Kisah cinta Xavier dan Aruna yang harus melewati banyak hal dalam rumah tangga mereka. Xavier adalah tipe suami posesif. sedangkan Aruna adalah istri cuek. sehingga beda sifat mereka kadang membuat mereka berselisih dan berseteru.
Namun hal itu tak membuat cinta keduanya luntur dan menghilang begitu saja. Malah hal itu membuat mereka menjadi semakin saling mencintai.
namun di balik kebahagiaan mereka ternyata ada orang yang ingin memisahkan keduanya. mampukan mereka melewati badai besar dalam rumah tangganya? dan siapakah orang itu....ikuti terus kisah cinta mereka berdua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier-Aruna 28
"Bu Aruna ... Boleh saya masuk?" panggil Danar masuk ke dalam ruangan Aruna.
"Silahkan Pak Danar!" jawab Aruna dan meminta Pak Elan untuk keluar dulu saat melihat ekspresi pamannya itu. Dia tahu kalau Danar keberatan dengan kebersamaan Pak Elan di sana.
"Nak, apa kamu bis mempertimbangkan jabatan untuk dua saudaramu juga? Kalian kelurga, dan mereka ingin belajar mengelola perusahaan!" ujar Danar pada akhirnya.
"Jika memang mereka berniat belajar mengelola perusahaan, masa bisa memulai dari bawah. Agar mereka juga paham dan mengerti ketika dia memiliki jabatan tinggi mereka tidak akan pernah bisa dibohongi oleh bawahannya. Karena jika langsung mendapat kecepatan yang tinggi, mereka tidak akan paham bagaimana cara kerja di bawah. Sehingga pada akhirnya banyak membuat kesalahan dan miskomunikasi. Dan apabila hal itu terjadi, maka yang akan dirugikan adalah perusahaan!" jawaban Aruna membuat Dana kicep.
Dia menyadari kalau salah bicara kepada Aruna. Seharusnya dia tak menggunakan kata 'belajar' untuk kedua anaknya. Hingga akhirnya dia malah bingung sendiri untuk bicara lagi.
"Yang kamu katakan memang benar tapi, apa kamu tega membiarkan mereka memulai bekerja dari staff bawah? Apa kamu tidak malu, karena mereka adalah saudara kamu sendiri. Bahkan cucu dari pemilik perusahaan ini!" jawab Danar setelah beberapa saat terdiam mencari alasan kembali.
"Tidak sama sekali. Saya tidak akan malu, justru saya merasa bangga karena mereka memulai dari bawah dan dengan begitu mereka akan menjadi pemimpin perusahaan yang kuat dan tak mudah di bidohi sehingga membuat perusahaan di gerogoti para cunguk dan akhinya bangkrut. Seperti sekarang, om lihat sendiri kan? Bagaimana perusahaan yang dibangun oleh Mahardika di penuhi dengan para menghisap dana perusahaan? Semua itu karena kebanyakan dari mereka yang menduduki jabatan tinggi adalah karena koneksi, bukan karena kemampuannya! sehingga yang ada di otak mereka adalah korup! Dulu bahkan saya memulai belajar di perusahaan Dnegan menjadi Office girl, di perusahaan Bima, setelahnya menjadi staff, belajar administrasi dasar!" jelas Aruna panjang lebar.
"Om paham, tapi mereka pasti malu ..."
"Jika mereka memiliki kemampuan bagus, Om tak perlu khawatir. Tes yang di berikan juga tak sulit, semuanya adalah tes dasar yang mudah kok! Doakan saja nanti kedua anak om lolos .dalam seleksi ketat kali ini. Dan mendapatkan jabatan sesuai yang mereka inginkan. Apa om yakin berpa kerugian perusahaan?" tanya Aruna di akhir ucapannya.
"Om tahu, om baru membaca laporannya," jawab Danar.
"Itu baru laporan awal! Karena aku akan terus menerus sampai ke akarnya! Aku tak akan membiarkan ada orang berhati busuk masih tetap tinggal di perusahaan ini! Aku tak akan pandang bulu, siapapun mereka! Baik teman ataupun saudara, aku akan membuat mereka jera! Apalagi mereka mengambil hak banyak orang!"ujar Ayana penuh penekanan.
Seketika tubuh Danar menegang, dia merasa tertem-bak dengan ucapan Aruna. Sehingga membuatnya pamit dari ruangan Aruna karena merasa situasi di sana sudah mulai tak nyaman. Dia tak bisa bernegosiasi dengan keponakannya itu untuk jabatan kedua anaknya.
"Apa mungkin Aruna tahu rencanaku? Tapi mana mungkin? Bagaimana dia bisa tahu semua rencana kami? Pastinya tak mungkin! Tapi kenapa sikapnya berubah menjadi dingin padaku! Biasanya dia selalu hangat! Apa karena dia sedang berada di perusahaan saja sehingga ingin memperlihatkan kekuatan dan juga dominasinya sebagai pemilik perusahaan?" Danar masih tak habis fikir dengan sikap Aruna hari ini.
Bahkan rapat dadakan ini dia tak pernah membahasnya sama sekali dengan dirinya. Begitupun dengan pengangkatan Pak Elan sebagai tangan kanannya. Walau sebenarnya itu adalah hak peto dari Aruna sendiri. Namun tetap saja kali ini dia merasa tak di hargai oleh Aruna. Karena biasanya dia akan selalu membicarakan apapun dengan dirinya mengenai keputusan perusahaan.
Sedangkan di tempat lain, kedua anak Danar sedang menunggu hasil tes pertama. Semua orang menunggu dengan sangat gelisah. Tes kali ini benar-benar, berbeda dan sangat sulit.
"Bang, aku takut sekali, aku tak menyelesaikan semuanya dengan baik karena aku sangat pusing dengan semuanya. Aku tak mengerti apapun juga! Apa aku bisa lulus?" ujar Anastasia yang terlihat panik dan takut.
"Semoga kita bisa lulus dan menempati jabatan yang sudah di rencanakan sebelumnya. Papa bilang dia akan mencoba kembali bicara pelan-pelan dengan Aruna. Semoga saja dia kali ini mau percaya kepada Ayah jika kita mampu dan pantas menempati jabatan yang kita inginkan!" jawab Revano mencoba untuk menenangkan adiknya.
"Baiklah, semoga saja papa bisa membujuk wanita sombong itu. Aku benar-benar kesal dengan sifat dia yang semakin hari semakin terlihat kesombongannya! aku berjanji suatu hari nanti aku akan membuat kesombongannya itu hancur berkeping-keping dan dia akan tunduk kepada kita!" kesal Anastasia yang merasa iri dengan kehidupan Aruna yang sekarang.
Padahal mereka sudah tahu bagaimana cerita kehidupan Aruna saat masih kecil bersama dengan bapak dakjalnya itu. Tak tahukah mereka jika karakter tegas dan juga cerdik serta selalu waspada dari Aruna adalah buah dari semua kehidupan mengerikan yang dia lalui belasan tahun tanpa jeda dengan penyik-saan dari ayahnya sendiri?
Sedangkan mereka berdua hidup enak bersama dengan keluarganya dari kecil dan di manjakan dengan segudang fasilitas mewah. Mereka menjalani hidup susah di pengasingan dua tahun saja sudah merasa diri paling menderita sedunia. Padahal ternyata Sandy masih memberikan uang kepada mereka walau tak banyak namun seharusnya cukup untuk hidup mereka bertiga kalau berhemat.
Tapi, karena mereka kebiasaan boros sehingga saat mendapatkan uang mereka mengenyangkan perut dengan membeli makanan mahal dan beberapa pakaian. Sehingga belum ada satu Minggu semua uang itu habis dan mereka harus kembali menggembel.
Akan tetapi pengakuan mereka selama ini tak pernah mendapatkan uang sama sekali. Karena ingin mendapatkan simpati dari semua orang termasuk Kakek Mahardika. Akhirnya mereka semua percaya, tapi tidak Aruna yang memilih diam walau tahu. Mungkin mereka ingin kembali dan di terima lagi oleh Kakek Mahardika. Lagi pula saya itu hanya Danar dan keluarganya yang menjadi kelurga dia juga. Sehingga membuat Aruna mencoba memberikan kepercayaan kepada mereka.
"Silahkan masuk semuanya. Pengumuman akan segera di laksanakan!"
Wajah-wajah tegang mulai memasuki aula kembali. Mereka berharap bisa lulus di tes kali ini. Apalagi mendengar jika Perusahaan Mahardika memang sedang membutuhkan banyak staff dan juga karyawan lainnya.
"Untuk yang tidak lolos silahkan keluar," ujar suara bariton melalui pengeras suara setelah mempersilahkan mereka melihat papan pengumuman.
Revano dan Anastasia juga tak mau ketinggalan. Mereka bahkan mendorong pelamar lain agar bisa berdiri di depan. Tak peduli jika ada di antara mereka yang jatuh, yang terpenting mereka ada di depan. Mata Anastasia terus mencari namanya di bagian yang lolos. Nama Abangnya sudah ada di bagian bawah, sedangkan namanya tak ada. Bahkan dia sudah mengeceknya sampai tiga kali.
"Bang, apa ada nama aku? Kenapa aku tak melihatnya padahal aku sudah memeriksa tiga kali!" tanya Anastasia.
"Tidak ada, Abang juga sudah mengeceknya. Hanya ada nama Abang di sini!" jawab Revano.
"Nama kamu ada di sini, mbak. Anastasia kan?" ujar salah satu pelamar menunjuk nama di bagian yang tidak lolos.
Anastasia dan Revano bergeser ke sebelah dan matanya membulat sempurna saat meliha ada namanya di sana. Bagaimana mungkin dia tidak lolos?
"Tidak! Ini tidak mungkin kan Bang? Masa Aku tidak lolos? Ayo cepat hubungi Papa!" Anastasia berteriak histeris membuat semua orang yang ada di sana geleng kepala dengan kelakuan Anastasia.
Sepertinya mereka semua tak ada yang bersimpati, karena memang sikap Anastasia sendiri yang membaut mereka malas untuk sekedar kasihan padanya. Anastasia terlalu sombong dan bahkan menghina pakaian mereka, juga mengatakan kalau mereka sangat bau.
hidup apa ada nya tp tenang n nyaman, tanpa tekanan ,,, semangat rexa
babang Xavier kau dmn, bantai habis tuh anggara family, krn mrk udh berani menghina menantu hananta
Xavier kasian rexa, d bantu ya