Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil vs Bus
"Aku dengar kamu mengirim barang untuk istrinya Rama..." Restu duduk di kursi meja makan.
Sekar meletakkan serbet putih di atas pangkuan. Pagi itu, rambut sebahunya tergerai bebas dan memakai bandana biru tua.
"Ada yang salah, suamiku?" tanya Sekar yang makan pecel tapi sambalnya tidak pedas, tahu putih yang dikukus, dan satu telor rebus.
"Aku tidak suka dengan apa yang kamu lakukan, Sekar." Restu sarapan telor rebus dan ubi manis kukus. Kopi pahit sebagai pelengkap.
"Aku tetap tidak percaya. Rama ku bukan lelaki cabul...." kata Sekar melahap tahu yang tinggal separuh. Pipinya agak mengembung saat mengunyah. Dalam etiket dan peraturan, sebenarnya tidak boleh bicara ketika makan.
"Kamu dengar Bia menjerit, dan kondisi tubuhnya waktu kita masuk ke kamar, Sekar." kata Restu.
Sekar minum air putih hangat yang mendorong makanan masuk ke dalam tenggorokan. Dengan gerak anggun, mengelap kedua sudut bibirnya.
"Suamiku, cctv di lorong, terlihat Bia yang ikutan masuk kamar."
Sedangkan Rama berjalan sempoyongan. Pintu kamar terbuka, dan tertutup. Jeda dua menit terdengar suara Bia yang teriak.
"Sekar, Bia mengatakan disuruh Rama ke kamar mengambil jam tangan Radit yang dipinjam Rama." Restu mulai gusar.
"Aku sudah melepas Rama, tidak merecoki lagi di pekerjaan. Apa kamu ingin aku mempersulit Rama kembali?"
"Kenapa berubah pikiran, kemarin- kemarin penasaran dengan Rama dan menyuruhnya pulang," cibir Sekar.
"Aku kasihan melihat Bia yang terlihat tertekan. Korban pelecehan biasanya trauma, Sekar. Rama putra kita, tetapi kelakuannya nggak bisa ditolerir. Apalagi sekarang Radit koma," ucap Restu panjang lebar.
Sekar menghabiskan makanannya. Memilih tidak melanjutkan debat dengan suaminya. Setiap hari, dari pagi sampai sore Sekar di rumah sakit. Jika malam, ada perawat bayaran yang menjaga. Radit mengalami cedera di bahu, kaki, dan kepala. Bianca hanya datang pada siang hari karena kehamilan yang makin besar.
"Seminggu Radit koma, aku harap ada keajaiban." gumam Sekar. Sungguh tidak mengira dia bisa kuat dan masih bisa makan. Cukup menangis sehari semalam di hari kejadian.
"Jangan temui Rama."
"Aku nggak bisa janji, suamiku. Alarm di otakku selalu mengatakan Rama tidak bersalah." Sekar tersenyum.
"Sekar ...."
"Aku akan berusaha mencari bukti. Ya walaupun pernah menyelidik Bia tapi tidak ada hasil. Kau tahu, suamiku... sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu hari nanti keseleo." Sekar tersenyum lagi.
Restu menandaskan kopinya. Tanpa berkata-kata lagi, meninggalkan ruang makan.
Sekar menarik napas dalam-dalam. Setahun lamanya dia diam dan menuruti sang suami juga Radit. Mereka mengancam akan melaporkan Rama ke polisi. Sekar terpaksa menerima saat Rama didepak. Lebih baik dikeluarkan dari kartu keluarga, daripada menjadi napi dan tercoreng nama baiknya. Semoga saja ada jalan keluar.
Sekar meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Bianca tampak duduk di kursi lain.
"Kamu mengadu ke papa, Bia?"
"Ada banyak orang yang tinggal di rumah ini, Ma. Ada Frans, bukan?" Bianca tersenyum sinis.
"Dia tahu mama nitip hadiah buat istrinya Rama."
"Ah, iya, kamu benar sekali," sahut Sekar.
"Kalau kamu tahu darimana, Bia? Nguping, kan?"
Senyum sinis itu pudar.
"Maafkan mama, kamu sedang hamil. Harusnya dibuat heppy terus. Iya, kan?" ucap Sekar.
"Makan yang banyak, bibik sudah buatkan roti panggang kesukaanmu."
Bianca jelas sekali menahan amarah. Mengusap perutnya, berusaha bersabar.
*****************
Nara mengerjapkan kedua mata. Selimut masih menutupi tubuhnya. Terdengar suara tukang sayur keliling yang bersahutan dengan tukang roti, sama-sama menawarkan dagangan.
Niat hati ingin bangun pagi atau setidaknya mendahului Rama. Padahal sudah mengatur alarm di ponsel jam 05.15
Tangan kanan Nara menelusup di bawah bantal. Mencari keberadaan ponsel.
"Kok nggak ada?"
Nara duduk, celingukan mencari ponselnya yang terlihat di meja. Di dekat tumpukan buku-buku.
"Heh, hapenya bisa jalan sendiri...." gumam Nara, perlahan turun dari pembaringan. Dia mengecek ponselnya kalau -kalau ada pesan.
Pesan dari Yuda, yang menagih janji dibelikan sepatu bola. Nara lupa, kalau Yuda berhasil meraih juara kelas akan dibelikan hadiah.
"Nagihnya kok pagi-pagi sekali," gerutu Nara.
Segera membalas akan membelikan sepatu hari itu juga.
Nara: [Nanti aku antar ke rumah.]
Suara pintu terbuka terdengar, Nara menoleh ke belakang. Melihat suaminya melepas sepatu kets. Suaminya itu rajin olahraga.
Rama memakai kaos tanpa lengan warna hitam dan celana selutut. Tubuhnya mengkilap karena keringat.
"Mas Rama yang matiin alarm?"
"Hmm, iya. Suaranya keras sekali. Kamu tidurnya kayak bayi," jawab Rama.
"Ya, Mas Rama yang bangunin dong. Udah jam segini belum masak." Nara mengomel.
"Aku belikan bubur ayam buat sarapan. Nggak perlu repot-repot masak. Ini ada roti yang masih anget." Rama menunjukkan kantong plastik merah.
Kantong plastik itu diletakkan di meja. Rama kemudian melepas kaosnya yang basah oleh keringat.
"Lain kali pingin ikutan lari, Mas," kata Nara.
"Aku belikan sepatu khusus buat lari. Biar nggak cedera," sahut Rama seraya duduk di kursi meja makan.
"Aku juga mau beli sepatu sepak bola buat Yuda." Nara mengikat rambutnya. Lantas mengambil segelas air putih dari dispenser dan duduk di seberang Rama. Duduk berhadapan.
"Nanti siang aja aku antar," kata Rama.
"Mas...."
"Apa?"
"Apa Mas Rama sudah melakukan usaha atau apapun itu... untuk membuktikan nggak bersalah? Maaf, semalam aku lupa tanya."
"Sudah. Aku sudah berusaha tapi gagal. Sekarang aku hanya menunggu semesta yang bekerja," kata Rama.
Nara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu saja Rama sudah berusaha dan tidak berdiam diri.
"Ada hikmahnya...."
Nara mengernyit.
"Kamu, Nara. Kalau nggak ada kejadian itu, mungkin kita nggak bertemu dan jadi suami istri." imbuh Rama.
"Bisa saja." Nara tersenyum malu, telapak tangan kanannya menjulur ke depan. Menutup wajah suaminya.
"Sudah, Mas. Jangan lihat terus."
"Cantik banget istriku," goda Rama menyingkirkan tangan Nara dari wajahnya.
"Gombal banget. Ayo, makan. Dingin nanti buburnya," ucap Nara sembari membuka wadah makanan sekali pakai.
Hidup sederhana bersama Nara terasa lebih bahagia. Tidak perlu mengikuti peraturan sang ibu saat makan. Bisa diomelin kalau sarapan belum mandi dan tidak memakai kaus.
Akan tetapi, Rama merindukan rentetan omelan panjang dari Sekar. Rama menarik napas dalam-dalam.
"Makan bubur enaknya diaduk, Nara." Rama menambahkan kerupuk.
"Nggak suka, Mas. Suka yang normal-normal saja," sahut Nara.
"Berarti makan bubur diaduk nggak normal...?"
"Bukan gitu. Selera masing-masing saja." Nara berdehem. Menyuap sesendok bubur ke dalam mulut.
"Boleh aku menciummu?"
Bubur yang hendak ditelan menyembur keluar. Nara tersedak karena pertanyaan Rama yang diluar prediksi.
Nara mengambil tisu, mengelap dagunya yang kotor. Makin salah tingkah karena Rama menatap intens.
"Tentu saja boleh, Mas...."
Rama langsung berdiri.
"Eh, sekarang, Mas?"
"Aku mau ngeluarin motor, Nara," sahut Rama yang berjalan ke arah pintu depan.
Nara menghela napas lega. Merasa dijebak saja.
**************
Pada siang harinya, Rama mengantar Nara ke toko sepatu di mall. Awalnya Nara menolak, karena pasti harganya mahal.
Nara membeli sepatu untuk Yuda dan sepatu kets untuk dirinya sendiri. Mereka tidak berlama-lama di mall. Langsung pulang ke rumah orang tuanya Nara.
Saat sampai, di depan rumah Gita ada dua mobil terparkir. Nara melihat Harmi keluar rumah, tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang dibicarakan.
"Apa kabarnya, Nara?!" sapa Harmi, mimik wajahnya jelas mengejek.
"Bahagia," sahut Nara yang turun dari boncengan motor.
"Punya suami yang nggak punya kerjaan tetap kok bisa bahagia?" Sinis Gita. Kedua matanya memicing, melihat tas Nara mirip dengan kepunyaan kepala klinik kecantikan tempatnya bekerja sekarang.
Nara tidak menyahut. Rama memberikan kode supaya tidak meladeni Gita.
"Mas, sesekali perlu disumpal mulut Gita," ucap Nara.
"Ngabisin energi, Nara." Rama mendorong pelan punggung istrinya supaya lekas masuk rumah.
"Sukanya kok beli barang palsu, Rama." celetuk Gita.
"Kemarin sandal buat nenek, sekarang tasnya Nara. Mending merek lokal. Sesuai budget."
"Nggak apa-apa, belinya nggak pake duitmu!" Risna yang menyahut.
"Bude nyesek ya nggak punya mantu kayak Mas Dewa? Pekerjaan tetap, punya mobil, rumah." Gita sangat bangga.
"Halah, dibelikan orang tuanya!" Risna berkacak pinggang.
"Nggak nyesek kok. Biasa saja."
"Daripada Rama yang nggak punya orang tua," ejek Gita.
"Ibuk, udah." Nara menggandeng tangan ibunya.
"Keterlaluan mereka," kata Risna.
"Pingin ibuk cakar itu mulutnya si Gita. Rama kok kamu nggak tersinggung sih?"
"Enggak, Buk. Biarkan saja," tukas Rama.
"Dewa punya satu mobil, Mas Rama punya bis banyak, ibuk ...." celetuk Nara, lalu menutup bibirnya. Menatap Rama khawatir dan tersenyum kikuk. Aduh, gara-gara mulut Gita.
"Bis mainan ya?" Risna tertawa kecil.
"Eh, ibuk bukan menghina ya Rama. Hanya bercanda...."
"Santai saja, Ibuk," ujar Rama.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬