NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Penjaga Cahaya

Di atas meja kayu besar di ruang pertemuan, bertumpuk puluhan map lamaran kerja. Luna dan Isaac memutuskan untuk melakukan seleksi yang sangat ketat. Mereka tidak hanya mencari orang yang memiliki kualifikasi pendidikan, tetapi juga mereka yang memiliki empati yang tulus dan ketabahan mental.

"Kita tidak mencari karyawan biasa, Isaac," ujar Luna sembari membolak-balik sebuah berkas. "Kita mencari pengganti orang tua. Seseorang yang tahu kapan harus memeluk dan kapan harus membimbing dengan tegas."

Isaac mengangguk, ia menandai beberapa nama. "Hendra sudah melakukan penyaringan awal. Hari ini ada tiga kandidat utama yang akan kita temui langsung. Aku ingin kita melihat bagaimana mereka bereaksi saat melihat lingkungan panti ini."

Kandidat pertama adalah seorang wanita muda lulusan psikologi dari kota besar. Ia tampak sangat cerdas dan percaya diri. Namun, saat Luna mengajaknya berkeliling ke halaman belakang yang becek karena sisa embun, wanita itu tampak sangat berhati-hati agar sepatu mahalnya tidak kotor.

"Fasilitasnya luar biasa, Nyonya Luna," ujar wanita itu. "Saya bisa menerapkan kurikulum pengembangan karakter yang sangat modern di sini."

Luna tersenyum tipis. "Kurikulum itu penting, tapi bagaimana jika seorang anak menangis di tengah malam karena merindukan orang tuanya yang sudah tidak ada? Apakah kau akan membacakan teori psikologi padanya, atau kau akan duduk di lantai bersamanya hingga ia tertidur?"

Wanita itu terdiam, tampak ragu. Luna tahu, wanita ini cerdas, tapi hatinya belum siap untuk debu dan air mata panti asuhan.

Kandidat kedua adalah seorang pria paruh baya yang memiliki pengalaman sepuluh tahun di panti asuhan negeri. Ia sangat disiplin dan teratur. Namun, saat Isaac bertanya tentang bagaimana ia menangani konflik antar anak, pria itu menjawab dengan metode hukuman yang cukup kaku.

"Anak-anak butuh aturan keras agar mereka tidak menjadi liar," tegas pria itu.

Isaac bertukar pandang dengan Luna. Mereka tahu, kedisiplinan itu perlu, tapi The Dendra Foundation dibangun untuk menghapus trauma, bukan menambahkannya dengan ketakutan baru.

Saat matahari mulai meninggi, kandidat terakhir datang. Seorang wanita berusia sekitar 45 tahun bernama Ibu Sari. Ia datang dengan pakaian sederhana dan wajah yang tenang. Saat ia memasuki aula utama, hal pertama yang ia lakukan bukanlah menyapa Luna atau Isaac, melainkan ia berhenti di depan sebuah pilar kayu dan mengusapnya dengan lembut.

"Kayunya sangat hangat," bisik Ibu Sari. "Pasti yang membangun ini sangat mencintai anak-anak."

Luna merasakan getaran yang berbeda. Saat mereka duduk untuk berbincang, Ibu Sari menceritakan pengalamannya mengasuh anak-anak di daerah konflik selama bertahun-tahun. Ia tidak bicara tentang teori, melainkan tentang pentingnya "mendengarkan keheningan" seorang anak.

"Anak yatim tidak butuh dikasihani," ujar Ibu Sari dengan suara yang stabil. "Mereka butuh diakui bahwa mereka berharga. Tugas saya bukan untuk menjadi ibu kandung mereka, karena itu mustahil. Tugas saya adalah menjadi jendela, agar mereka bisa melihat bahwa dunia luar tidak seseram yang mereka bayangkan."

Luna menatap Isaac, dan tanpa kata, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan orang yang tepat. Ibu Sari memiliki ketenangan yang sama dengan Kakek Arka, namun dengan ketegasan seorang pelindung.

"Kapan Ibu bisa mulai?" tanya Isaac sembari mengulurkan tangan.

Ibu Sari tersenyum, sebuah senyuman yang mengingatkan Luna pada kehangatan matahari pagi di perbukitan itu. "Saya sudah membawa tas saya di kendaraan di depan. Jika diperbolehkan, saya ingin mulai menyiapkan dapur sore ini. Perut yang kenyang adalah awal dari hati yang tenang, bukan?"

Luna menghela napas lega. Satu kepingan puzzle terakhir telah terpasang. Dengan adanya Ibu Sari, The Dendra Foundation kini benar-benar memiliki jiwa.

Sore itu, setelah kesepakatan tercapai, Ibu Sari tidak membuang waktu. Ia menggulung lengan bajunya dan mulai melangkah mengelilingi dapur serta area makan, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai seorang ibu yang sedang mengenal rumah barunya. Luna dan Isaac mengikutinya dari belakang, merasa lega melihat bagaimana Ibu Sari memeriksa stok bahan makanan dengan ketelitian yang hangat.

"Nyonya Luna, Tuan Isaac," Ibu Sari berbalik sembari memegang sebuah panci besar yang baru saja dikeluarkan dari kardusnya. "Dapur ini adalah jantung dari sebuah rumah. Jika dari sini tercium aroma masakan yang enak, anak-anak akan merasa aman bahkan sebelum mereka melihat kamar mereka."

Luna tersenyum, merasa keputusannya sangat tepat. "Apa yang Ibu butuhkan untuk persiapan besok? Kami ingin kedatangan mereka disambut dengan sesuatu yang istimewa."

Ibu Sari terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang menghadap ke kebun belakang yang baru saja ditanam warga. "Saya ingin membuat sup ayam hangat dan kue bolu kukus. Sederhana, tapi itu adalah makanan yang memberikan rasa nyaman. Tapi, saya butuh bantuan untuk mendapatkan bahan-bahan segar dari pasar lokal."

Hendra, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, langsung sigap. "Saya akan mengantar Ibu ke pasar desa sekarang juga."

Namun, sebelum mereka berangkat, Kakek Arka muncul di ambang pintu dapur dengan keranjang bambu berisi telur ayam kampung dan sayuran segar. Ia menatap Ibu Sari dengan tatapan menyelidik yang khas, lalu tersenyum lebar.

"Ah, sepertinya cahaya panti ini sudah menemukan penjaganya," puji Kakek Arka. "Ini dari warga desa untuk penyambutan besok. Kami tidak ingin anak-anak itu merasa asing di tanah kami."

Ibu Sari menerima keranjang itu dengan binar mata yang tulus. "Terima kasih, Kek. Kehangatan warga adalah bumbu terbaik untuk masakan saya nanti."

Menjelang malam, suasana di panti asuhan menjadi sangat sibuk namun teratur. Ibu Sari mulai memasak, dan aroma kaldu ayam yang gurih mulai memenuhi setiap sudut lorong kayu. Luna dan Isaac membantu menata meja makan panjang, meletakkan piring-piring keramik putih dan gelas-gelas kecil di atas taplak meja bermotif kotak-kotak.

"Isaac," panggil Luna pelan saat mereka sedang meletakkan vas bunga persik kecil di tengah meja. "Aku merasa... panti ini bukan lagi sekadar proyek kita. Ia mulai bernapas."

Isaac merangkul pinggang Luna, menatap pantulan cahaya lampu di atas meja yang tertata rapi. "Ia bernapas karena ada cinta di dalamnya, Luna. Besok, saat rombongan pertama itu datang, mereka tidak akan masuk ke sebuah gedung arsitektur yang dingin. Mereka akan masuk ke sebuah pelukan."

Malam itu, mereka bertiga—Isaac, Luna, dan Ibu Sari—makan malam sederhana di meja yang sama. Tidak ada pembicaraan tentang bisnis atau masa lalu. Mereka hanya bicara tentang rencana menu sarapan dan bagaimana cara menenangkan anak yang mungkin nanti merasa cemas di malam pertama.

Di bawah naungan bintang-bintang perbukitan, The Dendra Foundation telah siap sepenuhnya. Aroma masakan Ibu Sari menjadi pelengkap terakhir yang menyempurnakan segala persiapan fisik yang telah dilakukan selama berbulan-bulan. Gerbang itu kini tinggal menunggu waktu untuk diayun terbuka lebar.

Fajar menyingsing dengan warna emas yang lebih cerah dari biasanya. Udara perbukitan yang dingin seolah menahan napas, menanti momen yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Di depan gerbang kayu besar yang bertuliskan "The Dendra Foundation", Isaac dan Luna berdiri berdampingan. Luna mengenakan gaun sederhana berwarna biru langit, sementara Isaac tampak rapi namun santai dengan kemeja linennya.

Di belakang mereka, Ibu Sari sudah berdiri tegak dengan celemek bersihnya, dan Kakek Arka bersandar pada tongkatnya sembari sesekali menyeka embun di kacamatanya.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!