Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~22
Kini mereka pun nampak berbuka bersama menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan oleh keluarga pak Lurah, Firman pun tak lupa membawa sekeranjang buah dan juga desert buatan Marni.
"Mi, ini buah dan desert dari Marni." ucapnya seraya meletakkannya diatas meja.
"Wah repot-repot sekali, terima kasih ya nak Marni." ibunya Firman pun langsung membuka keranjang buah tersebut beserta desert puding yang terlihat sangat enak untuk dinikmati bersama.
"Sama-sama ummi." sahut Marni yang tak menyangka rupanya buah yang dibeli oleh Firman di jalan tadi diatasnamakan darinya, kenapa ia tiba-tiba terharu meskipun hanya hal kecil tapi pria itu mencoba membuat ibunya menyukainya.
"Terima kasih mas," gumamnya dalam hati.
"Aku tahu ini semua pasti ummi yang memasak ya? karena rasanya sama seperti di pondok," ucap Kania tiba-tiba memuji masakan ibunya Firman setelah melirik desert milik Marni.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum menanggapinya, ia memang sesekali memasak untuk anak-anak pondokan hingga Kania hafal dengan rasanya.
"Ummi memang benar-benar jago memasak nak dari dulu." imbuh pak Lurah memuji istrinya tersebut dan tentu saja itu membuat bu Lurah langsung tersipu, meskipun pernikahan mereka sudah puluhan tahun tapi suaminya itu selalu bersikap romantis.
"Nah makanya kamu di pondok bisa belajar sama ummi katanya ingin menjadi istri yang baik untuk suami," ucap ibunya Kania menimpali hingga membuat Firman tiba-tiba langsung tersedak namun Kania dan Marni nampak kompak mengulurkan minuman mereka kepada pria itu.
Melihat Kania juga melakukan hal sama sepertinya Marni pun langsung menarik kembali gelasnya karena rasanya ia kurang pantas jika bersaing dengan wanita sesempurna gadis tersebut, tapi siapa sangka justru Firman tiba-tiba mengambil gelasnya lalu meminumnya hingga tandas.
"Terima kasih." ucapnya dengan terseyum tipis menatapnya, diperlakukan seperti itu tentu saja membuat Marni merasa tersipu namun ketika tak sengaja bertatapan dengan Kania wanita itu terlihat kesal.
Marni sangat memaklumi sikap Kania karena bagaimana pun sebelum hadirnya dirinya sudah ada wanita itu yang akan di jodohkan dengan Firman dan ia juga memaklumi meskipun anak pondokan yang banyak mempelajari tentang ilmu kesabaran tapi namanya manusia pasti ada rasa cemburu di hatinya.
Marni pun mulai menjaga jarak dengan Firman toh ia hanya karyawannya seperti yang diakui oleh pria itu sebelumnya.
"Nak Marni umur berapa sekarang?" ucap ibunya Kania tiba-tiba.
"20 tahun, bu." sahut wanita itu menatapnya.
"Oh beda setahun sama Kania ya, kalau Kania 21 tahun dan rencana setelah lulus langsung membesarkan bisnis onlinenya tak perlu lagi cari kerja diluar ikut orang jadi kalau sudah menikah nanti bisa fokus dengan keluarga kecilnya juga," terang ibunya Kania seakan sedang membandingkan putrinya dan wanita itu dihadapan Firman.
Marni hanya mengangguk kecil, memang ia bisa bilang apa dari sudut manapun ia sudah kalah jauh dari Kania dan kalaupun makan bersama ini sengaja diadakan untuk membuat Firman menentukan pilihan ia akan dengan sangat ikhlas menerima keputusan pria itu dan keluarganya karena bagaimana pun beginilah ia adanya hanya gadis kampung putus sekolah. Satu-satunya hal yang bisa ia banggakan hanya pandai mengaji namun Kania juga pasti bisa lebih darinya mengingat wanita itu menempuh pendidikannya di pondok pesantren modern milik pamannya Firman.
Saat mereka sedang asyik berbincang terdengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya. "Itu pasti Rio dan istrinya." ujar ayahnya Kania menebak, sebelumnya mobil putra sulungnya itu mogok diperjalanan jadi terpaksa mencari bengkel terdekat.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang pria tampan yang nampak baru masuk dengan istrinya beserta putra kecilnya itu.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka semua.
Deg!
Marni pun langsung melebarkan matanya ketika melihat kedatangan pria itu, kenapa kebetulan sekali karena Rio adalah salah satu pelanggannya di karaoke tempatnya bekerja saking tergila-gilanya padanya pria itu tak segan mengeluarkan banyak uang berharap bisa tidur dengannya tapi selalu ia tolak tanpa langsung mengecewakannya tentu saja.
Padahal sudah punya istri secantik dan sesholehah itu bagaimana bisa masih mencari kesenangan diluar, terkadang Marni tak habis pikir dengan cara pandang seorang pria tentang sebuah hubungan maupun kehidupan. Sepertinya memang benar kata pepatah pria adalah makhluk penuh logika namun akan kalah dengan nafsunya sendiri.
"Hai apa kabar bro?" Rio pun langsung memeluk Firman sahabat lamanya saat di universitas dahulu setelah sebelumnya menyalami ayah dan ibunya pria itu.
"Alhamdulillah sangat baik bro semoga kalian sekeluarga juga," sahut Firman dengan ramah.
Kemudian pandangan Rio pun beralih ke arah wanita disamping pria itu. "Maria?" ucapnya tak percaya saat melihat seorang wanita yang begitu mirip dengan LC langganannya tersebut namun dengan penampilan yang sangat berbeda saat ini, sebuah gamis berwarna krem beserta hijab yang menutupi kepalanya.
"Maaf Rio, namanya Marni bukan Maria." terang Firman meralat panggilan pria itu.
"Oh mungkin hanya salah orang," sahut Rio lantas berlalu menjauh namun sesekali masih melirik ke arah Marni yang dilihat dari segi mana pun itu adalah Maria.
"Maria siapa mas?" ucap sang istri nampak penasaran.
"Klien di kantor," sahut pria itu berbohong.
"Oh," sang istri pun hanya ber oh ria meskipun aura cemburu sedang terlihat di wajahnya saat ini bahkan sesekali menatap Marni yang sedang melanjutkan makannya.
Mereka semua pun melanjutkan makannya kembali diselingi obrolan kecil tentang bisnis masing-masing dan Rio sepanjang makan tak berhenti menatap ke arah Marni, pria itu memang sangat terobsesi dengan wanita bernama Maria karena hampir satu tahun menjadi pelanggannya tapi hingga detik ini ia belum mampu membawanya ke tempat tidurnya.
Menyadari pria itu memperhatikan wanita pujaan hatinya tentu saja itu membuat Firman merasa cemburu meskipun ia tahu Rio dulu sosok pemain tapi semoga saja sudah tobat, namun ia tetap tidak terima karena dirinya saja rela menundukkan pandangannya demi tidak khilaf terhadap wanita itu.
Marni menyadari jika pandangan diam-diam Rio terus ke arahnya hingga membuatnya sedikit takut jika statusnya akan terbongkar dan ia berusaha bersikap seolah-olah tidak mengenalnya saja lagipula bukankah pria itu dari keluarga alim tapi kenapa kelakuannya seperti roh halus, lihatlah bahkan seluruh keluarganya sangat agamis bak sekumpulan orang yang paling benar.
Tiba-tiba Marni terkejut ketika sebuah tangan menggenggamnya dibawah meja hingga membuatnya langsung menoleh ke arah Firman yang sedang duduk disebelahnya itu.
Pria itu nampak tersenyum kecil ketika menggenggam tahan dingin wanita itu yang kini perlahan mulai menghangat seiring dengan genggamannya yang begitu erat tak perduli pujaan hatinya itu berusaha menarik tangannya menjauh.
Tak terasa acara berbuka pun telah usai dan mereka semua segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Marni yang sedang haid pun memilih membantu bibi di dapur.
"Nitip ya," ucap Kania setelah meletakkan tumpukan piring bekas makannya dan kedua orang tuanya di dalam wastafel.
"Aku juga," ucap istrinya Rio yang nampak meletakkan dua piring bekasnya dan bekas suaminya tanpa meninggalkan ucapan terima kasih kemudian mereka pergi begitu saja sembari cekikikan entah apa yang mereka bisikkan di telinga masing-masing.
Marni tak mempermasalahkannya toh hitung-hitung cari pahala karena ia sendiri hari ini tidak berpuasa sedangkan mereka harus segera melaksanakan sholat wajib 3 rakaat itu, saat sedang asyik mencuci piring tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Marni langsung menoleh.
"Mas Rio?" gumamnya tak percaya, padahal yang lainnya sedang sholat kenapa pria itu berkeliaran disini?
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu