Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kepedulian.
Malam merambat semakin pekat di kawasan perumahan elit tempat keluarga Tusi tinggal. Di dalam kamarnya yang luas dan sejuk, Tris justru merasa seperti sedang dipanggang hidup-hidup. Penyakit maag kronis yang dideritanya kambuh di saat yang paling tidak tepat.
Selama tiga hari terakhir, ia mengabaikan peringatan lambungnya hanya karena asyik menemani Elli bagaikan sopir pribadi. Rasa perih yang awalnya hanya terasa seperti cubitan kecil, kini bertransformasi menjadi hantaman palu godam yang membuatnya meringkuk kaku di atas tempat tidur.
Keringat dingin membasahi pelipisnya hingga bantalnya terasa lembap. Napasnya pendek-pendek, menahan rasa panas yang merambat dari ulu hati hingga ke kerongkongan.
Secara refleks, tangan Tris meraba sisi tempat tidur yang kosong, mencari ponselnya dengan gerakan gemetar. Dalam benaknya yang mulai kabur oleh rasa sakit, sebuah skenario otomatis terputar di kepalanya, seperti sebuah memori otot yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Ia membayangkan akan menelepon Nana. Gadis itu pasti akan mengangkatnya pada dering pertama. Ia akan mengeluh dengan nada manja yang sedikit menuntut, dan dalam waktu singkat, Nana akan muncul di depan pintunya.
Nana akan membawa nampan berisi bubur ayam hangat buatan sendiri yang lembut tanpa seledri, persis seperti seleranya, serta obat maag cair dan segelas air hangat. Nana akan duduk di tepi kasur, memijat kakinya dengan sabar, dan mendengarkan keluhannya tanpa membantah sedikit pun.
Bagi Tris, Nana adalah kenyamanan yang ia anggap sebagai hak paten, sesuatu yang akan selalu ada meski ia injak-injak sekalipun.
Tris menyentuh layar ponselnya, mencari nama Nana di daftar kontak tercepat. Jemarinya menekan ikon telepon.
“Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
Tris tersentak. Suara operator wanita yang datar itu terasa seperti tamparan di wajahnya. Ia baru tersadar, dinding realita menghantamnya dengan keras. Nana sudah memblokirnya. Nana sudah membuang cincinnya. Nana sudah pergi dari "orbit" hidupnya.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia menggeser layar dan menelepon Elli. Panggilan diangkat pada nada kelima, suara bising musik dan tawa orang-orang segera memenuhi pendengarannya.
“Halo, El... lambungku sakit sekali. Bisa kau ke rumah? Bawakan aku obat atau sesuatu yang hangat,” suara Tris terdengar parau dan menyedihkan.
“Hah? Sakit lagi, Tris?” suara Elli terdengar jauh, terdistorsi oleh latar belakang musik kafe yang kencang. “Duh, maaf ya, aku sedang ada acara bridal shower temanku. Tidak enak kalau aku pergi tiba-tiba. Kau kan punya banyak asisten rumah tangga di rumah, minta tolong mereka saja ya? Lalu ibumu ke mana? Atau telepon Kak Aska? Aku tutup ya, berisik sekali di sini! Bye!”
Klik.
Sambungan terputus begitu saja. Tris terpaku, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dengan perasaan hampa. Rasa sakit di perutnya kini seolah kalah oleh rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Selama ini ia merasa bangga memiliki Elli yang glamor dan selalu bisa dipamerkan di depan teman-temannya. Namun, di saat ia hancur secara fisik seperti ini, wanita yang ia sanjung itu bahkan tidak sudi meluangkan waktu sepuluh menit untuk sekadar memastikan ia tidak mati sendirian.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Kantor divisi Psychological Thriller masih terang benderang oleh lampu-lampu neon yang memantul di permukaan meja kerja yang modern.
Di sudut ruangan, Nana sedang duduk membungkuk di depan monitor besarnya. Fokusnya tertuju pada detail bayangan adegan klimaks di mana karakter utamanya sedang berdiri di ruang sidang yang dingin, sebuah visualisasi yang ia bangun dari rasa sakitnya sendiri.
“Kau mau mati muda?” sebuah suara berat yang familiar menginterupsi keheningan.
Nana menoleh sedikit, mendapati Gani berdiri di samping mejanya. Pemuda berambut gondrong itu menyodorkan sebuah gelas kertas berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap.
“Terima kasih, Gani,” ujar Nana sambil menerima gelas itu. Kehangatan dari gelas kertas tersebut merambat ke telapak tangannya yang mulai kaku karena memegang pena digital terlalu lama.
Gani menarik kursi kosong di sebelah Nana dan duduk dengan gaya santai. Di awal kerja, Gani memang terlihat sangat jutek dan tertutup. Nana sempat berpikir bahwa rekan kerjanya ini adalah tipe orang yang antisosial dan tidak akan pernah bicara padanya kecuali urusan teknis.
Namun, seiring berjalannya hari, Nana menyadari bahwa Gani adalah orang yang sangat suportif. Ia tidak banyak bicara, tapi ia selalu memperhatikan beban kerja timnya.
Nana menyesap kopi pahit itu, merasakan energi kafein menyentak saraf-sarafnya yang mulai lelah. “Aku hanya ingin bagian persidangan ini sempurna. Penjelasan hukum yang kudapat kemarin sangat membantu, aku tidak mau menyia-nyiakannya dengan gambar yang setengah-setengah.”
Gani melirik sketsa di layar Nana. Matanya yang tajam memindai komposisi gambar tersebut.
“Detail pasalnya akurat. Peletakan saksi dan hakimnya juga sesuai prosedur. Kau riset sendiri sampai ke level ini?”
“Aku bertanya pada kenalanku yang pengacara,” jawab Nana singkat. Ia sengaja tidak menyebutkan nama Aska atau bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.
Di sini, ia adalah Nana sang komikus, bukan Nana si calon adik ipar seorang pengacara ternama. Ia ingin rekan kerjanya menghormatinya karena hasil kerjanya, bukan karena koneksi yang ia miliki.
Gani mengangguk paham, tampak terkesan dengan dedikasi Nana. “Bagus. Setidaknya kau tahu cara mencari sumber yang kredibel. Kebanyakan orang hanya menebak-nebak dan akhirnya karyanya terlihat konyol di mata profesional.”
Setelah percakapan singkat itu, Gani tidak lagi membahas urusan pekerjaan. Sambil menunggu pesanan taksi online mereka datang, mereka duduk berbincang ringan di area tunggu lobi.
Namun, yang membuat Nana merasa sangat nyaman adalah kenyataan bahwa Gani tidak pernah menanyakan hal-hal pribadi. Tidak ada pertanyaan tentang "kenapa sering pulang malam", "di mana orang tuamu", atau "siapa pria yang mengantarmu tempo hari".
Obrolan mereka murni tentang industri kreatif, referensi film noir, atau sekadar mengeluhkan cuaca. Hal ini membuat Nana merasa aman; ia tidak perlu merasa seperti sedang digali rahasianya, sebuah perasaan yang selalu ia rasakan jika berbicara dengan rekan kerja wanita yang seringkali mencampuri urusan pribadinya dengan dalih "perhatian".
Pukul 10.30 Malam.
Di rumah keluarga Tusi, Tris akhirnya menyerah pada egonya. Rasa sakit di perutnya sudah benar-benar tidak tertahankan, seolah ada pisau yang sedang mengiris dinding lambungnya dari dalam. Ia turun ke lantai bawah dengan langkah gontai, tangan kirinya mencengkeram pegangan tangga sementara tangan kanannya menekan perut. Ia berharap Ibunya masih terbangun di ruang tengah.
Namun, begitu sampai di bawah, ia justru melihat sosok jangkung dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi sedang berdiri di dekat meja makan. Aska. Kakaknya itu baru saja pulang dari kantor dan mampir sebentar untuk menyerahkan beberapa dokumen properti milik ibunya.
“Bang... tolong...” rintih Tris. Wajahnya sudah sepucat kertas, butiran keringat sebesar biji jagung menghiasi keningnya.
Aska menoleh perlahan. Bukannya menunjukkan rasa panik atau khawatir, tatapan Aska justru dingin dan penuh penilaian. Ia melihat adiknya yang berantakan dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat sebuah kasus yang tidak menarik.
“Maag lagi?” suara Aska datar. “Sudah tahu punya penyakit menahun, masih saja berani telat makan. Kau pikir tubuhmu itu terbuat dari baja?”
“Sakit, Bang... antar aku ke dokter.” Tris ambruk di atas sofa kulit di ruang tamu, napasnya terengah-engah.
Tusi yang baru saja dari dapur segera berlari membawa segelas air hangat. Wajahnya cemas luar biasa melihat putra bungsunya dalam kondisi seperti itu. “Aska, tolong antar adikmu ke rumah sakit sekarang. Ibu khawatir ini sudah infeksi atau maag akut. Lihat, dia sampai tidak bisa berdiri.”
Aska menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia melirik jam tangan Rolex-nya yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. “Aku baru saja selesai menangani kasus merger yang menguras otak selama dua belas jam dan hanya ingin istirahat, tapi sekarang aku harus mengurus masalah sepele karena kecerobohan bayi besar ini?”
Meski menggerutu dan terlihat sangat tidak ikhlas, Aska tetap membantu Tris berdiri. Ia merangkul bahu adiknya yang lemas dan membawanya menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir di garasi.
Di dalam mobil menuju rumah sakit, keheningan menyelimuti mereka, hanya diselingi oleh suara rintihan Tris. Dalam kondisi setengah sadar karena nyeri yang hebat, Tris mulai mengigau. Ingatannya kembali ke masa-masa di mana ia selalu menjadi prioritas.
“Nana... mana buburnya... Na, perutku sakit sekali...” bisik Tris parau.
Aska yang sedang fokus menyetir hanya bisa mendengus jijik mendengar nama itu keluar dari mulut adiknya. “Dia sedang di kantornya, bekerja keras sampai malam untuk mengejar impiannya, sementara kau merengek seperti pecundang di sini."
Tris membuka matanya sedikit, menatap profil samping kakaknya yang terlihat kokoh dan dingin. “Bang, kenapa dia berubah begitu cepat? Kenapa dia tidak peduli lagi? Biasanya kalau aku sakit, dia akan langsung datang tanpa peduli jam berapa pun itu.”
Aska mencengkeram kemudi lebih erat, matanya menatap lurus ke jalanan yang mulai sepi. “Karena dia akhirnya sadar bahwa mencintaimu adalah pemborosan waktu paling sia-sia dalam hidupnya."
Tris terdiam seribu bahasa. Kata-kata Aska menusuk jauh lebih dalam dan menyakitkan daripada peradangan di lambungnya. Sepanjang sisa perjalanan, ia menyadari satu kenyataan yang paling pahit: dunianya yang dulu berputar di sekitar dedikasi Nana kini telah benar-benar berhenti.
Dan yang lebih menakutkan bagi Tris adalah kenyataan bahwa Aska, kakaknya yang paling ia segani dan yang selama ini menganggap Nana sebagai "adik yang bodoh", ternyata jauh lebih tahu dan lebih menghargai perkembangan Nana daripada dirinya sendiri sebagai tunangan.
Bersambung....