"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pengusiran
"Raka! Masuk!"
Teriakan Elzian menggema, tegas dan tak terbantahkan.
Dalam hitungan detik, pintu utama terbuka lebar. Raka, kepala pengawal berbadan tegap dengan setelan hitam, masuk diikuti dua anak buahnya. Wajah mereka kaku, siap menerima perintah apa pun, bahkan jika harus meratakan gunung.
Sienna, yang masih bersimpuh di lantai marmer dengan air mata yang membasahi pipi, tersenyum tipis di balik isakannya. Hatinya bersorak. Elzian memanggil pengawal. Itu pasti untuk mengusir Ziva. Rencananya berhasil. Sakit di tulang ekornya terbayar lunas.
"Lihat, Ziva!" seru Sienna, menunjuk Ziva yang masih berdiri santai di tangga. "Kau tamat! Elzian tidak akan membiarkan wanita kasar sepertimu tinggal di rumah ini. Raka, cepat tangkap dia! Dia baru saja mendorongku!"
Raka dan anak buahnya berhenti, menatap bingung antara Sienna yang histeris dan Ziva yang tenang. Mereka menoleh ke arah Elzian, menunggu perintah bos besar.
Elzian tidak menatap Ziva. Dia justru menatap Sienna dengan sorot mata yang membuat darah wanita itu membeku. Perlahan, Elzian mengangkat ponselnya yang sejak tadi dia pegang. Layarnya menyala, menampilkan rekaman video yang terhubung langsung dengan sistem keamanan rumah.
"Kau bilang Ziva mendorongmu?" tanya Elzian datar. UU
"I-iya! Dia mendorongku keras sekali!" Sienna mengangguk mantap, meski mulai merasa ada yang salah dengan nada bicara Elzian.
Elzian memutar layar ponselnya ke arah Sienna.
Di layar itu, terlihat jelas rekaman CCTV kualitas tinggi. Sosok Sienna berdiri di puncak tangga, mencengkeram tangan Ziva, lalu melepaskan diri dan melompat mundur dengan gaya yang sangat... teatrikal. Tidak ada dorongan. Tidak ada sentuhan dari Ziva. Ziva bahkan terlihat mundur dan merekam.
Wajah Sienna memucat, lebih putih dari tembok di belakangnya. Mulutnya ternganga, tapi tidak ada suara yang keluar. Kebohongannya telanjang bulat di depan mata.
"Gravitasi di rumah ini sepertinya punya dendam pribadi padamu, Sienna," cemooh Elzian dingin. Dia menyimpan kembali ponselnya ke saku jas. "Atau mungkin lantai marmerku yang terlalu licin untuk wanita ular sepertimu?"
"Elzian... i-itu... itu videonya direkayasa! Sudutnya salah!" Sienna mencoba membela diri dengan alasan bodoh.
"Cukup," potong Elzian. Dia menatap Raka sambil menunjuk Sienna yang masih terduduk di lantai. "Raka, tamu kita bilang kakinya patah dan tidak bisa berdiri. Sebagai tuan rumah yang baik, kita harus membantunya keluar."
Sienna bernapas lega sesaat. "Elzian, kau masih peduli padaku..."
"Seret dia," lanjut Elzian tanpa perasaan. "Buang ke luar gerbang."
Mata Sienna melotot nyaris keluar. "Apa?! Elzian! Kau bercanda kan?!"
"Laksanakan," perintah Elzian.
Tanpa basa-basi, Raka dan satu pengawal maju. Mereka mencengkeram lengan kiri dan kanan Sienna dengan kuat, lalu mengangkatnya paksa seolah wanita itu adalah karung beras.
"Lepaskan! Sakit! Jangan pegang-pegang! Aku model mahal!" jerit Sienna, kakinya menendang-nendang udara. Gaun mininya tersingkap memalukan, tapi tidak ada yang peduli.
Ziva, yang sejak tadi menonton dari tangga, perlahan turun. Langkahnya anggun, kontras dengan Sienna yang sedang meronta-ronta seperti orang gila.
"Tunggu sebentar, Pak Raka," cegah Ziva saat para pengawal itu hendak melewati pintu.
Raka berhenti, memberi ruang bagi Ziva.
Ziva merogoh saku celana jeans-nya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna putih polos. Dia berjalan mendekati Sienna yang napasnya memburu karena marah dan malu.
Ziva menyelipkan kartu nama itu ke belahan dada gaun Sienna yang berantakan.
"Apa ini?!" bentak Sienna.
"Kartu nama rekan sejawatku," jawab Ziva santai sambil tersenyum manis. "Dia dokter bedah plastik terbaik di Korea, tapi dia juga punya sertifikasi psikiatri. Paket komplit."
Ziva menepuk pelan pipi Sienna yang basah oleh air mata dan luntur maskara.
"Datanglah padanya. Minta dia memperbaiki otakmu dulu sebelum memperbaiki wajahmu yang miring itu. Percuma wajah cantik kalau isinya kosong melompong."
"KAU!!!" Sienna menjerit, suaranya melengking memecahkan gendang telinga. "Dasar wanita jalang! Awas kau! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku Sienna! Aku punya jutaan pengikut di media sosial!"
Sienna meronta hebat saat Raka kembali menyeretnya keluar pintu. Suaranya terdengar semakin jauh, tapi ancamannya masih menggema jelas di udara malam.
"AKU AKAN HANCURKAN REPUTASIMU, ZIVA! AKU AKAN TULIS DI SEMUA MAJALAH KALAU KAU PELAKOR! LIHAT SAJA NANTI! KARIR DOKTERMU AKAN TAMAT!"
Pintu utama tertutup dengan bunyi bam yang berat, memotong teriakan histeris itu.
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu mansion Drystan.
Ziva menghela napas panjang, menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan debu. "Akhirnya, polusi suara hilang juga."
Dia berbalik, hendak kembali naik ke kamarnya. "Aku mau tidur. Urusan sampah sudah selesai."
Elzian masih diam di tempatnya. Matanya menatap pintu tertutup itu dengan sorot tajam yang mematikan. Ancaman Sienna tadi bukan sekadar gertakan kosong. Wanita itu punya pengaruh di media. Satu postingan fitnah dari Sienna bisa membuat Ziva diserang netizen satu negara.
Elzian tidak akan membiarkan itu terjadi.
Bukan karena dia peduli pada perasaan Ziva—setidaknya itu yang dia katakan pada dirinya sendiri—tapi karena Ziva adalah 'aset' berharganya sekarang. Aset yang menjaga nyawanya.
Saat Ziva sudah menghilang di balik tikungan tangga, Elzian mengeluarkan ponselnya lagi. Dia menekan satu tombol panggilan cepat.
"Halo, Pak Elzian?" suara asisten pribadinya terdengar sigap di seberang sana.
"Hubungi semua agensi model, majalah fashion, dan stasiun TV yang bekerja sama dengan Drystan Group dan anak perusahaannya," perintah Elzian dengan suara rendah yang berbahaya.
"Baik, Pak. Arahan khususnya?"
"Sienna. Pastikan nama itu hilang dari peredaran," ucap Elzian dingin. Jarinya mengetuk sandaran kursi roda. "Batalkan semua kontrak iklannya. Tarik semua investasiku dari majalah yang berani memajang wajahnya. Aku mau karirnya tamat sebelum matahari terbit besok."
"Dimengerti, Pak. Akan saya eksekusi sekarang."
Elzian mematikan telepon. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang kejam.
"Hancurkan reputasi istriku?" gumam Elzian pada ruang kosong itu. "Coba saja kalau kau masih punya panggung untuk bicara, Sienna."