NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : 5 tahun kemudian

Lima tahun bukan waktu yang sebentar.

Kota kecil tempat Aruna tinggal sekarang berbeda dari yang pertama. Lebih ramai. Lebih hidup. Tapi tetap cukup jauh dari dunia Arka.

Toko kuenya sudah bukan ruko sewaan kecil lagi.

Sekarang namanya jelas terpampang di papan kayu besar:

Kembarasa Bakery & Café

Di dalamnya wangi roti baru matang bercampur tawa anak-anak.

“Ma, Arven curang!” teriak seorang bocah laki-laki kecil dengan rambut sedikit berantakan.

“Aku nggak curang! Arsha aja yang lambat!” balas yang satu lagi.

Aruna keluar dari dapur sambil bawa celemek penuh tepung.

“Eh, eh… ini lomba lari apa lomba ribut sih?”

Dua bocah kembar itu langsung lari ke arahnya.

Arven lebih tenang, matanya tajam dan serius.

Arsha lebih ekspresif, gampang cemberut tapi juga gampang ketawa.

Mira muncul dari belakang kasir sambil geleng-geleng kepala.

“Ra, dua-duanya keras kepala banget. Mirip siapa coba?”

Aruna cuma nyengir kecil. “Gen bagus.”

Mira melotot. “Gen siapa?”

Aruna nggak jawab. Tapi sesaat, matanya melembut.

Karena semakin hari, kemiripan itu makin jelas.

Garis rahang. Cara menatap. Bahkan cara Arven diam kalau lagi mikir… persis seseorang yang berusaha ia lupakan.

 

“Ma,” Arsha narik baju Aruna, “besok pentas sekolah ya. Jangan lupa datang.”

Aruna jongkok biar sejajar. “Jam berapa?”

“Jam sembilan!”

“Ya jelas Mama datang. Emangnya Mama pernah nggak datang?”

Arven nyelutuk pelan, “Kemarin Mama telat lima menit.”

Aruna langsung ketawa. “Ya ampun, diitungin.”

Mira bisik pelan, “Ra… lo bahagia kan?”

Pertanyaan itu sederhana.

Aruna menoleh ke dua anaknya yang lagi debat soal siapa yang lebih ganteng.

Ia tarik napas pelan.

“Iya.”

Dan itu bukan bohong.

Ia memang bahagia.

Meski kadang… kalau malam terlalu sepi, ia masih terbangun karena mimpi lama.

Tapi sekarang ada dua suara kecil yang biasa nyelonong ke kasurnya.

“Ma, aku mimpi monster…”

Dan semua ketakutan itu langsung kalah.

 

Di kota besar—

Arka berdiri di depan kaca ruang rapatnya.

Perusahaan makin besar.

Namanya makin dikenal.

Tapi hidupnya… tetap kosong.

Ia sempat mencoba melupakan.

Sempat hampir bertunangan dengan wanita pilihan keluarganya.

Tapi selalu gagal.

Karena setiap kali ia mencoba serius—

Nama itu muncul lagi.

Aluna.

Dan ia tidak pernah benar-benar berhenti mencari.

Hanya… mencari dengan cara yang lebih hati-hati.

Tanpa tekanan.

Tanpa memaksa.

Dimas masuk dengan map tipis.

“Pak.”

“Ada kabar?”

“Kami menemukan data lama yang mungkin terlewat. Lima tahun lalu ada catatan persalinan atas nama Aluna Pradipta di sebuah klinik kecil. Lalu setelah itu pindah kota lagi.”

Arka membeku.

“Persalinan?”

Dimas mengangguk pelan. “Catatannya… melahirkan anak kembar.” tanpa tau kalo sebenarnya anaknya ada 3

Dunia seperti berhenti beberapa detik.

“Kembar?” suara Arka hampir tak terdengar.

“Iya, Pak.”

Arka duduk perlahan.

Lima tahun.

Artinya… usia mereka sekarang lima.

Tangannya tanpa sadar mengepal.

Ia teringat malam itu.

Ia teringat perut Aruna yang membulat saat terakhir bertemu.

Dan ia sadar—

Ia bukan hanya kehilangan seorang perempuan.

Tapi mungkin… dua anak.

“Ada alamat sekarang?” tanyanya pelan, tapi tegas.

“Sedang kami lacak. Tapi kali ini… Bapak yakin?”

Arka menatap keluar jendela.

“Lima tahun lalu aku datang karena rasa bersalah.”

Ia berhenti sejenak.

“Sekarang aku datang karena tanggung jawab.”

Dan mungkin… sesuatu yang lebih dalam dari itu.

 

Sore itu, di Kembarasa—

Arven tiba-tiba berdiri di depan pintu sambil melihat mobil hitam yang lewat di jalan utama.

“Ma,” katanya pelan.

“Hm?”

“Aku nggak tahu kenapa… tapi rasanya kayak ada yang lagi nyari kita.”

Aruna yang lagi nyusun roti berhenti sebentar.

Jantungnya berdetak aneh.

“Ngaco kamu,” katanya sambil senyum, meski dadanya terasa sesak.

Arsha ikut nimbrung, “Yang nyari siapa?”

Arven cuma mengangkat bahu.

Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun—

Takdir mulai mendekat lagi.

Bukan sebagai kenangan.

Tapi sebagai pertemuan yang tak bisa dihindari lebih lama lagi.

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!