Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Mengikuti Banyu
Awan mendung yang menggantung di atas SMA Garuda sore itu tidak hanya membawa janji hujan, tapi juga aroma kegelapan yang sudah sangat Lauren kenali. Langkah kaki Banyu terdengar konstan di sampingnya, ritme yang tenang namun terasa berat. Sudah tiga hari sejak pertemuan mereka di perpustakaan, dan entah bagaimana, Lauren mendapati dirinya berjalan pulang bersama pemuda itu.
"Kamu selalu diam seperti ini?" tanya Banyu tanpa menoleh. Tas punggungnya tersampir di satu bahu, tampak santai meski atmosfer di sekitar mereka mulai menipis.
Lauren mengeratkan pegangan pada tali tasnya.
"Aku hanya sedang berpikir."
"Tentang apa? Tentang hantu yang kamu lihat di balik punggungku tadi di kantin?"
Lauren tersentak, langkahnya hampir terhenti. Ia menoleh cepat ke arah Banyu, mencari tanda-tanda apakah pemuda itu sedang bercanda. Namun wajah Banyu tetap datar, tatapannya lurus ke depan menyapu jalanan komplek yang mulai sepi.
"Kamu... kamu tahu?" bisik Lauren.
Banyu terkekeh kecil, sebuah suara hambar yang tidak mengandung kegembiraan.
"Aku tidak melihat mereka sepertimu, Lauren. Tapi aku merasakannya. Seperti ada beban yang menempel di pundakku setiap kali aku sendirian. Dingin dan menyesakkan."
Herza muncul secara tiba-tiba di antara mereka. Arwah mentor itu melayang dengan posisi waspada, pendar peraknya berkedip tajam.
"Lauren, jangan bicara lebih jauh. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu pancing!"
Lauren mengabaikan Herza. Perhatiannya tersedot sepenuhnya pada Banyu. Selama ini ia mengira Banyu hanyalah korban atau alat, namun mendengar pengakuan itu membuat Lauren menyadari sesuatu yang lebih dalam. Banyu bukan sekadar target; ia adalah pusat badai yang belum meledak.
Saat mereka melewati deretan pohon angsana yang rimbun, cahaya matahari sore yang tersisa mendadak tertelan oleh bayangan pohon. Suhu udara anjlok drastis. Lauren merasakan getaran hebat pada medali di dadanya. Rasa panasnya merambat hingga ke leher, memberikan sinyal bahaya tingkat tinggi.
"Banyu, berhenti," perintah Lauren tegas.
Banyu berhenti tepat di bawah bayangan pohon yang paling pekat. Ia menoleh ke arah Lauren, alisnya bertaut.
"Ada apa?"
Lauren memfokuskan pandangannya. Ia memanggil energi biru ke matanya, membiarkan tabir dunia nyata tersingkap. Di sana, tepat di balik punggung Banyu, merayap sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada parasit biasa.
Sesosok entitas tanpa wajah, bertubuh jangkung dengan jemari panjang yang melengkung, sedang memeluk leher Banyu dari belakang. Makhluk itu tampak seperti asap hitam yang memadat. Namun yang membuat jantung Lauren seolah berhenti berdetak adalah apa yang muncul di atas kepala makhluk itu.
Sepasang mata merah besar.
Mata itu tidak berkedip, memancarkan kebencian murni yang purba. Mata merah yang sama yang menghantui masa balitanya, yang pernah muncul di dalam lemarinya bertahun-tahun lalu. Mata itu tidak menatap Lauren. Ia menatap ke depan, seolah-olah sedang menjaga properti paling berharga miliknya.
"Mata merah itu..." Lauren mundur satu langkah, tangannya menutup mulut karena ngeri.
"Dia mengawasimu, Banyu. Dia tidak hanya mengikutimu, dia menjagamu."
"Apa yang kamu lihat, Lauren?" tanya Banyu. Suaranya terdengar sedikit bergetar sekarang. Ia meraba lehernya, tepat di tempat jemari entitas itu berada.
"Aku merasa sangat dingin di sini."
"Jangan bergerak," bisik Lauren.
Herza menerjang maju, tangannya yang berpendar perak mencoba menghantam entitas di punggung Banyu. Namun, tepat sebelum serangan Herza mendarat, mata merah itu berkilat. Sebuah gelombang energi gelap meledak, mementalkan Herza hingga arwah itu menabrak batang pohon angsana.
"Herza!" teriak Lauren.
"Aku tidak apa-apa!" sahut Herza sambil berusaha bangkit, namun pendar tubuhnya meredup drastis.
"Lauren, makhluk itu berbeda! Itu bukan prajurit Adiwangsa. Itu adalah sesuatu yang terikat langsung dengan garis darah pemuda ini!"
Lauren merasakan dilema yang luar biasa hebat menghantam batinnya. Intuisi indigonya berteriak agar ia lari, agar ia menjauh sejauh mungkin dari Banyu jika ingin hidupnya kembali tenang. Banyu adalah magnet bagi jenis kegelapan yang bahkan membuat Herza kewalahan. Mendekatinya berarti mengundang perang besar masuk ke dalam rumahnya, ke arah Papa dan Mamanya.
Namun, saat ia menatap mata Banyu yang tampak kesepian dan bingung, hati Lauren menolak untuk pergi. Ia melihat dirinya sendiri dalam diri Banyu. Seorang remaja yang dikutuk oleh sesuatu yang tidak ia pahami, yang dipaksa membawa beban dunia lain tanpa diminta.
"Aku bisa membantumu," kata Lauren, suaranya lebih stabil sekarang. Ia melangkah maju, mendekati Banyu yang masih terpaku.
"Lauren, jangan!" Herza memperingatkan, suaranya penuh keputusasaan.
"Jika kamu menyentuh energinya sekarang, kamu akan menandai jiwamu untuk mereka!"
Lauren tidak berhenti. Ia mengulurkan tangannya, membiarkan energi birunya berpendar di ujung jemari. Ia mencoba menyentuh bahu Banyu, bermaksud memberikan perlindungan sementara dari makhluk di punggungnya.
Tepat sebelum jemari Lauren bersentuhan dengan kain seragam Banyu, pemuda itu mendadak ambruk. Banyu jatuh berlutut, memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan. Entitas di punggungnya melengking, sebuah suara yang hanya bisa didengar oleh telinga batin Lauren, suara yang mampu memecahkan konsentrasi.
"Sakit... kepalaku mau pecah!" rintih Banyu.
Cahaya lampu jalan di sekitar mereka mendadak pecah satu per satu. Kegelapan total menyergap. Di tengah gelap itu, mata merah di punggung Banyu tampak semakin terang, membara seperti bara api di tengah neraka.
"Pergi, Lauren!" Banyu berteriak di sela erangannya.
"Pergi sebelum aku menyakitimu!"
Lauren terpaku. Ia melihat bayangan hitam dari punggung Banyu mulai menyebar ke tanah, membentuk jaring-jaring gelap yang mencoba menangkap kaki Lauren. Ia menyadari bahwa kehadirannya justru memicu reaksi agresif dari entitas tersebut. Kekuatan birunya beresonansi dengan kegelapan Banyu, menciptakan konflik energi yang menyiksa fisik pemuda itu.
"Kita harus pergi sekarang, Lauren! Dia tidak akan mati, tapi kamu yang akan hancur jika tetap di sini!" Herza menarik paksa esensi batin Lauren, memaksa gadis itu untuk berbalik.
Dengan hati yang berat dan air mata yang mulai menggenang, Lauren berbalik dan berlari. Ia berlari secepat yang ia bisa, meninggalkan Banyu yang masih meringkuk di bawah pohon angsana dalam kegelapan. Ia berlari sampai paru-parunya terasa mau meledak, sampai ia mencapai gerbang rumahnya yang terang oleh lampu teras.
Lauren bersandar di pagar rumahnya, terengah-engah. Medali di dadanya masih berdenyut panas, tanda bahwa ancaman itu belum benar-benar menjauh.
"Kenapa, Herza? Kenapa dia harus membawa hal mengerikan seperti itu?" tanya Lauren dengan suara pecah.
Herza muncul di sampingnya, wajah arwah itu tampak sangat letih.
"Karena dia adalah kuncinya, Lauren. Sama sepertimu. Bedanya, kamu adalah cahaya yang mereka butuhkan untuk membuka pintu, dan dia adalah kegelapan yang mereka gunakan untuk memutar kuncinya. Kalian diciptakan untuk saling menghancurkan jika bertemu."
Lauren menatap ke arah jalanan yang gelap. Rasa bersalah karena meninggalkan Banyu menghujam jantungnya lebih tajam daripada serangan gaib mana pun. Ia baru saja menemukan seseorang yang bisa memahaminya, namun takdir seolah menertawakannya dengan memberikan beban yang jauh lebih berat.
Malam itu, Lauren tidak bisa tidur. Ia duduk di meja belajarnya, menatap buku harian birunya yang terbuka. Ia ingin menulis, namun jemarinya gemetar. Suasana rumahnya yang biasanya tenang kini terasa mencekam, seolah ada mata-mata yang mengintai dari setiap celah ventilasi.
Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari arah jendela kamarnya yang tertutup rapat.
Srak... srak... srak...
Lauren berdiri, memanggil energi birunya. Ia bersiap untuk bertarung. Namun, suara itu bukan berasal dari cakar atau benturan fisik. Itu adalah suara bisikan yang merambat melalui kaca, masuk langsung ke dalam pusat syarafnya.
Suara itu parau, dingin, dan mengandung gema dari ribuan tahun yang lalu.
"Jangan dekati dia, Gadis Indigo," bisik suara itu.
Lauren menelan ludah, matanya menyapu kegelapan di balik jendela.
"Siapa kamu?"
"Kami adalah penjaga gerbang yang kamu lupakan," suara itu tertawa pelan, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Lauren berdiri tegak. "Pemuda itu bukan milikmu untuk diselamatkan. Dia adalah wadah yang sudah dipesan. Jika kamu terus menyentuh garis takdirnya, kami tidak akan hanya mengambil jiwamu... kami akan menghanguskan setiap orang yang membawa namamu."
Sebuah bayangan hitam besar melintas di depan jendela, menutupi cahaya bulan sesaat. Saat bayangan itu hilang, Lauren melihat sebuah simbol yang terukir di kaca jendelanya—simbol mata merah yang dikelilingi lidah api, persis seperti yang ada di medalinya, namun yang satu ini tampak mengeluarkan asap hitam yang berbau busuk.
Lauren jatuh terduduk di kursi, medali di dadanya mendadak terasa sedingin es. Ia menyadari bahwa keterlibatannya dengan Banyu bukan lagi sekadar urusan hati atau rasa kasihan. Ini adalah deklarasi perang terhadap kekuatan yang jauh lebih besar dari Adiwangsa.
Di kejauhan, ia mendengar suara lolongan anjing yang panjang dan menyedihkan, seolah sedang meratapi nasib yang akan segera menimpa kota itu. Lauren memeluk dirinya sendiri, menyadari bahwa mulai malam ini, tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman baginya.