NovelToon NovelToon
Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.

Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"

..

Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.

Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.

Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Seana dan Velia membicarakan banyak hal malam itu.

Velia adalah orang yang paling khawatir tentang Seana dan Sanzio yang tinggal dibawah satu atap yang sama. Berkali-kali, Velia tidak berhenti memberi nasehat ketika Seana tidak tahan lagi mendengarkannya. Seana tidur dengan gelisah malam itu. Karena cemas berada di lingkungan yang asing, dia terbangun beberapa kali sepanjang malam.

Pukul 6 pagi, Seana tidak bisa tidur lagi, dan dia sangat lapar sehingga memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Dengan langkah pelan, Seana berjalan menuju dapur untuk memanaskan kembali makanan yang telah dibuatkan oleh kakaknya. Awalnya, Seana ingin membuat pasta, tetapi di kulkas Sanzio hanya ada roti, susu dan telur.

Beberapa menit kemudian, Sanzio juga terbangun dari tempat tidurnya, ketika keluar dari kamar, dia melihat Seana yang sedang makan di ruang makan dan mengernyitkan dahinya. Saat Seana menyadari kehadiran Sanzio, dia tidak sengaja menjatuhkan sendoknya di piring dan berdiri dengan sikap yang gugup. "S-selamat pagi, Pak Zio."

Sanzio berjalan mendekat dan melihat makanan di piring Seana. Melihat bahwa Seana sedang memakan daging. "Kamu makan makanan yang berminyak sepagi ini?." Tanya Sanzio, sembari mengernyitkan dahinya.

"Kakak saya yang buatin ini, Pak. Sayang banget kalau ngga di makan." Jawab Seana, tanpa mengurangi rasa hormatnya.

Kebiasaan Seana untuk tidak membuang makanan mungkin berasal dari masa kecilnya, yang hidup di lingkungan yang keras. Setiap kali Adinda memasak makanan untuk Seana, Seana akan langsung memakannya karena takut makanan itu akan basi. Kali ini, Adinda memasak banyak makanan untuknya. Dan itu cukup untuk sehari. Melihat Sanzio memperhatikan piringnya. Seana bertanya dengan ragu. "Hm... Bapak mau?."

Sanzio menggelengkan kepalanya. "Buatin saya telur mata sapi, roti panggang sama segelas susu."

Ketika Seana mendengar perintah itu, dia mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu apa ini termasuk dalam tugasnya sebagai asisten Sanzio atau bukan, tetapi melihat raut wajah datar Sanzio, Seana tidak berani buka suara untuk menolaknya. Jadi dia hanya bisa mengangguk dan melakukannya.

Sanzio meninggalkan ruang makan untuk mencuci tangan.

Sementara Seana berjalan menuju dapur. Melihat peralatan dapur baru yang fungsional itu, Seana tidak tahu harus memulainya dari mana. Tetapi dia juga tidak berani bertanya pada Sanzio. Jadi, Seana tidak punya pilihan selain mencari tahu cara menggunakan peralatan canggih itu dari ponselnya. Sekali pun Seana belajar cara menggunakannya, dia tidak terlalu pandai membuat sarapan seperti ini.

Oleh karena itu, ketika Sanzio keluar lagi dari kamarnya, dia mencium bau gosong yang menyengat. Khawatir terjadi sesuatu yang serius, Sanzio bergegas masuk ke dapur dan melihat Seana yang panik mengambil sepotong telor yang menghitam dari wajan. Roti di panggangan pun juga terlihat jelas gosongnya

Sanzio terdiam melihat pemandangan itu.

Melihat Sanzio di ambang pintu, jantung Seana berdebar kencang. "P-pak Zio, saya--"

"Ngga bisa masak?."

"Bukan, saya cuma ngga bisa bikin sarapan kayak gini." Jawab Seana. Dia bisa masak, tetapi dia benar-benar tidak tahu cara membuat telur mata sapi atau roti panggang. Ditengah percakapan itu, susu di dalam panci sudah mendidih, dan lapisan krim tebal mengapung dipermukaan panci.

Tak perlu dikatakan lagi, Sanzio akhirnya membuat sarapannya sendiri. Sementara Seana menahan malu karena ulahnya...

Untungnya mereka menikah palsu. Jika tidak, Seana akan menjadi istri yang tidak becus sekali. Telur yang di masak Sanzio bulat dan putih, roti yang dipanggangnya juga berwarna kemasan sempurna. Seana tidak suka makanan seperti itu, tetapi ketika dia mencium aroma masakan Sanzio, dia merasa ingin mencobanya.

"Kamu mau?." Tanya Sanzio, sembari mengangkat sebelah alisnya melihat Seana menatap roti panggangnya.

Seana segera memalingkan wajahnya, lalu menggelengkan kepalanya. "Ngga, Pak. Makasih." Seana kenyang karena makan begitu banyak daging ayam goreng pagi ini, tetapi pada saat yang sama, dia merasa penasaran jika tidak mencoba makanan buatan Sanzio.

Sanzio meletakkan setengah potongan roti panggangnya di piring lain dan mengambil sepotong ayam goreng dari piring Seana. Gerakannya terlihat alami, tetapi hal itu membuat Seana tegang.

Sanzio tanpa ragu menggigit ayam goreng itu.  "Masakan kakak kamu, rasanya cukup enak." Katanya sembari menukar telur dan roti panggangnya yang setengah dipotong dengan makanan Seana. Melihat telur yang setengah dipotong di piringnya, pipi Seana langsung memerah, dan sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman kecil.

"Apa yang kamu tunggu. Cepetan dihabisin!."

"Ini buat saya?."

"Kamu ngga mau?."

"Bukan gitu, Pak." Seana buru-buru menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia menolak makanan yang sedari tadi ingin dia coba. Namun, dengan melihat cara mereka bertukar makanan, apakah mereka memiliki sebuah perasaan secara tidak langsung....

"Kamu harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini mulai sekarang. Dan, Oh ya, kita akan makan malam di rumah keluarga saya nanti malam."

"Apa kita perlu bersandiwara didepan keluarga Bapak?." Tanya Seana setelah terkejut.

1
Yessi Kalila
Melani dalam bahaya.... ngga tau siapa Seana sekarang .... seenaknya nyuruh2
Yessi Kalila
wkwk.... lugu banget sih Seana... 🤣🤣🤣
Lisna
lanjutt thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!