Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tensi Tinggi di Parkiran
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, tapi Rian sudah standby di depan kelas XI-2. Dia berdiri bersandar di tembok koridor dengan gaya yang bikin beberapa siswi yang lewat curi-curi pandang, tapi fokus matanya cuma satu: pintu kelas Arini. Begitu Arini muncul sambil ngerapiin tas Levis-nya, wajah Rian langsung berubah cerah.
"Arini..." panggil Rian lembut.
Arini menoleh dan tersenyum manis, rasa capek habis pelajaran kimia langsung hilang separuh. "Rian..."
"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Rian sambil ngeraih tangan Arini pelan.
Arini mengangguk mantap. "Yuk!"
Baru saja mereka mau melangkah nuju parkiran, suara teriakan yang sangat familier memecah suasana. Yusa berdiri di ambang pintu kelas dengan muka yang kelihatan nggak santai.
"Rin! Jangan lupa ya, besok kita harus kerja kelompok di rumah Siska. Jangan sampai telat!" teriak Yusa dengan nada yang sengaja dikencangkan.
Arini menghentikan langkahnya sebentar, lalu menoleh. "Iya, Yus. Inget kok, tenang aja," jawab Arini seadanya.
Rian yang ngerasa ada bad vibes langsung masang badan. Dia natap Yusa dengan tatapan tajam bin dingin. "Lo sengaja kan bikin kelompokan sama Arini biar lo bisa bareng dia terus?" gertak Rian langsung to the point.
Yusa nyengir remeh, nyoba buat stay cool padahal hatinya panas. "Lo ngomong apaansi? Arini sama gue emang sekelas, satu pengurus pula. Jadi emang salah kalau dia kerja kelompok bareng gue? Hah? Jangan posesif amat lah," balas Yusa provokatif.
Rian maju satu langkah, auranya mendadak intimidatif. "Halah, nggak usah pakai alasan tugas. Gue tahu skill lo. Lo pikir gue nggak tahu tugas itu sebenarnya bisa lo kelarin sendiri tanpa harus pakai acara kelompok-kelompokan segala? Taktik lo basi," semprot Rian pedas.
Situasi makin chaos karena beberapa siswa mulai berhenti buat nonton drama gratis ini. Arini yang nggak mau masalah makin panjang langsung megang lengan Rian.
"Rian... udah. Rian, please jangan ribut terus di sekolah. Malu dilihat orang, nanti kamu bisa kena masalah lagi," bujuk Arini dengan tatapan memohon.
"Sudah ya, yuk pulang sekarang." Arini menarik tangan Rian dengan kuat, maksa cowok itu buat move on dari parkiran.
Motor sport hitam Rian membelah jalanan kota yang mulai padat. Di atas motor, suasana masih kerasa kaku. Rian sengaja narik gas lebih kencang, seolah-olah lagi buang sisa amarahnya tadi.
"Kamu larang aku ributin Yusa tadi... sebenarnya kamu lagi bela dia ya?" tanya Rian tiba-tiba, suaranya agak teredam helm tapi kerasa banget nada cemburunya.
Arini yang lagi pegangan erat di pinggang Rian langsung protes. "Loh, nggak gitu Aku cuma nggak mau kamu ribut di sekolah. Kamu baru aja balik dari skorsing, Rian. Aku nggak mau kamu kena masalah lagi terus kita nggak bisa ketemu di sekolah," jelas Arini jujur.
Rian menghela napas panjang, mencoba buat nurunin egonya. "Aku tahu kamu bisa selesaiin tugas itu sendiri tanpa harus kerja kelompok, Rin. Aku mohon banget sama kamu ya... jangan dekat-dekat sama Yusa. Dia itu suka sama kamu. Percaya sama aku, Rin. Penerawanganku nggak pernah meleset soal niat orang," ucap Rian dengan nada yang jauh lebih lembut namun penuh penekanan.
Arini terdiam sejenak, ngerasain ketulusan Rian yang bener-bener pengen jagain dia. "Iya, aku janji nggak akan dekat-dekat dia kalau bukan urusan penting banget. Sudah buat kamu tenang belum?" tanya Arini mencoba mencairkan suasana.
Rian tersenyum di balik kaca helmnya. "Makasih ya, pacarku yang paling pengertian,".
Arini tertawa kecil, dia nyenderin kepalanya di bahu Rian. "Ternyata peramal sakti bisa cemburu brutal juga ya? Haha!" goda Arini.
"Aku cemburu karena ada alasannya, Rin. Dia itu emang beneran suka kamu. Penerawangan aku bilang semuanya, dari cara dia natap kamu sampai cara dia cari-cari alasan buat bareng kamu," balas Rian membela diri.
"Tapi kan aku sukanya cuma sama kamu, Rian," ucap Arini spontan.
Mendengar itu, Rian hampir saja kehilangan fokus nyetir. "Oh... sudah mulai jago gombal juga nih ternyata?"
Arini tertawa makin lebar, ngerasa menang. "Ya gimana ya, bakat kamu kayaknya mulai turun ke aku deh. Haha!"
Rian ikut tertawa, rasa panas di dadanya gara-gara Yusa tadi langsung healing total gara-gara satu kalimat Arini. Di bawah langit sore, mereka berdua makin sadar kalau hubungan mereka jauh lebih kuat dari sekadar ramalan.
Begitu motor sport hitam itu berhenti di depan pagar rumah Arini, Rian nggak mampir kayak biasanya. Dia cuma nunggu Arini turun, mastiin pacarnya aman masuk ke halaman, terus langsung pamit cabut buat ngasih ruang Arini istirahat. Rian nggak mau makin overthink kalau kelamaan di sana, apalagi bayangan Yusa tadi masih nempel di otaknya kayak malware.
Arini melangkah masuk ke kamarnya yang tenang, ngelempar tas Levis-nya ke kursi, dan langsung rebahan di kasur. Baru juga mau narik napas lega, ponselnya getar di atas nakas.
Ting! Sebuah notifikasi WhatsApp muncul. Dari Yusa.
Yusa: "Rin, besok gue sama Siska kerja kelompok di rumah lo aja ya? Biar aman, biar si Rian nggak perlu marah-marah nggak jelas lagi di parkiran sekolah kayak tadi."
Arini ngerutin dahi. Dia tahu Yusa lagi nyoba manipulative dikit dengan bawa-bawa nama Rian sebagai alasan. Ingat janjinya di atas motor tadi, Arini langsung set boundary tegas. Dia nggak mau ngerusak kepercayaan Rian cuma demi tugas yang sebenarnya bisa dia handle sendiri.
Arini: "Aduh, Yus, sori banget. Kayaknya gue bakalan kerjain tugas itu sendiri deh malam ini. Gue lagi mood nugas sendirian. Jadi besok kalian nggak usah ke sini ya. Gue minta maaf banget, lo selesaiin aja berdua sama Siska."
Nggak butuh waktu lama buat Yusa balas. Kayaknya dia emang lagi standby nungguin jawaban Arini.
Yusa: "Loh, kok mendadak gitu sih, Rin? Kan aturannya dari Bu Endang emang disuruh kerja kelompok. Nggak enak lah kalau lo misah sendiri gitu, ntar dikira ada masalah internal."
Arini menghela napas panjang. Dia bener-bener pengen jadi cewek yang mandiri sekaligus ngejaga perasaan pacarnya. Dia takut kalau dia manut terus sama Yusa, Rian bakal meledak lagi.
Arini: "Nggak apa-apa kok, Yus. Gue lagi pengen mandiri aja buat tugas ini. Gue rasa gue bisa kok. Sekali lagi maaf ya, Yusa. Good luck nugasnya bareng Siska!"
Arini langsung naruh ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Dia nggak mau debat lagi. Arini udah berjanji sama Rian di atas motor tadi, dan dia bener-bener nggak mau ingkar janji. Ada rasa takut yang jujur kalau Rian bakal marah besar, tapi lebih dari itu, Arini emang pengen ngebuktiin kalau "Sang Peramal" itu emang prioritas utamanya.