NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XVI—ANAK BAIK

Hari ini hari seperti biasanya Chandra berjalan tanpa suara dan menempati bangkunya dengan hening. Tak berlangsung lama, Arka memasuki ruangan kelas. Matanya langsung tertuju kepada Cahndra yang duduk sendirian di bangkunya. Tanpa pikir panjang Arka menghampirinya.

“Selamat Pagi teman ku” Sapanya Arka dengan lambaian kecil.

Chandra hanya meliriknya tanpa ekspresi wajah “Ya selamat pagi.”

Salam mereka bertemu, Arka menempatkan kedua tangan ke meja Chandra dengan lurus lalu memasang muka yang serius “Eh lo tahu gak? Kemarin sepulang sekolah aku liat anak kecil jualan di jalan perempatan lampu merah depan toko bangunan. Tahu kan tempatnya?”

Chandra menghela nafas sejenak dan menjawab “Iya, kenapa?”

“Sungguh aku kasian sama dia” Ujar Arka lirih

Chandra menyaksikan wajah sedih Arka

“Waktu kemarin sore sepulang sekolah hujannya sangat deras kamu tahu sendiri kan? Sehabis hujan reda aku memutuskan untuk pulang dari sekolah dan ternyata sopirku belum dateng untuk jemput aku ya aku kepikiran untuk jalan sambil menikmati suasana sore sehabis hujan, sesampai di lampu merah itu aku liat anak kecil basah kuyup yang membawa tiga box berisi kue yang sudah tak layak makan di bopong kedua tangannya kemudian aku menghampiri dan bertanya-tanya padanya.”

“Kamu tahu gak apa yang terjadi pada anak itu?” Tanya Arka memancing rasa penasaran Chandra

Chandra menggelengkan kepala perlahan

“Pas hujan deras itu dan aku masih sekolah, anak kecil itu mau berteduh di toko bangunan itu, sementara sambil menunggu hujannya reda, tapi di larang sama pemilik toko bangunan.”

“Hujannya terlalu deras anak kecil itu tetap ga mau pergi dari sana, pemilik mungkin risih dengannya dan dia mendorong si anak ini hingga barang dagangannya tumpah ke tanah dan kedua sikutnya terluka, tanpa rasa bersalah pemilik toko langsung meninggalkannya dan masuk ke dalam toko miliknya, anak itu pun segera mengemas kuenya ke box seperti semula walaupun sudah tak layak untuk dijual bahkan dimakan.”

Chandra mengalihkan pandangannya kebawah

“Waktu itu aku mau beli dagangannya dan ingin menyuruhnya pulang untuk mengobati luka-lukanya tapi…sialnya waktu itu aku ga bawa uang cash jadi aku sudah berjanji deh sama dia ketemuan sore nanti.” Ucap Arka sambil melirik senyum licik ke Chandra

Chandra merasa aneh senyum licik Arka “Kenapa melihat aku seperti itu? tinggal kamu temui aja nanti sore lagian kamu sudah janji sama anak itu.”

“Maksudku, kau ikut aku nanti masak kaya begitu doang kau ga paham si Chand?”

“Kog tiba tiba aku?”

“Plis Chand ikut aku temui anak itu pasti dia pasti senang aku bawa teman menemuinya.”

Chandra keheranan dengan ajakan Arka dan kebingungan pada kalimat dia pasti senang aku bawa teman menemuinya. Ia tak menyetujui maupun menolak tetapi hanya diam.

“Eh…malah diem kaya patung gitu, aku anggap mau saja, nanti sepulang sekolah ayo kita berdua kesana.”

Waktu sekolah telah berlalu dan matahari meredakan kegagahannya. Jalanan di penuh oleh para manusia yang lelah akan aktivitas maupun kehidupannya masing-masing. Sedangkan Chandra dan Arka menyusuri jalan berdua. Satunya berjalan beriringan dengan mulutnya tanpa ujung yang satunya hanya berjalan dalam diam.

Dari kejauhan di perempatan lampu merah ada anak melas sedang menjual kue, menghampiri satu per satu mobil maupun pengendara sepeda yang berhenti karena lampu merah. Satu dua terkadang terjual saat lampu berwarna merah terkadang tidak sama sekali.

Arka menunjuk dari kejauhan “Eh…Itu Chand anak yang ku maksud”

Chandra melihat samar dari jauh.

“Ayo Chand percepat jalannya” Ajak Arka

Chandra mengangguk dan mempercepat langkahnya. Sesampai di trotoar jalan perempatan lampu merah Arka melambaikan tangannya ke anak tersebut. Anak itu seketika sumringah wajahnya dan sesegera mungkin menghampiri Arka dan Chandra ke Trotoar.

“Halo Om” Sapa si bocah dengan senyum lebarnya.

“Halo juga Cil, bagaimana laris jualan hari ini?” Jawab dan tanya Arka sekaan gak merasa aneh di panggil dengan panggilan Om.

“Sepi Om gak tahu kenapa padahal jalanan rame banget” Keluh si bocah dengan ekspresi murung.

Arka dan Chandra terdiam termenung melihat ekspresi bocah itu. Sesaat Arka langsung mengalihkan pembicaraan “Sudah ayo istirahat dulu ke toko bangunan itu yok karena sekarang tutup ayo kita kesana.”

Mereka bertiga segera menuju ke toko bangunan yang tutup itu.

“Cil namamu siapa kemarin belum sempat kenalan padahal sudah janjian hahaha Om lupa”

“Tara Om, kalau om sendiri” Jawabnya

“Aku Arka keren kan namaku haha”

Chandra hanya menyimak dari dekat tak berbicra sedikitpun.

“Kalo Om yang ini siapa namanya” Tanyanya sambil menunjuk kecil ke arah Chandra.

Chandra hanya diam menoleh ke kiri maupun ke kanan karena kebingungan tak tahu cara berkenalan dengan orang lain. Hingga Arka menyikut pelan lempeng Chandra dan membisikinya.

“Kenalin namamu lah dia ingin kenalan tuh” Bisik Arka

Chandra terjinggat kerena menerima sikutan kecil dari Arka hingga membuatnya menjawab dengan terbata-bata “Eh…saya Chandra…Chandra Baswara dan panggil kakak jangan om” ujar Chandra.

“Wih keren nama kakaknya tapi lucu jawabnya hahaha” Jawab Tara dengan polos.

Chandra hanya mengangguk mukanya memerah dan Arka tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak.

Seiring tawanya Arka melihat box yang di bopong oleh Tara “Masih berapa itu Cil?”

“Masih banyak Om, satu box ini saja belum habis dan masih ada dua box yang masih full huh” Keluh Tara sambil mengela nafas panjang.

“Sini aku lihat” Pinta Arka

Arka membuka satu box per box lalu menghitungnya perlahan dan teliti tak terlewat satu pun. Sedangkan Chandra asik menyimaknya dari dekat.

“Per box isinya 24 ya” gumam pelan Arka

“Iya Om” jawab Tara

“Per kue harganya berapa ya Tar”

“Anu…2000 rupiah Om”

“Ini kan masih full dua box dan box satunya sisa 10, jadi em… berapa ya?” Ujarnya sambil melirik pelan ke arah Chandra.

Chandra sontak melihat kearah Arka dan menjawab pelan “ Seratus Enam Belas Ribu” Jawab ketus Chandra

“Wih canggih tuh otak” Ledek Arka

“Wih keren” Puji Tara

Chandra tak bereaksi dengan pujian yang keluar dari mulut mereka berdua. Arka tanpa basa basi mengambil dompet di dalam tas dan mengambil empat lembar warna merah dari sana.

Arka menyodorkan tangan kanannya sambil memegang empat lembar warna merah “Nih Cil, Om beli semuanya sesuai janji om kemarin.”

“Jadi di borong semua ini om?” Tanya Tara dengan mulut menganga.

Arka menganggukan dagu.

“Makasih banyak Om, makasih kak, Terimakasih Tuhan, tapi bukanya kelebihan ya om?.”

“Kan Om beli yang kemarin juga” Tegas Arka

“Loh kan kemarin ga om beli sudah kotor semua kenapa Om hitung?” Tanya Arka lagi dengan raut serius bercampur gembira.

Arka menarik tangan kanan Tara dan memberikan uangnya ke tangannya “Udah ini gausah banyak omong, om beli semuanya dan kembaliannya kamu buat jajan sendiri.”

Matanya Tara sedikit berkaca, bukan karena sedih melainkan rasa bahagia yang datang dalam hatinya. Kebahagiaan yang tenang bercampur syukur dan ia memeluk dengan polosnya ke Arka lalu ke Chandra.

“Makasih banget ya Om, Kak” Ucap Tara sambil meraih pinggang mereka berdua secara bergantian.

“Iya cil sudah bungkusin semua sana”

“Iya Om…. Em tapi”

“Tapi apa Cil? Minta bantuan?”

Tara menggelengkan kepalanya dengan cepat “Tapi…Boleh gak Om, uang lebihan ini nggak tak buat jajan aku”

“Loh kenapa, buat apa?” tanya Arka

“Em…Buat aku tabung, buat nebus obat ibu aku yang sedang sakit om”

Chandra dan Arka terdiam, merasa tak nyaman dalam hati pada Tara. Bocah berumur 12 tahun tanpa tahu rasanya bersekolah layaknya anak-anak pada umumnya, bocah yang rela menjadi tulang punggung keluarga, bocah yang tak kenal lelah berjualan dari pagi hingga petang, bocah yang tulus melakukan apapun untuk ibunya.

“Berapa harga obatnya cil?” Tanya Arka pelan

“Lima Ratus Ribu om”

Arka mengeluarkan lembaran merah lagi dalam dompet bedanya sekarang ada lima lembar, kemudian meraih tangan tara kecil Tara “Ini Cil, kamu pakai nebus obat ibumu”

“Loh….loh nggak usah om” Bantah Tara terbata-bata

“Ini terima saja….tadi untukmu dan yang ini untuk obat ibumu” Ujar Arka

Chandra yang dari awal diam saja dan akhirnya menyela pembicaraan mereka berdua “Sudah terima saja om yang itu super kaya, terlebih kamu itu anak baik dan kamu pantas menerima hal baik juga.”

Entah apa yang membuat Chandra sampai mengeluarkan suara untuk Tara, momen ini tak pernah terjadi sekalipun dan inilah pertama kalinya Chandra mengungkapkan rasa peduli kepada orang lain selain keluarganya.

Arka mengangguk pelan merespon perkataan Chandra ke Tara “Iya betul kata Chandra, nih ambil uangnya semisal ibumu tanya uangnya dari mana, kamu jawab saja dari temanku dan kapan-kapan mau ke rumah untuk mengunjungi ibu” Ujarnya perlahan agar membuat Tara mengerti.

Tara menundukkan kepalanya sampai matanya tak terlihat namun bukan berarti hal itu dapat menutupi tangisnya, air matanya deras dan seluruh wajahnya basah oleh rsa syukur “Makasih...Om, makasih…Kak.”

Di sisi lain, Chandra meraih salah satu box yang tergeletak, ia mengambil kue dari box dan memasukannya ke dalam kantong plastik, satu dua dan semua masuk dalam empat kantong lalu ia menyerahkan kantong yang berisi kue tersebut ke Arka.

Tara masih tak mau mengangkat kepalanya, Arka menepuk salah satu pundaknya “Sudah hentikan tangismu itu Cil, segeralah pulang tebus obat ibumu sekarang sebelum malam.” Tutur Arka.

“Iya Om, sungguh aku berterimakasih Om.”

Mata dan mukanya yang basah telah di usap, ia segera menyusun ketiga box kosong menjadi satu, lalu berpamitan kepada Chandra dan Arka.

“Aku pulang dulu ya Om, Kak” Pamit Tara dengan senyum polos sesudah tangis.

Arka melambaikan tangannya dengan pipi yang melebar dan Chandra hanya mengangguk dan menatap Tara dengan tenang. Mereka berdua melihat punggung Tara sampai tak terlihat lagi dari kejauhan.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!