NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja

​Bus mewah milik SMA Garuda Nusantara berhenti dengan desisan halus di depan sebuah gerbang baja raksasa yang dijaga ketat oleh personel berseragam taktis. Bagi Bima, pemandangan ini adalah hal yang lumrah, ia sudah terbiasa dengan gedung-gedung tinggi, sistem keamanan biometrik, dan kemewahan yang sunyi. Namun bagi Senara, setiap inci dari tempat ini terasa seperti planet lain.

​"Silakan turun," ujar instruktur pendamping dengan nada datar. "Selamat datang di kawah candradimuka para pemimpin masa depan."

​Senara melangkah turun, ransel tuanya terasa berat di bahu. Matanya membelalak menatap arsitektur bangunan utama yang menyerupai benteng futuristik. Hamparan rumput hijau yang dipotong dengan presisi, aroma kayu gaharu yang harum di lobi, hingga lantai marmer yang begitu bersih sampai Senara bisa melihat bayangan wajahnya yang cemas di sana.

​"Jangan berdiri di tengah jalan seperti orang hilang, Senara," suara dingin Bima memecah lamunan gadis itu.

​Bima berjalan melewati Senara dengan langkah santai, tangan kirinya dimasukkan ke saku celana kain bermereknya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah bangunan megah itu, karena baginya, ini hanyalah versi lain dari rumahnya yang membosankan.

​"Tempat ini... luar biasa, ya, Bim?" bisik Senara, masih terpukau.

​Bima berhenti sejenak, lalu menoleh dengan sudut bibir yang terangkat meremehkan. "Luar biasa? Ini standar minimal untuk orang-orang yang akan memegang kendali negara, Senara. Mungkin bagimu ini seperti istana, tapi bagiku, ini hanya fasilitas dasar. Jangan terlalu norak, kamu memalukan delegasi kita."

​Senara terdiam, menunduk menatap sepatunya yang sudah mulai menipis solnya. Di atas lantai marmer ini, sepatunya terlihat sangat kotor dan tidak layak.

​Ketegangan semakin memuncak saat mereka memasuki aula makan siang untuk prosesi penyambutan. Ruangan itu lebih mirip restoran hotel bintang lima daripada kantin sekolah. Meja-meja dilapisi taplak putih bersih, dengan deretan peralatan makan perak yang berkilau di bawah lampu gantung kristal.

​Senara duduk di kursi kayu jati yang berat. Di depannya, tersaji menu fine dining yang bahkan namanya tidak bisa ia lafalkan dengan benar. Ia menatap deretan garpu dan pisau dengan bingung. Mana yang harus digunakan lebih dulu?

​Bima, yang duduk tepat di seberang Senara, memperhatikan kebingungan itu dengan tatapan sinis. Ia dengan elegan mengambil serbet, meletakkannya di pangkuan, dan mulai menggunakan garpu kecil untuk hidangan pembuka dengan gerakan yang sangat terlatih.

​"Itu garpu salad, Senara. Yang di sebelah kananmu," ujar Bima tanpa melihat ke arahnya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh siswa lain dari berbagai provinsi. "Aku lupa... di rumahmu mungkin kamu hanya butuh tangan kosong untuk makan, kan?"

​Beberapa siswa dari sekolah elit lain yang ikut dalam short course itu terkekeh pelan. Senara merasakan pipinya memanas. Rasa malu itu jauh lebih perih daripada tamparan ayahnya.

​"Aku bisa belajar, Bima," balas Senara pelan, mencoba memegang garpu itu meskipun tangannya sedikit gemetar.

​"Belajar?" Bima meletakkan garpunya sejenak, menatap Senara dengan pandangan merendahkan yang murni. "Kamu mungkin bisa belajar rumus kimia dalam semalam, tapi kamu tidak bisa belajar 'kelas' dalam waktu singkat. Tempat ini diciptakan untuk mereka yang sudah terbiasa dengan standar tinggi sejak lahir. Kamu di sini karena otakmu, tapi jangan harap kamu bisa menyatu dengan lingkungannya. Kamu tetaplah pendatang haram di dunia ini."

​"Bima, itu keterlaluan," bisik Delisa yang duduk di sebelah Senara, mencoba membela.

​"Aku hanya bicara fakta, Delisa," sahut Bima dingin. "Lihat saja cara dia memegang gelas kristal itu. Dia takut gelasnya pecah karena dia tahu, harga gelas itu jauh lebih mahal dari biaya sewa rumahnya selama sebulan. AtuItu yang kusebut dengan perbedaan kasta yang tidak bisa dijembatani oleh kecerdasan."

​Senara menarik napas panjang. Ia meletakkan kembali garpunya. Nafsu makannya hilang seketika. Di tempat yang disebut sebagai sekolah masa depan ini, ia justru merasa ditarik kembali ke masa lalu yang suram, sebuah peringatan bahwa setinggi apa pun ia terbang, orang-orang seperti Bima akan selalu mencoba mengikat kakinya di bumi yang berlumpur.

​Setelah makan siang, mereka dibawa untuk melihat fasilitas laboratorium pusat. Di sana, terdapat perangkat super komputer dan alat riset molekular yang sangat canggih. Mata Senara kembali berbinar. Inilah alasannya ia bertahan, sains. Baginya, teknologi adalah alat untuk membebaskan manusia dari kemiskinan.

​Namun, Bima kembali merusaknya. Saat instruktur menjelaskan tentang sistem komputasi kuantum milik Garuda, Bima menyela dengan nada sombong.

​"Pak, menurut saya sistem ini sedikit ketinggalan zaman dibanding yang ada di laboratorium pribadi ayah saya. Tapi untuk ukuran sekolah menengah di Indonesia, ini sudah lumayan," ujar Bima dengan gaya seorang ahli.

​Ia kemudian menoleh ke arah Senara yang sedang menyentuh layar sentuh interaktif dengan hati-hati.

​"Hati-hati, Senara. Itu bukan papan tulis kapur di sekolahmu yang berdebu," sindir Bima. "Kalau kamu merusaknya, beasiswamu selama sepuluh tahun pun tidak akan cukup untuk menggantinya. Sebaiknya kamu berdiri di belakangku saja dan perhatikan bagaimana orang yang tahu cara menggunakan teknologi bekerja."

​Senara menarik tangannya, seolah layar itu baru saja menyengatnya. Ia merasa sangat kecil, seolah-olah seluruh keberhasilannya memenangkan lomba nasional kemarin tidak ada artinya di sini. Di SMA Garuda Nusantara, ia bukan lagi sang pemenang, ia hanyalah si miskin yang sedang menumpang.

​Hari pertama itu ditutup dengan pembagian kunci kamar asrama. Saat Senara berjalan menuju kamarnya melewati lorong-lorong sunyi yang dipenuhi lukisan tokoh-tokoh besar dunia, ia melihat Bima sedang berdiri di balkon, menatap matahari terbenam dengan angkuh.

​"Kenapa kamu begitu membenciku, Bima?" tanya Senara, menghentikan langkahnya. "Kita satu tim. Kita menang bersama."

​Bima tidak menoleh. Ia tetap menatap cakrawala. "Aku tidak membencimu, Senara. Aku hanya benci kenyataan bahwa seseorang sepertimu bisa berdiri di sampingku. Kemenangan kemarin adalah kecelakaan statistik. Di sini, di Garuda, aku akan membuktikan bahwa tempat ini bukan untuk orang-orang yang butuh belas kasihan."

​"Aku tidak butuh belas kasihan!" suara Senara sedikit meninggi. "Aku punya otak yang sama tajamnya denganmu!"

​Bima akhirnya berbalik, menatap Senara dengan mata yang dingin dan kosong. "Tajam saja tidak cukup. Di sini kamu butuh pengaruh, kamu butuh aura, dan kamu butuh identitas yang kuat. Kamu punya apa, Senara? Selain ransel butut dan sepatu kotormu itu?"

​Bima berjalan melewati Senara, bahunya sengaja menyenggol bahu Senara dengan keras. Senara terhuyung, namun ia tidak jatuh. Ia mengepalkan tangannya, menahan air mata yang sudah di ujung mata.

​Malam itu, di kamar asramanya yang sangat mewah, Senara tidak bisa tidur. Ia duduk di meja belajar, membuka buku catatan fisikanya. Ia menyentuh kartu akses hitam misterius yang ia temukan di bawah pintu rumahnya kemarin.

​"Bima benar," gumam Senara, menatap pantulan dirinya di cermin besar. "Aku tidak punya apa-apa. Tapi dia salah soal satu hal... aku tidak akan membiarkan dia atau tempat ini menelan jiwaku."

​Ia teringat pesan dari pengirim misterius itu, “Beberapa cahaya hanya membakar.”

​Senara menyadari bahwa SMA Garuda Nusantara adalah cahaya yang menyilaukan itu. Dan jika ia tidak hati-hati, Bima akan menjadi api yang menghanguskannya sebelum ia sempat bersinar. Semester dua ini baru saja dimulai, dan di hari pertama short course ini, Senara sadar bahwa perjuangannya untuk diakui baru saja masuk ke babak yang paling kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!