Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi menyapa melalui celah-celah jendela kayu yang sudah lapuk, mengirimkan garis cahaya keemasan yang menyorot debu-debu halus di udara. Lia terbangun dengan leher yang kaku, menyadari bahwa ia telah tertidur di sofa usang itu dengan tangan yang masih digenggam erat oleh Regas yang tertidur di lantai sambil bersandar pada kakinya.
Sejenak, dunia terasa damai. Sejenak, ia merasa kembali menjadi mahasiswi sastra yang dicintai secara ugal-ugalan oleh sang idola teknik. Namun, jam di dinding yang berdetak nyaring segera menyeretnya kembali ke realita.
Lia perlahan menarik tangannya, membuat Regas terjaga. Mata laki-laki itu tampak merah dan bingung sebelum akhirnya menyadari di mana mereka berada.
"Lia..." suaranya serak.
"Regas, aku harus mengajar. Anak-anak akan menungguku di kelas," Lia berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut dengan gerakan kaku. Wajahnya yang tadi malam penuh air mata kini berubah menjadi topeng ketegasan yang dingin.
Regas ikut berdiri, mencoba meraih jemari Lia. "Lia, soal semalam..."
"Regas, dengarkan aku," potong Lia, menatap lurus ke mata pria itu. "Malam tadi adalah sebuah jeda. Tapi hari ini, kalimat kita harus berlanjut sesuai tata bahasa yang benar. Kamu punya janji yang belum selesai di rumah itu. Ada Ghea yang butuh Papanya, dan ada seorang wanita yang sedang mengandung darah dagingmu."
"Tapi aku tidak mencintainya, Lia! Kamu tahu itu!" suara Regas bergetar menahan amarah yang bercampur putus asa.
"Cinta bukan lagi mata uang yang berlaku di sini, Regas. Tanggung jawab adalah satu-satunya hukum yang tersisa," Lia mengambil tasnya, melangkah menuju pintu. "Kembalilah. Jadilah ayah yang baik. Jadilah suami yang bertanggung jawab meskipun kamu tidak bahagia. Setidaknya, jangan biarkan bayi itu lahir ke dunia dan langsung merasakan kehancuran keluarganya."
Lia berhenti di ambang pintu, tidak berani menoleh karena ia tahu pertahanannya akan runtuh jika ia melihat sorot mata memohon di wajah Regas.
"Jangan temui aku di apartemen atau di sekolah lagi. Jika kamu benar-benar mencintaiku, biarkan aku mengajar dengan tenang. Biarkan aku hidup sebagai Azzalia yang sukses tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Pulanglah, Regas. Mereka menunggumu."
Tanpa menunggu balasan, Lia berjalan cepat keluar menuju jalan raya untuk mencari taksi, meninggalkan Regas yang berdiri mematung di tengah rumah tua yang kini terasa lebih dingin dan kosong dari sebelumnya. Di tangan Regas, ia masih menggenggam secarik kertas yang jatuh dari tas Lia—sebuah puisi pendek yang ditulis Lia semalam saat Regas tertidur:
Tujuan kita bukan lagi satu titik,
Tapi dua garis sejajar yang takkan pernah bisa beradu,
Sebab jika kita memaksakan temu,
Akan ada hati kecil yang hancur menjadi debu.
Lia sampai di sekolah tepat waktu, namun jantungnya mencelos saat melihat sebuah mobil mewah hitam terparkir di depan kantor yayasan. Ia tahu, hari ini tidak akan berjalan dengan mudah.
Lia menarik napas panjang, merapikan blazer-nya yang sedikit kusut, dan berusaha memasang wajah setegar mungkin. Ia mengenali plat nomor mobil itu. Itu bukan mobil Regas, melainkan mobil dinas milik Nyonya Adhitama, ibu kandung Regas—wanita yang lima tahun lalu mengusirnya dengan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu.
Baru saja Lia melangkah di koridor, Pak Baskoro, kepala sekolah, sudah menunggunya dengan raut wajah serba salah.
"Bu Lia, syukurlah Anda sudah datang. Ada tamu dari yayasan dan perwakilan wali murid kelas Ghea menunggu di ruang rapat utama. Mereka meminta kehadiran Anda segera," ujar Pak Baskoro dengan nada rendah, seolah sedang menyampaikan kabar duka.
Lia mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
Di dalam ruang rapat yang dingin, suasananya terasa mencekam. Di ujung meja oval, duduk Nyonya Adhitama dengan keanggunan yang mengintimidasi. Di sampingnya, Elena duduk dengan mata sembab, memegangi perutnya, tampak seperti korban yang sangat rapuh. Beberapa pengurus yayasan tampak menunduk, tak berani menatap mata sang donatur utama sekolah mereka.
"Duduk, Azzalia," suara Nyonya Adhitama memecah keheningan. "Atau haruskah saya panggil 'pencuri kebahagiaan keluarga'?"
Lia duduk dengan punggung tegak, matanya menatap lurus ke arah wanita tua itu. "Saya di sini sebagai guru sastra, Nyonya. Bukan untuk membahas label yang Anda buat."
"Cukup basa-basinya!" Elena tiba-tiba bicara, suaranya bergetar hebat. "Kamu membawa suamiku pergi semalaman! Kamu sengaja menghilang bersamanya saat aku sedang kesakitan karena kehamilanku! Apa itu yang diajarkan di sekolah sastra luar negeri? Merebut suami orang?"
Nyonya Adhitama mengetukkan jemarinya di meja. "Kami sudah memiliki bukti bahwa Regas menyewa apartemen tepat di sebelah unitmu. Dan semalam, asisten Regas mencoba menutupi pelarian kalian. Ini sudah melanggar kode etik pendidik di yayasan ini, Azzalia. Kamu adalah pengaruh buruk bagi murid-murid di sini, terutama bagi cucu saya, Ghea."
Lia merasa hatinya berdenyut perih, namun ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya hancur lagi. "Saya akui saya bertemu Pak Regas semalam, tapi itu bukan untuk apa yang kalian tuduhkan. Saya mengantarkan Ghea pulang karena tidak ada yang menjemputnya. Dan soal apartemen, itu murni keputusan Pak Regas, bukan permintaan saya."
"Kebohongan yang manis," cibir Nyonya Adhitama. "Tapi yayasan tidak butuh pembelaanmu. Kami butuh reputasi. Hari ini, saya meminta pihak yayasan untuk mengeluarkan surat pemecatan tidak hormat untukmu. Kamu tidak akan bisa mengajar di sekolah mana pun di negeri ini setelah catatan ini keluar."
Dunia Lia seolah berputar. Karier yang ia bangun dengan tetesan keringat di London hendak dihancurkan hanya dalam hitungan menit oleh ego sebuah keluarga.