“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRIDGE - CH 24 : FOTO LAMA
Hujan lebat mengguyur Kota X sejak pukul dua siang. Suara rintik air yang menghantam atap seng ruko Bara's Kitchen menciptakan melodi bising yang, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, terasa sangat menenangkan.
Tidak ada pesanan masuk. Tidak ada hantu berkebaya hitam yang menagih utang. Tidak ada preman pasar yang menggedor rolling door. Ruko itu kembali ke fungsi asalnya sebagai tempat berlindung dari kerasnya dunia luar dan ganasnya sistem kapitalisme.
Di lantai satu, Lintang sedang duduk bersila di atas karpet murah dekat etalase, asyik menggulir layar TikTok sambil mengunyah keripik singkong pedas. Di sebelahnya, Mang Ojak tertidur pulas di kursi plastik dengan peci menutupi wajahnya, mendengkur halus berirama dengan suara hujan.
Sementara itu, di lantai mezzanine yang temaram, Bara Mahendra sedang duduk bersila di atas kasur kapuknya. Di tangannya, dia memegang sebuah pigura kayu ukuran A4 yang kacanya sudah sangat kusam tertutup debu dan jaring laba-laba tipis.
Bara mengusap kaca pigura itu dengan ujung kaos oblongnya yang bolong di bagian ketiak. Perlahan, gambar di balik kaca itu terlihat jelas.
Itu adalah foto dirinya sekitar tiga tahun yang lalu. Bara di dalam foto itu terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda. Rambutnya disisir rapi menggunakan pomade, wajahnya mulus glowing tanpa kantung mata hitam yang menyerupai panda kurang tidur, dan dia mengenakan kemeja flanel mahal berlapis jas kasual yang disetrika licin. Dia berdiri di atas sebuah panggung dengan backdrop lampu-lampu megah, tersenyum lebar ke arah kamera.
Kedua tangannya memegang sebuah piala kaca kristal berbentuk segitiga. Di bagian bawah piala itu, terdapat pelat emas bertuliskan: "Juara 1 National Creative Editor & Visual Design 2023 - Kategori Profesional".
Bara menatap wajahnya sendiri di foto itu dengan tatapan datar. Lalu, matanya bergeser ke sosok perempuan cantik berambut panjang yang berdiri tepat di sebelahnya dalam foto tersebut, ikut memegang piala itu sambil tersenyum manis.
Wajah perempuan itu sudah dicoret menggunakan spidol permanen warna hitam hingga tebal dan tidak bisa dikenali lagi, menyisakan noda amarah masa lalu yang membekas di atas kertas foto.
Bara mendengus pelan. "Muka lu udah gue coret, tapi lu masih ninggalin noda hitam di hati gue," gumamnya sinis pada foto itu.
"MAS BARA! NGOMONG SAMA SIAPA LU DI ATAS?!"
Panggilan cempreng Lintang dari arah bawah tangga menggelegar, membuyarkan nostalgia beracun Bara. Pemuda itu refleks terlonjak kaget. Saking paniknya, dia buru-buru membalikkan pigura tersebut dan menyelipkannya ke bawah bantal kapuknya.
Terdengar langkah kaki menaiki tangga kayu. Lintang muncul dari balik pintu mezzanine, membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam instan dan sepiring pisang goreng sisa jualan pagi tadi.
"Nih, kopi lu. Ngelamun aja dari tadi komat-kamit sendiri," Lintang meletakkan nampan itu di lantai kayu mezzanine. "Awas kesambet dedemit Blok C lagi lho. Ruko lagi sepi nih, jangan ngundang yang aneh-aneh. Gue belom siap mental."
"Gue lagi ngitungin sisa stok gas Elpiji, bukan ngelamun," Bara mengambil cangkir kopi itu, meniupnya pelan dengan ekspresi sok sibuk. "Mang Ojak mana?"
"Pingsan dia. Kecapekan abis trauma di-prank Google Maps kemaren," Lintang tertawa kecil. Gadis itu lalu menjatuhkan diri duduk di seberang Bara.
Matanya yang tajam bak elang, yang biasanya digunakan untuk mencari diskonan skincare di tanggal kembar, mendadak menangkap ujung bingkai kayu yang menyembul dari balik bantal kapuk bosnya.
"Eh, apaan tuh di bawah bantal?" Lintang memicingkan matanya. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah bantal Bara. "Mas Bara nyimpen jimat penglaris ya?! Wah, ketahuan lu pake jalur gaib! Pantesan setan kemaren dateng nagih utang!"
"Sembarangan! Otak lu isinya mistis mulu," Bara buru-buru menduduki bantalnya sendiri untuk menutupi bingkai itu. "Bukan apa-apa. Cuma... cuma buku resep rahasia."
"Ah, masa? Coba liat!" Lintang yang diliputi rasa penasaran tingkat dewa langsung merangsek maju.
Terjadilah adu mekanik singkat yang memalukan di atas mezzanine. Bara berusaha mempertahankan pantatnya di atas bantal, sementara Lintang dengan barbar menarik ujung bingkai kayu itu dengan sekuat tenaga.
"Lepasin, Tang! Kurang ajar lu sama bos!"
"Pelit amat sih liat resep doang! Gue kan chef kedua di sini!" Lintang menarik dengan sisa tenaga hasil menguleni adonan roti buaya.
SREK! Bantal kapuk itu tergeser, dan pigura kayu itu meluncur mulus ke pangkuan Lintang. Posisi fotonya menghadap ke atas.
Lintang menunduk. Matanya menatap foto tersebut.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Mata Lintang membulat sempurna, nyaris copot dari rongganya. Mulutnya menganga lebar hingga lalat pun bisa masuk dan membangun peradaban di dalamnya. Pisang goreng di tangannya jatuh menggelinding.
"Hah... DEMI APA?!" Lintang menjerit tertahan, menatap foto itu dan wajah Bara yang sekarang secara bergantian dengan kecepatan tinggi. "Ini... ini elo, Mas?!"
Bara membuang muka, mengusap wajahnya dengan kasar. "Udah gue bilang jangan diliat, bocah."
"KOK... KOK GANTENG?!" Lintang berteriak histeris, suaranya sampai membuat Mang Ojak di bawah terbangun karena kaget. "Kok bersih?! Kok bersinar kayak idol K-Pop belom debut?! Ini lu operasi plastik kebalik ya, Mas?! Gimana ceritanya muka elit begini sekarang wujudnya kayak kuli panggul pasar induk yang belom mandi dua hari?!"
"Berisik! Itu efek lighting panggung!" Bara berusaha merebut pigura itu, tapi Lintang dengan lincah menghindar dan memeluk pigura tersebut seolah itu adalah artefak suci.
"Mas! Lu Juara 1 Desain Visual Tingkat Nasional?!" Lintang menunjuk pelat emas di foto itu dengan jari gemetar. "Lu dulunya Creative Editor?! Desainer Grafis?! Wah, plot twist macam apa ini anjir! Bos gue yang pelitnya ngalahin Tuan Krab, yang hobinya marah-marah gara-gara gramasi mentega, ternyata mantan desainer elit berprestasi?!"
Terdengar suara langkah kaki gontai menaiki tangga. Mang Ojak menyembulkan kepalanya dengan wajah panik, pecinya miring ke kiri.
"Ada apa ini Neng Lintang teriak-teriak? Ada setan ibu-ibu itu lagi?!" tanya Mang Ojak was-was sambil memegang gagang sapu sebagai senjata.
"Bukan setan, Mang! Sini liat! Ini lebih horor dari setan!" Lintang menyodorkan pigura itu ke wajah Mang Ojak. "Liat nih muka bos kita tiga tahun lalu!"
Mang Ojak memicingkan mata tuanya yang mulai rabun. Dia mendekatkan pigura itu ke hidungnya. Tiba-tiba, sapu di tangannya terjatuh.
"Astagfirullahaladzim, Den Bara..." Mang Ojak menatap Bara dengan pandangan penuh rasa iba dan horor. "Den Bara dulunya artis sinetron azab ya? Kok sekarang nasibnya melarat jualan roti di ruko bau got begini, Den? Den Bara kena skandal apa sampe di-cancel netizen?"
"GUE BUKAN ARTIS SINETRON AZAB, MANG!" raung Bara frustrasi, urat lehernya menonjol. Dia akhirnya berhasil merampas kembali pigura itu dan menyembunyikannya di belakang punggung. "Gue dulu editor desain visual! Gue kerja di agensi!"
Lintang tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. "Sumpah, Mas, glow down lu parah banget anjir! Dari oppa SCBD berubah jadi mamang-mamang kang baking pinggir jalan. Susuk lu luntur gara-gara sering kena asep oven ya?!"
"Susuk palamu peyang!" Bara menunjuk Lintang dengan pisang goreng. "Ini namanya pengorbanan! Desain visual itu cuma menang gaya doang. Duitnya kagak ada! Lu tau nggak rasanya revisi video sampe mata lu minus nembus layar monitor?! Belom lagi klien yang ngilang pas ditagih invoice!"
Bara mulai mengeluarkan alasan ngeles andalannya, membelokkan fakta dari tragedi NTR berdarah yang sebenarnya, ke arah penderitaan template anak agensi.
"Ah, masa sih?" Lintang memicingkan matanya penuh selidik. Dia menunjuk ke arah foto di bingkai yang sedang dipegang Bara. "Terus itu, muka cewek yang berdiri di sebelah lu, kenapa dicoret spidol item sampe tebel banget gitu? Lu abis putus cinta ya, Mas? Atau lu ditolak cintanya terus lu banting setir ke dapur pelampiasan?"
Jantung Bara berdetak satu ketukan lebih cepat. Luka lama yang berusaha dia tutupi dengan celemek bau mentega itu seolah baru saja disiram air perasan jeruk nipis. Bayangan wajah mantannya, dan rekening ATM-nya yang tiba-tiba bersaldo lima puluh ribu perak saat dia butuh biaya rumah sakit, berkelebat di otaknya.
Tapi Bara Mahendra adalah aktor kelas Oscar dalam urusan menyembunyikan emosi. Dia langsung memasang wajah datar dan sinis khas tiran ruko.
"Itu bukan cewek gue. Itu klien gue yang paling bawel," Bara berbohong tanpa berkedip. "Gue coret mukanya karena dia yang bikin gue lembur tiga hari tiga malem terus ujung-ujungnya ngomong 'Mas, desainnya kurang dapet feel-nya'. Muka dia adalah representasi iblis kapitalis yang sesungguhnya. Makanya gue coret biar gue nggak emosi tiap liat foto itu."
Lintang dan Mang Ojak terdiam sejenak, saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk percaya. Alasan itu terdengar sangat masuk akal mengingat sifat Bara yang sangat sensitif kalau berurusan dengan apresiasi dan uang.
"Oalah... jadi Den Bara ini pindah profesi gara-gara trauma mental sama kerjaan lama toh," Mang Ojak mengelus dadanya prihatin. "Abah kira Den Bara buronan polisi yang lagi ganti identitas. Soalnya beda banget mukanya."
"Gue ganti identitas dari orang rapi ke orang gembel buat apa, Mang?" Bara memutar bola matanya malas. "Lagian, di dunia F&B (Food and Beverage) tuh kerjanya nyata. Lu mau makan kue buatan gue? Bayar dulu. Rotinya asin, ya lu telan rasa asinnya. Nggak ada ceritanya customer gigit brownies gue terus bilang 'Mas, rasa cokelatnya tolong direvisi jadi rasa stroberi dong'."
Lintang kembali ngakak mendengar perumpamaan bosnya. "Bener juga sih lu, Mas. Setidaknya kalau customer kita komplain, lu bisa langsung lempar mereka pake loyang panas. Kalau desain kan lu cuma bisa nangis depan keyboard."
"Nah, makanya. Udah, lu berdua nggak usah bahas-bahas masa lalu gue lagi. Apalagi nyebar-nyebar gosip kalau gue mantan orang ganteng," ancam Bara, telunjuknya menuding kedua karyawannya itu secara bergantian. "Kalau sampe ada ibu-ibu PKK kelurahan yang tau dan mulai godain gue pas beli snack box, gue potong gaji kalian berdua lima puluh ribu per hari!"
"Dih, dih, dih! GR banget lu, Mas! Muka lu yang sekarang mah boro-boro digodain ibu-ibu, yang ada lu ditawarin pinjaman koperasi mekar!" cibir Lintang sambil mengambil kembali kopinya.
Namun, diam-diam, Lintang mengeluarkan ponselnya. Saat Bara sedang lengah meletakkan kembali bingkai foto itu ke dalam kardus, Lintang dengan kecepatan ninja memotret foto tersebut. Cekrek. Suara kameranya disamarkan oleh gelegar petir dari luar ruko.
Lumayan buat bahan blackmail kalau Mas Bara mulai pelit ngasih jatah makan siang, batin Lintang tersenyum licik.
"Udah, turun sana lu pada! Beresin dapur! Hujannya udah mulai reda, bentar lagi pasti ada orderan masuk lewat aplikasi," Bara mengusir mereka berdua turun, layaknya mengusir anak ayam.
"Siap, Bos Mantan Model!" ledek Lintang sambil berlari turun meniti tangga kayu agar tidak terkena lemparan bantal dari Bara. Mang Ojak menyusul di belakangnya sambil terkekeh pelan, merasa lega karena bosnya ternyata hanya manusia biasa dengan masa lalu yang penuh warna, bukan dukun atau buronan.
Setelah Lintang dan Mang Ojak kembali ke lantai bawah, Bara kembali duduk sendirian di atas mezzanine. Suara hujan di luar mulai berubah menjadi rintik-rintik ringan.
Dia menatap telapak tangannya sendiri yang kini kasar, kapalan, dan memiliki beberapa bekas luka bakar kecil akibat sering tersentuh dinding oven deck. Sangat jauh berbeda dengan tangannya tiga tahun lalu yang hanya menyentuh mouse mahal dan drawing tablet.
Bara mengusap wajahnya, memejamkan mata erat-erat. Gengsinya di depan Lintang berhasil diselamatkan. Tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Alasan sebenarnya dia membenci dunia luar, alasan sebenarnya dia menjadi orang yang sangat gila uang, perhitungan, dan mati-matian menjaga brankas bajanya layaknya naga menjaga emas, bukanlah sekadar trauma klien agensi.
Itu karena tepat tiga tahun lalu, semua hasil keringatnya, darahnya, dan masa mudanya yang dia tabung susah payah di dalam rekening demi melamar perempuan yang dia cintai di foto itu... raib tidak bersisa. Dibawa kabur ke kota lain oleh perempuan tersebut, bersama pria yang Bara kenal dengan sangat baik.
"Tiga tahun, Lis..." bisik Bara pada udara kosong, suaranya sangat lirih, hampir tidak terdengar mengalahkan suara hujan. "Tiga tahun gue idup kayak gembel di ruko ini buat ngelupain semua perbuatan lo sama binatang itu."
Bara membuka matanya. Sorot matanya yang biasanya jenaka dan penuh perhitungan licik, kini menajam, memancarkan aura dingin yang membekukan. Mode kapitalisnya hanyalah topeng tebal untuk menutupi rasa sakit dari sebuah pengkhianatan yang belum terbalas.
"Sebentar lagi... kalau tabungan di brankas ini udah cukup..." Bara mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. "...gue bakal nyari lu. Dan gue pastiin, lu bayar semua utang lu berserta bunganya."
Di lantai bawah, terdengar suara Lintang memutar lagu koplo dengan volume kencang dari speaker Bluetooth murahan mereka, disusul tawa Mang Ojak yang sedang memecahkan telur.
Bara menarik napas panjang, mengubah kembali ekspresi wajahnya menjadi koki tiran yang pelit, lalu berteriak dari atas mezzanine.
"HEH! TANG! JANGAN PAKE MENTEGA YANG WYSAMAN BUAT BIKIN BOLU KUKUS! PAKE MARGARIN CURAH AJA, RUGI BANDAR KITA NANTI!"
"IYA BAWEL! DASAR BOS MANTAN MODEL TAPI PELITNYA LEVEL DEWA!" balas Lintang dari bawah.
Ruko Bara's Kitchen kembali dipenuhi oleh hiruk-pikuk komedi yang absurd. Tidak ada yang tahu, bahwa di balik celemek kotor dan wajah galaknya, Bara Mahendra menyimpan sebuah bom waktu dendam masa lalu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Dan waktu itu, akan datang lebih cepat dari yang dia bayangkan.