Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Dialah Mimpinya
Stella kini telanjang sepenuhnya.
Kayson jelas dalam masalah, karena Stella tampak sempurna. Payudara yang sekal, kismis yang mengeras, lekuk tubuh yang indah.
Dan Stella bergerak mendekatinya. Kedua tangannya bertumpu di bahu Kayson saat dia berlutut dan menatapnya. "Lo masih pake baju."
Kayson menelan ludah. Dua kali. "Gue bisa beresin itu."
Senyumnya penuh godaan nakal. "Gue juga bisa."
Tangannya bergerak ke depan kemeja Kayson. Dia mengira Stella akan membuka kancingnya, tetapi Stella justru meremas kainnya dan menariknya kuat.
Kancing-kancing pun beterbangan.
"Ups!" Stella mengedipkan mata.
Meski hasrat hampir menelannya bulat-bulat, Kayson tetap tertawa pelan. "Ya Tuhan, Stella ...."
Stella menunduk dan mencium dadanya, menjilat, dan mengisap. Tangannya turun ke pinggang Kayson, membuka celananya. Saat tubuhnya terlepas, jemari Stella menggenggam batangnya, mengusap dari pangkal hingga ujung. Kayson pun memejamkan mata karena dia merasa hampir kehilangan kendali.
Sial.
Niat untuk tetap tenang langsung runtuh. Dia benar-benar merasakan kendalinya menguap. Geraman rendah keluar saat jemarinya mencengkeram bahu Stella.
Kalau Stella terus seperti itu lebih lama lagi, dia akan mencapai puncak. Dia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Ya, tentu dia menginginkannya, tetapi dia juga ingin memastikan Stella lebih dulu merasakan puncaknya, dan dia bahkan belum mulai membawanya ke sana.
Lidah Stella menyentuh ujung keperkasaan Kayson.
Kayson pun kehilangan kendali.
Dia meraih bahu Stella dan mendorongnya kembali ke atas ranjang.
"Eh, gue belum selesai!"
Kayson tidak mampu menjawab dengan jelas. Mungkin dia menggeram. Mungkin lebih dari sekali.
Dia menahan kedua tangan perempuan itu di atas kepala, menggenggamnya dengan satu tangan. Batangnya sudah berada di antara paha perempuan itu, siap untuk masuk, tetapi dia belum bergerak.
Dengan tangan yang lain, dia mengusap kacang Stella, menggosoknya berulang kali.
Tekanannya pas.
Temponya pas.
Semuanya pas.
Perempuan itu melengkungkan punggungnya ke arahnya, dan Kayson pun masuk dalam-dalam.
Pelan-pelan.
Hati-hati.
Kayson mulai bergerak keluar masuk secepat yang dia bisa. Menghunjam dalam. Menghantam keras. Kaki perempuan itu pun melingkari pinggulnya saat dia merebut mulut Kayson dalam ciuman liar.
Seprai sutra bergeser di bawah tubuhnya ketika Kayson terus menghunus semakin dalam, dan perempuan itu mencapai klimaks, tubuhnya menegang dan berkontraksi di sekelilingnya, mengikuti gelombang kenikmatan.
Kayson pun melepas benihnya di dalam rahim Stella, hingga tubuhnya bergetar.
Kayson menciumnya lagi. Menciumnya dengan rasa lapar yang dia takut tak akan pernah terpuaskan. Sama seperti hasrat liar yang dia rasakan pada Stella, dia tidak yakin perasaan itu akan pernah berakhir.
Dulu dia pernah meyakinkan diri sendiri, jika suatu hari dia benar-benar memiliki Stella, jika dia bisa menempatkan perempuan itu di bawahnya, di atasnya, atau dengan cara apa pun yang dia bisa, pesona yang perempuan itu miliki atas dirinya akan lenyap.
Tantangannya akan hilang.
Perempuan itu hanya akan kembali menjadi Stella.
Bukan perempuan yang menghantuinya.
Bukan pula perempuan yang menyusup ke dalam mimpinya.
Ternyata dia salah besar.
Perempuan itu akan selalu menghantuinya.
Karena dialah mimpinya.
Kayson menarik diri dan menatapnya sejenak. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia berbalik dan berjalan ke kamar mandi.
Di sana ada bathtub besar berkaki ukir, cukup luas untuk dua orang. Kayson membuka keran, membiarkan uap memenuhi udara, lalu mengembuskan napas pelan.
Kali ini dia harus tetap mengendalikan diri.
Kayson kembali ke kamar.
Namun tempat tidurnya kosong.
Apa-apaan ini?
Pintu kamar terbuka.
“Stella!” Kayson memanggil namanya keras-keras. Mungkin juga dia sempat ingin mengejarnya, tetapi saat perempuan itu berbalik di lorong dengan mata membelalak dan ada sedikit bayangan takut di tatapan keemasannya, dia langsung menahan diri.
“Sayang ....” Suaranya lebih rendah sekarang, jauh lebih terkendali. Dia bukan tipe orang yang suka berteriak. Setidaknya dulu begitu. Barusan dia hanya panik sesaat. “Kenapa lo keluar?”
Stella sudah mengenakan kembali kemeja putihnya, baru satu kancing yang terpasang. “Eh ... gue kira kita udah selesai. Soalnya Lo pergi.”
Selesai?
Dia nyaris tertawa. “Gue cuma nyiapin air buat mandi. Gue pikir lo mau mandi.”
Perempuan itu menarik daun telinga kirinya. “Lo belum ... selesai?”
“Belum ... sama sekali.” Tatapannya tajam. “Lo udah?”
Mata mereka saling terpaut.
Kayson sampai lupa bernapas.
Tangannya terjatuh saat perempuan itu menggeleng. “Belum. Gue belum selesai.”
Kayson langsung mengangkatnya lagi ke dalam pelukannya.
Stella tertawa kecil. “Lo harus berhenti gendong-gendong gue terus!”
Tubuhnya kecil dan menggoda, dan dia memang suka merasakan perempuan itu di lengannya.
Lengan Stella melingkari lehernya, kaki perempuan itu mengait di pinggulnya. Posisi yang sempurna.
Kayson menciumnya sambil berbalik, membawanya kembali ke kamar. Ciuman itu tak terputus saat dia melangkah masuk ke kamar mandi.
Dengan satu tendangan, Kayson menutup pintu di belakang mereka, sementara uap air semakin memenuhi ruangan.