Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Rumor dan Rumus Kimia
Hari kedua di SMA Garuda Kencana tidak terasa lebih mudah bagi Karline. Sebaliknya, desas-desus tentang "Gadis Ninja" dari kelas XI-IPA 2 sudah menyebar secepat sinyal Wi-Fi sekolah. Saat ia melangkah melewati koridor utama, bisik-bisik yang kemarin samar kini terdengar lebih berani.
"Lihat tuh, si jaket kegedean lewat lagi," celetuk seorang siswi yang sedang memoles lipstik di depan cermin wastafel koridor.
"Eh, beneran sakit flu apa emang mukanya kenapa-kenapa ya? Hari ini masih pakai masker aja," timpal temannya sambil tertawa sinis.
Karline tetap menunduk, merapatkan tudung jaketnya. Ia terus berjalan dengan langkah konstan, mengabaikan tatapan mata yang menghakiminya seolah ia adalah anugerah aneh di sekolah elite itu. Tas ransel hitamnya terasa berat, bukan hanya karena buku, tapi juga karena rasa risih yang mulai merayap.
Namun, langkahnya terhenti secara paksa. Di pertigaan koridor menuju laboratorium, tiga orang cowok jangkung berdiri menghadang jalannya. Salah satunya adalah Dean, yang berdiri paling belakang dengan tangan bersedekap di dada, bersandar pada pilar beton dengan wajah datar.
"Woi, murid baru," sapa Raka, teman Dean yang kemarin sempat menggoda Karline di lapangan.
Karline berhenti tepat dua meter di depan mereka. Ia tidak mendongak, hanya menatap ujung sepatu basket mahal milik Raka.
"Sombong amat sih. Ditanya tuh dijawab, minimal lihat mukanya kek," lanjut Raka lagi, nada suaranya mulai memancing perhatian siswa lain yang lewat.
"Mau apa?" tanya Karline pendek. Suaranya terdengar jernih namun dingin di balik masker.
Raka tertawa, lalu melirik Dean yang hanya diam memperhatikan. "Santai dong. Kita cuma penasaran. Lo beneran sakit atau lagi cosplay jadi buronan? Di sini tuh nggak ada aturan harus pakai jaket terus, apalagi kalau jam pelajaran belum mulai."
Karline tidak bergeming. Ia bisa merasakan tatapan Dean yang tajam dari balik pilar itu. Dean tidak ikut bicara, tapi kehadirannya di sana membuat tekanan di koridor itu terasa lebih berat.
"Coba buka maskernya bentar. Kita mau tahu, Adik kelas kita ini orang atau bukan," kata cowok lain di sebelah Raka, namanya Rio. Ia maju satu langkah, mencoba meraih tepian masker Karline meski tangannya belum menyentuh.
Karline mundur selangkah dengan cepat. Ia mendongak sedikit, menatap mata Raka dan Rio bergantian, lalu pandangannya sempat terkunci sejenak pada mata cokelat tua milik Dean yang tampak cuek.
"Orang gila," ucap Karline dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti berbisik namun sangat jelas terdengar.
Raka melongo. Rio terdiam. Bahkan Dean yang tadinya bersandar santai, kini menegakkan tubuhnya dengan dahi berkerut.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Raka dengan nada tidak percaya.
"Kalian bertiga. Orang gila," ulang Karline sekali lagi. Ia langsung mengambil celah di antara mereka dan berjalan cepat menuju kelasnya tanpa menoleh lagi.
"Wah, parah sih. Kita dibilang gila sama anak baru itu, De?" Raka menoleh ke arah Dean dengan wajah kesal.
Dean hanya mendengus kecil, menatap punggung Karline yang menghilang di belokan koridor. "Ya lagian lo kurang kerjaan banget ganggu dia. Udah, ayo ke kelas. Bentar lagi bel."
"Tapi dia nggak sopan banget!" keluh Rio.
"Biarin aja. Urusan dia," sahut Dean singkat, lalu berjalan mendahului teman-temannya menuju area kelas XII-IPS.
Di kelas, suasana sedikit lebih kondusif. Karline duduk di bangkunya, mengeluarkan buku catatan tebal dan peralatan tulisnya. Pelajaran pertama hari ini adalah Kimia, dilanjutkan dengan Fisika setelah istirahat. Bagi kebanyakan siswa XI-IPA 2, ini adalah jadwal neraka, tapi bagi Karline, ini adalah waktu di mana ia bisa tenggelam dalam dunianya sendiri.
Guru Kimia, Pak Heru, baru saja menuliskan beberapa soal mengenai hukum dasar kimia dan stoikiometri di papan tulis.
"Siapa yang bisa mengerjakan soal nomor tiga di depan? Bapak kasih nilai tambahan untuk tugas harian," tawar Pak Heru sambil memutar-mutar spidolnya.
Satu kelas hening. Mereka masih sibuk membolak-balik buku paket, mencoba memahami rumus yang tampak seperti bahasa alien. Karline melihat soal itu. Baginya, itu hanya soal logika sederhana tentang mol dan massa.
Ia mengangkat tangannya pelan.
"Iya, Karline? Silakan maju," ucap Pak Heru dengan senyum lebar.
Karline maju ke depan, tetap dengan jaket dan maskernya. Ia mengambil spidol dan menuliskan langkah-langkah penyelesaian dengan sangat rapi dan sistematis. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, soal itu selesai.
"Bagus sekali. Jawaban dan caranya sangat tepat. Kamu belajar ini di sekolah lama?" tanya Pak Heru kagum.
"Sudah baca-baca sedikit, Pak," jawab Karline rendah sebelum kembali ke tempat duduknya.
Teman sebangkunya, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda bernama Sarah, memperhatikannya dengan mata berbinar sejak tadi. Sarah adalah tipe siswi yang cukup aktif namun selalu kesulitan di pelajaran eksakta.
Saat Karline duduk, Sarah memberanikan diri untuk berbisik.
"Hai, Karline ya? Gue Sarah," ucapnya sambil menyodorkan tangan di bawah kolong meja.
Karline menoleh sejenak, lalu menjabat tangan Sarah singkat. "Iya."
"Gila, lo pinter banget. Gue dari tadi ngelihatin soal nomor tiga itu berasa ngelihat tulisan kuno. Nggak ngerti sama sekali," curhat Sarah jujur. "Boleh nggak sih kalau nanti gue nanya-nanya kalau nggak paham? Soalnya minggu depan ada kuis Kimia sama Fisika."
Karline diam sejenak. Ia terbiasa menyendiri, tapi ada nada ketulusan dalam suara Sarah yang membuatnya merasa tidak perlu terlalu waspada.
"Boleh, asal nggak pas lagi ulangan," jawab Karline.
"Asyik! Makasih ya. Sumpah, lo penyelamat gue," bisik Sarah girang. "Eh, tapi lo nggak gerah ya pakai jaket terus? AC kelas kita kan nggak dingin-dingin amat."
"Nggak," jawab Karline singkat, kembali fokus pada penjelasan Pak Heru.
Sarah manggut-manggut. Ia tidak memaksa Karline untuk membuka identitas aslinya, karena ia lebih tertarik pada otak encer teman barunya itu. Baginya, Karline adalah tiket emas untuk lulus ujian Fisika dan Kimia semester ini.
Sementara itu, di gedung sebelah, suasana kelas XII-IPS 1 jauh lebih santai. Dean duduk di barisan belakang, menatap papan tulis yang dipenuhi coretan grafik ekonomi. Meskipun dicap cuek, Dean sebenarnya cukup rajin. Ia mencatat apa yang perlu dicatat, meskipun konsentrasinya sesekali terganggu.
"De, lo masih kepikiran ucapan anak baru tadi?" bisik Raka dari meja sebelah.
Dean menghentikan pulpennya. "Enggak."
"Bohong lo. Gue lihat tadi lo bengong pas dia jalan lewat jendela."
Dean menghela napas, meletakkan pulpennya di atas meja. "Gue cuma heran. Ada ya orang yang niat banget nutupin dirinya di sekolah sesibuk ini. Kayak punya rahasia besar aja."
"Atau emang dia emang aneh aja?" tebak Raka.
"Mungkin," jawab Dean pendek. Ia kembali menulis, mencoba mengabaikan rasa penasaran yang mulai tumbuh di benaknya. Rasa penasaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada siswi mana pun di sekolah itu.
Biasanya, gadis-gadis yang akan mendekatinya, memujinya, atau mencoba mencari perhatiannya. Tapi gadis ini? Dia justru menyebutnya orang gila dan pergi seolah Dean bukan siapa-siapa.
"Besok kita lihat, sampai kapan dia tahan pakai topeng kayak gitu," gumam Dean tanpa sadar, hampir tidak terdengar oleh siapa pun.