Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa sarung dan serigala aspal
Malam yang tenang di Desa Al-Fathan berubah menjadi mencekam. Di depan gerbang kayu raksasa pesantren, belasan motor sport dan motor custom berjejer rapi, lampunya menyorot tajam ke arah gerbang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Suara knalpot brong mereka saling bersahutan, sengaja mengusik istirahat para santri.
Fariz Haidar duduk di atas motornya yang paling depan, sesekali memainkan gas hingga api keluar dari knalpotnya. "Keluarrrr! Mana ustadz yang berani nyolong cewek gue?!" teriaknya lantang.
Pintu gerbang kecil di samping gerbang utama terbuka. Arkanza Farras Zavian melangkah keluar sendirian. Tanpa pengawal, tanpa senjata. Ia hanya mengenakan baju koko abu-abu dan sarung putihnya, tangannya memegang tasbih kayu yang berputar pelan di jemarinya. Di belakangnya, dari balik celah gerbang, puluhan santri keamanan sudah bersiaga dengan pagar betis, dipimpin oleh Omar yang tampak komat-kamit membaca doa qunut saking tegangnya.
"Matikan mesin kalian," ucap Arkan. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana bisa terdengar jelas menembus bisingnya mesin motor. "Ini waktu istirahat. Kalian mengganggu hamba Allah yang sedang berdzikir."
Fariz tertawa meremehkan, turun dari motornya dan berjalan mendekati Arkan. "Gue nggak peduli sama dzikir lo, Ustadz. Gue mau Syra. Balikin dia sekarang, atau gue pastikan besok pagi jalanan ini penuh oli biar nggak ada satu pun jamaah pengajian lo yang bisa lewat tanpa jatuh."
Arkan berhenti tepat di depan Fariz. Jarak mereka hanya satu lengan. Arkan tidak gentar sedikit pun. "Syra bukan barang yang bisa dikembalikan. Dia tamu di rumah kami. Dan tamu di pesantren ini, nyawanya saya yang tanggung."
"Halah, banyak bacot lo!" Fariz menarik kerah baju koko Arkan. "Lo tau apa soal Syra? Lo cuma ustadz yang tau halal-haram. Lo nggak tau betapa kotornya dia di Jakarta. Lo nggak pantes buat dia!"
Saat Fariz hendak melayangkan pukulan, sebuah suara melengking menghentikan segalanya.
"STOP! JANGAN SENTUH DIA, FARIZ!"
Syra Aliyah Farhana muncul dari balik kegelapan samping gerbang. Ia sudah tidak memakai mukena. Ia mengenakan jaket denimnya lagi, rambut cokelatnya berantakan, dan di tangannya ia memegang sebuah kunci inggris besar yang ia temukan di gudang.
"Syra? Akhirnya lo keluar juga," Fariz menyeringai. "Ayo ikut gue balik. Tempat ini bukan buat lo. Lo itu debu di sini, mereka cuma mau manfaatin duit bokap lo!"
Syra berdiri di samping Arkan, napasnya memburu. "Gue nggak akan ke mana-mana, Fariz! Dan soal hutang Ayah, gue bakal lunasin dengan cara gue sendiri, bukan dengan jadi piala lo!"
Fariz yang emosinya sudah di ujung tanduk kembali menatap Arkan. "Ini semua gara-gara lo, Ustadz sok suci!"
Fariz melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Arkan. Syra berteriak, namun sesuatu yang luar biasa terjadi. Arkan tidak menghindar dengan gaya orang yang ketakutan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi—gerakan yang hanya dimiliki oleh orang yang terbiasa dengan refleks kecepatan tinggi—Arkan menangkap pergelangan tangan Fariz, memutarnya sedikit, dan menekan titik saraf di lengan Fariz hingga pria itu jatuh berlutut.
"Lo... lo belajar bela diri di mana?" rintih Fariz kesakitan.
Arkan membungkuk, berbisik di telinga Fariz dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua. "Lintasan balap mengajarkan saya satu hal, Fariz: jangan pernah menyerang jika kamu tidak tahu seberapa cepat lawanmu bisa membalas. Black Hawk tidak pernah membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Pergi sekarang, atau jaket kulit yang kamu banggakan itu akan saya jadikan lap pel di pesantren ini."
Mata Fariz membelalak. Ia menatap Arkan dengan ngeri. Ia baru menyadari bahwa pria bersarung di depannya ini bukan sekadar Gus biasa. Ada aura predator yang sangat familiar.
"Cabut! Semuanya cabut!" teriak Fariz sambil mundur ketakutan menuju motornya. Dalam hitungan detik, gerombolan motor itu pergi dengan terburu-buru, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang canggung.
Syra menurunkan kunci inggrisnya, menatap Arkan dengan mulut ternganga. "Arkan... lo tadi... itu tadi gerakan apa? Terus lo bilang apa ke dia sampe dia ketakutan gitu?"
Arkan melepaskan ketegangannya, kembali memutar tasbihnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Hanya sedikit nasihat tentang keselamatan berkendara, Syra."
"Bohong! Gue denger lo nyebut Black Hawk!" Syra mengejar Arkan yang mulai berjalan masuk ke dalam gerbang.
Arkan berhenti sejenak, berbalik menatap Syra. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, wajah Arkan tampak sangat tenang, namun matanya memancarkan ketegasan. "Masuk ke dalam dhalem. Pakai mukenamu lagi. Dan Syra... terima kasih sudah mencoba melindungi saya dengan kunci inggris itu. Tapi lain kali, cari senjata yang lebih... feminim."
"GUS ARKANZA! GUE SERIUS!" Syra menghentakkan kaki, tapi Arkan tetap berjalan masuk dengan senyum miring yang tipis.
Dari kejauhan, Sabrina Dhikra Alya yang menyaksikan kejadian itu dari jendela lantai dua asrama, mengepalkan tangannya. Ia melihat bagaimana Arkan melindungi Syra, dan bagaimana Syra menatap Arkan dengan cara yang tidak pernah ia duga.
Sementara itu, Omar mendekati Syra dengan wajah kagum. "Mbak Syra, itu tadi kunci inggrisnya mau dipake beneran? Gila, Mbak Syra bener-bener definisi nderek Gus Arkan dengan cara barbar!"
"Diem lo, Mar! Urusin tuh kopiah lo yang miring!"
Malam itu, Syra menyadari bahwa "Sandi Hati" seorang Arkanza Farras Zavian jauh lebih rumit daripada kode mesin mana pun. Dan ia, entah kenapa, sangat ingin memecahkannya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...