"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pertemuan Rahasia di Dermaga
## **Bab 34: Pertemuan Rahasia di Dermaga**
Kegelapan di dermaga tua itu terasa berat, lembap oleh uap air laut yang membawa aroma besi berkarat. Di dalam bangunan beton, Kenzi memeriksa jam taktis di pergelangan tangannya. Pukul 02.15 pagi. Vero baru saja tertidur—atau setidaknya, sistem sensorik Kenzi mendeteksi penurunan aktivitas di ruang sebelah yang menandakan target sedang dalam fase istirahat. Namun, bagi agen Unit 002 seperti Vero, tidur hanyalah kondisi siaga yang lebih tenang.
Kenzi melirik monitor CCTV rahasia yang ia pasang di kamar Alana. Gadis itu meringkuk di lantai, membelakangi pintu. Detak jantungnya yang terpantau lewat sensor termal masih menunjukkan ritme kecemasan tinggi.
> *Analisis Peluang: 12 menit. Jika lewat dari itu, algoritma patroli Vero akan aktif kembali. Risiko deteksi: 65%.*
Kenzi bergerak tanpa suara. Ia keluar melalui ventilasi udara di bagian belakang gudang, teknik yang ia pelajari untuk menghindari sensor gerak standar organisasi. Ia harus bertemu dengan "Kontak Abu-abu"—seorang informan pihak ketiga yang tidak bernaung di bawah organisasinya maupun faksi Wijaya.
---
Di balik tumpukan kontainer berkarat yang sejajar dengan bibir dermaga, seorang pria bertopi rendah sudah menunggu. Ia adalah kurir informasi yang dikenal sebagai 'Ghost'.
"Kau terlambat dua menit, 097," bisik Ghost tanpa menoleh.
"Kondisi lapangan berubah. Ada pengawas tingkat S di lokasi," jawab Kenzi dingin. Ia menyerahkan sebuah *flash drive* berisi data enkripsi aset Wijaya yang asli—bukan data yang ia manipulasi untuk organisasi. "Aku butuh jalur ekstraksi untuk satu warga sipil. Jalur ini harus bersih dari radar 'Eraser'."
Ghost memeriksa data tersebut lewat *tablet* kecil. Matanya membelalak. "Ini data aset Wijaya yang belum sempat tersentuh sabotase finansial? Kenzi, kau tahu risikonya. Jika organisasimu tahu kau mencoba menyelamatkan 'aset' yang seharusnya dieliminasi, mereka tidak hanya akan membunuhmu. Mereka akan menghapus eksistensimu."
"Tawarkan data ini pada faksi Uni-Global. Katakan pada mereka, mereka bisa memiliki seluruh aset ini asalkan mereka menjamin perlindungan saksi untuk Alana Wijaya. Aku tidak butuh uangnya. Aku butuh keamanan subjek."
Ghost terkekeh sumbang. "Kau bertaruh sangat besar untuk seorang gadis yang bahkan sekarang mungkin sedang mengutuk namamu di dalam sel itu."
"Logika operasional tidak membutuhkan rasa terima kasih, Ghost. Lakukan saja tugasmu."
---
Saat Kenzi kembali menuju bangunan beton, sistem kognitifnya mulai memberikan peringatan merah.
> *Peringatan: Tindakan terdeteksi sebagai pengkhianatan tingkat tinggi terhadap Organisasi (Pasal 1.4).*
> *Justifikasi Logis: Tidak ditemukan. Peluang bertahan hidup Kenzi menurun ke 12%.*
> *Kesimpulan: Fungsi proteksi terhadap subjek (Alana) telah melampaui protokol misi.*
Kenzi menekan dadanya yang terasa sesak—reaksi biologis yang ia benci. Ia tahu, secara objektif, cara termudah adalah membiarkan Alana mati. Dengan begitu, misinya selesai, dendam orang tuanya terbalaskan lewat kehancuran Wijaya, dan ia tetap menjadi agen elit. Namun, bayangan Alana yang tertawa di taman hiburan dan Alana yang menangis di rubanah terus tumpang tindih dalam memorinya, menciptakan *glitch* pada sistem dinginnya.
---
Kenzi baru saja akan memanjat kembali ke ventilasi ketika sebuah cahaya senter kecil menyorot tepat ke wajahnya.
"Jalan-jalan pagi yang sangat menarik, kawan lama."
Kenzi membeku. Di atas atap kontainer, Vero berdiri dengan gaya santai, namun moncong pistol Glock-17 miliknya yang dilengkapi peredam tertuju tepat ke dahi Kenzi.
"Vero," Kenzi menyapa dengan nada tanpa nada, meski seluruh ototnya menegang, siap untuk melakukan gerakan menghindar dalam milidetik.
"Aku terbangun karena merasa ada 'anomali' dalam frekuensi udara. Dan benar saja, tikus kecilku sedang mencoba membuat kesepakatan di belakang tuannya," Vero melompat turun dengan ringan, mendarat hanya dua meter di depan Kenzi. "Apa yang kau berikan pada kurir itu? Kode server? Atau surat cinta untuk gadis di dalam?"
"Saya sedang memancing faksi Uni-Global agar keluar dari persembunyian," bohong Kenzi dengan kecepatan luar biasa. "Membunuh Alana sekarang adalah pemborosan. Jika kita menggunakan dia sebagai umpan untuk pihak ketiga, kita bisa menghabisi semua musuh organisasi dalam satu serangan."
Vero menyipitkan mata, mencari tanda-tanda kebohongan pada dilatasi pupil Kenzi. Kenzi mempertahankan kontrol sarafnya secara absolut.
"Logika yang cantik, 097. Sangat metodis," Vero menurunkan senjatanya, namun jemarinya masih berada di pelatuk. "Tapi Pusat sudah memberikan perintah final lewat saluran darurat saat kau keluar tadi. Mereka menolak negosiasi apa pun. Alana Wijaya harus mati saat matahari terbit. Dan mereka ingin *kau* yang melakukannya, sementara aku merekamnya."
Vero melangkah maju, menempelkan moncong pistolnya yang dingin ke dada Kenzi. "Jika kau ragu meski hanya sedetik, aku akan menembak kepalanya, lalu kepalamu. Kita tidak punya ruang untuk pahlawan di Unit Eraser."
---
Kenzi kembali ke dalam bangunan dengan pengawasan ketat dari Vero. Ia berdiri di depan pintu sel Alana. Melalui lubang kecil di pintu baja, ia melihat Alana sudah terbangun. Gadis itu menatap pintu dengan kebencian yang begitu pekat hingga Kenzi bisa merasakannya menembus beton.
Vero berdiri di belakangnya, memegang kamera taktis. "Lakukan, 097. Buktikan bahwa kau masih menjadi senjata paling tajam milik organisasi. Bunuh dia, dan kita pulang sebagai pemenang."
Kenzi membuka pintu sel. Tangannya bergerak ke holster, menarik senjatanya perlahan. Alana berdiri, menatap moncong senjata itu tanpa berkedip.
"Lakukan," tantang Alana, suaranya gemetar namun berani. "Akhiri semua sandiwara ini, Kenzi. Kau sudah mengambil segalanya. Ambil juga nyawaku."
Kenzi menatap mata Alana. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, algoritma dingin di kepalanya berhenti berfungsi. Yang ada hanyalah kesunyian yang mematikan.
"Maafkan saya, Nona Alana," bisik Kenzi.
Jari Kenzi mulai menarik pelatuk.
---