Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ketukan di pintu kamar VVIP itu terdengar ragu namun mendesak.
Affan muncul di ambang pintu, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam.
Ia melangkah masuk beberapa tindak, matanya langsung tertuju pada sosok Rengganis yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Ganis, bagaimana keadaanmu? Aku benar-benar khawatir," ucap Affan dengan suara rendah, mengabaikan tatapan tajam Permadi yang masih duduk setia di samping ranjang.
Rengganis menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk bicara.
Ia memberikan senyum formal—senyum yang jelas menunjukkan batasan antara seorang pasien dan manajer hotel, atau antara teman lama yang sudah tidak memiliki ikatan rasa.
"Aku sudah jauh lebih baik, Affan. Terima kasih banyak sudah sangat sigap membantuku sampai ke sini bersama suamiku," ucap Rengganis tenang, sengaja menekankan kata 'suamiku' untuk mempertegas posisi Permadi di hidupnya.
Affan tampak tertegun sejenak mendengar nada bicara Rengganis yang begitu berjarak.
"Tapi Ganis, kalau kamu butuh sesuatu dari hotel atau butuh bantuan medis tambahan, aku bisa—"
"Tidak perlu, Affan," potong Rengganis lembut namun tegas.
"Fasilitas di sini sudah sangat lengkap, dan suamiku tidak akan membiarkanku kekurangan apa pun. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik sebagai manajer. Sekarang, kembalilah bekerja. Aku tidak ingin resort kehilangan manajer terbaiknya hanya karena urusan pribadiku."
Permadi yang tadinya sudah siap meledak, tiba-tiba merasa dadanya lapang.
Ia menatap Rengganis dengan binar kagum; istrinya baru saja memutus harapan Affan dengan cara yang sangat elegan tanpa perlu berteriak.
Affan terdiam cukup lama. Ia menatap tangan Rengganis yang masih digenggam erat oleh Permadi.
Akhirnya, dengan bahu yang sedikit merosot, ia mengangguk pelan.
"Baiklah. Kalau itu maumu. Cepat sembuh, Ganis. Mari, Pak Permadi," ucap Affan sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar tersebut.
Begitu pintu tertutup rapat, Permadi langsung mencium kening Rengganis dengan penuh perasaan.
"Terima kasih, Sayang. Kamu hebat sekali mengusirnya tanpa membuatku harus melempar vas bunga ke kepalanya."
Rengganis tertawa kecil, meski wajahnya masih pucat.
"Mas, aku sudah bilang kan? Dia itu masa lalu. Sekarang, fokuslah merawatku. Aku ingin cepat sembuh agar kita bisa melanjutkan liburan ini—meskipun tanpa 'gaya helikopter' untuk sementara waktu."
Permadi terkekeh, ia membetulkan letak selimut Rengganis.
"Iya, Sayang. Janji. Hanya pelukan dan doa untuk sekarang."
Permadi menghela napas panjang, jemarinya masih membelai lembut rambut Rengganis.
Ia baru saja hendak meraih ponselnya untuk memberi kabar kepada keluarga di Jakarta, namun instruksi istrinya menghentikan niatnya.
"Tidak usah menghubungi kedua orang tua kita, Mas," ucap Rengganis dengan suara yang sedikit lebih bertenaga namun tetap serak.
"Kalau Mama dan Papa tahu aku masuk rumah sakit, mereka akan langsung terbang ke sini dengan jet pribadi. Bukannya bulan madu, kamar ini nanti malah jadi ruang rapat keluarga. Dan yang paling penting, kamu akan gagal memelukku karena mereka pasti akan menjagaku 24 jam."
Permadi terkekeh pelan, rasa sesalnya sedikit terangkat oleh candaan istrinya.
"Kamu benar. Papa pasti akan menceramahiku habis-habisan karena tidak becus menjagamu. Baiklah, ini rahasia kita berdua sampai kamu sembuh."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk dengan seragam rapi, membawa nampan berisi obat-obatan dan bubur halus untuk sarapan Rengganis.
Perawat itu tampak sangat profesional, namun ia sempat melirik ke arah Permadi dengan tatapan yang penuh peringatan.
"Selamat pagi, Ibu Rengganis. Waktunya minum obat dan sarapan," sapanya ramah sambil meletakkan nampan di meja samping ranjang.
Sebelum keluar, perawat itu berhenti sejenak di dekat Permadi.
Ia berdehem kecil, memastikan suaranya terdengar jelas.
"Pak Permadi," panggil perawat itu.
"Dokter sudah mencatat di laporan medis. Saya hanya ingin mengingatkan kembali. Mohon diingat, jangan berhubungan dulu sampai luka lecetnya benar-benar kering dan suhu tubuh Ibu stabil. Setidaknya seminggu ke depan, ya, Pak. Tolong ditahan dulu keinginannya demi pemulihan Ibu."
Wajah Permadi yang biasanya angkuh seketika memerah sampai ke telinga.
Ia berdehem canggung, menghindari tatapan mata perawat itu.
"I-iya, Sus. Saya mengerti. Saya tidak akan, ya, saya paham."
Rengganis yang melihat ekspresi suaminya yang "terciduk" itu hanya bisa menahan tawa hingga bahunya terguncang.
Begitu perawat itu keluar, tawa Rengganis pecah meski pelan.
"Hahaha. Mas, wajahmu lucu sekali. Seperti anak kecil yang dimarahi guru karena ketahuan mencuri permen," goda Rengganis.
Permadi mendengus, ia mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi istrinya dengan telaten.
"Diam dan makanlah, Dokter Ganis. Kamu tidak tahu betapa beratnya jadi pria yang punya istri secantik kamu tapi harus puasa di tengah bulan madu."
"Sabar, Mas. Anggap saja ini ujian kesabaran untuk calon ayah yang hebat," sahut Rengganis sambil menerima suapan bubur dari suaminya.
Permadi tersenyum tulus.
Meskipun mereka berada di rumah sakit, momen sederhana seperti menyuapi istrinya ini terasa jauh lebih intim daripada kemewahan apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Selesai menyuapi Rengganis hingga suapan terakhir, Permadi dengan telaten merapikan sisa makanan dan membantu istrinya kembali berbaring.
Ia menaikkan selimut hingga sebatas dada Rengganis, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lembut—sebuah kecupan yang jauh dari kesan penuh nafsu yang biasanya ia tunjukkan.
Permadi kemudian berdiri dan melirik ke arah sofa panjang yang terletak di sudut ruangan VVIP tersebut.
"Nah, sekarang kamu istirahat ya. Aku tidur di sana saja," ucap Permadi sambil menunjuk sofa itu dengan ibu jarinya.
Rengganis mengerutkan kening, tangannya masih menahan ujung kemeja Permadi.
"Lho, kenapa di sana? Ranjang ini kan cukup luas untuk kita berdua, Mas. Di sini saja, temani aku."
Permadi menggeleng cepat dengan ekspresi wajah yang dibuat seserius mungkin, meski ada kilat geli di matanya.
"Tidak, Sayang. Bahaya. Aku tidur di sana saja supaya aman. Aku takut kalau tidur di sampingmu, nanti tiba-tiba ada aliran listrik yang 'nyetrum'. Kalau sudah nyetrum, bisa bahaya nanti. Aku tidak mau kena semprot perawat atau dokter itu lagi karena melanggar aturan puasa," ujar Permadi sambil terkekeh getir.
Rengganis tertawa lemah. "Tapi Mas, di sana kan dingin. Sofanya juga pendek untuk ukuran tubuhmu yang tinggi begitu."
"Lebih baik aku kedinginan karena AC dan punggung pegal di sofa, daripada aku 'panas' karena melihatmu tapi tidak boleh menyentuhmu," balas Permadi jujur.
Ia melepaskan tangan Rengganis pelan-pelan. "Ini demi kebaikanmu, Dokter Ganis. Aku mau kamu cepat sembuh supaya kita bisa pulang ke Jakarta dengan sehat. Kalau aku tidur di sini, aku tidak menjamin bisa menahan diri hanya untuk sekadar memeluk."
Rengganis akhirnya melepaskan pegangannya, ia tersenyum melihat sisi dewasa sekaligus konyol suaminya.
"Baiklah, Tuan Wijaya. Terima kasih sudah belajar menahan diri."
Permadi mengambil bantal cadangan dan selimut tambahan.
Sebelum mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram, ia sempat menoleh lagi.
"Jangan pasang wajah cantik begitu saat tidur, ya. Itu ujian berat buatku di pojokan sana," goda Permadi yang sukses membuat Rengganis melempar bantal kecil ke arahnya sambil tertawa.
Malam itu, di tengah kesunyian ruang perawatan, Permadi benar-benar membuktikan janjinya.
Meski berkali-kali ia mengubah posisi tidurnya karena sofa yang sempit, matanya terus terjaga untuk memastikan napas Rengganis teratur dan istrinya tidak menggigil lagi.
Cinta ternyata memang bukan hanya soal gairah, tapi juga soal pengorbanan dan pengendalian diri.