"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Persekongkolan suami dan ibu mertua.
"Kamu tega juga menikahi Khaty secara diam-diam. Apa kamu tidak takut ketahuan sama Ribka. Ibu merasa aneh dengan kelakuanmu. Sekalipun Ibu tidak terlalu menyukai Ribka. Tapi apa yang kamu lakukan ini, Ibu juga kurang setuju." Bu Nora menasehati Raymond.
"Aku terpaksa melakukannya Bu. Demi cucu Ibu juga." Bu Nora menatap Raymond tajam. Ada sesuatu dibalik kata-katanya itu.
"Maksud kamu apa demi cucu, Ibu. Maksudmu Mirza atau Jason?"
"Ya, Mirza lah Bu. Tentang Jason, aku curiga itu bukan anakku." ucap Raymond datar. Tidak ada riak rasa bersalah.
Di balik pintu, gelombang tsunami menghantam dada Ribka. Suaminya curiga dengan darahnya sendiri? Ya, Tuhan, cobaan apa ini. Bagaimana mungkin suaminya tidak mengakui darah dagingnya sendiri. Pantasan dia tidak berusaha mencari Jason. Tidak merasa kehilangan.
Alih-alih mencari keberadaan putra mereka. Suaminya malah sibuk mengadopsi anak. Sebagai pengganti anak mereka. Ternyata! Karena dia meragukan darah dagingnya sendiri.
Hampir saja tubuh Ribka oleng. Karena tidak kuat mendengar cerita itu. Ribka menarik nafas panjang. Menguatkan segenap kekuatannya. Untuk mendengar cerita selanjutnya.
"Kamu itu sudah gila ya? Setau Ibu, Ribka masih anak perawan saat kamu nikahi. Dia itu wanita baik-baik. Makanya Ibu setuju kamu menikah dengannya." protes Bu Nora membela menantunya. "Ibu hanya tidak suka padanya setelah tau dia cuma anak angkat keluarga Situmorang."
"Tapi aku juga terpaksa menikah dengannya Bu. Karena Khaty dipaksa menikah dengan paribannya. Aku tidak pernah menyentuh Ribka. Kok tiba-tiba dia bisa hamil?"
"Setan kamu!" kibas Bu Nora kesal. "Kamu memang jahat! Kamu lupa ya. Malam itu kamu mabuk berat. Kamu memaksa Ribka. Menodainya setelah seminggu pernikahan kalian. Ibu tau semua itu. Jason adalah anakmu. Cucu ibu, bukan Mirza!" teriak Bu Nora kesal.
Raymond terpaku. Diam beberapa jenak."Tapi Bu, Mirza juga cucu Ibu. Dia adalah anak Khaty!"
Duarrr!
Guntur menggelegar di telinga Ribka, mendengar pengakuan itu. Mirza! Mirza anak yang dia asuh selama ini dengan segenap kasihnya adalah anak selingkuhan suaminya? Ribka roboh di lantai. Menepuk dadanya berkali-kali. Sakit sekali ya Tuhan! Kenapa aku harus mendengar pengakuan bajingan itu!
Ribka menutup mulutnya, supaya isak tangisnya tidak keluar. Sekalipun sudah tidak sanggup. Tapi dia ingin terus mendengarnya. Walau hatinya telah hancur berkeping-keping.
"Apa?! Sejahat itukah kamu Raymond. Kamu itu Iblis!" Bu Nora merasa terpukul juga mendengar cerita Raymond. "Ibu sama sekali tidak menyangka kalau Mirza adalah anakmu? Kamu jahat sekali membuat Ribka merasa bersalah selama ini, karena kehilangan Jason." amuk Bu Nora.
"Aku terpaksa Bu. Aku sangat mencintai Khaty. Lagi pula waktu itu aku tidak percaya kalau Jason adalah anakku. Sedangkan Mirza sudah jelas anakku. Khaty tidak mau merawatnya, karena suaminya tidak akan mau menerima anak itu."
Ribka hampir saja masuk untuk melabrak suaminya yang dengan tega telah membohonginya selama ini. Tapi kalau dia masuk, tentu cerita itu akan terhenti sampai disana. Ribka semakin menutup mulutnya supaya isaknya tidak lolos.
"Kalau masih ada Jason, tentu Ribka tidak mau merawat Mirza. Jangankan untuk merawat. Menerimanya sebagai anak angkat juga tidak akan mau. Makanya aku setuju ide Khaty waktu itu."
"Kamu gila Ray! Kamu berhasil membohongi Ribka selama ini. Membuatnya merasa bersalah terus. Lalu dimana Jason?" tatap Bu Nora kalap.
"Aku serahkan ke panti asuhan, Bu."
"Hah! Jahat sekali kamu. Kamu membuang darah dagingmu yyang demi yang haram!" maki Bu Nora tidak dapat membendung lagi air matanya.
"Maafkan Raymond Bu. Raymond memang bersalah. Tapi sudahlah! Semua sudah terjadi." ucap Raymond enteng.
""Baiklah kamu sudah dewasa. Semua ulahmu kamu yang tanggung. Ibu tidak mau terlibat dengan perbuatanmu. Jangan sampai Ribka tau masalah ini. Apa Jason masih di panti asuhan? Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Dia sudah diadopsi, Bu. Sebenarnya aku bermaksud menitipkannya sementara. Setelah Ribka mau menerima Mirza, aku akan mengambil Jason kembali. Tetapi dia sudah keburu diadopsi keluarga lain. Aku juga merasa bersalah Bu. Tapi waktu itu, Khaty mengancamku akan memberitahu Ribka. Makanya aku panik. Karirku juga bisa hancur kalau sampai Ribka tau masalah ini, Bu."
"Ibu sama sekali tidak menduga kamu nekad melakukan semua itu. Bertahun-tahun kamu menyimpan rahasia ini. Lantas kenapa kamu bawa Khaty ke tengah keluarga kita lagi?"
"Aku masih mencintainya sampai saat ini, Bu. Aku berencana menceraikan Ribka. Dia sudah sangat membosankan dan tidak bisa merawat diri. Tidak cocok lagi jadi istriku!"
"Dasar serakah!" umpat Bu Nora. "Tapi
Khaty memang cantik. Anak orang kaya lagi. Lebih pantas mendampingi kamu. Tapi saran Ibu, kamu jangan menceraikan Ribka. Biar dia tetap jadi istri kamu. Kita bisa manfaatkan dia merawat Ibu. Tapi kamu juga jangan terlalu kasar lagi padanya. Sesekali apa salahnya kamu bersikap mesra padanya. Supaya dia tidak curiga." Bu Nora pada akhirnya setuju juga dengan kelakuan anaknya. Membuat rasa bersalah di hati Raymond terkikis habis. Ibu dan anak ternyata sebelas dua belas sifatnya. Membuat Ribka yang mendengarnya semakin hancur.
Tadinya ruang hatinya masih ada yang terasa hangat mendengar pembelaan ibu mertuanya. Tapi demi mendengar rencana ibu mertuanya, hati Ribka mendadak beku. Dingin sedingin suhu di dalam kulkas.
"Ah, Ibu memang pintar kasih saran. Terima kasih Bu, telah mendukungku."
Di balik pintu, Ribka mengepalkan tangannya demi mendengar cerita suaminya dan persekongkolan ibu mertuanya. Betapa bodohnya dirinya selama ini. Telah dibohongi mentah-mentah.
Dasar suami bajingan. Awas! Aku akan membalas semua perlakuan kalian. Akan aku buat kalian hancur sehancurnya. Kalian harus bayar semua yang telah kalian renggut dariku.
Ribka menghapus air matanya. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
"Eh, kamu kok balik lagi?" seru Bu Nora yang tiba-tiba melihat kemunculan Ribka. Raymond juga berbalik kaget. Untunglah percakapan mereka sudah selesai. Bagaimana kalau istrinya sampai mendengar tadi?
"Dompetku ketinggalan." Ribka memeriksa laci lemari. Tadi dia menyimpan dompetnya di laci itu.
"Hem, teledor sekali." Raymond membuka dompetnya. Menarik dua lembar kertas merah. Menyerahkannya pada Ribka. " Untuk ongkosmu. Kamu naik taxi saja biar gak terjebak macet." Ribka menatap suaminya. Menatap dua lembar uang kertas merah.
"Tumben! Cuma segini? Semalam uangku sudah habis buat ulang tahun Ibu." Ribka menyambar dompet Raymond. Membukanya, melihat banyak lembaran uang merah. Mengambilnya sepuluh lembar. Membuat Raymond kaget!
"Sama istri sendiri jangan pelit!" Ribka mengembalikan dompet itu lagi. Kedua bola mata Raymond membulat sempurna! Seolah kena hipnotis dia tidak sadar kalau duitnya telah berpindah. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena shock.
"Hem, tidak ada sopannya sama sekali." sindir Raymond setelah sadar dari keterkejutannya.
"Terima kasih!" ucap Ribka datar. Lalu pergi begitu saja.
Uang di dalam dompetnya sisa sedikit lagi. Uangnya sudah habis kemarin saat menyiapkan acara makan siang untuk ultah ibu mertuanya. Mulai detik ini aku akan lebih perhitungan. Setiap jerih payahku harus ada bayarannya.
Enak saja mau menjadikan aku pembantu gratis. Dan istri pajangan. Mulai sekarang aku hanya akan peduli dengan diriku sendiri. Janji Ribka pada hatinya. ***