NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:313.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Selamat nak, Kamu sudah melakukan langkah pertamamu. InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja. Ayah yakin kamu pasti bisa menjadi suami dan imam yang baik untuk istri kamu." Ucap Pak Ardhan sembari menepuk pundak Farhan dengan pelan.

Farhan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil yang menjadi sebuah tanda bahwa ia menghargai usaha ayahnya meski hatinya masih sekeras batu.

Sementara itu, Ustadz Yusuf menarik napas panjang. Wajahnya terlihat lega, sekaligus terharu. Ia menatap istrinya, Ummi Mariam yang berdiri tidak jauh, sambil memegang tisu untuk mengelap pipinya yang basah karena air matanya.

Dengan gerakan kecil dan tanpa bicara, ustadz Yusuf memberi kode pada istrinya kalau sudah waktunya untuk Kinara keluar dari kamar dan menemui suaminya. Ummi Mariam mengangguk pelan. Hatinya terasa hangat namun juga gugup, ia akan membawa putrinya keluar untuk pertama kalinya sebagai seorang istri.

Senyum lembut muncul di bibirnya, meski matanya masih berkilat oleh haru. Ia segera berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Suara langkahnya yang lembut itu mendekati kamar Kinara.

Di balik pintu, Kinara menghapus air matanya dan mencoba mengatur napasnya yang masih bergetar.

Ia tahu, detik itu akhirnya datang. Detik dimana ia harus berdiri meninggalkan masa gadisnya dan melangkah menuju laki-laki yang kini sah menjadi suaminya.

Jantungnya berdebar begitu kencang, seakan ingin melompat keluar. Dan saat pintu kamarnya perlahan diketuk, Kinara menghela napas panjang serta menyeka sisa air mata di pipinya.

“Assalamu’alaikum, Nak.”

Suara Ummi Mariam terdengar begitu lembut namun penuh makna.

“Wa’alaikumussalam, Ummi.”

Ummi Mariam masuk dan menghampiri putrinya yang masih duduk di depan meja riasnya.

"Ummi antar kamu ke depan, sudah waktunya bagimu untuk bertemu dengan suamimu." Ucap ummi Mariam yang membuat Kinara tersenyum lalu mengangguk pelan.

Lantunan sholawat nabi kembali mengalun merdu dari halaman pondok pesantren Darul Qur’an Al Majid. Suara para santri putra bersahutan dengan tabuhan hadrah yang ritmis, menggema, dan menggetarkan suasana.

“Sholli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi sholli ‘alaihi wasallim.”

Langkah-langkah kecil Kinara terdengar pelan dari dalam rumah. Gaun putih sederhananya jatuh dengan lembut mengikuti setiap gerak tubuhnya, seolah ikut menjaga aura malu yang ia bawa. Ummi Mariam menggenggam lengannya, membantu menjaga langkah Kinara yang terasa mulai gemetar.

Para tamu yang duduk rapi mulai memalingkan pandangan ke arah pintu rumah. Suara bisikan pelan terdengar dari sana-sini—kagum, takjub, penuh rasa penasaran.

Sementara itu, Farhan berdiri membeku di sisi pelaminan sederhana yang sudah tertata. Pandangannya semula menatap kosong ke depan, hingga akhirnya pintu rumah itu terbuka. Dan seseorang melangkah keluar.

Seseorang yang kini menjadi istrinya.

Kinara.

Farhan baru sadar ia telah menahan napasnya terlalu lama. Rahangnya mengeras tanpa peringatan. Ia bahkan merasakan sedikit perih saat giginya terkatup terlalu kuat.

"Jadi ini perempuan yang dipilih Ayah? Ucap Farhan di dalam hatinya seakan menolak sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti.

Ia mengedip pelan, mencoba memastikan kalau ia tidak sedang berhalusinasi.

Perempuan itu, wajahnya memancarkan ketulusan yang tidak ia lihat pada siapa pun selama dua tahun terakhir. Matanya yang jernih yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kelam yang pernah menghancurkan dirinya. Senyum malu-malu yang entah kenapa membuat macam-macam sensasi aneh menjalar di dada Farhan.

Sebelas detik. Itu waktu yang Farhan habiskan hanya untuk menatap Kinara dan ia merasa kesal karena hal itu.

"Kenapa gue harus ngeliat dia kayak gitu?Kenapa jantung gue berdebar-debar? Bodoh.

Dia cuma perempuan. Sama saja. Semua perempuan sama saja." Teriak Farhan dengan kesal di dalam hatinya.

“Farhan, Nak?” tegur Pak Ardhan pelan ketika menyadari putranya berdiri terpaku saat melihat Kinara.

Farhan langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat, begitu cepat, seolah ia bisa menghapus seluruh reaksi yang barusan terjadi hanya dengan berpaling. Ia menegakkan bahunya, menghela napas kasar, dan memasang wajah datar yang menjadi tamengnya selama ini.

Di sisi lain, Kinara melangkah makin dekat. Jantungnya berdetak tak karuan, seolah memikul semua rasa gugup sekaligus kebahagiaan. Ia mengangkat wajahnya pelan, dan tatapan mata keduanya tanpa sengaja kembali bertemu, hanya sesaat namun cukup untuk membuat Kinara menahan napas.

Farhan jauh lebih tampan dari yang ia bayangkan. Bukan sekadar tampan tapi tipe lelaki yang wajahnya bisa dengan mudah menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, tatapannya yang tajam namun dingin, menyimpan banyak cerita kelam.

Kinara menundukkan kepalanya lagi ketika ia merasakan pipinya memanas. Bukan karena malu semata tapi karena ada rasa yang baru muncul dan sulit ia deskripsikan.

Deg. Deg. Deg.

Langkah Kinara berhenti tepat di depan Farhan. Untuk beberapa detik, seolah semua suara menghilang. Para tamu memperhatikan dalam diam. Ustadz Yusuf berdiri di sisi lain Farhan, menatap keduanya dengan penuh haru dan doa.

Farhan menggerakkan bola matanya sedikit, mencuri satu tatapan singkat ke arah istrinya. Dan sial, jantungnya kembali bereaksi.

"Kenapa gue ngerasa begini? Ini salah. Ini nggak seharusnya terjadi. Gue nggak butuh perempuan dalam hidup gue lagi." Ucap Farhan dalam hatinya.

Ia buru-buru mengalihkan pandangan, menekuk bibir dengan tidak nyaman, sebuah gestur yang tidak luput dari penglihatan Kinara.

Alih-alih tersinggung, Kinara justru tersenyum kecil. Suaminya terlihat bingung. Sepertinya, Farhan tidak pandai menyembunyikan perasaannya seperti yang ia kira.

Ustadz Yusuf kemudian melangkah maju.

“Kinara Sayang, Sebelum kalian melangkah lebih jauh dalam kehidupan rumah tangga, lakukanlah adab pertama dalam pernikahan. Cium tangan suamimu sebagai bentuk bakti dan penghormatan mu kepadanya.” ucap ustadz Yusuf dengan pelan yang suaranya bergetar karena haru.

Kinara mengangguk lembut sementara Farhan menegang.

Tatapan mata laki-laki itu langsung menajam ke arah Ustadz Yusuf, seolah berkata,

"Serius harus gini sekarang?"

Namun semua mata sudah tertuju pada mereka. Farhan tidak punya ruang untuk menolak tanpa membuat semua orang terluka terutama ayahnya yang memandang dengan penuh harapan.

Dengan gerakan lirih, Kinara mengulurkan tangan. Tangannya bergetar tapi ia tetap melakukan perintah abinya dengan mantap.

Jari-jarinya menyentuh tangan Farhan yang kini menggigil. Kulit Farhan serasa tersengat listrik. Ia langsung menatap Kinara, hampir ingin bertanya apa yang barusan terjadi pada dirinya, tapi ia menahan diri.

Dan ketika Kinara menunduk untuk mencium punggung tangannya, Farhan merasa seperti jantungnya dilempar keluar dari dadanya.

"Kenapa gue deg-degan? Kenapa gue merasa seperti ini? Adilla, lihat. Bahkan setelah semua yang lo lakuin, gue masih bisa ngerasain ini sama perempuan lain. Gue benci ini. Benci banget." Batin Farhan dalam hatinya.

1
Febby fadila
jangan dipaksakan Kinara buat Farhan nyaman sama kamu dulu baru pelan² menuntun dirinya kejlan yg sama kek kamu
Febby fadila
jangan mengedepankan ego yang akan menghancurkan semua hati dan jiwa kamu Farhan, berdamailah dengan masa lalu itu jauh lbih indan 🥰🥰
Febby fadila
hmmm dari sifat Farhan aku jadi ingat sama om aku juga bgt, hingga kini nggak nikah² bahkan umurnya udah 37 Thun 🥹
Umi Kulsum
se.angat farhan ayat alqur,an memang bisa menenangkan
Febby fadila
aku sampai nggak bisa komen apa, seakan lidahku ikut keluar
Febby fadila
Farhan karena kamu hidup terlalu lama dlm kehidupan gelap jadi kamu nggak tau maksud dari ayah kamu
Febby fadila
ya Thor air mataku menetes di bagian waktu Farhan meletakkan tangan dikepala Kinara dan berdoa 😭😭😭😭
Febby fadila
lagian ngapain kamu harus berpatokan untuk masa lalu yang hanya buat luka, lupankan Adilla, dan menata masa depan yg bahagia bersama istri dan anakmu kelak
Febby fadila
pernikahan itu ibadah jadi jalani aja dulu, dan bukalah hatimu untuk istrimu dan melihat kedepan meyakinkan bahwa kamu berhak bahagia
Febby fadila
semua yg kamu anggap nggak baik tp itu adalah jln yg akan kamu tuju ke masa depan Farhan yg lebih cerah dan penuh dengan cinta dan sayang
Febby fadila
semoga pernikahan mereka berjalan dengan baik, dan Farhan bisa membuka hatinya untuk Kinara
Febby fadila
Semoga setelah semuanya siap dengan cara sholat istikharah, kamu bisa meluluhkan es di hati Farhan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aamiin 🤲
total 1 replies
Febby fadila
sungguh peraturan yg ajaib di perusahaan Farhan 🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: saking traumanya sama perempuan kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Febby fadila
semua orang berhak bahagia, dan semua orang dewasa pun pernah merasakan yg namax sakit hati karena cinta, tapi bukan berarti harus di jadikan sebagai patokan untuk menutup diri,
Febby fadila
betul tu kata ayahmu Farhan nggak seharusx kamu hidup dalam luka masa lalu yg adlle lakukan, buktikan padanya kalau kamu bisa jauh lbih baik tanpanya
Febby fadila
kenapa musti jadikan patokan untuk menyakiti diri sendiri cobalah untuk kembali hidup dengan tenang dan lupakan masa lalu dan menata hidupmu agar bisa menjadi lebih baik lagi, klw trus seperti itu berarti kamu kalah farhan
Umi Kulsum
mantep jadi swami yang selalu siaga farhan...
Umi Kulsum
ya tambah pebasaran aja
Umi Kulsum
sedih eh mbacaya...lanjut tor
Umi Kulsum
bagus atuh klau kmu menyadarinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!