seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Di Ambang Pintu Kesederhanaan
Semburat fajar belum sepenuhnya mengusir pekat malam saat Dave Mahesa sudah duduk di balik kemudi mobilnya. Ia tidak pulang ke mansion. Ia menghabiskan sisa malam di pinggir jalan, memikirkan kata-kata ayahnya. Baginya, meminta maaf adalah sebuah konsep asing.
Di dunia bisnis yang ia geluti di London, maaf adalah tanda kelemahan. Namun, di hadapan kenangan tentang sorot mata Shafira yang kecewa, keangkuhan Dave perlahan terkikis, menyisakan rasa hampa yang ganjil.
Ia mengemudikan mobilnya menuju alamat yang tertera di data karyawan: sebuah kawasan di pinggiran Jakarta Timur yang padat. Mobil sport-nya terasa seperti benda asing yang terdampar di tengah labirin gang-gang sempit. Bau asap kayu bakar dan aroma nasi uduk yang mulai dijajakan warga menyapa indra penciumannya saat ia turun dari mobil.
Dave berjalan kaki menyusuri gang sempit, mengikuti petunjuk peta di ponselnya. Sepatu kulitnya yang seharga belasan juta kini menginjak semen yang retak dan genangan air cucian warga. Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan cat hijau lumut yang sudah memudar. Di terasnya yang sempit, terdapat banyak tanaman hias di dalam pot-pot plastik yang tertata sangat rapi sentuhan tangan seorang tukang kebun yang mencintai pekerjaannya.
Di sana, ia melihat Pak Rahman sedang mengenakan sarung dan baju koko, baru saja kembali dari masjid. Pria tua itu tertegun melihat sosok jangkung berjas rapi berdiri di depan rumahnya yang sederhana.
"Tuan Muda Dave?" suara Pak Rahman bergetar, antara terkejut dan rasa hormat yang masih tersisa.
Dave menundukkan kepalanya sedikit
sebuah gerakan yang bahkan tidak pernah ia lakukan pada kolega bisnisnya. "Pak Rahman... maaf saya bertamu sepagi ini."
Pak Rahman terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum yang membuat Dave merasa semakin kerdil. "Silakan masuk, Tuan Muda. Rumah kami kecil, mungkin tidak nyaman untuk Anda."
"Tidak apa-apa, Pak," sahut Dave kaku.
Mereka masuk ke ruang tamu yang hanya berisi satu set kursi rotan tua dan sebuah lemari kayu berisi buku-buku. Di dindingnya, tergantung sebuah kaligrafi sederhana dan foto wisuda Shafira. Dave menatap foto itu; Shafira tersenyum lebar dengan toga dan hijabnya, tampak begitu bercahaya.
"Ayah, siapa yang dat—"
Kalimat itu terputus. Shafira muncul dari balik tirai dapur sambil membawa baki berisi dua gelas teh hangat. Ia mengenakan gamis rumah yang sederhana dan jilbab instan. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia baru saja selesai menangis atau terjaga sepanjang malam.
Melihat Dave, tangan Shafira gemetar hingga gelas di atas baki beradu. Ia segera meletakkan baki itu di meja kayu yang rendah. "Pak Dave? Mengapa Bapak ke sini?"
Dave berdiri, merasa lidahnya kelu. "Shafira, saya... saya datang untuk memintamu kembali."
Shafira menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia duduk di samping ayahnya, mencari kekuatan dari sana. "Saya rasa saya sudah cukup jelas kemarin, Pak. Keputusan saya sudah bulat."
"Ayahku memberikan ultimatum," Dave mencoba menggunakan alasan profesional, namun suaranya justru terdengar memohon. "Dia bilang, jika kau tidak kembali, dia sendiri yang akan turun tangan. Perusahaan dalam kekacauan karena laporan arus kas triwulan ini belum selesai, dan hanya kau yang memegang datanya."
Shafira tersenyum getir. "Jadi Bapak ke sini hanya karena urusan laporan? Karena Bapak takut pada Pak Devan?"
Dave terdiam. Ia menatap ke arah tangan Pak Rahman yang kasar dan penuh luka-luka kecil akibat bekerja di taman rumahnya. Tiba-tiba, rasa malu yang hebat menyerang Dave. Ia teringat bagaimana ibunya melempar cek ke arah gadis ini.
"Bukan hanya itu," bisik Dave, kali ini ia menatap langsung ke mata Shafira. "Saya ke sini karena saya sadar bahwa saya salah. Saya menghina sesuatu yang tidak saya pahami. Saya menganggap rendah orang yang justru memberikan dedikasi paling tulus untuk keluarga saya."
Dave berpaling ke arah Pak Rahman. "Pak Rahman, saya minta maaf atas perlakuan ibu saya kemarin. Saya minta maaf karena selama ini saya buta akan kesetiaan Bapak."
Pak Rahman menghela napas, matanya menerawang. "Tuan Muda, saya tidak pernah dendam. Bagi saya, bekerja di rumah Tuan Devan adalah amanah. Tapi sebagai seorang ayah, hati saya perih melihat putri saya diperlakukan seperti pengemis. Dia belajar tinggi-tinggi bukan untuk dihargai dengan uang, tapi untuk menjadi manusia yang bermanfaat."
"Saya tahu," jawab Dave pelan. Ia kembali menatap Shafira. "Shafira, kembali ke Mahesa Group bukan sebagai staf yang ditekan, tapi sebagai profesional yang saya hormati. Saya akan pastikan tidak ada lagi yang berani mengusik hijabmu, termasuk ibu saya sendiri. Saya akan memberikan kontrak baru, dengan posisi yang lebih layak."
Shafira terdiam lama. Keheningan di ruangan itu hanya dipecah oleh suara penggorengan dari dapur tempat ibunya memasak.
"Pak Dave," ujar Shafira akhirnya. "Rezeki saya ada di tangan Tuhan. Saya tidak takut kehilangan pekerjaan. Tapi, jika saya kembali, itu bukan karena posisi atau gaji yang Bapak tawarkan. Saya
akan kembali hanya jika Bapak berjanji satu hal."
"Apa pun," sahut Dave cepat.
"Bapak harus mulai belajar menghargai orang bukan dari pakaian atau saldo rekeningnya. Bapak harus belajar bahwa di bawah langit ini, kita semua hanyalah hamba yang sama-sama bernapas," ucap Shafira tegas. "Dan soal bantuan untuk Rumah Belajar... saya akan menerimanya sebagai donasi resmi perusahaan, bukan sebagai alat pembungkam mulut saya."
Dave mengangguk perlahan. Sesuatu yang beku di dalam dadanya seolah retak. "Saya berjanji."
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Farhan, adik Shafira, masuk dengan seragam SMA-nya yang rapi. Ia tampak bingung melihat mobil mewah di depan gang dan pria asing di rumahnya.
"Kak, ini siapa?" tanya Farhan polos.
Shafira berdiri, mengusap bahu adiknya. "Ini Pak Dave, bos Kakak. Dia datang untuk... menjemput Kakak kembali bekerja."
Farhan menatap Dave dengan rasa ingin tahu. "Oh, ini bos yang sering bikin Kakak pulang sambil nangis ya?"
Pertanyaan polos itu seperti tamparan bagi Dave. Ia merasa wajahnya memanas. Shafira segera mengajak Farhan ke belakang, sementara Dave berdiri dengan perasaan campur aduk.
"Pak Rahman," Dave berujar sebelum berpamitan. "Besok, Bapak tidak perlu bekerja di taman. Saya ingin Bapak mendampingi Shafira ke kantor. Saya ingin semua orang tahu bahwa staf keuangan terbaik saya adalah putri dari orang yang paling saya percayai di rumah saya."
Pak Rahman tersenyum haru. "Terima kasih, Tuan Muda. Semoga ini awal yang baik untuk kita semua."
Saat Dave berjalan kembali menuju mobilnya, ia merasa langkahnya lebih ringan. Namun, di kejauhan, sebuah mobil sedan hitam tampak mengawasi dari ujung gang. Di dalamnya, asisten pribadi Bu Sarah sedang mengambil foto Dave yang baru saja keluar dari rumah Shafira.
Badai di kantor mungkin mereda, namun badai di dalam keluarga Mahesa baru saja dimulai. Bu Sarah tidak akan membiarkan putranya jatuh ke pelukan wanita yang dianggapnya "hanya putri tukang kebun".
.