Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kekuatan Sejati dan Hati yang Terguncang
Pertarungan yang terjadi selanjutnya benar-benar merusak pemahaman Hong Mengyao tentang kultivasi.
Di hadapannya, Jiang Chen, seorang kultivator tingkat empat, tidak hanya berhadapan langsung dengan Kera Kabut Ilusi tingkat lima, tetapi ia melakukannya dengan cara yang tampak... santai.
Kera raksasa itu mengandalkan kekuatan brutal dan kecepatan kilat. Setiap cakaran dan pukulannya mampu menghancurkan batu besar dan menumbangkan pohon. Namun, Jiang Chen bergerak di antara serangan-serangan badai itu seperti hantu. Langkah Bayangan Berkabut miliknya berada di tingkat yang sama sekali berbeda di medan yang rumit ini. Ia tidak hanya menghindari serangan, tetapi ia melakukannya dengan gerakan minimal, sering kali membiarkan cakar mematikan itu lewat hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya.
WHOOSH!
Sebuah cakar raksasa menebas tempat Jiang Chen berdiri sepersekian detik yang lalu, meninggalkan lima bekas dalam di tanah. Jiang Chen telah muncul kembali di sisi kera, melancarkan pukulan ke tulang rusuknya.
DUG!
Suara pukulan tumpul terdengar. Kera itu meraung kesakitan dan marah, berbalik untuk membalas, tetapi Jiang Chen sudah menghilang lagi.
Hong Mengyao menyaksikan dengan mulut ternganga. Ini bukan lagi pertarungan, ini adalah permainan kucing dan tikus, di mana Jiang Chen adalah kucingnya, dan monster tingkat lima yang menakutkan itu adalah tikusnya.
Jiang Chen tidak mencoba untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat. Ia menggunakan kera ini sebagai mitra tanding yang sempurna. Ia menguji batas kecepatan dan refleksnya, membiasakan dirinya dengan pertarungan melawan lawan yang lebih kuat secara fisik.
"Terlalu kaku," gumam Jiang Chen setelah menghindari rentetan serangan. "Kekuatan besar, tapi tidak ada teknik. Mudah ditebak."
Setiap kali kera itu menyerang, Jiang Chen akan mengkritiknya seolah-olah ia adalah seorang guru yang sedang mengevaluasi muridnya.
Setelah 'bermain' selama beberapa menit, Jiang Chen memutuskan sudah cukup.
"Baiklah, pemanasan selesai."
Saat kera itu melancarkan serangan menerkam lainnya, Jiang Chen tidak lagi menghindar. Ia mengambil langkah maju, masuk ke dalam jangkauan serangan—sebuah gerakan yang tampak seperti bunuh diri.
Tapi kali ini, tinjunya bersinar dengan cahaya keemasan redup. Ia tidak lagi menahan diri. Ia menyalurkan Qi dari Kuali Primordial Semesta ke dalam Pukulan Fondasi Agung-nya.
Tinju dan cakar bertemu di udara.
BOOOOOOM!
Sebuah ledakan energi yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh area. Gelombang kejut yang kuat menerbangkan dedaunan dan memaksa Hong Mengyao mundur beberapa langkah.
Di pusat ledakan, pemandangan yang tak terbayangkan terjadi.
Tubuh raksasa Kera Kabut Ilusi terlempar ke belakang seolah-olah ditabrak oleh kereta banteng yang melaju kencang. Lengannya, yang telah berbenturan dengan tinju Jiang Chen, bengkok dengan sudut yang tidak wajar, tulangnya jelas hancur.
Kera itu mendarat dengan keras, menabrak beberapa pohon sebelum akhirnya berhenti. Ia mencoba untuk bangkit, tetapi lengannya yang hancur tidak bisa menopang tubuhnya. Ia meraung kesakitan dan ketakutan, mata merah darahnya kini dipenuhi kengerian saat menatap sosok manusia kecil di hadapannya.
Ia akhirnya menyadari bahwa ia telah memprovokasi predator yang jauh lebih menakutkan daripada dirinya sendiri.
Jiang Chen berjalan perlahan ke arah kera yang terluka itu.
"Sudah kubilang, kau mudah ditebak," katanya.
Dengan satu pukulan terakhir yang cepat dan tepat di dahi, ia mengakhiri penderitaan monster itu.
Keheningan kembali menyelimuti hutan, hanya menyisakan suara napas Hong Mengyao yang terengah-engah. Ia menatap Jiang Chen, yang dengan tenang mengambil inti monster tingkat lima yang berkilauan dari kepala kera, seolah ia baru saja menyelesaikan tugas rutin.
Pikirannya kosong.
Semua yang ia tahu tentang dunia hancur. Seorang kultivator tingkat empat mengalahkan monster tingkat lima dalam pertarungan langsung. Ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh akal sehat atau bakat. Ini adalah keajaiban, atau lebih tepatnya