NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kilat di Balik Hutan Terlarang

Suasana di perbatasan Hutan Terlarang itu begitu mencekam. Matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat menyisakan semburat jingga yang jatuh di antara celah daun raksasa.

Lima orang prajurit Kerajaan Astagina, dengan seragam kulit macan dan pedang yang berkilat, tampak tertawa terbahak-bahak.

Di tengah kepungan mereka, seorang gadis desa bernama Sekar Arum bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat. Pakaiannya yang sederhana sudah compang-camping akibat tarikan kasar.

"Tolong... lepaskan saya, Tuan-Tuan... saya hanya mencari jamur kayu untuk ibu saya yang sakit," isak Sekar dengan suara parau.

"Hahaha! Jamur kayu? Di hutan terkutuk ini kau mencari jamur? Lebih baik kau melayani kami, manis. Setidaknya kematianmu nanti akan terasa lebih nikmat sebelum siluman di sini memakan sisa tubuhmu," ujar salah satu prajurit bertubuh gempal bernama Bala. Ia melangkah maju dengan niat bejat yang terpancar jelas dari matanya yang merah.

Tepat saat tangan kasar Bala hendak menyentuh dagu Sekar, sebuah suara siulan nyaring membelah keheningan.

Siulan itu bernada santai, bahkan terdengar sedikit jenaka, seolah-olah sedang memanggil ayam peliharaan.

"Wah, wah... sepertinya ada karnaval di sini. Tapi sayang sekali, badutnya memakai seragam prajurit?"

Para prajurit itu tersentak. Mereka serentak menoleh ke arah sebuah pohon Jati tua yang menjulang tinggi.

Di atas dahan yang cukup rendah, duduk seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun. Rambutnya hitam legam dengan ikat kepala kain lusuh, wajahnya tampan meski ada sisa noda tanah di pipinya. Ia sedang asyik menggigit sebutir buah hutan yang ranum.

"Siapa kau, bocah tengik?! Turun atau kupotong lehermu!" teriak Bala geram.

Wira Wisanggeni melompat turun dengan gerakan seringan kapas. Ia mendarat tepat di antara Sekar dan para prajurit. Bukannya takut, Wira justru nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.

"Namaku Wira. Dan kalau kalian ingin memotong leherku, sebaiknya antri dulu. Kemarin ada siluman macan tutul yang mau melakukan itu, tapi dia malah berakhir memijat kakiku karena kalah taruhan main petak umpet," ujar Wira sambil tertawa kecil.

"Bocah gila! Habisi dia!" perintah Bala.

Dua prajurit maju menerjang dengan pedang terhunus. Wira tidak bergeming. Di matanya, gerakan para prajurit ini terasa sangat lambat.

Ini adalah hasil dari latihan Kanuragan Sukma yang diajarkan Dewi Shinta, sebuah latihan di mana Wira harus menangkap lalat di dalam gua gelap hanya dengan mengandalkan indra pendengarannya selama berjam-jam setiap malam.

Wush!

Wira merunduk, membiarkan pedang lawan menebas udara kosong. Dengan gerakan kilat, ia menyentil pergelangan tangan salah satu prajurit menggunakan dua jari yang dialiri tenaga dalam tipis.

"Akhh... Aduh!" prajurit itu berteriak kesakitan seolah tangannya dihantam palu godam. Pedangnya terjatuh berdenting di atas tanah.

Wira kemudian berputar, memberikan tendangan ringan namun tepat sasaran ke arah bokong prajurit satunya.

"Lari yang benar dong, Paman! Nanti jatuh lho!"

Prajurit itu tersungkur masuk ke dalam semak berduri, mengaduh sejadi-jadinya.

Bala yang melihat anak buahnya dipermalukan oleh seorang bocah langsung naik pitam. Ia mencabut pedang besarnya dan mengayunkannya dengan tenaga penuh.

"Mati kau, setan kecil!"

Namun, sebelum pedang itu mengenai sasaran, sebuah bayangan hitam besar melesat dari balik kegelapan hutan.

Seekor serigala raksasa dengan mata merah menyala melompat dan berdiri di samping Wira, menggeram rendah yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.

Itu adalah Guntur, siluman serigala penjaga wilayah luar hutan yang sudah dianggap Wira sebagai kakak sendiri.

"Guntur, tenang saja. Mereka cuma badut yang tersesat kok," ucap Wira santai sambil mengelus bulu leher Guntur yang kaku.

Melihat siluman raksasa yang patuh pada bocah itu, nyali para prajurit langsung rontok. Wajah mereka yang tadinya merah karena amarah kini pucat pasi bagaikan mayat.

"Si... siluman! Bocah itu bisa bicara dengan siluman!" teriak mereka ketakutan.

Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, kelima prajurit itu lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, bahkan ada yang meninggalkan sepatunya karena saking paniknya.

Wira tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan itu.

"Hahaha! Lihat Guntur, mereka lari seperti ayam kehilangan induk!"

Auuuu-.. lolongan Guntur menjawab Wira.

Setelah tawanya mereda, Wira berbalik ke arah Sekar Arum yang masih terpaku lemas.

Wira mengulurkan tangannya, persis seperti cara Dewi Shinta menolongnya tiga tahun lalu.

"Jangan takut, Kakak Cantik. Badut-badut itu sudah pergi. Kakak aman sekarang," ucap Wira lembut.

Sekar menatap Wira dengan perasaan campur aduk antara takut dan takjub.

"Terima kasih... kamu... siapa sebenarnya?"

"Hanya penghuni hutan yang sedang bosan, hihihi," jawab Wira asal.

"Namaku Wira. Kakak jangan sering main ke sini ya, tidak semua siluman sebaik Guntur. Dan paman-paman berseragam itu... mereka lebih berbahaya daripada siluman paling buas sekalipun." lanjut Wira mengingatkan dengan lembut.

Setelah kejadian itu, Wira memberikan beberapa buah hutan berkhasiat kepada Sekar dan mengantarnya hingga ke batas kabut yang aman.

Sejak hari itu, Sekar secara diam-diam sering datang ke perbatasan, membawakan bungkusan nasi atau jajanan pasar untuk Wira sebagai rasa terima kasih.

Wira pun tak keberatan, ia bahkan sering menceritakan lelucon konyol, sementara Sekar menceritakan tentang indahnya dunia di luar hutan.

Tanpa disadari, benih persahabatan tumbuh di antara mereka, meski keduanya tahu mereka hidup di dua dunia yang berbeda.

Waktu terus bergulir. Dua tahun berlalu sejak pertemuan itu. Latihan Wira di bawah bimbingan Dewi Shinta semakin berat dan tak masuk akal bagi ukuran manusia biasa.

"Wira, hari ini kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk makan atau minum. Kau harus menggunakan aliran tenaga dalammu untuk menggerakkan benda-benda itu," perintah Dewi Shinta suatu pagi.

Wira yang sedang lapar hanya bisa merengut. "Guru, kalau aku mati kelaparan, siapa yang akan menghiburmu dengan tarian monyet hutan?"

Dewi Shinta hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang diperlihatkan.

"Jika kau tidak bisa mengendalikan energi di sekitarmu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkan takdirmu sendiri."

Setiap hari, Wira dipaksa bermeditasi di bawah tekanan gravitasi yang dimanipulasi oleh Dewi Shinta.

Ia juga dilatih menggunakan sebuah tongkat kayu lusuh, bukan sembarang kayu, melainkan dahan dari Pohon Hayat Alam Dewa yang dibawa Dewi Shinta saat terlempar ke bumi.

Tongkat itu memang terlihat tampak rapuh, namun saat dialiri tenaga dalam Wira, ia bisa membelah batu karang menjadi debu.

Pernah suatu ketika, dalam sesi latihan tanding, Wira berhasil menyentuh ujung baju Dewi Shinta dengan tongkatnya. Itu adalah pencapaian luar biasa.

"Kau sudah siap, Wira," ucap Dewi Shinta saat matahari tepat di atas kepala, menandai hari ulang tahun Wira yang ke-12.

Wira terdiam. Ia tahu apa arti kata-kata itu yaitu adalah masa latihannya yang telah usai.

"Wira Wisanggeni," panggil Dewi Shinta dengan nada formal.

"Dunia di luar sana sedang sakit. Kerajaan yang membunuh orang tuamu hanyalah bagian kecil dari ketidakadilan yang lebih besar. Pergilah... Gunakan ilmu yang kuberikan untuk membasmi kejahatan, tapi ingat satu hal..."

Dewi Shinta menatap mata Wira dengan tajam.

"Jangan biarkan dendam memakan jiwamu. Jadilah pendekar yang membawa tawa dan damai, bukan hanya darah."

Dewi Shinta kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi pakaian baru dan tongkat kayu lusuh itu secara permanen.

"Ini adalah Tongkat Pemutus Takdir. Ia tidak akan patah oleh baja sehebat apa pun, dan ia akan tumbuh bersamamu."

Wira bersujud cukup lama di depan gurunya dengan air mata yang jarang terlihat kini telah membasahi pipinya.

"Guru... apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Wira dengan mata yang di banjiri airmata.

Dewi Shinta mengusap kepala muridnya. "Ketika kau sudah mencapai puncak tertinggi di dunia ini, kau akan menemukan jalan menuju tempat asalku. Di sanalah kita akan bertemu kembali."

Wira berdiri, menghapus air matanya, lalu memasang wajah konyolnya kembali. "Baiklah Guru! Aku pergi dulu. Jangan terlalu merindukan tarian monyetku ya!"

Wira berbalik dan melangkah mantap keluar dari Hutan Terlarang.

Di gerbang hutan, ada ribuan siluman, dari yang sekecil kelinci hingga sebesar gajah berkumpul dalam diam, memberikan penghormatan terakhir kepada Adik Kecil mereka yang akan mengguncang dunia manusia.

Tujuan pertamanya sudah jelas yaitu Ibu Kota Kerajaan Astagina.

Di sana, sebuah kompetisi bela diri akbar akan segera diadakan. Dan Wira Wisanggeni, bocah pencuri ubi yang dulu diseret di alun-alun, kini kembali sebagai badai yang akan menyapu bersih kebobrokan kerajaan.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!