Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Fajar di Borobudur pagi itu seolah sengaja menyambut kami dengan kemegahan yang tak biasa. Kabut tipis menyelimuti lembah, membuat stupa-stupa raksasa ini tampak seperti negeri di atas awan. Aku berdiri bersandar pada bahu Arlan, merasakan napasnya yang tenang berpadu dengan udara dingin yang menusuk tulang.
"Dulu, setiap kali kita membicarakan Borobudur di SMA, aku selalu takut ini hanya akan jadi angan-angan, Ran," bisik Arlan. Tangannya merengkuh pinggangku, menarikku lebih dekat ke arahnya.
Aku menatap siluet wajahnya yang terkena pantulan cahaya jingga di ufuk timur. "Aku juga. Bahkan tiga tahun kemarin, aku benci setiap kali mendengar nama tempat ini. Karena bagiku, Borobudur adalah janji yang kamu ingkari."
Arlan memutar tubuhku, menatapku lamat-lamat. "Sekarang tidak lagi, kan? Matahari ini terbit untuk kita, Rania. Untuk awal yang baru."
Tepat saat piringan emas matahari muncul dari balik Gunung Merapi dan Merbabu, cahaya hangat mulai menyiram pelataran candi. Di saat itulah, suasana mendadak hening. Arlan perlahan merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru biru tua yang tampak berkilau terkena cahaya fajar.
Ia berlutut di depanku, tepat di depan stupa utama.
"Rania..." suaranya sedikit gemetar, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa. "Tiga tahun lalu, aku kehilangan hakku untuk menjagamu karena pengkhianatan yang tidak pernah kulakukan. Tapi hari ini, di depan saksi bisu sejarah ini, aku ingin mengklaim kembali seluruh masa depanku."
Kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk berdampingan di salah satu sudut candi, memperhatikan wisatawan lain yang mulai berdatangan. Tapi bagi kami, dunia ini hanya milik berdua.
"Setelah ini kita ke mana?" tanyaku pelan
"Ke mana pun kamu mau, Sayang. Tapi sebelum pulang ke Jakarta, aku ingin kita mampir ke satu tempat lagi," ujar Arlan penuh rahasia.
"Ke mana?"
"Ke rumah orang tuaku. Mereka sudah menyiapkan tumpeng untuk merayakan kepulangan 'anak menantu' mereka," jawabnya sambil mengerling nakal.
Aku tersenyum lebar. Jogja benar-benar telah berdamai denganku. Kota ini tidak lagi menyimpan aroma pengkhianatan, melainkan aroma harapan yang baru saja mekar. Tembok es di hatiku tidak hanya mencair, tapi telah berubah menjadi telaga cinta yang tenang.
Setelah puas menikmati magisnya matahari terbit di Borobudur, Arlan membimbingku menuju mobil. Senyumnya tidak luntur sedikit pun, ada binar antusias yang berbeda dari biasanya.
"Ran, ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi sebelum ke rumah Ibu," ujarnya sambil memacu mobil membelah jalanan Magelang menuju arah Kota Jogja.
"Ke mana lagi? Katanya tumpeng Ibu sudah menunggu?" tanyaku penasaran.
"Satu kejutan kecil.?"
Aku terdiam sejenak, "apa lagi lan?'' bapak mulai buka distro lagi? Dengan desain gambar-gambarnya itu?''
Arlan mengangguk mantap. "Tiga bulan lalu, saat aku mulai pulih dan kasus Harva selesai, aku memakai tabunganku untuk membuka distro itu,karena dulu pernah di jual karena aku, Bapak dan Ibu baru saja membuka distro kecil di daerah Jakal. Hari ini adalah hari pertama mereka memajang koleksi baru."
Begitu sampai di sebuah ruko dengan desain industrial yang modern namun tetap terasa hangat, mataku tertuju pada papan nama di atas pintu: "ARANIA DISTRO".
Jantungku berdesir. Arania. Perpaduan nama Arlan dan Rania.
"Lan..." suaraku tercekat.
"Ayo masuk," ajaknya lembut.
Di dalam, aroma kaus baru dan kayu pinus menyambut kami. Bapak sedang menata beberapa kemeja di rak, sementara Ibu sedang merapikan manekin. Begitu melihat kami, Ibu langsung berlari memelukku.
"Rania! Akhirnya sampai juga, Nak," seru Ibu bahagia.
Bapak menyusul dengan senyum bangga. "Gimana, Ran? Bagus tidak? Ini semua desainnya Bapak yang buat, tapi Arlan yang urus konsep tokonya. Nama tokonya juga ide Arlan, katanya supaya doa kalian berdua selalu ada di sini."
Aku menyusuri deretan pakaian yang tergantung rapi. Kualitas kainnya luar biasa, desainnya unik dengan sentuhan etnik modern. Di sudut ruangan, ada sebuah bingkai foto besar yang menarik perhatianku. Itu adalah foto kami berdua saat memakai seragam SMA, tertawa lepas di depan sekolah.
"Bapak sengaja pajang itu," bisik Bapak di sampingku. "Supaya Bapak ingat, kalau bisnis ini ada karena perjuangan kalian berdua melewati badai."
Aku menoleh ke arah Arlan yang sedang asyik berbincang dengan Ibu di dekat kasir. Pria itu tampak sangat bahagia. Tidak ada lagi gurat kesedihan atau pucat di wajahnya. Distro ini bukan hanya sekadar toko baju; ini adalah simbol pemulihan keluarga mereka setelah sempat hancur karena fitnah Harva.
"Ran, coba lihat ini," Arlan menghampiriku sambil membawa sebuah kaus putih polos dengan desain minimalis di bagian dada. Sebuah gambar siluet dua orang yang sedang melihat matahari terbit.
"Ini koleksi khusus hari ini. Hanya ada satu," Arlan mengedipkan matanya.
Aku memeluk Arlan erat di tengah toko itu, mengabaikan godaan Ibu dan Bapak. Tiga tahun lalu, aku mengira Jogja adalah tempat di mana semua mimpiku mati. Ternyata, Jogja adalah tempat di mana mimpi-mimpiku dilahirkan kembali dengan cara yang jauh lebih indah.
"Terima kasih sudah membawaku pulang, Lan," bisikku.
"Sama-sama, Ratu Es-ku yang sudah mencair," candanya yang langsung kubalas dengan cubitan kecil di pinggangnya.
Hari itu, di Arania Distro, aku menyadari bahwa pengkhianatan mungkin bisa menunda kebahagiaan, tapi ia tidak akan pernah bisa menghentikan takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk bersatu.