NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Kamis, 23 Mei 03.31 WIB

Jalur Linggarjati, Lereng Gunung Ciremai

Gelap di hutan ini beda dari gelap di tempat lain.

Bukan cuma soal tidak ada lampu. Tapi cara pohon-pohon di sini menyerap cahaya sampai senter pun terasa seperti lilin di tengah ruangan besar. Jangkauannya tidak jauh. Dan di luar jangkauan itu, segalanya hitam pekat dan penuh suara yang tidak selalu bisa diidentifikasi.

Mereka sudah jalan hampir dua jam sejak kejadian di atas.

Tidak ada yang menghitung langkah. Tidak ada yang cek jam. Yang ada hanya satu tujuan terus turun, terus bergerak, jangan berhenti lebih dari yang diperlukan.

Satria di depan dengan senter di tangan. Langkahnya terukur bukan cepat, tapi konsisten. Dia baca medan dengan cara yang tidak bisa dipelajari dari buku, hasil dari ratusan jam di hutan yang berbeda-beda.

Di belakangnya, lima sekawan jalan dalam diam yang sudah berlangsung terlalu lama.

Rehan yang pertama bicara.

Bukan karena dia yang paling berani. Tapi karena diam itu mulai terasa lebih berat dari ranselnya.

"Kita udah turun berapa jauh?"

"Sekitar empat kilometer dari pos tujuh," jawab Satria tanpa menoleh. "Estimasi dua setengah jam lagi ke pos satu kalau jalurnya bersih."

"Kalau nggak bersih?"

Satria tidak jawab. Tidak perlu.

Zidan yang jalan di sebelah Rehan menekan kasa di lehernya guratan itu tidak sakit, tapi dia sadar terus sama keberadaannya. Seperti pengingat yang tidak bisa dilepas.

"Bersih atau nggak," kata Zidan pelan, "kita tetap turun."

Mereka berjalan melewati tikungan jalur yang sempit, satu per satu, hati-hati di antara akar-akar yang mencuat dari tanah. Kabut tipis masih menempel di pinggang pohon, membuat jarak pandang ke samping hampir nol.

Yazid jalan paling belakang bersama Runa.

Sudah dari tadi Yazid ingin bilang sesuatu tapi tidak tahu caranya. Akhirnya dia pilih cara paling sederhana.

"Run."

"Hm."

"Kamu takut?"

Runa tidak jawab langsung. Langkahnya tidak berubah, matanya tetap ke depan.

"Iya," katanya akhirnya. "Kamu?"

"Iya."

Mereka jalan beberapa langkah lagi dalam diam.

"Tapi bukan takut sama yang di belakang," lanjut Yazid pelan. "Maksud gue, itu juga. Tapi yang paling bikin gue takut itu..." dia berhenti.

"Nggak bisa pulang?" kata Runa.

Yazid lirik ke arahnya.

"Gue juga," kata Runa sebelum dia bisa konfirmasi. "Dari tadi gue mikirin itu. Bokap gue pasti udah nelpon berkali-kali. Dia orangnya nggak bisa diem kalau gue nggak ngabarin."

"Sinyal di sini nggak ada."

"Gue tau. Tapi tetap aja kepikiran."

Di tengah barisan, Salsabilla jalan sendirian di antara Zidan dan Yazid tidak terlalu dekat ke depan, tidak terlalu jauh ke belakang.

Dia tidak bilang apapun sejak dua jam lalu. Tapi tangannya, yang dari tadi masuk ke saku jaket, menggenggam sesuatu erat-erat.

Ponselnya. Layar mati, baterai hampir habis, dan nol bar sinyal.

Tapi ada foto di sana terakhir dibuka sebelum mereka mulai turun. Foto dua orang di depan Menara Eiffel, selfie dengan sudut yang sedikit miring, keduanya tertawa karena angin tiba-tiba kencang waktu jepretan diambil.

Mama dan Papa.

Amsterdam sekarang jam sembilan malam. Mereka mungkin lagi makan malam. Mungkin lagi nonton. Mungkin mama lagi baca buku di sofa sambil sesekali cek ponselnya, nunggu kabar Salsabilla yang harusnya sudah turun dari gunung dari tadi.

Salsabilla telan ludah dan masukkan ponsel lebih dalam ke saku.

"Eh," suara Rehan dari depan, setengah bisik. "Kalian kalau udah di bawah mau langsung ngapain?"

"Nelpon rumah," jawab Zidan cepat. Seperti jawaban yang sudah disiapkan dari tadi.

"Gue juga," kata Yazid.

"Makan," kata Runa. Lalu setelah jeda singkat: "Terus nelpon rumah."

Rehan hampir tertawa hampir, karena otot-otot wajahnya sudah lupa caranya. Yang keluar hanya hembusan napas dari hidung.

"Gue mau peluk nyokap," kata Rehan. Suaranya tidak dibuat-buat. "Udah lama gue nggak peluk nyokap. Biasanya gue males, ngerasa canggung gitu. Tapi sekarang" dia berhenti. "Nggak tau deh. Kayak pengen cepet-cepet sampe."

Tidak ada yang meledek. Tidak ada yang komentar.

Karena semua merasakan hal yang sama.

Satria di depan tidak berpartisipasi dalam percakapan itu. Matanya terus ke jalur, telinganya terus ke hutan, tangannya terus pegang senter.

Tapi dia dengar semua.

Dia dengar Runa yang ngomongin bapaknya. Dengar Yazid yang suaranya sedikit bergetar meski berusaha keras untuk tidak. Dengar Salsabilla yang tidak bilang apapun dan justru karena itulah paling terasa.

Satria kenal perasaan itu. Sudah berapa kali dia turun dari gunung dengan orang-orang yang tidak semuanya berhasil turun. Sudah berapa kali dia duduk di pos sambil nulis laporan dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Yang berbeda malam ini adalah skala dari apa yang mereka tinggalkan di atas sana dan apa yang mungkin sudah menunggu di bawah tanpa mereka tahu.

Dia tidak bilang itu ke mereka.

Belum saatnya.

Jalur menyempit di antara dua batu besar yang ditumbuhi lumut. Mereka lewat satu per satu, badan miring, ransel hampir tersangkut.

Waktu Zidan keluar dari celah itu, kakinya sedikit terpeleset di akar basah. Rehan refleks pegang lengannya.

"Oke?"

"Oke." Zidan raba kasa di lehernya lagi, memastikan.

Rehan lihat ke arah itu. "Masih nggak sakit?"

"Nggak. Cuma aneh aja rasanya."

"Aneh gimana?"

Zidan mikir sebentar. "Kayak mati rasa. Tapi bukan nggak berasa sama sekali. Lebih kayak... bagian itu nggak sepenuhnya punya gue lagi."

Rehan menatapnya beberapa detik. Tidak tahu harus bilang apa. Akhirnya dia hanya pegang bahu Zidan sebentar singkat, tapi cukup.

Zidan angguk pelan.

Cukup.

Salsabilla mempercepat langkah sampai sejajar dengan Satria.

Satria lirik ke arahnya.

"Berapa lama lagi?" tanyanya.

"Dua jam. Mungkin kurang kalau jalur di bawah bagus."

Salsabilla angguk. Jalan beberapa langkah dalam diam.

"Kak Satria," katanya akhirnya. Suaranya pelan, tidak sampai ke yang lain. "Jujur kita bisa sampai?"

Satria tidak langsung jawab. Dan cara dia tidak langsung menjawab sudah jadi jawaban tersendiri.

"Aku akan pastikan kalian sampai," katanya akhirnya.

"Itu bukan yang aku tanya."

Satria berhenti sebentar di depan persimpangan jalur kiri atau kanan, dia pilih kanan tanpa ragu lalu jalan lagi.

"Aku udah bawa orang turun dari kondisi yang lebih buruk dari ini," katanya. "Tapi Aku nggak akan bohong malam ini bukan malam biasa. Yang penting kalian terus jalan, terus ikutin, dan jangan berhenti apapun yang kalian dengar dari arah belakang."

Salsabilla proses kata-kata itu.

"Masih ada yang ngikutin kita?"

Satria tidak jawab.

Salsabilla tidak tanya lagi.

Dari belakang rombongan, suara langkah kaki mereka enam orang terdengar di antara suara hutan daun yang diinjak, ranting yang terpatahkan, napas yang membentuk uap tipis di udara dingin.

Dan di antara semua suara itu, kalau seseorang mendengarkan dengan sangat teliti, ada suara lain yang tidak punya pemilik yang jelas.

Pelan. Teratur. Sedikit terlalu teratur untuk hewan.

Tapi tidak ada yang mendengarkan dengan sangat teliti malam itu. Karena mendengarkan terlalu teliti artinya harus siap dengan apa yang mungkin didengar.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang siap untuk itu.

03.58 WIB

Mereka berhenti di sebuah batu datar yang cukup besar untuk semua duduk sebentar. Bukan karena mau istirahat panjang Satria kasih waktu lima menit, tidak lebih.

Runa duduk di tepi batu, lutut ditarik ke dada, menatap ke bawah ke arah yang entah sudah seberapa jauh lagi, entah sudah menunggu apa di sana.

Yazid duduk di sebelahnya. Bahunya hampir menyentuh bahu Runa.

"Run."

"Hm."

"Kalau kita udah di bawah nanti," kata Yazid. Suaranya pelan, seperti bukan untuk didengar orang lain. "Gue mau minta maaf ke bokap."

Runa lirik ke arahnya.

"Kita berantem sebelum gue berangkat," lanjut Yazid. "Dia nggak setuju gue ikut pendakian ini. Gue tetap pergi. Kita nggak beres-beresin sebelum gue cabut, gua gak bilang aja sama kalian."

"Dia pasti udah lupa," kata Runa.

"Gue yang belum lupa." Yazid tarik napas. "Kalau gue nggak bisa turun"

"Yazid."

"Gue cuma mau bilang..."

"Kita akan turun," kata Runa. Bukan dengan nada meyakinkan yang dipaksakan. Tapi dengan nada orang yang sudah memutuskan untuk percaya pada satu hal dan tidak akan mundur dari situ. "Dan waktu kita udah di bawah, kamu telepon bokap kamu, dan kamu minta maaf langsung. Deal?"

Yazid menatapnya.

"Deal," katanya akhirnya.

Runa angguk sekali. Balik menatap ke bawah.

Di sebelah mereka, Rehan menatap langit yang hampir tidak terlihat di antara kanopi pohon. Zidan minum dari botol air yang hampir kosong. Salsabilla masih menggenggam ponselnya di dalam saku.

Lima orang yang seminggu lalu masih duduk di kelas yang sama, masih ribut soal siapa yang bawa matras dan siapa yang lupa bawa kompor.

Sekarang duduk di atas batu di tengah hutan yang tidak bersahabat, jam empat pagi, dengan hal-hal yang tidak sempat mereka bilang ke orang-orang yang mereka sayangi berputar di kepala masing-masing.

Satria berdiri. "Lima menit habis. Kita jalan."

Semua berdiri tanpa protes.

Rehan yang terakhir berdiri sempat lirik ke belakang ke arah atas, ke arah gelap yang menutupi semua yang sudah mereka lewati malam ini.

Dia tidak lihat apapun.

Tapi dia merasakan sesuatu menatap balik.

Dia berbalik dan mengikuti yang lain.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!