NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Tipe Predator Obsesif

Sawitri tidak gentar sedikit pun ditatap dengan cara merendahkan seperti itu.

Seumur hidupnya, ia telah membedah pria-pria arogan dengan berbagai cara, baik di ruang interogasi maupun di atas meja autopsi.

Ia membalas tatapan Dhaniswara dengan sorot mata yang jauh lebih dingin dan kalkulatif.

"Jika jenengan berharap kulo bersikap seperti selir yang ketakutan, jenengan datang ke kediaman yang salah."

Dhaniswara tersentak, rahangnya mengeras. Tidak ada seorang pun, apalagi seorang wanita, yang berani menatap dan berbicara padanya dengan nada meremehkan seperti itu.

Tangan kanannya refleks meraba gagang keris berukir tengkorak di pinggangnya.

"Kowe berani sekali, Nduk," desis Dhaniswara, senyum sadisnya perlahan mengembang. "Kulo semakin mboten sabar membawamu ke Demak."

"R-Raden Mas, mari silakan duduk," sela Tumenggung Danurejo dengan panik, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa seperti medan perang.

"Kami sudah menyiapkan jamuan terbaik untuk menyambut keluarga besar Demak."

Dhaniswara tak mengacuhkan ayah mertuanya itu. Ia terus menatap Sawitri dengan intensitas predator yang menemukan mangsa baru.

"Kulo mboten butuh jamuan. Kulo hanya datang untuk melihat barang yang akan kulo bawa. Kita berangkat ke Demak besok pagi."

"Besok pagi?" Nyai Selir Sukmawati memekik tertahan. "Tapi... persiapan pernikahannya..."

"Kulo mboten peduli dengan persiapan kalian. Kulo yang berkuasa di sini," potong Dhaniswara arogan.

Ia berbalik dan melangkah keluar pendopo, meninggalkan ketegangan yang menyesakkan dada.

Malam itu, kediaman Danurejo dilanda kepanikan luar biasa. Rencana pernikahan yang seharusnya digelar megah bulan depan mendadak dimajukan secara sepihak oleh Dhaniswara.

Batur-batur berlarian mengemasi barang-barang Sawitri, sementara Nyai Selir Sukmawati dan Wandira sibuk berbisik-bisik di sudut keputren.

"Ini gila! Pangeran itu benar-benar mboten waras!" rutuk Nyi Inggit sambil memasukkan beberapa helai kebaya Sawitri ke dalam peti kayu.

"Ndara Ayu, kulo mohon... mari kita kabur malam ini juga. Kita bisa bersembunyi di pesanggrahan lama..."

"Mboten ada gunanya kabur, Nyi," sahut Sawitri tenang. Ia sedang sibuk menajamkan pisau bedah favoritnya di bawah cahaya pelita.

"Dhaniswara adalah tipe predator obsesif. Jika kulo kabur, dia akan memburu kita sampai ke ujung Mataram. Lebih baik kulo menghadapinya langsung dan mengakhiri permainannya."

Ndari, yang sejak tadi diam, tiba-tiba mendekat dan berbisik ngeri.

"Tapi Ndara... kulo dengar dari batur Demak di dapur tadi. Raden Mas Dhaniswara... beliau menguliti istri-istrinya hidup-hidup."

Tangan Sawitri terhenti. Matanya memicing tajam.

"Menguliti?" gumam Sawitri, otak forensiknya langsung menganalisis informasi itu.

"Itu membutuhkan keahlian anatomi yang spesifik. Seseorang mboten bisa menguliti manusia hidup-hidup tanpa membuatnya mati kehabisan darah dalam hitungan menit... kecuali dia tahu persis di mana letak arteri utama dan cara menghindarinya."

"Dhaniswara bukan sekadar psikopat," simpul Sawitri telak. "Dia adalah pembunuh berantai dengan pemahaman medis yang mengerikan."

Sebuah ketukan pelan di jendela menghentikan analisis Sawitri.

Ia membuka jendela kayu itu, mendapati wajah Cakrawirya yang separuh tertutup bayang-bayang malam.

"Kau terlihat lebih tegang dari biasanya, Ndara Tabib," sapa Cakrawirya, nada suaranya berat dan serius.

"Pangeran Demak itu bukan amatiran," jawab Sawitri datar, membiarkan Cakrawirya melompat masuk.

"Dia memiliki pengetahuan anatomi. Tiga istrinya yang mati... itu adalah eksperimen medisnya."

Cakrawirya mengangguk pelan, wajah tampannya terlihat muram.

"Itu sebabnya kulo memperingatkanmu. Dhaniswara memiliki akses ke perpustakaan medis terlarang peninggalan Kerajaan Majapahit. Dia bereksperimen dengan rasa sakit manusia."

Cakrawirya melangkah mendekat, berdiri sangat dekat dengan Sawitri hingga gadis itu bisa mencium aroma cendana dan keringat dari tubuh pemuda itu.

"Batalkan perjodohan ini, Sawitri," ucap Cakrawirya dengan nada yang tak pernah ia gunakan sebelumnya, sebuah permohonan yang mendesak.

"Kulo akan membawa jenengan pergi dari Mataram. Jauh dari jangkauan Dhaniswara maupun ayahmu."

Sawitri mendongak, menatap mata Cakrawirya yang biasanya menyala penuh teka-teki, kini meredup oleh kekhawatiran yang asing.

"Dan mengorbankan Nyi Inggit serta Ndari untuk menanggung kemarahan Tumenggung?" Sawitri mendengus sinis.

"Kulo mboten ate lari dari meja operasi, Raden. Dhaniswara adalah subjek yang harus kulo bedah."

"Kowe bisa mati!" Cakrawirya mencengkeram kedua bahu Sawitri dengan kuat, membuat gadis itu tersentak.

"Kulo sudah pernah mati," balas Sawitri tajam, kata-katanya meluncur begitu saja tanpa disadarinya.

Cakrawirya tertegun, cengkeramannya mengendur. "Apa maksudmu?"

Sawitri memalingkan wajahnya, menyadari ia hampir membongkar rahasia transmigrasinya.

"Bukan urusan jenengan. Sekarang keluarlah. Kulo butuh tidur yang cukup untuk menghadapi perjalanan ke Demak besok."

Cakrawirya menatap gadis itu lekat-lekat selama beberapa detik, lalu melepaskan tangannya perlahan.

"Kulo mboten akan membiarkanmu mati di tangan psikopat itu," bisik Cakrawirya sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya terbit saat rombongan Kadipaten Demak bersiap meninggalkan Mataram.

Sawitri, yang mengenakan kebaya hitam legam tanda berkabung, sebuah pilihan warna yang membuat Tumenggung Danurejo nyaris pingsan, naik ke dalam pedati mewah milik Dhaniswara.

Perjalanan menuju Demak memakan waktu tiga hari dua malam. Sepanjang perjalanan, Dhaniswara tak henti-hentinya meneror Sawitri dengan tatapan sadisnya dan cerita-cerita mengerikan tentang bagaimana ia 'menghukum' batur-baturnya.

Namun, Sawitri tak bergeming. Ia merespons setiap ancaman itu dengan keheningan yang membekukan, atau analisis medis yang justru membuat Dhaniswara frustrasi.

"Kowe pikir kowe kebal terhadap rasa sakit, Raden Ajeng?" geram Dhaniswara pada malam kedua perjalanan, saat pedati mereka berhenti di sebuah pesanggrahan di tengah hutan jati.

Dhaniswara mendekatkan wajahnya ke wajah Sawitri, menodongkan belati berukirnya tepat di leher gadis itu.

"Kulo bisa memotong pita suaramu sekarang juga, lalu melihatmu mati perlahan sambil tersedak darahmu sendiri."

Sawitri menatap mata Dhaniswara yang liar, lalu melirik belati di lehernya.

"Sudut potonganmu salah," ucap Sawitri sangat datar.

"Jika kau memotong dari arah itu, kau hanya akan mengenai trakea. Kulo masih bisa bernapas melalui lubang itu, meski suaraku hilang. Jika kau ingin kulo mati kehabisan darah, kau harus memotong arteri karotis di sisi samping leher."

Dhaniswara terbelalak kaget. Tangannya yang memegang belati bergetar hebat.

Ia tak pernah bertemu korban yang justru mengajarinya cara membunuh yang benar.

"K-kowe benar-benar gila!" umpat Dhaniswara, menarik kembali belatinya dan menjauh dari Sawitri dengan napas memburu.

"Kulo hanya rasional," sahut Sawitri dingin, kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya seolah tak terjadi apa-apa.

Pada hari ketiga, rombongan akhirnya tiba di pusat pemerintahan Kadipaten Demak.

Istana Adipati Demak jauh lebih besar dan megah dari kediaman Danurejo, namun suasananya terasa suram dan mencekam.

Batur-batur berjalan menunduk dengan wajah ketakutan, tak ada satu pun senyum yang terlihat di sana.

"Selamat datang di nerakamu, Raden Ajeng," bisik Dhaniswara saat Sawitri turun dari pedati.

Sawitri tak memedulikannya. Matanya langsung menyapu area istana, menganalisis jalur evakuasi, titik-titik penjagaan, dan mencari kelemahan pertahanan bangunan itu.

"Bawa dia ke paviliun utara," perintah Dhaniswara pada para pengawal.

"Dan kurung dua batur tuanya di sel bawah tanah."

"Tunggu!" Sawitri menghentikan langkahnya seketika, aura membunuhnya meledak.

"Kita sudah sepakat mereka akan ikut denganku!"

"Kesepakatan itu berlaku di Mataram," kekeh Dhaniswara kejam.

"Di Demak, kulo yang membuat aturan. Bawa mereka!"

Pengawal Demak dengan kasar menyeret Nyi Inggit dan Ndari yang menangis histeris.

Sawitri mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap menyerang pengawal itu dengan jarum peraknya, tapi ia sadar kalah jumlah.

Menggunakan kekerasan sekarang hanya akan membuat Nyi Inggit dan Ndari terbunuh.

"Kulo akan membebaskan kalian. Bertahanlah," ucap Sawitri tegas pada kedua abdi dalemnya itu sebelum mereka menghilang di balik pintu kayu tebal.

Malam harinya, Sawitri dikurung di paviliun utara yang mewah namun terasa seperti penjara.

Pintu dikunci dari luar, dan jendela-jendelanya dipasangi terali besi tebal.

Ia duduk di tepi ranjang berukir, memutar otak mencari cara untuk keluar dan menyelamatkan Nyi Inggit serta Ndari.

"Dhaniswara akan datang malam ini. Dia mboten akan menunggu sampai hari pernikahan resmi untuk memulai 'permainannya'," batin Sawitri, menyiapkan pisau bedah dan botol racun kecubungnya di balik lipatan kemben.

Benar saja, tepat tengah malam, terdengar suara kunci dibuka dari luar.

Pintu paviliun terbuka lebar, menampilkan sosok Dhaniswara yang berdiri sempoyongan. Bau arak beras yang menyengat menguar kuat dari tubuhnya.

Matanya merah menyala, senyum sadisnya mengembang lebar. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah cambuk kulit berujung paku-paku kecil yang berkarat.

"Waktunya bermain, istriku," desis Dhaniswara, melangkah masuk dan mengunci pintu dari dalam.

Sawitri bangkit berdiri, posturnya tegak menantang. Ia tak mundur selangkah pun. Tangannya perlahan meraba balik kembennya, menggenggam erat gagang pisau bedahnya.

"Kulo sarankan jenengan mundur, Raden Mas," ucap Sawitri dingin, matanya mengunci pergerakan pria itu.

"Atau permainan ini akan berakhir lebih cepat dari yang jenengan harapkan."

Dhaniswara tertawa keras, lalu mengayunkan cambuknya ke arah wajah Sawitri dengan kekuatan penuh.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!