NovelToon NovelToon
KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Angel?

"Ini, Bu, ada sedikit buah untuk Ibu." ucap Angel seraya menyerahkan kantong plastik transparan berisi jeruk dan kelengkeng.

Bu Ajeng menerima bungkusan itu. Keningnya berkerut saat melihat isinya. Ada rasa heran yang menggelitik benaknya. Menurut cerita Arga, Angel adalah gadis kaya raya. Namun, melihat hantaran yang hanya berupa jeruk dan kelengkeng yang beratnya mungkin tak sampai satu kilogram masing-masing, Bu Ajeng merasa ada yang tidak beres.

"Apa-apaan ini?" batin Bu Ajeng sinis. Bukannya Arga bilang Angel ini anak orang kaya? Kenapa cuma bawa buah begini, mana jeruknya kelihatan murahan lagi. Paling harganya cuma lima belas ribuan. Bukannya bawa kue mahal atau hampers berkelas, malah buah pasar.

Arga menyadari perubahan raut wajah ibunya yang tampak tidak puas. Ia segera menengahi agar suasana tidak menjadi canggung.

"Maaf ya, Bu. Tadi sudah larut malam, jadi kami tidak sempat cari oleh-oleh lain. Soalnya sebelum pulang kami mampir ke pantai dulu." jelas Arga, berusaha meredam kekecewaan ibunya.

"Oh, begitu. Ya sudah, tidak apa-apa." jawab Bu Ajeng, berusaha mengubah nada bicaranya menjadi ramah. "Lagi pula Arga, kalau kamu mau ajak Angel ke rumah, harusnya bilang Ibu dulu. Biar Ibu bisa masak besar untuk makan malam kita. Tidak bawa apa-apa pun tidak masalah, tapi terima kasih ya, Ibu memang suka buah."

Angel tersenyum manis, merasa menang. Hanya dengan modal lima puluh ribu rupiah, ia merasa sudah berhasil mengambil hati calon mertuanya. Dalam hati, ia semakin percaya diri bahwa tak lama lagi ia akan menyandang status sebagai Nyonya Arga.

"Kami sudah makan kok, Bu, jadi jangan repot-repot. Saya cuma ingin mampir sebentar karena sudah tidak sabar ingin kenal dengan Ibu dan keluarga Mas Arga." sahut Angel dengan nada bicara yang dibuat-buat lembut.

Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu, mengobrol santai.

"Tiara mana, Bu?" tanya Arga mencari adik bungsunya.

"Tiara belum pulang. Biasalah anak muda, mungkin sedang nongkrong sama teman-temannya." jawab Bu Ajeng.

"Oh, pantas saja mobilnya tidak ada di garasi." gumam Arga.

Mata Angel berbinar mendengar hal itu. Wah, adiknya Mas Arga sudah punya mobil sendiri? Pasti Arga yang membelikannya. Ternyata Mas Arga benar-benar mapan dan royal, pikir Angel senang.

"Nak Angel, kamu sudah tahu kan kalau Arga ini sebenarnya sudah punya istri?" tanya Bu Ajeng tiba-tiba, matanya menatap Angel lekat. "Ibu tidak mau kamu kecewa nantinya. Tapi tenang saja, Ibu mendukung hubungan kalian. Kamu cantik, menarik, dan berkelas... jauh sekali kalau dibandingkan dengan Laras."

Angel tersenyum sumringah. "Saya sudah tahu semuanya, Bu. Mas Arga sudah bercerita. Bagi saya itu bukan masalah selama kami saling mencintai. Mas Arga juga sudah berjanji akan segera menceraikan istrinya."

Bu Ajeng dan Arga saling melempar senyum penuh arti. Apa pun yang terjadi, Bu Ajeng akan berdiri di pihak Angel. Bayangan hidup mewah di bawah naungan menantu kaya raya sudah menari-nari di kepalanya.

"Mas, ini sudah malam. Apa istrimu tidak akan marah kalau kamu pulang terlambat?" tanya Angel sok perhatian. "Kalau mau pulang sekarang, silakan saja. Aku bisa pesan taksi online. Mau minta jemput sopir Papa, tapi pasti jam segini dia sudah istirahat. Tadi aku mau bawa mobil sendiri, tapi rasanya malas sekali menyetir."

"Laras tidak akan berani marah. Aku sudah bilang kalau aku lembur." potong Arga tegas. "Mana mungkin aku membiarkan kamu pulang sendirian malam-malam begini. Aku yang akan mengantarmu sampai depan pintu."

"Baiklah kalau begitu, Mas." bisik Angel manja.

Hampir jam sepuluh malam, barulah Angel berpamitan. Ini adalah kali pertama Arga diperbolehkan mengantar Angel pulang, karena biasanya gadis itu selalu menolak dengan berbagai alasan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mobil Arga berhenti di depan sebuah rumah mewah dua lantai. Pagar besinya tinggi menjulang, sekitar dua meter, dan dijaga ketat oleh seorang satpam.

"Ini rumahmu, Sayang?" tanya Arga takjub. matanya berbinar melihat kemewahan di depannya.

"Iya, ini rumahku. Tapi jangan mampir dulu ya, sudah malam." ucap Angel cepat. "Pokoknya selama kamu belum resmi cerai, jangan main ke sini dulu. Aku takut Papa tahu kamu sudah beristri. Urusannya bisa gawat kalau sampai Papa tidak merestui kita."

Arga mengangguk mantap. Ia akan mematuhi semua syarat Angel asalkan ia bisa memilikinya.

Aku tidak menyangka Angel sekaya ini. Rumahnya besar, mewah, bahkan ada satpam pribadinya. Ibu pasti akan sangat bahagia kalau tahu ini,batin Arga bangga.

"Iya, Sayang, aku mengerti. Kalau begitu aku langsung pulang ya. Titip salam untuk Mama dan Papamu."

"Iya, Sayang. Aku turun dulu ya. Bye!"

Cup.

Angel mendaratkan kecupan di pipi Arga sebelum turun. Arga tersenyum lebar dan membalasnya dengan mesra.

"Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat mencintaimu, Angel." bisik Arga lembut.

"Aku juga mencintaimu, Mas. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istrimu."

Setelah mobil Arga melaju menjauh dan hilang di kegelapan malam, barulah Angel mendekati gerbang.

"Halo, Pak Satpam. Buka pintunya dong." teriak Angel ketus sambil menggoyang-goyang pagar.

Satpam itu membukakan pintu dengan wajah masam. "Dari mana saja kamu? Sudah jam sebelas baru pulang. Jangan seenaknya keluar masuk, ya. Awas kalau besok pulang telat lagi, tidak akan saya bukakan gerbang."

"Tinggal buka saja apa susahnya sih? Pakai ngomel segala." bentak Angel tidak terima. "Kamu itu cuma satpam di sini, jadi tidak usah banyak tanya dan jangan mengaturku."

Angel melenggang masuk dengan angkuh, meninggalkan Pak Satpam yang hanya bisa mengelus dada.

"Sombong sekali anak ini. Gaya bicaranya seperti dia yang menggaji saya saja." gerutu Pak Satpam kesal.

**

Keesokan paginya di rumah Laras dan Arga.

Laras sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Arga duduk dengan wajah ditekuk saat melihat menu di depannya.

"Apa tidak ada menu lain, Laras? Tiap hari kalau bukan nasi goreng, ya telur. Aku bosan. Masak daging kenapa, sih?" protes Arga.

Laras menatap suaminya datar. "Kalau mau makan daging, beri aku uang lebih, Mas. Atau kamu belanja sendiri, nanti aku yang masakkan. Kalau tidak mau modal, lebih baik diam. Masih syukur aku masih mau menyiapkan makan untukmu."

Arga mendesah kasar. Jika sudah menyangkut uang, ia biasanya memilih bungkam. Selama dua tahun pernikahan mereka, faktanya 99 persen kebutuhan rumah tangga ditanggung oleh Laras menggunakan gajinya sendiri. Mulai dari listrik, keamanan, hingga urusan perut. Bahkan kebutuhan ibu mertua dan adik iparnya pun Laras yang bayar.

Arga hanya memberi satu juta rupiah, itu pun tidak setiap bulan. Bulan ini saja, sudah tanggal dua belas dan Arga belum memberikan sepeser pun. Ini adalah bulan kedua ia lepas tangan.

"Mas, aku tahu gajiku memang lebih besar. Tapi itu bukan alasan kamu lepas tanggung jawab." ucap Laras tenang namun menusuk. "Kamu suamiku, seharusnya kamu yang menafkahi aku, bukan sebaliknya. Selama ini aku diam, tapi lama-lama kamu melunjak. Empat tahun aku menanggung Ibu, kuliah Tiara, sampai cicilan keluarga kamu. Apa kamu menganggap aku ini mesin uang?"

"Kamu ini kenapa sih, Ras? Pagi-pagi sudah membahas hal yang tidak perlu. Aku cuma tanya soal daging, kenapa merembet ke mana-mana? Jangan merusak suasana hatiku." bentak Arga, mulai merasa tersudut.

"Kemarin sore Mbak Maya datang ke sini, marah-marah karena aku menolak membayar cicilan banknya. Kalian semua menganggap aku ini sumber uang yang tidak akan habis! Mulai saat ini, aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk keluargamu. Terserah rumah Ibu mau disita atau tidak, aku tidak peduli." tegas Laras.

Arga terdiam membisu. Ia benar-benar lupa soal tunggakan bank itu karena terlalu sibuk bersenang-senang dengan Angel di Lombok kemarin. Hari ini adalah jatuh temponya.

Laras berdiri, membawa piring kotornya ke wastafel dengan gerakan tegas.

"Ras... apa kamu benar-benar tidak bisa bantu bayar cicilan itu dulu? Hari ini jatuh tempo. Begini saja, aku pinjam dulu uangmu, nanti kalau aku ada rezeki pasti kuganti." ucap Arga dengan janji manis yang sudah berulang kali ia langgar.

"Maaf, aku tidak punya uang. Aku harus berangkat kantor sekarang." sahut Laras singkat. Ia mengambil tasnya dan melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi.

"Laras! Aku tahu kamu punya uang. Kamu hanya pelit. Dasar istri pelit." teriak Arga murka.

Brak!

Arga memukul meja makan dengan keras hingga gelas di atasnya jatuh dan hancur berkeping-keping. Air tumpah membasahi lantai, persis seperti kekacauan di kepalanya.

"Sialan kamu, Laras. Lihat saja, kamu pasti akan menyesal." umpat Arga. Dengan perasaan dongkol, ia meninggalkan meja makan yang berantakan itu begitu saja dan berangkat ke kantor.

1
Ariany Sudjana
heh Bu Ajeng, kan pelacur murahan itu kesayangan kamu, kenapa kamu ga minta sama dia, untuk beli beras dll? kan orang kaya katanya 😂😂🤣🤣 sekalian suruh jalang peliharaan Arga itu untuk beres-beres rumah, jangan hanya tahunya numpang makan enak di rumah orang, tapi ga tanggung jawab untuk beresin rumah
Ariany Sudjana
haha laki-laki mokondo, mana sanggup kamu ganti perlengkapan mandi Laras? kan kamu dan keluarga kamu itu parasit Arga 🤭🤭😂😂
Ariany Sudjana
bagus Laras, kamu harus tegas dan kuat, tunjukkan kamu itu perempuan mandiri dan angel itu hanya batu kerikil, dan juga Arga itu laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Hardini Hardini
Biasa
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu angel, kamu pikir barang punya Laras yang kamu ambil itu uang dari Arga ? owh bodoh sekali kamu, sudah jadi pelacur murahan, dapat laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Ariany Sudjana
dari sekian orang di keluarga Arga, hanya Rangga yang wise, yang lain serakah semua. dasar Arga, kamu pikir kamu sudah menang, dengan angel hamil sekarang? yang ada kamu akan semakin terpuruk
Martina Loe
sedih dgn keluarga parasit
Ariany Sudjana
benar klop, laki-laki mokondo yang ga tahu diri dan pelacur murahan 🤣🤣 heh angel kamu mimpi mau jadi nyonya besar? mimpi kamu ketinggian, Laras itu perempuan baik-baik dan juga konglomerat, sedangkan kamu hanya batu kerikil dan juga jalang peliharaan 😂😂🤭🤭
Yati Syahira
elit pingin bergaya wkwkk ekonomi sulit pingin bergaya borju
Yati Syahira
mertua tsk ada aqlaq
Yati Syahira
benalu tapi arogan laras bodoh lama
Ariany Sudjana
Arga kamu bodoh, melepaskan berlian demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha pasangan yang cocok, yabg satu pelacur murahan, yang satu laki-laki mokondo 😄😄🤣🤣
tanpa nama
keluarga kere gaya hedon🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!