NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Bunuh Ratu atau Bergabung

Astrid juga sudah dijahit seadanya oleh Elara yang belajar sambil melakukan. Dia pingsan karena sakit dan syok, tapi napasnya masih ada—dangkal, tapi ada.

Aku memandang sekeliling ruangan yang berantakan: kain berdarah di mana-mana, botol alkohol kosong, tiga maid yang ketakutan dan gemetar, Lina yang berdiri tenang dengan tangan masih berlumuran darah, dan di luar, tiga mayat penyusup.

Dan Eveline? Belum kembali.

Sambil berbaring di lantai dingin, merasakan setiap denyut sakit dari perut yang dijahit kasar, satu pikiran mengusikku: ini baru awal. Seseorang di istana ini benar-benar ingin aku mati. Dan mereka tidak segan membunuh siapa pun yang kebetulan ada di sekitarku.

Dan yang paling menakutkan: janji Ratri sekarang menggantung di atas kepala kekaisaran seperti pedang. Jika aku mati karena ini... semuanya akan hancur.

Tapi untuk saat ini, yang bisa kulakukan hanyalah menatap langit-langit ruangan, berusaha tetap sadar, dan berharap Eveline berhasil menangkap—atau membunuh—satu penyusup yang berhasil dia kejar tadi. Karena dari merekalah mungkin kita bisa dapat jawaban.

 Beberapa saat kemudian, dengan langkah yang hampir tak bersuara, Eveline muncul di ambang pintu. Tangannya yang biasanya pucat kini berwarna merah tua hingga ke siku. Di tangan kirinya yang tergenggam, dia membawa sesuatu—sebuah kepala manusia yang terputus rapi di lehernya. Wajah pria itu masih membeku dalam ekspresi keterkejutan dan horor, mata terbuka lebar.

Dia melemparkan kepala itu ke lantai dengan gerakan datar. Bum. Bunyinya tumpul di antara keheningan ruangan yang hanya diisi desahan napas kami yang tersengal.

"Satu target tersisa. Dihabisi. Tidak ada informasi yang diperoleh sebelum terminasi," lapor Eveline, suaranya kembali datar meski matanya masih berwarna merah darah. "Target memiliki tato kecil di belakang telinga—simbol ular melingkar memakan ekornya."

Para maid yang melihat kepala itu menjerit ketakutan, menutup wajah. Aku sendiri hanya memandang sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Kepala orang mati bukanlah pemandangan yang ingin kuhadapi saat perutku masih berdenyut nyeri.

"Tato ular melingkar..." gumamku, mencoba mengingat. Tidak ada dalam memori ku. Tapi ini bukti—organisasi, bukan tindakan individu.

Astrid masih pingsan di atas meja. Elara, Freya, dan Giselle masih gemetar, wajah mereka campur antara jijik, takut, dan mungkin sedikit... lain? Tatapan mereka padaku kali ini tidak lagi murni kebencian. Ada sesuatu yang lebih kompleks—kebingungan, mungkin. Mereka melihatku menjahit luka sendiri, menyelamatkan Astrid, padahal aku sendiri terluka parah. Tidak seperti tingkah 'monster' yang selama ini mereka bayangkan.

"Eveline," ucapku, suara lemah. "Kamu juga terluka?"

"Tidak, Tuanku. Darah ini bukan milikku," jawabnya, lalu melihat tangannya sendiri seolah baru menyadari. "Akan dibersihkan."

"Lina, bantu Eveline bersihkan. Lalu... kita harus membereskan ini." Aku menunjuk ke luar. "Tiga mayat di luar. Dan..." aku menunjuk kepala di lantai, "...itu. Kita harus sembunyikan atau bereskan sebelum penjaga istana reguler datang."

Lina mengangguk. "Dipahami. Metode disposisi?"

Aku berpikir sejenak, sakit kepala mulai menyerang. "Bakar. Tapi tidak di sini. Bawa ke tempat yang lebih tersembunyi di taman. Pastikan tidak meninggalkan jejak."

Eveline dan Lina langsung bergerak, efisien seperti mesin. Mereka mengangkat mayat-mayat di luar dengan mudah, membawanya ke area taman yang lebih gelap di balik pepohonan besar. Aku mendengar suara gesekan dan kemudian bau daging terbakar yang samar tak lama kemudian—mereka pasti menggunakan sihir api kecil seperti yang pernah ditunjukkan Eveline dulu.

Sementara itu, aku harus mengurus Astrid dan diriku sendiri. Jahitan kasar di perutku berdenyut-denyut. Aku butuh perawatan yang lebih baik, dan cepat.

"Kalian bertiga," ucapku pada maid yang masih tersisa. "Dengar baik-baik. Apa yang terjadi hari ini—serangan, mayat-mayat itu—tidak boleh bocor. Jika ada yang bertanya, katakan ada percobaan penyusupan tapi sudah ditangani oleh penjaga pribadi Maharani. Astrid terluka karena salah tempat. Aku terluka... karena mencoba melindunginya. Itu saja."

Elara memandangku, matanya masih penuh ketakutan. "Tapi... kenapa? Kenapa kami harus menutupi?"

"Karena kalau kabar tentang serangan terhadap 'Subyek Pengamatan Khusus' sampai ke telinga yang salah, atau ke publik, akan ada kekacauan. Dan dalam kekacauan, orang-orang seperti kalian"—aku menatap mereka satu per satu—"biasanya jadi korban pertama. Entah dibungkam, atau dijadikan kambing hitam."

Giselle menggigit bibir. "Kau... kau hanya mengatakan ini untuk memanipulasi kami lagi, kan?"

Aku menarik napas dalam-dalam, memicu rasa sakit di perut. "Percaya atau tidak, itu pilihan kalian. Tapi fakta: seseorang baru saja mencoba membunuhku. Dan mereka tidak peduli bahwa Astrid ada di sampingku. Mereka akan membunuh kalian juga jika perlu. Jadi, untuk saat ini, kepentingan kita sama: bertahan hidup."

Freya, yang biasanya paling kasar, kali ini justru terdiam serius. "Tato ular melingkar... Aku pernah melihat simbol itu. Di lengan salah satu pelayan senior di sayap barat istana. Dia... dia sering membisikkan hal-hal aneh tentang 'pemurnian' dan 'menyingkirkan noda asing'."

Informasi itu membuatku tegang. Jadi, memang ada jaringan di dalam istana sendiri. "Jangan dekati orang itu. Jangan tanya apa-apa. Bertindak normal."

"Lalu... apa yang akan kita lakukan?" tanya Elara, suaranya masih gemetar.

"Pertama, rawat Astrid. Pastikan lukanya tidak infeksi. Kedua..." aku menahan rasa pusing, "...aku butuh pengobatan yang lebih baik. Tapi tidak bisa memanggil tabib istana biasa—risiko kebocoran."

"Ada... ada seorang herbalis di pasar gelap dekat distrik perdagangan," bisik Giselle tiba-tiba. "Dia diam-diam merawat luka-luka yang tidak ingin diketahui istana. Tapi... harganya mahal."

"Uang bukan masalah," jawabku, mengingat kantong koin pemberian Paman Alaric yang masih kusimpan. "Tapi bagaimana caranya membawaku atau Astrid ke sana tanpa menarik perhatian?"

Freya memandangku, lalu ke Astrid yang masih pingsan. "Kami... kami bisa bantu. Kami bisa bilang Astrid sakit parah butuh herbalis khusus karena alergi obat istana. Dan kau..." dia ragu, "...kau bisa menyamar sebagai pengawal kami. Dengan jubah dan tudung."

Rencana itu berisiko, tapi lebih baik daripada duduk menunggu infeksi atau serangan berikutnya. "Bagus. Lakukan. Tapi tunggu sampai malam."

Malam itu, setelah Eveline dan Lina kembali dengan laporan bahwa semua 'bukti' sudah dihapuskan, kami bersiap. Aku mengenakan jubah dan tudung tebal yang disediakan maid, menyembunyikan wajah dan tubuhku yang masih lemah. Astrid, yang sudah siuman namun masih sangat lemah, dibopong oleh Eveline dengan cara yang terlihat seperti sedang membantu orang sakit—dia membungkus Astrid dengan selimut tebal.

Elara, Freya, dan Giselle berjalan di depan sebagai pemandu. Lina tetap di menara untuk berjaga-jaga.

Perjalanan keluar dari kompleks istana ternyata lebih mudah dari yang kuduga. Penjaga gerbang sisi pelayan hanya melirik sekilas saat Elara menunjukkan surat izin keluar malam—sepertinya mereka sudah biasa melihat pelayan keluar untuk keperluan pribadi di malam hari.

Pasar gelap itu terletak di pinggiran distrik perdagangan, di sebuah gang sempit yang bau dan gelap. Toko herbalisnya kecil, terletak di bawah tanah, hanya ditandai dengan simbol daun yang samar di pintu kayu lapuk.

Saat pintu dibuka, aroma campuran rempah-rempah, jamur, dan sesuatu yang mirip formalin menyergap. Di dalam, seorang wanita tua dengan mata sipit dan tangan keriput menyambut kami.

"Luka tempur?" tanyanya langsung, suara parau, setelah melihat kondisi Astrid dan caraku berjalan terbungkuk. "Bukan luka biasa."

"Bisakah kau merawat?" tanya Elara, suara berusaha tegas.

Wanita tua itu mengangguk, matanya tajam menatap kami satu per satu, lalu tertahan pada Eveline yang berdiam dengan tatapan kosong. "Bisa. Tapi harga berbeda untuk... pasien khusus." Dia jelas merasakan sesuatu yang tidak biasa dari kami.

"Berapapun," jawabku singkat dari balik tudung.

Perawatan berlangsung selama dua jam. Wanita tua itu ternyata sangat ahli. Dia membuka jahitan kasar kami, membersihkan luka dengan cairan antiseptik yang pedih, lalu menjahit ulang dengan presisi yang jauh lebih baik. Dia juga memberikan ramuan antibiotik dari tumbuhan dan salep untuk mencegah infeksi.

"Luka pria ini lebih dalam, hampir mengenai usus," komentarnya sambil membalut perutku. "Tapi anehnya... pemulihan sel-nya sangat cepat. Tidak wajar."

Aku tidak menjawab. Mungkin ini efek samping dari 'samudra kemungkinan' di dalam diriku.

Astrid juga dirawat dengan baik. Wanita tua itu bahkan berhasil mengeluarkan serpihan kecil dari anak panah yang tertinggal di dekat paru-parunya.

Setelah semuanya selesai dan kami membayar dengan sekantung koin emas yang membuat mata wanita tua itu berbinar, dia memberi peringatan. "Simbol ular melingkar yang kalian sebutkan... itu milik 'Kultus Ouroboros'. Kelompok fanatis dalam istana yang percaya kekaisaran harus dimurnikan dari pengaruh asing—terutama kekuatan anomali seperti si Pembangkit yang jadi buah bibir." Matanya menatapku tajam. "Kau harus sangat berhati-hati. Mereka punya tentara bayaran, dan yang paling berbahaya, mereka punya... 'Pembersih'. Pembunuh yang khusus menangani target-target ajaib."

Informasi itu membuat darahku dingin. Jadi, memang ada yang mengorganisir. Dan mereka punya ahli khusus untuk makhluk seperti aku.

Dalam perjalanan pulang, dengan luka yang sudah dirawat lebih baik, pikiranku berputar kencang. Kultus Ouroboros. Fanatis pemurnian. Mereka pasti yang membunuh Lina kecil—mungkin melihat kedekatannya denganku sebagai 'kontaminasi'. Dan mereka yang menyerang hari ini.

Saat kami tiba kembali di Menara Utara, fajar sudah mulai menyingsing. Lina menyambut dengan laporan singkat: tidak ada aktivitas mencurigakan.

Astrid dibaringkan di kamarnya dengan perawatan maid lainnya. Aku sendiri, meski lelah dan sakit, tidak bisa tidur.

Duduk di dekat jendela, memandang langit yang mulai terang, aku merenung. Aku datang ke istana ini berharap menemukan jawaban, mungkin jalan pulang. Tapi yang kutemukan justru konspirasi, pembunuhan, dan kebencian yang terorganisir.

Dan yang paling mengkhawatirkan: Maharani sendiri mungkin tidak tahu sepenuhnya tentang sel kanker di dalam istananya. Atau... mungkin dia tahu, dan membiarkannya sebagai ujian bagiku.

Eveline mendekat, berdiri di sampingku. "Tuanku, butuh istirahat."

"Aku tahu, Eveline. Tapi... kita tidak bisa terus begini. Bertahan, menunggu serangan berikutnya."

"Lalu apa rencana Tuanku?"

Aku menarik napas. "Kita harus mengambil inisiatif. Tapi bukan dengan kekerasan terbuka. Kita harus... memancing. Menunjukkan bahwa kita bukan ancaman pasif yang bisa dibunuh diam-diam. Tapi kita juga tidak bisa terlihat sebagai ancaman aktif yang perlu dihancurkan oleh seluruh istana."

"Strategi yang kompleks," komentar Eveline.

"Ya. Dan untuk itu..." aku menatapnya, "...kita butuh informasi lebih banyak tentang Kultus Ouroboros. Dan untuk itu, kita butuh... mata-mata."

Saat itu, pintu kamar diketuk pelan. Elara masuk dengan wajah tegang. "Tuan... ada pesan. Dari dalam istana. Ditempelkan di pintu dapur dengan pisau."

Dia menyodorkan selembar kertas yang dilipat. Aku membukanya. Tulisan di dalamnya singkat dan jelas:

"Pertunjukanmu menarik. Tapi permainan baru saja dimulai. Ouroboros tidak akan berhenti sampai yang asing lenyap. Atau... bergabunglah. Buktikan kekuatanmu dengan membunuh sang Ratu Cahaya. Pilih."

Di bawah tulisan itu, simbol ular melingkar memakan ekornya.

Aku melipat kertas itu, hati berdebar kencang. Mereka tidak hanya ingin membunuhku. Mereka juga ingin merekrutku—atau memaksaku melakukan kudeta dengan membunuh Maharani.

Dan itu berarti: perang rahasia di istana ini baru saja memasuki babak baru. Dan aku, yang hanya ingin pulang, kini terjebak di pusatnya.

 Aku meremas kertas ancaman itu hingga hancur, lalu melemparkannya ke perapian yang nyaris padam. Api kecil melahapnya dengan cepat, mengubah kata-kata ancaman itu menjadi abu.

"Bangsat," geramku pelan, tapi penuh getir. "Kalau aja gue punya kekuatan kayak superhero—badan kebal, regenerasi cepat—udah lama gue bantingin mereka satu-satu. Tapi gue cuma... manusia. Tulang, daging, darah. Kena panah ya sakit, berdarah, bisa mati. Kekuatan aneh ini pun gak bikin gue kebal."

Eveline dan Lina berdiri di hadapanku, menunggu perintah. Wajah mereka tenang, tapi aku tahu di balik ketenangan itu ada sistem yang siap meledak menjadi kekerasan apa pun yang kuperintahkan.

"Dengar," ucapku, suara lebih tegas. "Kita gak bisa cuma nunggu diserang terus. Mereka pikir kita sasaran empuk yang cuma bisa bertahan. Kita harus ubah itu."

Eveline mengangguk. "Strategi proaktif. Apa yang Tuanku inginkan?"

"Kalian berdua, khususnya kamu Eveline, selama ini cuma nunggu perintah. Reaksi. Sekarang, aku mau kalian... belajar. Bukan cuma ikutin perintah, tapi pahami pola."

Lina memiringkan kepalanya. "Maksud Tuanku... seperti menyesuaikan respons berdasarkan data yang ada?"

"Ya, tapi lebih dari itu." Aku berjalan pelan, mencoba merumuskan konsep yang sulit ini. "Kalian punya memori dari kehidupan sebelumnya. Eveline, kamu putri bangsawan yang tahu politik dan tipu muslihat istana. Lina, kamu gadis kecil yang hidup di panti asuhan, tahu bagaimana orang bertahan di bawah. Gunakan itu. Jangan cuma jadi mesin yang nunggu perintah 'serang' atau 'jaga'."

Eveline terdiam sejenak, matanya yang biru pucat berkedip lebih cepat. "Aku... mengerti. Seperti... menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengantisipasi, bukan hanya merespons."

"Tepat!" Aku merasa sedikit lega mereka bisa menangkapnya. "Jadi, mulai sekarang, perintah dasarnya: waspada sesuai kondisi. Kalau ada ancaman jelas yang berniat membunuh—eksekusi. Kalau ada yang menyerah dan tidak berbahaya—jangan dibunuh. Tapi kalau ada yang pura-pura menyerah, tapi sebenarnya mau tipu muslihat—eksekusi juga."

Lina bertanya, polos namun tajam, "Bagaimana membedakan yang menyerah tulus dan yang menipu? Parameter yang spesifik?"

Aku berpikir. "Lihat bahasa tubuh. Mata yang menghindar, tangan yang sembunyi, napas yang tertahan padahal katanya menyerah. Ingat, kalian punya kecepatan dan persepsi di atas manusia biasa. Gunakan itu. Dan..." aku menatap Eveline khususnya, "...ingat-ingat lagi masa lalumu. Orang seperti apa yang biasanya berbohong di istana? Tandanya seperti apa?"

Eveline mengangguk perlahan. "Aku ingat... para bangsawan yang tersenyum manis siap menusuk dari belakang. Mereka biasanya... terlalu sempurna. Terlalu patuh. Dan matanya tidak pernah benar-benar tenang."

"Bagus. Gunakan pengetahuan itu."

Kemudian aku memanggil para maid yang masih hidup—Elara, Freya, Giselle, dan Astrid yang masih terbaring lemah di kamarnya. Mereka berkumpul dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi kebencian murni. Sekarang ada ketakutan yang lebih dalam, bercampur dengan... rasa terima kasih yang enggan? Mungkin juga rasa bersalah.

"Dengar," ucapku, memandangi mereka satu per satu. "Serangan kemarin bukan cuma buat aku. Astrid hampir mati. Lina kecil... sudah mati. Mereka gak peduli kalian siapa. Kalian cuma 'orang yang kebetulan ada di dekat si Anomali'. Bagi mereka, kalian bisa dibunuh, dipotong-potong, dibuang."

Elara menggigit bibir, tangannya menggenggam gaunnya erat. "Tapi... kenapa kami? Kami cuma pelayan."

"Karena di mata fanatik seperti mereka, kontaminasi itu menular. Dekat denganku saja sudah dianggap najis." Aku jeda, memastikan kata-kataku meresap. "Jadi, mulai sekarang, keselamatan kalian tergantung pada waspada. Jangan percaya orang sembarangan. Laporkan sesuatu yang aneh—bahkan jika sepele. Dan..." aku menatap mereka lebih dalam, "...kalian bebas memilih. Kalau mau keluar dari sini, minta pindah tugas, aku akan bantu. Tapi ingat, di luar sana, mereka mungkin sudah anggap kalian bagian dariku. Mungkin lebih berbahaya."

Freya, yang biasanya paling keras, kali ini justru terdiam lama. Lalu dengan suara rendah, dia berkata, "Aku... tidak bisa memaafkan apa yang kau lakukan pada Lina kecil. Mengubahnya jadi... itu." Dia menunjuk Lina yang berdiam sempurna. "Tapi... kau juga menyelamatkan Astrid. Kau terluka parah karena itu. Dan kau tidak meninggalkan kami saat diserang."

Giselle menambahkan, "Dan... kami butuh pekerjaan ini. Keluarga kami butuh uang. Dan di luar... seperti katamu, mungkin lebih berbahaya."

Elara mengangguk, air mata menggenang di matanya. "Jadi... kami tetap di sini. Tapi... tolong. Jangan jadikan kami seperti dia." Dia menunjuk Lina lagi.

Aku menarik napas. "Aku tidak akan membangkitkan kalian jika kalian mati. Itu janji. Kecuali... kalian sendiri yang minta, atau ada alasan sangat kuat."

Janji itu sepertinya sedikit meredakan ketegangan.

"Baik," ucapku. "Sekarang, tugas kalian: rawat Astrid sampai pulih. Jaga rutinitas normal seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi selalu waspada. Lina akan berjaga di dalam menara. Eveline akan patroli area luar secara diam-diam."

Mereka mengangguk, lalu pergi dengan langkah lebih tenang meski masih tegang. Ekspresi mereka kini campur aduk: masih ada sisa ketakutan dan ketidaknyamanan, tapi juga ada pengakuan bahwa aku bukan monster haus darah seperti yang mereka kira—atau setidaknya, bukan monster yang tak punya prinsip sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!