sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: JALAN KEMBALI
Setelah Ghoul itu pergi, keramaian Kota Tulang perlahan kembali normal. Makhluk-makhluk aneh itu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pertikaian kecil di depan bangunan Mora adalah tontonan biasa yang tidak perlu diingat terlalu lama.
Sera masih berdiri dengan tangan terentang melindungi Ren. Wajahnya pucat, tapi matanya menunjukkan tekad yang kuat—tekad seorang ibu yang akan melakukan apa pun demi anaknya.
"Kau... kau baik-baik saja?" tanyanya pada Aldric, suaranya bergetar.
Aldric mengangguk. "Mereka bukan ancaman. Hanya pengganggu."
"Pengganggu?" Sera hampir tertawa histeris. "Mereka Ghoul! Mereka bisa mencabik-cabik kita!"
"Tapi tidak jadi." Aldric menatapnya datar. "Karena aku di sini."
Sera ingin membantah, tapi dilihatnya ekspresi Aldric—dingin, tanpa emosi—dan ia mengurungkan niatnya. Ia hanya mengangguk lemah, menarik Ren lebih dekat.
Varyn muncul di samping Aldric. "Kita perlu bicara. Di dalam."
Aldric menoleh ke Sera. "Kau tunggu di sini. Aku akan sediakan tempat untuk kalian."
"Tapi—"
"Ini tidak bisa ditawar."
Sera menutup mulut. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Di dalam bangunan Mora, suasana berubah. Mora sudah duduk di belakang mejanya, jari-jari panjangnya mengelus kalung mata kucing dengan posesif. Varyn berdiri di samping Aldric, mata merahnya menyala penuh perhatian.
"Kau tahu konsekuensinya, kan?" Mora memulai. "Ghoul tidak akan berhenti. Mereka akan terus memburumu sampai kau mati atau mereka mati."
"Aku tahu."
"Dan kau tetap akan kembali ke atas?"
Aldric menatap Mora. "Kau bilang pernikahan itu tiga minggu lagi. Aku harus sampai sebelum itu."
"Bahkan jika kau berhasil kembali ke atas, apa yang akan kau lakukan? Teriak ke seluruh kerajaan bahwa kau adalah pangeran yang sudah mati? Darius akan langsung membunuhmu—lagi—sebelum kau sempat bicara sepatah kata pun."
"Diam-diam."
Varyn mengangkat alis. "Menyusup?"
"Aku butuh informasi lebih dulu. Tentang istana, tentang pengawal, tentang kelemahan Darius." Aldric menatap Mora. "Kau punya jaringan di atas. Aku butuh akses."
Mora tersenyum—senyum yang mengerikan, tapi ada kekaguman di matanya. "Kau cepat belajar, manusia setengah iblis. Memanfaatkan semua sumber daya."
"Jangan cepat setuju, Mora," potong Varyn. "Dia masih terlalu lemah. Ghoul saja bisa membuatnya kewalahan."
"Aku membunuh pemimpin mereka."
"Dengan keberuntungan. Lain kali, mereka akan datang dalam kelompok lebih besar, lebih siap."
Aldric diam. Varyn benar. Pertarungan dengan pemimpin Ghoul tadi tidak mudah—ia menang, tapi itu karena faktor kejutan dan kegigihan, bukan karena kekuatan murni.
"Ada jalan lain," kata Mora tiba-tiba.
Mereka menoleh.
"Jalan pintas ke atas. Tapi..." Mora menjeda. "...berbahaya. Sangat berbahaya. Bahkan aku tidak pernah melewatinya."
"Jalan apa?"
"The Labyrinth of Echoes."
Varyn menarik napas tajam. "Kau gila, Mora? Itu lorong kematian! Belum ada yang pernah keluar hidup-hidup!"
"Belum ada yang pernah keluar—setahu kita." Mora menatap Aldric. "Tapi legenda mengatakan, di ujung labirin itu, ada gerbang langsung ke dunia atas. Gerbang yang tidak dijaga, tidak diketahui siapa pun."
"Kenapa kau tahu tentang ini?"
"Aku sudah hidup ribuan tahun, Nak. Aku tahu banyak hal." Mora mengelus kalungnya lagi. "Dan karena kau mengembalikan kalung ini, aku memberimu informasi ini gratis. Sisanya... kau harus cari sendiri."
Aldric memikirkannya. Labirin Maut. Lorong kematian. Tapi juga jalan pintas ke atas.
"Aku ambil."
"Aldric!" Varyn meraih lengannya. "Kau tidak dengar? Tidak ada yang pernah keluar hidup-hidup!"
"Aku sudah mati." Aldric melepaskan tangannya. "Aku tidak takut mati lagi."
"Ini bukan soal takut! Ini soal—"
"Varyn." Aldric menatap iblis tua itu. "Terima kasih untuk semuanya. Tapi aku harus pergi. Elara menungguku."
Nama itu. Elara. Untuk pertama kalinya, Varyn melihat sesuatu di mata Aldric—bukan dingin, bukan kosong. Tapi api. Api kecil, redup, tapi nyata.
"Dia mencintaimu?"
"Dia tidak pernah berhenti mencintaiku."
Varyn menghela napas panjang—napas yang bergema seperti angin di lorong batu. "Manusia," gumamnya. "Selalu rumit dengan cinta."
Mereka keluar dari bangunan Mora. Sera dan Ren masih duduk di tempat yang sama, bersandar di dinding. Ren tertidur di pangkuan ibunya, wajah kecilnya tenang meskipun berada di tempat paling mengerikan di dunia.
Sera bangkit begitu melihat Aldric. "Jadi?"
"Aku akan pergi. Ke atas."
Mata Sera membelalak. "Ke atas? Kau bisa kembali?"
"Ada jalan. Berbahaya, tapi ada."
"Bawa kami."
Aldric menatapnya. "Apa?"
"Bawa kami." Sera meraih tangannya—berani, putus asa. "Aku tidak bisa tinggal di sini. Ren tidak bisa tinggal di sini. Ini bukan tempat untuk anak kecil. Kau tahu itu."
"Aku tidak bisa melindungi kalian di sana."
"Aku tidak minta dilindungi. Aku minta kesempatan." Air mata menggenang di mata Sera. "Aku lebih baik mati mencoba kembali ke atas daripada hidup di neraka ini selamanya."
Ren terbangun. Ia mengucek mata, lalu melihat ibunya menangis. Anak kecil itu meraih tangan Aldric—tangan kecil yang hangat.
"Om... bawa kami," bisiknya. "Ren takut di sini. Ren mau pulang."
Aldric menatap anak itu. Mata besar penuh harap. Mata yang sama seperti Liana.
"Kak, temenin Liana..."
Ia memejamkan mata. Menarik napas panjang.
"Ikut," katanya akhirnya. "Tapi kalau mati di jalan, itu bukan salahku."
Sera menangis—menangis lega. Ia memeluk Ren erat, berbisik syukur pada dewa mana pun yang masih mau mendengarnya.
Varyn mendekat. "Nak, ini gila. Kau bawa beban yang tidak perlu."
"Aku tahu."
"Tapi kau tetap lakukan?"
Aldric menatap Sera dan Ren. "Aku sudah gagal melindungi adikku. Aku tidak mau gagal lagi."
Varyn terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tertawa—tawa hangat, bukan tawa sinisnya yang biasa.
"Kau masih manusia, Aldric. Di dalam sana—" ia menunjuk dada Aldric, "—masih ada manusia. Kau boleh berpura-pura sudah mati, tapi kenyataannya tidak."
Aldric tidak menjawab. Ia hanya menatap kegelapan di kejauhan—ke arah The Labyrinth of Echoes.
"Kapan kau berangkat?" tanya Sera.
"Sekarang. Setiap detik berarti."
Varyn memberi mereka bekal—daging kering dari makhluk bawah tanah, air dalam kantong kulit, dan sebuah peta kasar yang digambar Mora di secarik kulit.
"Labirin ini dimulai dari gua di utara Kota Tulang," kata Varyn, menunjuk peta. "Jalan lurus selama dua hari, lalu kau akan menemukan mulut labirin. Setelah masuk... aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu."
Aldric menghafal peta itu. Dengan ingatannya yang tajam, sekali lihat sudah cukup.
"Satu lagi." Varyn mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah belati kecil, hitam pekat, dengan ukiran aneh di gagangnya. "Ini pemberianku. Belati ini bisa membunuh apa pun—manusia, monster, bahkan iblis. Tapi hanya sekali pakai. Begitu kau gunakan, dia hancur."
Aldric menerima belati itu. Berat di tangan, dingin, tapi terasa... hidup.
"Terima kasih, Varyn."
"Jangan berterima kasih dulu. Kau masih harus selamat." Varyn menepuk bahunya. "Aku akan menunggumu di sini. Ingat, kau masih punya utang padaku—membuka segel penjaraku."
"Aku ingat."
Mereka berpelukan—aneh, seorang manusia setengah iblis dan iblis tua ribuan tahun. Tapi di dunia bawah, hubungan aneh seperti ini biasa.
Sera dan Ren sudah siap. Mereka hanya punya pakaian di badan dan tekad di hati.
"Ayo," kata Aldric.
Mereka berjalan meninggalkan Kota Tulang, meninggalkan Varyn yang berdiri di gerbang, menatap kepergian mereka.
"Jangan mati, Nak," bisik Varyn. "Kau terlalu menarik untuk mati."
Perjalanan ke utara melewati ladang jamur bercahaya yang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini, Aldric tidak sendirian. Sera berjalan di sampingnya dengan langkah hati-hati, sementara Ren digendong di punggungnya.
"Kau kuat," komentar Aldric.
"Terpaksa." Sera tersenyum getir. "Setelah suamiku mati di sini, aku tidak punya pilihan selain kuat."
Aldric menatapnya. "Suamimu?"
"Jatuh bersama kami. Ditangkap Ghoul di minggu pertama. Mereka... mereka memakannya di depanku." Suara Sera datar, tapi matanya berkaca-kaca. "Ren melihat semuanya."
Aldric diam. Ia tahu rasa itu. Rasa kehilangan orang yang dicintai.
"Maaf."
"Bukan salahmu." Sera menghela napas. "Ini salah dunia. Dunia yang kejam, yang membiarkan monster-monster ini hidup."
"Monster tidak hanya di sini." Aldric menatap ke depan. "Di atas juga banyak monster. Mereka hanya pakai pakaian bagus dan senyum manis."
Sera menatapnya lama. "Kau... kau berbeda dari manusia lain yang kutemui di sini."
"Karena aku setengah iblis?"
"Karena matamu." Sera menunjuk mata Aldric—abu-abu dengan semburat merah. "Matamu kosong, tapi kadang—kadang ada api di sana. Api yang tidak bisa kujelaskan."
Aldric tidak menjawab. Ia terus berjalan.
Malam pertama di perjalanan, mereka berhenti di sebuah gua kecil—cukup untuk berteduh dari makhluk-makhluk malam. Sera menyalakan api kecil dari jamur kering yang ternyata bisa terbakar. Ren tidur di pangkuannya, kelelahan.
"Kau tidak tidur?" tanya Sera melihat Aldric duduk di mulut gua, mengawasi kegelapan.
"Aku tidak perlu banyak tidur."
"Karena setengah iblis?"
Aldric mengangguk.
Sera diam sejenak. Lalu, "Ceritakan tentang dia. Tentang Elara."
Aldric menoleh. "Kenapa?"
"Karena kau menyebut namanya dengan cara yang berbeda. Seperti... seperti dia adalah alasan kau masih hidup."
Aldric menatap api. Untuk pertama kalinya, ia bercerita. Tentang pernikahannya yang singkat. Tentang kebahagiaan sebulan. Tentang malam kudeta. Tentang melihat Elara bersama Darius. Tentang jatuh ke jurang. Tentang surat Mora.
Sera mendengarkan dengan diam. Ketika Aldric selesai, ia berkata, "Dia mencintaimu."
"Aku tahu sekarang."
"Dan kau masih mencintainya?"
Aldric memikirkan pertanyaan itu. Apakah ia masih mencintai Elara? Atau hanya merasa bertanggung jawab? Atau dendam yang bercampur aduk dengan rasa bersalah?
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa membiarkan dia hidup dalam kebohongan dengan Darius. Tidak setelah tahu kebenaran."
"Kau pahlawan."
"Aku bukan pahlawan." Aldric mengepalkan tangan. "Aku hanya orang bodoh yang tidak bisa melupakan."
Sera tersenyum—senyum pertama yang benar-benar tulus sejak ia jatuh ke jurang. "Orang bodoh yang baik. Langka di dunia ini."
Mereka diam untuk waktu yang lama. Api jamur berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding gua. Ren sesekali bergumam dalam tidurnya—mungkin mimpi buruk, mungkin mimpi indah.
"Aku akan membawa kalian pulang," kata Aldric tiba-tiba. "Aku janji."
Sera menatapnya. "Kau tidak perlu berjanji."
"Aku janji." Aldric menatapnya tegas. "Aku gagal dengan adikku. Aku tidak akan gagal dengan Ren."
Sera tidak bisa berkata-kata. Air mata mengalir di pipinya—air mata haru, air mata lega. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa ada harapan.
"Terima kasih," bisiknya.
Aldric hanya mengangguk, lalu kembali menatap kegelapan di luar.
Pagi—atau setidaknya waktu yang disebut pagi di dunia bawah—datang dengan suara gemuruh dari kejauhan. Aldric bangkit, waspada. Suara itu seperti air terjun, tapi lebih dalam, lebih berat.
"Kita hampir sampai," gumamnya.
Mereka melanjutkan perjalanan. Sera menggendong Ren yang masih mengantuk. Semakin dekat mereka ke sumber suara, semakin terasa getaran di tanah—getaran yang membuat tulang-tulang bergemeretak.
Akhirnya, mereka tiba di tepi jurang.
Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang tidak pernah Aldric bayangkan. Air terjun—tapi bukan air. Cairan hitam pekat jatuh dari langit-langit gua yang tidak terlihat, membentuk sungai mendidih di bawah. Uap hitam mengepul ke mana-mana, bau belerang menyengat hidung.
Dan di balik air terjun itu, terlihat mulut gua raksasa—gelap, menganga, seperti raksasa yang sedang menunggu mangsa.
"The Labyrinth of Echoes," bisik Aldric.
Sera menatapnya dengan ngeri. "Kita harus masuk ke sana?"
"Kau bisa tunggu di sini."
"Tidak." Sera menggeleng, mengeratkan gendongannya pada Ren. "Aku ikut. Ke mana pun kau pergi."
Aldric mengangguk. Ia meraba belati pemberian Varyn di pinggangnya, memastikan siap.
"Kalau begitu, ayo."
Mereka melangkah maju, menuju air terjun hitam, menuju mulut labirin, menuju ketidakpastian.
Di belakang mereka, dunia bawah terus bergemuruh dengan kehidupannya sendiri.
Di depan mereka, hanya kegelapan dan teka-teki.
Tapi Aldric tidak takut.
Karena di ujung kegelapan ini, Elara menunggunya.
Dan tidak ada labirin, tidak ada monster, tidak ada iblis yang bisa menghentikannya.