Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rencana Perbaikan Darurat
Kegelapan malam di luar panti memberikan kontras tajam bagi Bayu terhadap cahaya temaram di ruang tengah. Tekad yang tumbuh di hatinya memompa adrenalin yang telah lama padam sejak kebangkrutannya di Jakarta.
Ia tidak lagi melihat panti ini sebagai sisa masa lalu, melainkan garis pertahanan terakhir yang harus dijaga. Fahmi yang menangkap semangat itu segera merogoh saku jaket lusuhnya untuk mengeluarkan sebuah senter kecil.
Cahaya putih dari senter itu membelah bayangan plafon yang memiliki noda cokelat pekat bekas rembesan air. Fahmi mengarahkan sinarnya ke kayu penyangga yang nampak sudah melengkung ke bawah karena beban air.
"Lihat itu, Bay. Genteng di atas situ sudah bergeser jauh sejak angin kencang minggu lalu," ucap Fahmi sembari menstabilkan sorotan senternya.
Bayu mendongak, matanya menyipit mengikuti arah cahaya. Ia memperhatikan celah kecil di antara susunan genteng yang memungkinkan air hujan terjun bebas ke atas plafon.
Bayu segera merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas kecil yang tadi ia gunakan untuk mencatat stok bahan makanan. Ia membalik kertas tersebut, memanfaatkan ruang kosong di bagian belakang untuk mencatat posisi-posisi kerusakan struktur yang baru saja mereka temukan.
"Genteng sisi utara, geser sekitar lima sentimeter. Plafon jebol, risiko runtuh," gumam Bayu sembari menulis dengan tulisan tangan yang cepat namun rapi.
Mereka berdua kemudian mulai bergerak, berjalan mengelilingi ruang tengah panti asuhan tersebut untuk memeriksa setiap sudut dinding secara lebih mendalam. Langkah kaki mereka terdengar beradu dengan lantai keramik yang dingin, menciptakan irama yang sinkron di tengah gumaman kecil anak-anak yang mulai merapikan bekas makan mereka.
Fahmi bertugas sebagai pemegang cahaya, sementara Bayu bertindak sebagai inspektur yang meneliti setiap retakan dan kejanggalan pada bangunan tersebut.
"Mi, geser senternya ke bawah sedikit. Dekat ubin itu," perintah Bayu saat matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan di dekat pondasi.
Benar saja, retakan vertikal yang mereka lihat tadi ternyata berakar dari lantai yang nampak amblas sedalam dua sentimeter. Bayu kembali mencatatnya dengan dahi yang berkerut semakin dalam, menyadari bahwa perbaikan darurat ini tidak akan bisa dilakukan hanya dengan semen biasa.
"Strukturnya benar-benar sudah tidak sehat, Mi. Ini kalau ada guncangan sedikit saja, risikonya fatal," ujar Bayu tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan.
Ia merasa ngeri membayangkan anak-anak tidur di ruangan ini setiap malam tanpa tahu bahwa bahaya sedang mengintai tepat di atas kepala mereka.
Perjalanan observasi mereka membawa Bayu ke area di dekat saklar lampu utama yang berada di dekat pintu masuk menuju kamar anak-anak. Saat Fahmi menyinari area tersebut, mata tajam Bayu menangkap kilatan tembaga dari balik plastik penutup kabel yang sudah mengeras dan pecah.
Bayu terkesiap, ia mendekat dan menemukan kabel listrik yang terkelupas parah tepat di dekat saklar yang setiap hari ditekan oleh tangan-tangan mungil anak panti.
"Astaga, Mi! Ini bahaya banget! Kabelnya telanjang begini, kalau ada anak yang nggak sengaja pegang pas tangannya basah, bisa fatal!" seru Bayu dengan nada yang penuh kecemasan.
Fahmi ikut mendekat, wajahnya nampak pucat pasi saat melihat kabel yang terkelupas itu, menyadari betapa lalainya pengawasan terhadap detail-detail mematikan seperti ini.
Bayu tidak menunggu perintah, ia segera memutar badan dan mencari-cari sesuatu di sekitar ruang tengah yang bisa digunakan.
"Nay! Di mana kalian simpan isolasi atau lakban?" tanya Bayu dengan suara yang sedikit meninggi ke arah meja makan.
Nayla, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kerja sama kedua sahabat lamanya itu dari kejauhan, nampak sedikit terkejut namun segera bereaksi cepat.
"Ada di laci meja belajar anak-anak, Bay! Sebentar aku ambilkan!" sahut Nayla sembari setengah berlari menuju meja besar di pojok ruangan.
Ia merogoh laci kayu yang berderit dan mengeluarkan gulungan isolasi hitam yang sudah hampir habis, lalu menyerahkannya kepada Bayu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bayu menerima isolasi tersebut dan segera kembali ke arah saklar lampu tanpa membuang waktu sedetik pun. Ia berjongkok, fokus matanya terkunci pada kabel tembaga yang mencuat tersebut.
Sementara Fahmi memastikan senternya menyinari area itu dengan stabil. Bayu mulai melilitkan isolasi hitam tersebut dengan sangat hati-hati, memastikan setiap inci bagian yang terkelupas tertutup rapat dan aman dari sentuhan.
Nayla berdiri mematung di dekat meja makan dengan mata yang sama sekali tidak lepas dari sosok Bayu yang kini nampak begitu berbeda. Ia melihat Bayu yang biasanya angkuh dan menjaga jarak, kini rela berlutut di atas lantai berdebu demi keselamatan anak-anak panti.
Ada rasa haru mendalam yang menjalar di hati Nayla melihat bagaimana kedua pria itu kini kembali bahu-membahu dengan sangat kompak. Ia merasa seolah-olah waktu tidak pernah memisahkan mereka dalam sebuah jalinan persahabatan yang tulus dan sangat menyentuh perasaan batinnya.
Bayu terus bekerja dengan fokus yang luar biasa tanpa mengeluarkan suara sama sekali saat jemarinya yang terampil merapikan kabel-kabel semrawut itu. Baginya, setiap lilitan isolasi hitam ini adalah bentuk penebusan dosa atas tahun-tahun yang ia habiskan hanya untuk memikirkan keuntungan pribadi.
Keringat mulai menetes dari pelipisnya dan jatuh ke lantai keramik yang dingin, namun ia tidak peduli sama sekali dengan kondisi fisiknya. Keselamatan panti asuhan yang sudah menua ini kini telah sepenuhnya menjadi misi hidupnya yang baru di tengah himpitan kesulitan ekonomi.
Setelah memastikan kabel tertutup sempurna, Bayu berdiri tegak dan menarik napas panjang untuk melegakan paru-parunya. Ia menatap saklar lampu itu selama beberapa saat guna memastikan tidak ada lagi bagian terbuka yang membahayakan nyawa anak-anak.
Ia kemudian melirik ke arah catatan di tangannya yang kini sudah penuh sesak dengan daftar kerusakan bangunan. "Ini baru satu lubang yang tertutup, Mi. Masih banyak lubang lain yang harus kita tambal sebelum terlambat," ucap Bayu dengan nada serius sembari menyimpan kembali kertas catatannya.
Fahmi mematikan senter kecilnya sehingga cahaya di ruangan itu kembali menjadi temaram dan sunyi seperti semula. "Setidaknya malam ini mereka bisa tidur tanpa takut kesetrum, Bay," sahut Fahmi sambil menghela napas lega yang nampak tulus.
Suasana batin mereka terasa jauh lebih terang dari sebelumnya meskipun kegelapan malam mulai menyelimuti panti asuhan tersebut. Mereka bertiga berdiri dalam diam sejenak, menatap sekeliling ruang tengah yang rapuh namun sebenarnya sangat penuh dengan nyawa.
Bayu menyadari bahwa rencana perbaikan darurat ini hanyalah permulaan kecil dari sebuah perjuangan yang sangat panjang. Ia tahu hari-hari mendatang selama bulan Ramadan ini akan menjadi ujian yang menguras tenaga dan batinnya demi menyelamatkan panti ini.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰