Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Minggu pagi itu, ruang tamu terasa lebih tegang dari biasanya. Arkan duduk tegak di sofa kayu, penampilannya rapi dengan kemeja flanel yang dikancing sempurna—kontras dengan gayanya yang biasanya urakan. Di depannya, Mama dan Kak Pandu duduk berdampingan, menatap Arkan dengan selidik yang intens.
Bagi Arkan, menghadapi tim lawan di final basket kemarin rasanya jauh lebih mudah daripada menghadapi tatapan Kak Pandu saat ini.
"Tante, Pandu..." Arkan berdehem, suaranya sedikit serak karena gugup. "Kedatangan saya ke sini, selain mau mengembalikan buku Kimia Nara, saya juga ingin meminta izin."
Mama tersenyum simpul, tatapannya lembut namun penuh selidik khas seorang ibu. "Izin apa, Arkan?"
"Saya ingin mengajak Nara pergi jalan-jalan siang ini. Pameran arsitektur di pusat kota, kalau Tante dan Pandu mengizinkan," ucap Arkan mantap, meski jemarinya meremas kunci motornya kuat-kuat.
Kak Pandu meletakkan gelas kopinya dengan bunyi tak yang sengaja dikeraskan. Sebagai kakak sepupu yang sudah tinggal bersama Nara sejak kecil, ia tahu persis setiap inci luka yang disimpan adik sepupunya itu. Baginya, menjaga Nara bukan sekadar tugas, tapi janji yang ia pegang teguh.
"Lo tahu kan, Ar, Nara itu bukan cuma sekadar 'adek' buat gue?" suara Kak Pandu merendah, raut jenakanya hilang. "Dia udah kayak adek kandung gue sendiri. Gue yang liat dia nangis pas bokapnya pergi, gue yang liat dia narik diri dari dunia. Gue nggak mau liat dia balik ke titik itu lagi."
Arkan menatap mata Kak Pandu tanpa ragu. "Gue tahu, Ndu. Justru karena itu gue di sini. Gue nggak mau bawa dia ke tempat yang cuma bikin dia capek. Gue mau kasih dia 'bab baru' yang layak dia dapetin."
Mama menepuk pelan tangan Kak Pandu, lalu beralih menatap Arkan. "Mama izinkan, Arkan. Jaga Nara baik-baik ya. Mama tahu kamu anak baik sejak kamu sering mampir ke sini."
Kak Pandu menghela napas panjang, akhirnya sandaran punggungnya melunak. "Oke. Gue pegang omongan lo. Tapi inget, Ar, gue punya nomor plat motor lo, alamat rumah lo, dan gue punya rekaman lo pas nangis kalah main game tempo hari. Lecet dikit adek gue, atau kalau dia pulang dengan mata sembab... rekaman itu viral."
"Siap, Kapten!" balas Arkan sambil memberi hormat, membuat suasana yang tadi tegang mendadak cair oleh tawa Mama.
Perjalanan Dimulai
Begitu kami sampai di depan pagar, Arkan membantuku memasangkan helm cadangannya. Jarak kami begitu dekat, dan kali ini, aku tidak lagi menahan napas karena takut. Aku menikmatinya.
"Gue sempet mikir bakal kena smackdown sama Pandu tadi," bisiknya sambil menurunkan kaca helmku.
"Kak Pandu emang gitu. Dia ngerasa bertanggung jawab penuh sejak dia tinggal bareng kita. Dia cuma nggak mau gue kecewa lagi," jawabku tulus.
Arkan naik ke motornya, menyalakan mesin yang menderu halus. "Siap buat kencan pertama kita, Tuan Putri? Kali ini nggak ada urusan basket, cuma ada gue, lo, dan maket-maket bangunan impian."
Aku naik ke boncengan, melingkarkan tanganku di pinggangnya tanpa ragu. "Jalan, Arkan. Sebelum Kak Pandu berubah pikiran."
Motor melaju membelah jalanan kota yang masih segar. Angin menerpa wajahku, membawa serta aroma parfum Arkan yang kini menjadi aroma favoritku. Di sepanjang jalan, aku menyadari satu hal: restu dari Mama dan Kak Pandu adalah kado terindah bagiku. Itu adalah tanda bahwa aku sudah cukup kuat untuk mulai percaya lagi.
"Nara!" seru Arkan di balik helmnya, berusaha mengalahkan suara angin.
"Apa?"
"Makasih udah kasih gue kesempatan buat jadi 'arsitek' di hari lo!"
Aku tertawa, menyandarkan kepalaku di punggungnya yang kokoh. Hari ini, aku tidak takut lagi pada hari esok.