Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Balik Kabut
Pagi yang kelabu di pusat kota seolah menjadi cermin dari suasana hati Rebecca yang masih mendung. Setelah sesi latihan yang menghancurkan mentalnya kemarin, Rebecca bersikeras untuk keluar dari mansion. Ia butuh udara yang tidak berbau mesiu, meskipun Vargo dan dua pengawal lainnya tetap membuntutinya dengan jarak yang sangat ketat. Ia singgah di sebuah butik perhiasan kelas atas di pusat kota untuk mengambil jam tangan milik Maximilian yang baru saja diperbaiki—sebuah tugas kecil yang ia gunakan sebagai alasan untuk melarikan diri sejenak dari tatapan posesif Max.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Saat ia melangkah keluar dari butik, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan trotoar. Pintu terbuka, dan Bianca d'Angelo turun dengan keanggunan seorang ratu yang haus darah. Kali ini, Bianca tidak mengenakan gaun malam, melainkan setelan jas putih yang kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai.
"Ah, lihat siapa yang sedang berkeliaran tanpa tali kekang," suara Bianca menyapa dengan nada meremehkan yang sudah sangat familiar.
Rebecca menghentikan langkahnya. Ia bisa merasakan Vargo di belakangnya sudah meletakkan tangan di balik jas, bersiap untuk konfrontasi fisik. Namun, Rebecca mengangkat tangannya sedikit—sebuah instruksi agar pengawalnya tetap tenang.
"Kau sepertinya punya bakat luar biasa untuk muncul di tempat yang tidak diinginkan, Bianca," sahut Rebecca, suaranya kini lebih stabil daripada saat di Grand Astoria.
Bianca berjalan mendekat, menatap kantong belanjaan di tangan Rebecca. "Masih menjadi pesuruh Maximilian? Mengambil jam tangan, memesan bunga, menyiapkan makan malam ... sungguh kehidupan yang menyedihkan untuk wanita seusiamu. Apakah kau tidak sadar bahwa kau hanya mengisi kekosongan sampai Max menemukan seseorang yang benar-benar bisa memberinya ahli waris yang sah?"
Ucapan itu seperti cuka yang disiramkan ke luka yang masih basah. Rebecca merasakan jantungnya berdegup kencang, namun kali ini rasa galau itu berubah menjadi amarah yang terkendali. Ia teringat memar di lengannya hasil latihan dengan Erica. Ia teringat beratnya pedang dan dinginnya air kolam.
"Keluarga Moretti tidak butuh ahli waris yang lahir dari kontrak politik yang membosankan seperti keluargamu, Bianca," balas Rebecca tajam. "Mereka butuh seseorang yang bisa berdiri tegak saat peluru melesat. Dan sejauh yang kulihat, kau hanya pandai bersolek di depan cermin."
Wajah Bianca memerah sesaat, namun ia justru tertawa sinis. "Bicara memang mudah, Sayang. Tapi di dunia ini, keberanian dibuktikan dengan darah, bukan dengan kata-kata manis di ranjang."
Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Dari ujung jalan, sebuah motor sport dengan dua pengendara berpakaian hitam melaju kencang ke arah mereka. Dalam hitungan detik, pengendara di kursi belakang mengeluarkan senjata otomatis.
RAT-TAT-TAT-TAT!
"Merunduk!" teriak Vargo.
Tembakan itu bukan ditujukan kepada Rebecca, melainkan kepada Bianca. Tampaknya, musuh keluarga d'Angelo telah memilih momen ini untuk melakukan pembunuhan. Pengawal Bianca yang berada di belakangnya terkapar seketika. Bianca, yang selama ini berlagak tangguh, mematung karena syok. Ia terjatuh di trotoar, wajahnya pucat pasi saat melihat moncong senjata itu kembali mengarah padanya untuk tembakan penyelesaian.
Di sinilah insting baru Rebecca mengambil alih. Ia tidak lari mencari perlindungan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia melihat ini sebagai satu-satunya cara untuk membuktikan statusnya—bukan lewat cincin, tapi lewat aksi yang melampaui keraguan.
"Vargo! Lindungi sisi kiri!" teriak Rebecca.
Tanpa ragu, Rebecca menerjang ke arah Bianca, menarik tubuh wanita itu hingga mereka berdua berguling ke balik pilar beton toko perhiasan tepat saat peluru menghujam lantai marmer tempat Bianca berdiri tadi.
"Apa yang kau lakukan?!" Bianca berteriak histeris, napasnya tersengal.
"Diam dan jangan bergerak!" gertak Rebecca.
Rebecca merogoh Glock 17 yang tersembunyi di balik blazernya. Ia tidak lagi gemetar. Bayangan latihan dengan Erica dan tatapan tajam Maximilian seolah menyatu menjadi kekuatan dingin di jemarinya. Ia mengintip dari balik pilar. Motor itu berputar arah, bersiap untuk serangan kedua.
Rebecca mengambil posisi menembak yang sempurna—lutut bertumpu pada lantai, tangan stabil.
DOR! DOR!
Dua tembakan presisi. Peluru pertama mengenai bahu si penembak, dan peluru kedua menghantam ban depan motor hingga meledak. Motor itu terpelanting, menyeret kedua pengendaranya di atas aspal.
Vargo dan pengawal lainnya segera bergerak maju untuk melumpuhkan musuh yang sudah terjatuh. Jalanan menjadi kacau, orang-orang berlarian, namun di balik pilar beton itu, suasana mendadak hening.
Rebecca berdiri, merapikan blazernya yang sedikit kotor karena debu jalanan. Ia menatap Bianca yang masih terduduk di lantai, gemetar hebat dengan mata yang membelalak tidak percaya. Wanita yang tadi menghinanya sebagai "sampah" kini tampak seperti anak kecil yang ketakutan di hadapan predator.
Rebecca mendekati Bianca, lalu berlutut di depannya. Ia menatap Bianca dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang biasanya hanya dimiliki oleh Maximilian.
"Dengar baik-baik, Bianca d'Angelo," bisik Rebecca, suaranya sangat rendah namun penuh otoritas. "Hari ini, 'sampah' ini baru saja menyelamatkan nyawamu. Dan senjata yang kau bilang hanya pajangan ini, baru saja membuktikan siapa yang sebenarnya memegang kendali di jalanan ini."
Rebecca berdiri tegak, menyarungkan kembali senjatanya. "Jangan pernah lagi mempertanyakan statusku. Aku tidak butuh surat sah atau cincin untuk menunjukkan bahwa aku adalah seorang Moretti. Aku adalah Moretti karena aku sanggup melakukan apa yang tidak sanggup kau lakukan: menarik pelatuk saat maut di depan mata."
Bianca tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Harga dirinya hancur berantakan di atas trotoar itu. Ia menyadari bahwa gadis di depannya bukan lagi boneka porselen, melainkan baja yang telah ditempa api.
Vargo mendekati Rebecca, wajahnya menunjukkan rasa bangga yang luar biasa. "Nona, kita harus segera pergi sebelum polisi datang. Tuan Maximilian sudah dalam perjalanan ke sini."
Rebecca mengangguk. Ia melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi ke arah Bianca.
Sepuluh menit kemudian, mobil Maximilian mengerem mendadak di dekat lokasi kejadian. Max keluar dengan wajah yang menunjukkan kemarahan sekaligus kekhawatiran yang meledak-ledak. Ia langsung menghampiri Rebecca, memegang bahunya dengan kasar namun penuh rasa sayang, memeriksa setiap inci tubuh Rebecca.
"Apa kau terluka?! Vargo bilang kau menembak mereka?! Kenapa kau tidak lari?!" cecar Maximilian, napasnya memburu.
Rebecca menatap mata Maximilian. Kegalaunnya yang tadi pagi menyiksa kini telah hilang sepenuhnya. Ia merasa utuh. Ia merasa pantas.
"Aku tidak terluka, Max," ucap Rebecca tenang. Ia menyentuh tangan Maximilian yang memegang bahunya. "Dan aku tidak lari karena aku tidak perlu lari. Aku baru saja membuktikan pada Bianca—dan pada diriku sendiri—bahwa aku bukan sekadar hiasan di ranjangmu."
Maximilian terdiam melihat ketenangan di mata Rebecca. Ia melihat Bianca di kejauhan yang sedang dibantu oleh pengawalnya, lalu kembali menatap Rebecca. Ia menyadari bahwa Rebecca telah melewati garis yang paling sulit: ia telah membuktikan keberaniannya secara mandiri, tanpa perlu berlindung di balik namanya.
"Kau gila," bisik Maximilian, lalu ia menarik Rebecca ke dalam pelukan yang sangat erat. "Kau benar-benar gila, Rebecca. Tapi kau adalah satu-satunya Moretti yang paling berani yang pernah kukenal."
Rebecca membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Max yang bidang. Konflik batin tentang pernikahan masih ada di sudut pikirannya, namun rasa sakitnya telah tumpul. Ia menyadari bahwa martabat tidak selalu diberikan lewat sebuah upacara; terkadang, martabat direbut lewat tindakan yang tak terbantahkan.
Malam itu, berita tentang "Nona Moretti" yang menyelamatkan putri d'Angelo dan melumpuhkan pembunuh profesional sendirian menyebar di kalangan bawah tanah seperti api liar. Status Rebecca tidak lagi dipertanyakan oleh siapa pun. Bianca d'Angelo mungkin masih hidup, namun pengaruhnya telah mati di hari itu.
Dan di dalam mansion pegunungan, Maximilian menatap Rebecca yang sedang membersihkan senjatanya di meja kerja. Ia menyadari bahwa waktunya telah tiba untuk memberikan apa yang benar-benar layak didapatkan oleh wanita yang telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya berkali-kali. Bukan karena ia dipaksa, tapi karena ia tidak bisa membayangkan dunia Moretti tanpa seorang Ratu di sampingnya.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣