Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Skandal di Lokasi
Keesokan paginya, suasana Studio 4 terasa berbeda. Arlan kembali ke lokasi tepat pukul sepuluh pagi. Meskipun wajahnya masih sedikit pucat, ia tampak jauh lebih segar.
Namun, ada satu hal yang mencolok: ia tidak lagi berteriak saat melihat kabel yang melilit salah arah. Ia hanya menunjuknya dengan dagu, dan anehnya, matanya terus mencari sosok Adelia di tengah kerumunan kru.
Adelia sendiri sibuk memastikan semua storyboard sinkron dengan monitor. Saat ia melewati Arlan untuk mengantarkan tablet, ia berbisik pelan, "Sudah minum obatnya, Pak?"
Arlan hanya berdehem singkat sebagai jawaban, tapi ia tidak menolak saat Adelia meletakkan sebotol air vitamin di mejanya.
Interaksi kecil yang hanya berlangsung beberapa detik itu ternyata tidak luput dari mata-mata lapar para kru yang haus gosip.
"Lihat itu," bisik Mira, penata rias, kepada asistennya sambil mengaplikasikan bedak ke model. "Hanya Adelia yang berani mendekat tanpa kena semprot. Kemarin dia bahkan yang memesan taksi untuk Pak Arlan pulang. Kabarnya, mereka berdua di studio sampai jam tiga pagi."
"Serius? Pantas saja Pak Arlan agak kalem hari ini. Ternyata si 'Naga' sudah dijinakkan sama asisten baru," sahut asistennya sambil terkikik.
Gosip di lokasi syuting menyebar lebih cepat daripada api yang disiram bensin. Menjelang makan siang, rumor itu sudah berkembang menjadi cerita bahwa Adelia sengaja mencari muka dengan memanfaatkan kondisi kesehatan Arlan agar posisinya di agensi naik.
Adelia merasakan perubahan atmosfer itu. Saat ia mengantre katering, teman-temannya yang biasanya ramah mendadak diam atau memberikan tatapan sinis.
"Enak ya jadi asisten kesayangan," sindir salah satu kru dari tim perlengkapan saat Adelia mengambil sendok. "Bisa mengatur jam pulang sutradara, bisa menyuruh-nyuruh tim editor pakai nama Pak Arlan. Hebat kamu, Del."
Adelia mengerutkan kening. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya. Pak Arlan sakit kemarin."
"Sakit atau 'dibuat' merasa nyaman? Kita semua di sini sudah kerja bertahun-tahun dengan dia, tapi nggak ada yang seberani itu masuk ke ruang pribadinya malam-malam," celetuk yang lain.
Adelia memilih untuk tidak meladeni. Ia membawa jatah makan siangnya ke sudut studio yang sepi. Namun, ketenangan itu terusik saat ia melihat Arlan berjalan lurus ke arahnya di tengah area publik.
"Adelia, ikut saya ke ruangan. Ada revisi dari klien yang harus kita bahas sekarang," suara Arlan terdengar tegas.
"Pak, mungkin sebaiknya kita bahas di meja depan saja, supaya—"
"Saya tidak suka mengulang perintah. Ruangan saya, sekarang," potong Arlan tanpa peduli sekitar.
Adelia bisa merasakan puluhan pasang mata menatap punggungnya saat ia mengikuti Arlan ke lantai dua. Begitu pintu ruang kerja itu tertutup, Adelia langsung bicara.
"Pak, Anda harus berhenti bersikap seperti itu di depan kru."
Arlan yang baru saja akan duduk, mengurungkan niatnya. "Bersikap seperti apa?"
"Bersikap seolah... seolah saya punya perlakuan khusus. Di bawah sana, orang-orang mulai membicarakan hal yang tidak-tidak tentang kita. Mereka bilang saya menggunakan cara kotor untuk mendapatkan posisi ini."
Arlan terdiam sejenak. Ia berjalan mendekati Adelia, jarak yang membuat Adelia mundur hingga punggungnya menyentuh pintu. Arlan meletakkan satu tangannya di daun pintu, mengurung Adelia dalam ruang sempit di antara tubuhnya dan kayu pintu.
"Lalu? Kamu peduli apa yang mereka katakan?" tanya Arlan dengan nada rendah yang menggetarkan.
"Tentu saja saya peduli! Ini reputasi saya, Pak."
"Reputasi kamu terjaga karena kamu kompeten, Adelia. Bukan karena komentar orang-orang yang hanya bisa bekerja kalau diteriaki," Arlan menatap mata Adelia dengan intensitas yang berbeda. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ketegasan yang murni. "Saya memanggil kamu karena memang hanya kamu yang paham detail revisi tadi malam. Biarkan mereka bicara. Semakin kita mencoba membuktikan mereka salah, semakin mereka merasa benar."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi. Sekarang buka naskahnya."
Selama satu jam berikutnya, mereka bekerja dalam jarak dekat. Arlan sesekali mengoreksi catatan Adelia, jarinya kadang bersentuhan dengan jari Adelia saat mereka menunjuk layar yang sama. Setiap sentuhan itu seperti sengatan listrik kecil bagi Adelia, tapi ia berusaha tetap profesional.
Namun, ketegangan memuncak saat pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.
Seorang wanita cantik dengan pakaian bermerek dan kacamata hitam besar berdiri di sana. Dia adalah Sandra, produser eksekutif dari agensi pusat yang juga merupakan mantan kekasih Arlan.
"Jadi benar apa yang orang-orang bilang?" suara Sandra terdengar tajam. Ia menatap Adelia dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Kamu punya mainan baru sekarang, Arlan? Dan kamu memilih asisten produksi yang... seleramu menurun drastis ya."
Adelia tersentak. Arlan berdiri dengan perlahan, raut wajahnya kembali berubah menjadi 'Naga' yang siap menyemburkan api.
"Keluar dari sini, Sandra," ujar Arlan dengan suara dingin yang bisa membekukan air.
"Kenapa? Kamu takut aku mengganggu kencan kerjamu ini?" Sandra mendekati meja, melirik plester di jari Adelia. "Oh, drama luka-luka untuk mendapatkan simpati? Trik lama yang membosankan."
Adelia tidak tinggal diam. Ia merapikan dokumennya dan menatap Sandra dengan berani. "Ibu Sandra, saya tidak tahu apa masalah Anda dengan Pak Arlan, tapi menuduh saya tanpa bukti di lingkungan profesional adalah bentuk pelecehan. Jika Anda punya masalah dengan hasil kerja saya, silakan sampaikan lewat HRD."
Sandra tertawa sinis. "Berani juga kamu ya."
"CUKUP!" Arlan menggebrak meja. Suaranya menggelegar, membuat Sandra terdiam seketika. "Sandra, kamu di sini untuk urusan kontrak iklan bulan depan. Adelia adalah staf saya yang paling berharga saat ini. Kalau kamu menghina dia satu kali lagi, saya pastikan kontrak itu batal hari ini juga."
Hening. Sandra tampak terkejut melihat Arlan membela seorang asisten dengan begitu emosional. Ia mendengus, lalu berbalik pergi sambil membanting pintu.
Adelia terpaku. Staf paling berharga? Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ia menatap Arlan yang kini membelakanginya, napas pria itu terlihat memburu.
"Pak Arlan... terima kasih," bisik Adelia.
Arlan tidak menoleh. "Jangan salah paham. Saya hanya tidak suka orang asing mengacaukan set saya. Kembali ke bawah, Adelia. Pastikan tidak ada satu pun kru yang berani menatapmu dengan cara yang salah, atau mereka akan berurusan dengan saya."
Adelia keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, setelah kejadian ini, gosip itu tidak akan hilang. Justru, perang baru saja dimulai. Dan entah kenapa, berada di pihak Arlan terasa jauh lebih menakutkan—sekaligus mendebarkan—daripada menjadi musuhnya.