Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Sementara itu, di atas atap sekolah, Julian berdiri memunggungi pintu, menatap jauh ke arah barisan pegunungan yang mengelilingi Arcandale. Julian menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan aura Aethern-nya yang sempat meluap. Ia merasa sangat bodoh karena membiarkan seorang remaja manusia memancing emosinya.
"Kau hampir mematahkan lehernya, Julian."
Suara itu datang dari belakang. Julian tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aroma mawar dan hawa dingin yang menenangkan itu hanya milik satu orang.
"Dia yang memancingku lebih dulu." jawab Julian tanpa berbalik.
Kenzie berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas beton atap. Setelah Hallen dan Lyana pergi dari area tangga menuju atap, Kenzie segera menyusul Julian untuk berbicara dengan laki-laki itu.
Kenzie berdiri di samping Julian, ikut menatap cakrawala. "Kau bersikap seperti remaja yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan, bukan seperti Aethern yang sudah hidup seribu tahun."
Julian akhirnya menoleh, matanya yang biru bertemu dengan mata jernih Kenzie. "Dia menuduhku pengecut, Kenzie. Dia menuduhku menginginkanmu tapi tidak berani mendekat. Bagaimana aku tidak marah ketika setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah perang batin dengan kesetiaanku pada Elena?"
Kenzie terdiam sejenak. Ia melihat gurat penderitaan yang begitu nyata di wajah Julian. "Kau marah karena dia benar atau kau marah karena kau benci kenyataan bahwa kau memang mulai goyah?"
Julian mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa inci. "Kau tahu jawabannya, Kenzie. Jangan memaksaku mengatakannya."
"Aku mendengarnya, Julian. Aku mendengar setiap kata di tangga tadi." bisik Kenzie. "Hallen benar-benar menyukaiku. Dan sekarang, Lyana sudah berhasil menghasutnya. Kau baru saja memberikan senjata pada putrimu sendiri untuk menghancurkanmu."
Julian tersentak. Ia menatap Kenzie dalam, seolah mencari pembenaran dari tatapan yang diberikan gadis itu tentang ucapannya. Julian bisa langsung membacanya dari sana bahwa Kenzie mengatakan kebenaran.
"Kau harus bisa mengendalikan dirimu." lanjut Kenzie, kini suaranya melembut. Ia menyentuh tangan Julian yang mengepal di pembatas atap. "Hallen hanyalah manusia. Jika kau terus bertindak seperti ini, kau hanya akan membuktikan pada dunia bahwa ada sesuatu yang tidak beres denganmu. Dan itu akan membawa Stefanny lebih cepat ke depan pintu rumahmu."
Julian menatap tangan Kenzie di atas tangannya cukup lama. Di bawah sinar matahari yang mulai terang, kulit Kenzie tampak seputih porselen yang dingin, namun bagi Julian, sentuhan itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah dunia yang mulai retak. Hati Julian yang biasanya beku oleh disiplin berabad-abad, kini berdenyut menyakitkan.
Perlahan, Julian membalikkan telapak tangannya. Ia mengangkat tangannya dengan gerakan yang begitu halus, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, momen ini akan pecah seperti kaca. Julian menyentuh balik punggung tangan Kenzie, lalu perlahan menyusupkan jemarinya di sela-sela jari gadis itu.
Kenzie sedikit terkejut. Pupil matanya melebar sesaat, menatap tautan tangan mereka. Ia bisa merasakan kekuatan Julian yang biasanya mendominasi kini melunak, digantikan oleh keputusasaan yang sunyi. Kenzie ingin menarik tangannya, ingin mengingatkan Julian sekali lagi tentang Elena yang sedang menunggunya di rumah atau tentang Lyana yang mungkin masih mengawasi dari kejauhan. Namun, lidahnya terasa kelu.
Julian tidak mengatakan apa pun lagi. Kata-kata sudah tidak ada gunanya sekarang. Semua logika tentang kesetiaan, rahasia Aethern dan ancaman Stefanny seolah tersapu oleh angin kencang yang bertiup di atap sekolah itu.
Julian mengikis jarak di antara mereka. Ia melangkah maju hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Aroma mawar yang menjadi ciri khas Kenzie kini mengepung indra penciumannya, memabukkan akal sehatnya. Julian menunduk, menatap bibir Kenzie yang terkatup rapat, lalu beralih ke matanya yang jernih, mata yang menyimpan duka empat ratus tahun yang sama seperti dirinya.
Dalam satu gerakan yang didorong oleh rasa aneh yang terpendam sejak mereka bertemu, Julian menangkup wajah Kenzie dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam erat jemari gadis itu.
Lalu, ia menciumnya.
Ciuman itu tidak terasa manis seperti roman remaja biasanya. Itu adalah ciuman yang berat, penuh dengan beban sejarah, rasa bersalah yang menghujam dan pengakuan atas perasaan yang selama ini ia sangkal dengan keras. Julian mencium Kenzie seolah-olah gadis itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di bumi yang sedang terbakar.
Kenzie membeku sesaat. Jantungnya yang biasanya berdetak statis kini memberikan desiran hebat yang menyakitkan sekaligus melegakan. Ia bisa merasakan air mata Julian yang panas jatuh di pipinya, kontras dengan kulit mereka yang dingin. Untuk sejenak, Kenzie menyerah. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman laki-laki yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Di atas atap yang sunyi itu, mereka berdua seolah terputus dari dunia luar. Tidak ada Elena, tidak ada Hallen, serta tidak ada perang yang mengintai. Hanya ada dua jiwa abadi yang kelelahan, saling merengkuh dalam pengkhianatan yang paling indah sekaligus paling menyakitkan.
Ciuman Julian perlahan terlepas dari bibir Kenzie, namun ia tidak menjauh. Deru napasnya yang tidak beraturan menyapu permukaan kulit Kenzie, terasa kontras dengan suhu tubuh mereka yang sama-sama mendingin di bawah langit Arcandale. Julian seolah kehilangan kendali atas akal sehatnya, rasa posesif yang dipicu oleh kecemburuannya pada Hallen dan rasa haus akan kedamaian yang hanya bisa ditawarkan oleh sosok yang setara dengannya, telah meruntuhkan pertahanan yang ia bangun selama berabad-abad.
Julian memiringkan kepalanya, membiarkan bibirnya menyusuri rahang Kenzie yang tegas namun halus, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang dalam di ceruk leher gadis itu.
Sentuhan itu membuat Kenzie tersentak kecil, jemarinya yang bertautan dengan tangan Julian meremas lebih kuat. Ada rasa nyeri yang aneh, seolah-olah setiap ciuman yang diberikan Julian di lehernya adalah sebuah segel pengikat yang mengukuhkan bahwa mereka adalah dua makhluk yang dikutuk oleh waktu. Julian memejamkan mata, menghirup aroma mawar yang begitu pekat di sana, seolah ia mencoba mencari perlindungan dari kenyataan pahit bahwa di bawah sana, di dalam gedung sekolah itu, hidupnya hanyalah sebuah kepura-puraan.
"Julian..." bisik Kenzie, suaranya parau dan bergetar. "Hentikan. Ini akan lebih menghancurkanmu."
Namun Julian justru semakin menekan wajahnya di sana. Julian merasakan denyut nadi Kenzie yang tenang, detak jantung seorang abadi yang tidak akan pernah berhenti karena usia. Di leher itu, Julian tidak menemukan kerutan atau tanda-tanda kefanaan seperti yang ia lihat setiap hari pada Elena. Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah, namun di saat yang sama, ia merasa menemukan rumah yang telah lama hilang.
Julian mengecup kulit leher Kenzie dengan lembut namun menuntut, seolah ia sedang mencoba menghapus memori tentang tangan Hallen yang sempat menyentuh pinggang gadis itu. Setiap sentuhannya adalah bentuk keputusasaan, sebuah pengkhianatan yang ia lakukan dengan sadar demi sekejap rasa memiliki.
Kenzie bisa merasakan duka yang mengalir dari tubuh Julian. Ia tahu Julian tidak sedang hanya menciumnya, Julian sedang berpegangan pada satu-satunya tiang di tengah badai yang siap menenggelamkannya. Namun, Kenzie juga menyadari risiko dari keintiman ini. Energi murni yang memancar dari tautan mereka di atas atap itu mulai bergetar, menciptakan riak kecil di udara yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang memiliki kekuatan supranatural di Arcandale.
"Julian, cukup." Kenzie mencoba mendorong bahu Julian dengan lembut, meski hatinya sendiri masih berdesir hebat. "Kau tidak bisa melakukan ini. Kau harus ingat Elena. Kau masih suaminya, dan ayah dari putri yang sedang membencimu."
Julian akhirnya terhenti. Ia menjauhkan wajahnya dari leher Kenzie, namun matanya masih tertuju pada bekas kemerahan kecil yang ia tinggalkan di kulit porselen itu, sebuah tanda yang menandai kehadirannya. Julian menatap Kenzie dengan tatapan yang hancur, seolah penuh dengan kerinduan yang terlarang.
"Aku tahu." bisik Julian, suaranya terdengar seperti pecahan kaca. "Aku tahu ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Tapi untuk sejenak, aku hanya ingin berhenti menjadi pecundang. Aku hanya ingin menjadi pria yang tidak harus melihat orang yang dicintainya menua dan mati."
Julian melepaskan genggaman tangannya, mundur satu langkah dengan napas yang masih berat. Keheningan kembali menyergap mereka, namun kali ini terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.
...•••...