NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kabar Angin yang Menjalar

Pagi di Sekte Awan Mengalir biasanya diwarnai dengan suara dentingan pedang yang beradu di lapangan latihan atau gumaman ribuan murid yang sedang melafalkan mantra pernapasan Qi. Namun, dalam tiga hari terakhir, pusat gravitasi perhatian sekte telah bergeser secara halus menuju sebuah tempat yang sebelumnya dianggap sebagai kasta terendah: Dapur Luar.

Kabar angin merayap lebih cepat daripada bayangan elang di musim gugur. Di kedai-kedai teh sekte luar, di asrama-asrama murid kelas bawah, hingga ke paviliun-paviliun mewah murid dalam, sebuah cerita mustahil mulai berkembang. Cerita tentang seorang pelayan dapur yang mampu membedah daging monster tingkat lima hanya dengan sebatang sumpit, seorang "Master Tersembunyi" yang mampu mengusir Murid Dalam hanya dengan sentilan jari, dan yang paling mengejutkan: seorang pertapa yang hidupnya hanya didedikasikan untuk tidur di atas tumpukan kubis.

Suara desas-desus itu sampai ke telinga Lin Fan bukan melalui laporan resmi, melainkan melalui aroma dupa ketenangan yang kini memenuhi "kamar" pribadinya di sudut dapur.

Lin Fan berbaring terlentang di atas kasur bulu angsa premiumnya. Mata persepsi malasnya sedang aktif secara pasif, mengawasi aliran debu yang melayang di udara. Dia merasakan sesuatu yang sangat mengganggu ketenangannya: sebuah niat pemujaan yang sangat kuat dari balik tirai sutranya.

"Zhao Er," panggil Lin Fan, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur selama seratus tahun.

Srett.

Tirai tersingkap sedikit. Zhao Er muncul dengan wajah yang berseri-seri, tangannya memegang sebuah buku kecil yang terbuat dari kertas bambu mahal. "Tuan Lin! Tuan sudah bangun tepat waktu. Saya baru saja selesai mendata daftar persembahan dari murid-murid luar pagi ini."

Lin Fan mengerutkan kening, menggeser bantalnya agar lehernya tidak kaku. "Persembahan? Sejak kapan aku membuka kuil di sini?"

Zhao Er terkekeh, sebuah tawa yang penuh dengan rasa bangga yang tidak pada tempatnya. "Bukan kuil, Tuan. Tapi mereka menyebutnya 'Peti Ketenangan'. Murid-murid luar percaya bahwa jika mereka meletakkan barang-barang berharga di depan pintu dapur, Tuan akan memberikan berkah 'Nasib Baik Tanpa Kerja Keras' kepada mereka. Pagi ini saja, kita menerima tiga botol minyak aromaterapi, lima bantal sutra dari Puncak Anggrek, dan... sekeranjang buah persik spiritual yang sudah dikupas kulitnya."

Lin Fan menghela napas panjang, sebuah desahan yang sangat berat hingga membuat gelembung ingus di hidungnya nyaris muncul kembali. "Persik yang sudah dikupas? Itu adalah tindakan provokasi terhadap kemalasanku. Mereka mencoba membuatku merasa bersalah karena tidak perlu mengupas buah."

Lin Fan duduk dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah setiap sendinya terbuat dari kaca yang rapuh. Dia menatap ke arah meja jagal yang kini sudah bersih mengkilap—terlalu bersih untuk ukuran sebuah dapur.

"Ini masalah besar," gumam Lin Fan. "Semakin banyak mereka memujaku, semakin sulit bagiku untuk kalah di turnamen nanti. Jika aku kalah terlalu cepat, mereka akan mengira aku sedang menunjukkan teknik 'Mengalah untuk Menang'. Jika aku menang... ah, memikirkannya saja membuat otot bahuku kram."

Lin Fan harus melakukan sesuatu. Dia harus merusak reputasinya sendiri. Dia butuh strategi 'Ikan Masin' (Salted Fish)—strategi di mana dia terlihat begitu tidak berguna, begitu malas, dan begitu bau hingga orang-orang akan kehilangan minat padanya.

"Zhao Er, ambilkan aku jubah yang paling kotor, paling bau, dan paling penuh lubang yang bisa kau temukan di gudang," perintah Lin Fan dengan tatapan serius yang jarang terlihat.

Zhao Er tertegun. "Tapi Tuan... kenapa? Koki Wang baru saja menyiapkan jubah sutra abu-abu dengan lapisan kapas hangat untuk Tuan."

"Lakukan saja. Dan jangan mandi. Aku juga tidak akan mandi selama tiga hari ke depan. Kita akan menciptakan aura 'Kegagalan Total'," Lin Fan tersenyum licik. Dalam pikirannya, ini adalah rencana yang sempurna. Jika dia terlihat menjijikkan, Diaken Hu mungkin akan mencoret namanya dari daftar turnamen karena dianggap merusak estetika panggung.

Namun, di dunia kultivasi, logika sering kali berjalan ke arah yang berlawanan bagi orang-orang seperti Lin Fan.

Sementara Lin Fan sedang berusaha menjadi "sampah", di Puncak Utama Sekte Awan Mengalir, sebuah pertemuan rahasia sedang berlangsung.

Tetua Agung Sekte, seorang pria dengan rambut putih panjang yang memancarkan aura tekanan Tingkat Dasar (Foundation Establishment), sedang duduk di hadapan Su Qingxue. Di tengah mereka, irisan Urat Naga Tanah yang dibawa Su Qingxue masih memancarkan sisa-sisa energi bumi yang murni.

"Jadi, kau mengatakan bahwa potongan ini dilakukan oleh seorang pelayan dapur?" suara Tetua Agung terdengar berat, mengguncang udara di dalam ruangan.

"Benar, Tetua Agung," Su Qingxue menjawab dengan nada penuh hormat. "Namanya Lin Fan. Dia tinggal di Dapur Luar. Cara dia bergerak... atau lebih tepatnya cara dia tidak bergerak, menunjukkan pemahaman tentang pedang yang jauh melampaui siapa pun di generasi kita. Dia menyebutnya sebagai 'kemalasan', tapi saya yakin itu adalah manifestasi dari Dao Kekosongan yang agung."

Tetua Agung mengelus janggutnya, matanya menyipit. "Menarik. Sangat menarik. Di dunia ini, banyak orang yang mengejar kekuatan dengan kekerasan, namun hanya sedikit yang memahami bahwa keheningan adalah kekuatan sejati. Jika dia benar-benar seorang ahli yang menyamar, dia pasti sedang menguji murid-murid kita. Turnamen Sekte Luar tujuh hari lagi... itu akan menjadi panggungnya."

"Tetua," Su Qingxue ragu-sejenak, "dia menolak tawaran saya untuk pindah ke Puncak Teratai Salju. Dia sepertinya sangat mencintai kehidupannya yang sederhana di dapur."

Tetua Agung tertawa kecil. "Orang-orang seperti itu tidak bisa dipancing dengan harta. Mereka hanya bisa dipancing dengan... ketenangan yang lebih besar. Biarkan dia di sana untuk saat ini. Aku akan mengirim pengawas rahasia untuk memantau 'latihannya'. Jangan ganggu dia, biarkan dia mengalir seperti air."

Kembali ke Dapur Luar, strategi 'Ikan Masin' Lin Fan mulai dijalankan.

Lin Fan kini mengenakan jubah pelayan yang sudah robek di bagian lengan, penuh dengan noda minyak yang sengaja dia percikkan dari penggorengan, dan dia duduk di depan pintu dapur dengan rambut yang berantakan. Dia memegang sebuah ranting pohon, mengorek-ngorek tanah dengan wajah yang sengaja dibuat melongo, seolah-olah dia kehilangan separuh kecerdasannya.

Dia berharap orang-orang yang lewat akan berbisik, "Lihat, ternyata dia hanyalah orang gila yang beruntung."

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Sekelompok murid luar yang sedang lewat tiba-tiba berhenti. Mereka melihat Lin Fan yang sedang mengorek tanah dengan ranting kayu. Salah satu dari mereka, seorang murid yang sudah terjebak di Tingkat 3 selama bertahun-tahun, tiba-tiba membelalakkan matanya.

"Lihat!" bisik murid itu dengan nada gemetar. "Lihat gerakan rantingnya! Itu bukan sekadar mengorek tanah! Itu adalah... teknik formasi kuno!"

"Kau benar!" sahut murid lainnya dengan penuh kekaguman. "Setiap goresan ranting itu mengikuti aliran nadi bumi. Dia sedang mengajarkan kita cara menyerap energi spiritual melalui telapak kaki! Dan lihat jubahnya yang kotor... itu adalah simbol dari 'Kesederhanaan Mutlak'. Dia mengabaikan penampilan lahiriah demi kemurnian jiwa!"

Murid-murid itu serentak berlutut di kejauhan, tidak berani mendekat karena takut mengganggu "meditasi" Lin Fan. Mereka mulai meniru gerakan Lin Fan, mengorek-ngorek tanah dengan ranting kayu masing-masing, mencoba mencari pencerahan dari debu.

Lin Fan, yang mendengar percakapan mereka melalui indra pendengarannya yang tajam (hasil dari kenaikan tingkat sistem), merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Apa-apaan ini?! batin Lin Fan menjerit. Aku hanya sedang bosan dan ingin tahu apakah ada cacing tanah di sini! Kenapa kalian semua mulai ikut mengorek tanah?!

[Ding! Terdeteksi tindakan Host yang secara tidak sengaja menginspirasi orang lain untuk menjadi malas (mengorek tanah daripada berlatih pedang).]

[Misi Rahasia Selesai: 'Guru bagi Para Pemalas'.]

[Menerima Pengalaman Kultivasi +700]

[Inisiasi Terobosan Otomatis: Selamat! Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 6!]

Lin Fan merasakan sebuah ledakan energi Qi yang sangat kuat di dalam tubuhnya. Otot-ototnya mengencang, tulangnya mengeluarkan suara seperti dentuman drum kecil, dan kulitnya memancarkan cahaya keemasan tipis sebelum akhirnya kembali normal.

Dia merasa lebih kuat, lebih segar, dan... lebih berat.

"Sialan!" Lin Fan mengumpat pelan, melemparkan ranting kayunya ke tanah. "Semakin aku berusaha terlihat bodoh, sistem ini justru membuatku semakin kuat! Jika ini terus berlanjut, aku akan menjadi juara turnamen tanpa perlu mengeluarkan satu jurus pun!"

Pada saat itu, Zhao Er berlari keluar dari dapur dengan wajah panik. "Tuan Lin! Tuan Lin! Gawat!"

Lin Fan menoleh malas. "Apa lagi sekarang? Apakah ada yang membawa persik yang sudah dipotong dadu?"

"Bukan, Tuan! Diaken Hu kembali! Dan kali ini dia tidak sendiri. Dia membawa Tetua Inspeksi dari Aula Disiplin! Mereka mendengar tentang 'Master Tanah' yang sedang memberikan ceramah diam di depan dapur!"

Lin Fan menatap ke arah gerbang dapur. Benar saja, Diaken Hu yang masih sedikit pincang sedang berjalan bersama seorang pria tua berjubah hitam dengan wajah yang sangat keras, seolah-olah wajahnya dipahat dari batu granit.

"Itu dia, Tetua!" Diaken Hu menunjuk ke arah Lin Fan. "Dia yang saya ceritakan. Dia sedang... sedang..." Diaken Hu terhenti saat melihat Lin Fan yang mengenakan jubah kotor dan duduk di tanah.

Tetua Inspeksi, yang dikenal sebagai 'Mata Elang' karena kemampuannya melihat kebohongan, berhenti tepat sepuluh langkah dari Lin Fan. Dia menyipitkan matanya, mengamati setiap inci dari sosok Lin Fan.

Suasana menjadi sangat sunyi. Murid-murid yang tadinya mengorek tanah segera bangkit dan menundukkan kepala dengan hormat.

Tetua Inspeksi berjalan maju, langkahnya menciptakan tekanan udara yang membuat debu di sekitar Lin Fan beterbangan. Dia berhenti tepat di depan Lin Fan yang masih duduk di tanah dengan wajah melongo.

"Pelayan Lin Fan," suara Tetua Inspeksi dingin dan tajam. "Aku menerima laporan bahwa kau menggunakan otoritas Su Qingxue untuk menghindari tugas dapur dan menciptakan sekte kecil di sini. Penampilanmu... sangat tidak pantas bagi seorang murid Sekte Awan Mengalir."

Lin Fan merasa ini adalah kesempatannya. Dia segera memasang wajah yang lebih bodoh lagi. "Me-menjawab Tetua... hamba memang malas. Hamba tidak suka mandi, hamba benci berlatih, dan jubah ini... jubah ini adalah jubah terbaik hamba karena hamba terlalu malas untuk mencucinya. Mohon hukum hamba dengan mencoret nama hamba dari turnamen!"

Diaken Hu tersenyum puas. "Dengar itu, Tetua! Dia mengakuinya sendiri! Dia hanyalah sampah yang..."

Namun, Tetua Inspeksi tidak menjawab. Dia justru berjongkok, menyentuh tanah yang tadi dikorek oleh Lin Fan dengan ranting kayu. Dia menutup matanya sejenak, lalu matanya tiba-tiba terbuka lebar, memancarkan cahaya keemasan.

"Luar biasa..." bisik Tetua Inspeksi, suaranya bergetar.

Dia berdiri kembali, namun kali ini tekanan auranya menghilang sepenuhnya. Dia menatap Lin Fan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara ketakutan dan rasa hormat yang mendalam.

"Menggunakan noda minyak untuk menutupi aura spiritual, mengenakan pakaian kotor untuk menghancurkan kesombongan diri, dan mengorek tanah untuk berkomunikasi dengan energi bumi..." Tetua Inspeksi menghela napas panjang, lalu dia membungkuk dalam-dalam kepada Lin Fan.

"Maafkan ketidaksopanan saya, Senior Lin. Saya hampir saja tertipu oleh wujud luar Anda. Kebijaksanaan Anda untuk tetap berada di tingkat paling bawah demi memahami Dao sejati adalah sesuatu yang tidak bisa saya jangkau."

Lin Fan: "..."

Diaken Hu: "???"

"Diaken Hu!" bentak Tetua Inspeksi sambil berbalik. "Berani-beraninya kau menyebut Senior Lin sebagai sampah! Mulai hari ini, Dapur Luar adalah wilayah terlarang bagi siapa pun yang tidak berkepentingan! Dan mengenai turnamen..."

Tetua Inspeksi kembali menatap Lin Fan dengan senyuman yang sangat sopan. "Senior Lin, saya tahu Anda ingin tetap rendah hati. Karena itu, saya secara pribadi akan memindahkan posisi Anda di turnamen. Anda tidak akan bertanding di babak penyisihan murid luar yang bising. Anda akan langsung masuk ke Babak Unggulan, di mana Anda hanya perlu bertanding satu kali di panggung utama untuk menunjukkan 'pencerahan' Anda kepada semua orang."

Lin Fan merasa dunianya runtuh. Babak Unggulan? Panggung utama? Di depan semua tetua dan Su Qingxue?!

Itu artinya dia harus berdiri di tengah arena, menjadi pusat perhatian ribuan orang, dan dia tidak punya cara untuk pingsan secara diam-diam karena semua orang akan mengawasi setiap hembusan napasnya.

"Satu pertandingan saja, Senior," ucap Tetua Inspeksi dengan nada membujuk. "Setelah itu, Anda bebas kembali tidur di sini selamanya. Saya sendiri yang akan menjamin ketenangan Anda."

Lin Fan menatap langit yang cerah, merasa seolah-olah langit sedang menertawakannya.

"Baiklah..." gumam Lin Fan, suaranya hampir hilang. "Satu pertandingan. Tapi tolong... sediakan kursi di tengah arena. Berdiri terlalu lama membuat kakiku pegal."

Tetua Inspeksi tertegun, lalu mengangguk mantap. "Tentu saja! Seorang ahli seperti Anda berhak memiliki tempat duduk di mana pun Anda inginkan! Saya akan menyiapkan kursi kayu cendana terbaik!"

Setelah Tetua Inspeksi dan Diaken Hu yang bingung pergi, Lin Fan perlahan menjatuhkan tubuhnya ke tanah, berbaring menatap awan.

[Ding! Misi Sampingan Selesai: Mendapatkan rasa hormat dari Aula Disiplin.]

[Menerima: 'Kursi Goyang Energi Qi' (Kursi yang bisa bergerak sendiri dan memijat punggung Host selama bertanding).]

"Sistem..." bisik Lin Fan dengan air mata yang nyaris menetes. "Kau benar-benar ingin aku menjadi legenda, ya? Tapi aku hanya ingin menjadi ikan masin yang tenang..."

Zhao Er mendekat, wajahnya penuh kekaguman. "Tuan Lin, Anda benar-benar hebat! Bertanding sambil duduk! Itu akan menjadi sejarah baru di sekte ini!"

Lin Fan tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya, mencoba mencari cara bagaimana caranya bertanding sambil tidur tanpa membuat kursinya hancur.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!