke kamarku, kan?" ucap Laras tenang sambil menatap tajam ke arah Arga.

Glek!

Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak menyangka Laras akan berpikir sejauh itu. Ia teringat Angel memang sempat mandi di sana." Apa mungkin Angel yang membawanya? Tapi kenapa?." Arga membatin panik.

"Oh, itu... aku ingat sekarang. Kemarin aku beres-beres kamar mandi, terus botol-botol yang aku pikir sudah kosong aku masukkan ke plastik sampah. Mungkin barang-barangmu ikut terbuang. Sudahlah, jangan diributkan, nanti aku ganti yang baru." kilah Arga mencari alasan.

Laras tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung ancaman. "Yakin mau menggantinya, Mas? Di sana ada sampo, kondisioner, sabun lulur dan perawatan lainnya. Total harganya sekitar 3,8 juta rupiah. Kalau mau ganti, silakan transfer ke rekeningku sekarang juga."

"Apa??? Tiga juta delapan ratus ribu?"

Bukan hanya Arga yang syok, Bu Ajeng dan Tiara pun ternganga mendengar harga perlengkapan mandi Laras yang setara dengan cicilan motor itu.

1
Ariany Sudjana
heh Bu Ajeng, kan pelacur murahan itu kesayangan kamu, kenapa kamu ga minta sama dia, untuk beli beras dll? kan orang kaya katanya 😂😂🤣🤣 sekalian suruh jalang peliharaan Arga itu untuk beres-beres rumah, jangan hanya tahunya numpang makan enak di rumah orang, tapi ga tanggung jawab untuk beresin rumah
Ariany Sudjana
haha laki-laki mokondo, mana sanggup kamu ganti perlengkapan mandi Laras? kan kamu dan keluarga kamu itu parasit Arga 🤭🤭😂😂
Ariany Sudjana
bagus Laras, kamu harus tegas dan kuat, tunjukkan kamu itu perempuan mandiri dan angel itu hanya batu kerikil, dan juga Arga itu laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Hardini Hardini
Biasa
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu angel, kamu pikir barang punya Laras yang kamu ambil itu uang dari Arga ? owh bodoh sekali kamu, sudah jadi pelacur murahan, dapat laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Ariany Sudjana
dari sekian orang di keluarga Arga, hanya Rangga yang wise, yang lain serakah semua. dasar Arga, kamu pikir kamu sudah menang, dengan angel hamil sekarang? yang ada kamu akan semakin terpuruk
Martina Loe
sedih dgn keluarga parasit
Ariany Sudjana
benar klop, laki-laki mokondo yang ga tahu diri dan pelacur murahan 🤣🤣 heh angel kamu mimpi mau jadi nyonya besar? mimpi kamu ketinggian, Laras itu perempuan baik-baik dan juga konglomerat, sedangkan kamu hanya batu kerikil dan juga jalang peliharaan 😂😂🤭🤭
Yati Syahira
elit pingin bergaya wkwkk ekonomi sulit pingin bergaya borju
Yati Syahira
mertua tsk ada aqlaq
Yati Syahira
benalu tapi arogan laras bodoh lama
Ariany Sudjana
Arga kamu bodoh, melepaskan berlian demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha pasangan yang cocok, yabg satu pelacur murahan, yang satu laki-laki mokondo 😄😄🤣🤣
tanpa nama
keluarga kere gaya hedon🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!