menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 Jejak yang Terhapus
Saka melangkah masuk ke rumahnya dengan perasaan lelah yang luar biasa. Aula sekolah tadi terasa seperti mimpi buruk yang meninggalkan lubang di kepalanya. Ia hanya ingin merebahkan diri dan mendengar suara ibunya yang biasanya cerewet menanyakan kenapa seragamnya kotor.
Namun, saat ia membuka pintu, suasana rumah terasa dingin. Ibunya sedang duduk di ruang tamu, menyesap teh sambil membaca majalah. Ketika melihat Saka, ibunya tidak tersenyum. Ia menatap Saka dengan dahi berkerut, tatapan yang biasa diberikan kepada orang asing yang salah masuk rumah.
"Ibu, Saka pulang," ucap Saka pelan.
Wanita itu meletakkan majalahnya. "Maaf? Kamu temannya anak saya? Tapi anak saya sedang di kamar sejak tadi pagi."
Jantung Saka seolah berhenti berdetak. "Ibu bercanda, kan? Ini Saka. Anak Ibu."
"Nak, saya tidak tahu ini lelucon macam apa, tapi anak saya, Saka, tidak pernah setinggi kamu dan dia tidak punya luka parut aneh di tangannya," ucap ibunya dengan nada waspada. "Silakan keluar sebelum saya panggil keamanan."
Saka berlari menuju kamarnya di lantai dua. Ia mendobrak pintu dan membeku di ambang pintu. Di dalam kamar itu, duduk seorang remaja laki-laki yang sangat mirip dengannya—tapi bukan dia. Remaja itu tampak lebih kurus, lebih lemah, dan sedang asyik bermain game console.
"Siapa kamu?!" teriak Saka.
Remaja itu menoleh bingung. "Lho, kamu siapa? Kok masuk ke kamarku?"
Saka menyadari serangan The Eraser sebelum ia menghilang tadi bukan sekadar gertakan. Benih di masa lalu. The Eraser telah mengubah satu kejadian kecil di masa kecil Saka, menyebabkan garis waktu bercabang di mana "Saka yang asli" tetap ada sebagai remaja biasa, sementara "Saka Penjaga Waktu" menjadi entitas tanpa tempat tinggal dalam sejarah.
Saka terduduk di emperan jalan Braga, tepat di depan toko jam Ki Ganda yang kini terkunci rapat. Ia merasa seperti hantu. Namanya tidak ada di buku absen sekolah, fotonya hilang dari album keluarga, dan keberadaannya mulai memudar dari ingatan orang-orang yang ia kenal—kecuali satu orang.
"Aku tahu ini akan terjadi," suara Luna muncul dari balik bayang-bayang pilar bangunan tua.
"Kenapa, Luna? Kenapa aku diusir dari hidupku sendiri?" tanya Saka dengan suara hancur.
"Karena kamu terlalu kuat menggunakan The Void Watch," jawab Luna sambil duduk di sampingnya. "Kamu telah memisahkan dirimu dari aliran waktu utama. Sekarang, kamu adalah seorang Outsider. Bagimu, masa lalu hanyalah kumpulan data, bukan lagi kenangan."
"Lalu bagaimana dengan Anita?" Saka berdiri dengan panik. "Kalau ibuku saja lupa siapa aku, bagaimana dengan dia?"
Luna menatap Saka dengan iba. "Anita adalah sauhmu, Saka. Tapi parasit waktu lainnya tidak akan membiarkan itu. Mereka sedang menuju ke rumah Anita sekarang untuk menghapus satu-satunya orang yang masih mengingatmu. Jika Anita lupa padamu, kamu akan benar-benar lenyap dari realitas ini."
Saka memacu motornya—yang entah kenapa masih mengenalinya—menuju rumah Anita. Sepanjang jalan, ia melihat pemandangan yang mengerikan: bangunan-bangunan yang ia lewati sesekali berkedip, berubah dari gedung modern menjadi reruntuhan tua dalam sekejap. Realitas sedang tidak stabil.
Di depan rumah Anita, ia melihat tiga pria bersetelan abu-abu tanpa wajah. Mereka adalah Hollow Men, bawahan The Eraser yang bertugas menyedot memori target secara paksa.
"Jangan sentuh dia!" teriak Saka sambil melompat dari motor.
Ia mengaktifkan The Void Watch. Kali ini, permukaannya memancarkan cahaya ungu yang menyakitkan. Saka tidak lagi peduli pada ingatannya yang tersisa. Ia memberikan segalanya—memori tentang kelulusan SD, memori tentang aroma masakan rumah, bahkan memori tentang wajah ayahnya—hanya untuk mendapatkan kekuatan satu menit terakhir.
Dengan gerakan yang melampaui batas manusia, Saka menghancurkan ketiga Hollow Men itu hingga menjadi debu waktu. Namun, ia ambruk tepat di depan pintu rumah Anita. Pandangannya menggelap.
Pintu terbuka. Anita keluar dengan wajah cemas.
"Saka?" bisik Anita.
Saka menatapnya dengan sisa kesadarannya. "Nit... kamu masih ingat aku?"
Anita berlutut, memeluk kepala Saka dan menangis. "Bagaimana aku bisa lupa? Kamu adalah orang yang menyelamatkanku di rumah sakit. Kamu adalah alasan aku tetap di sini."
Begitu Anita mengucapkan kata-kata itu, luka parut di tangan Saka berhenti berdenyut menyakitkan dan berubah menjadi cahaya emas yang menenangkan. Keberadaan Saka kembali "terkunci" dalam realitas karena masih ada satu jiwa yang mengakuinya.
"Tapi Nit..." Saka berbisik lirih. "Aku... aku sudah lupa bagaimana suaramu saat pertama kali kita bertemu."
Anita tersenyum sambil menangis, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Saka. "Kalau begitu, kita buat kenangan baru mulai dari detik ini."
Di kegelapan malam, seorang pria bertopeng logam mengamati mereka dari kejauhan. The Eraser belum kalah; ia hanya sedang menunggu saat di mana Anita sendiri yang akan memohon agar Saka dihapus dari waktu.