di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Hutan Kematian dan Hujan Darah
Angin malam di luar Kota Angin Hitam bertiup kencang, membawa debu pasir dan aroma kematian yang pekat. Hutan belantara yang membentang di selatan kota itu dikenal sebagai Hutan Tulang Kering, tempat di mana banyak pedagang dan kultivator lemah menghilang tanpa jejak, dimangsa oleh bandit atau binatang buas.
Namun malam ini, predator yang paling berbahaya di hutan itu bukanlah binatang buas.
Wuuush!
Sesosok bayangan hitam melesat di antara pepohonan raksasa. Kakinya hampir tidak menyentuh tanah, hanya menginjak batang pohon atau daun kering tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Ye Yuan berhenti di atas dahan pohon mati yang tinggi. Dia berbalik, menatap kegelapan di belakangnya.
Di kejauhan, puluhan titik cahaya obor dan kilatan Qi warna-warni bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi. Suara teriakan, makian, dan keserakahan terdengar jelas terbawa angin.
"Dia lari ke arah rawa!"
"Cepat! 10.000 Batu Roh adalah milikku!"
"Siapa yang dapat kepalanya, kita bagi rata!"
Ye Yuan menghitung dalam diam.
"Tiga puluh... empat puluh orang. Kebanyakan sampah Tingkat Delapan dan Sembilan. Ada tiga aura Pembentukan Fondasi Awal yang bersembunyi di antara mereka."
Dan tentu saja, aura yang paling kuat dan penuh kebencian terbang di atas mereka semua: Tetua Li.
Ye Yuan menyentuh gagang pedang patah di punggungnya. Pedang itu bergetar halus, mengirimkan gelombang rasa haus yang tak tertahankan ke saraf Ye Yuan.
"Kau ingin makan besar malam ini, kan?" bisik Ye Yuan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin yang mengerikan.
Dia tidak lari karena takut. Dia lari untuk memisahkan domba-domba ini dari keramaian kota. Di sini, di kegelapan hutan, tidak ada saksi mata. Tidak ada aturan.
Ye Yuan melompat turun dari pohon, mendarat di tengah jalan setapak yang sempit. Dia berdiri diam, memunggungi arah datangnya para pengejar.
Detik berikutnya, kelompok pertama pengejar tiba.
Mereka adalah lima orang kultivator liar berwajah garang, memegang golok dan kapak. Begitu melihat Ye Yuan berdiri diam, mereka berhenti mendadak, lalu tertawa senang.
"Hahaha! Lihat, tikus itu kelelahan!"
"Hei, Nak! Serahkan hartamu dan bunuh diri saja. Kami janji mayatmu akan kami kubur... setelah kami ambil kepalanya!"
Ye Yuan tidak berbalik. Dia hanya membuka ikatan kain pedangnya perlahan. Kain lusuh itu jatuh ke tanah.
"Kalian..." suara Ye Yuan rendah, tenggelam dalam desau angin. "Kalian datang jauh-jauh hanya untuk mengantar nyawa?"
"Banyak omong! MATI!"
Seorang pria kekar dengan kapak ganda melompat menerjang punggung Ye Yuan.
ZING!
Tidak ada yang melihat Ye Yuan bergerak.
Mereka hanya melihat kilatan cahaya biru dingin yang melengkung di udara malam, seperti sabit bulan sabit yang jatuh ke bumi.
Pria kekar itu tiba-tiba berhenti di udara. Kapaknya terbelah dua. Dan dari puncak kepalanya hingga selangkangannya, muncul garis merah tipis.
SPLAT!
Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian simetris, jatuh ke kiri dan kanan Ye Yuan. Darah dan organ dalam berserakan di tanah.
Empat orang lainnya membeku. Tawa mereka tersangkut di tenggorokan.
Ye Yuan perlahan berbalik. Mata ungunya bersinar di kegelapan, menatap mereka seperti iblis yang baru bangkit dari neraka. Pedang patah di tangannya tidak meneteskan darah, karena darah pria tadi sudah diserap habis dalam sekejap.
"Satu," hitung Ye Yuan.
"Lari! Dia monster!" teriak salah satu pengejar.
"Terlambat."
Ye Yuan menghilang.
[Langkah Hantu Asura: Hujan Bayangan!]
Ye Yuan muncul di tengah-tengah mereka. Pedangnya menari. Bukan teknik indah, tapi tarian kematian yang efisien. Setiap ayunan memotong urat nadi, memenggal kepala, atau menembus jantung.
Crot! Crot! Crot!
Dalam dua detik, empat mayat lagi jatuh ke tanah.
Tapi itu baru permulaan. Kelompok pengejar kedua, ketiga, dan seterusnya mulai berdatangan. Melihat mayat rekan-rekan mereka, bukannya takut, keserakahan mereka justru memuncak.
"Dia lelah! Keroyok dia!"
"Bunuh dia! Harta Tetua Li menunggu!"
Puluhan senjata Qi ditembakkan ke arah Ye Yuan. Panah api, bola es, jarum beracun, bilah angin.
Hutan itu meledak dalam kekacauan warna-warni. Pohon-pohon tumbang, tanah hangus terbakar.
Di tengah badai serangan itu, Ye Yuan tertawa.
"Bagus! Semakin banyak darah, semakin tajam pedangku!"
Ye Yuan tidak menghindar. Dia mengaktifkan Qi Pembentukan Fondasi-nya. Lapisan cahaya perunggu menyelimuti kulitnya.
[Tubuh Pedang Perunggu!]
Serangan-serangan tingkat rendah itu hanya memantul dari kulitnya, meninggalkan goresan putih atau lebam kecil yang sembuh seketika.
Ye Yuan menerjang masuk ke kerumunan musuh seperti serigala masuk ke kandang ayam.
SLASH!
Seorang kultivator pedang mencoba menangkis, tapi pedangnya hancur bersama lengannya.
BUM!
Ye Yuan menendang dada seorang kultivator wanita hingga tulang rusuknya menembus paru-paru.
Darah mulai menggenang di tanah hutan. Pedang patah Ye Yuan bersinar semakin terang, aura biru Api Bintang Dingin mulai menyelimuti bilahnya, membekukan darah musuh yang muncrat sebelum sempat menyentuh tanah.
"Minggir!"
Sebuah teriakan keras terdengar dari udara.
Tiga sosok melayang turun, memancarkan tekanan Pembentukan Fondasi Tingkat Awal. Mereka adalah pembunuh bayaran elit Kota Angin Hitam yang disewa Tetua Li.
"Bocah sombong! Kau pikir bisa melawan kami bertiga?" kata yang tertua, seorang pria tua bungkuk dengan kuku-kuku panjang setajam pisau.
Mereka menyerang serentak. Satu menggunakan kuku racun, satu menggunakan pedang terbang, dan satu lagi menggunakan jaring energi.
Ye Yuan berhenti membantai kroco. Dia menatap tiga elit ini.
"Akhirnya, makanan pembuka yang layak."
Ye Yuan memegang pedangnya dengan dua tangan. Dia menarik napas dalam, menyerap aura kematian di sekitarnya.
[Sutra Hati Pedang Asura - Bentuk Kedua: Taring Naga Penelan Langit!]
Bukannya bertahan, Ye Yuan menusukkan pedangnya ke tanah.
BOOM!
Gelombang kejut Qi hitam bercampur api biru meledak dari tanah di bawah kaki ketiga elit itu. Tanah retak, dan pilar-pilar energi pedang mencuat keluar seperti gigi naga yang tumbuh dari neraka.
"Apa ini?!" Pria bungkuk itu terkejut. Dia melompat mundur, tapi pilar energi itu mengejarnya.
Ye Yuan muncul di depannya dalam sekejap, menembus debu ledakan.
"Kau terlalu lambat."
JLEB!
Pedang patah Ye Yuan menembus dada pria bungkuk itu. Ye Yuan mengangkat tubuh pria itu tinggi-tinggi, menjadikannya tameng untuk menahan pedang terbang rekannya.
"Saudara Pertama!" teriak dua elit lainnya.
Ye Yuan melempar mayat pria bungkuk itu ke arah si pengguna jaring, lalu melesat mengejar si pengguna pedang terbang.
"Jangan mendekat!" Pengguna pedang terbang panik. Dia mengendalikan pedangnya untuk menyerang leher Ye Yuan dari belakang.
Ye Yuan tidak menoleh. Dia menangkap pedang terbang itu dengan tangan kosong!
KREK!
Tangan perunggu Ye Yuan meremas pedang terbang itu hingga bengkok dan kehilangan koneksi spiritual dengan pemiliknya.
"Pedangmu lemah."
Ye Yuan sudah ada di depan wajah si pemilik pedang.
BUAGH!
Satu tinju ke wajah. Kepala orang itu meledak seperti semangka busuk.
Hanya tersisa satu elit lagi, yang kini terjerat dalam jaring energinya sendiri karena panik.
Ye Yuan berjalan mendekatinya, menyeret pedang yang meneteskan darah.
"Ampun! Aku hanya dibayar..."
SLASH!
Ye Yuan memenggal kepalanya tanpa ekspresi.
Hening.
Puluhan pengejar lainnya yang masih hidup mundur ketakutan. Mereka melihat tiga ahli Pembentukan Fondasi dibantai dalam waktu kurang dari sepuluh napas.
Ini bukan perburuan harta. Ini bunuh diri massal.
"Lari... LARI!"
Kerumunan itu pecah. Mereka berbalik dan lari kocar-kacir kembali ke arah kota. Uang 10.000 Batu Roh tidak lagi menarik jika nyawa mereka melayang.
Ye Yuan berdiri di tengah tumpukan mayat. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya masih jernih. Dia memungut kantong penyimpanan ketiga elit itu.
"YE YUAN!!!"
Suara gemuruh datang dari langit.
Sebuah pedang raksasa yang terbuat dari Qi emas turun menghantam tempat Ye Yuan berdiri.
BLAAAARRRR!
Tanah hutan hancur lebur, menciptakan kawah selebar dua puluh meter. Pohon-pohon di sekitarnya tumbang terbakar.
Ye Yuan melompat keluar dari debu ledakan, mendarat di dahan pohon yang masih berdiri. Pakaiannya robek, ada luka bakar di bahunya.
Di atas sana, melayang Tetua Li.
Dia berdiri di atas pedang terbangnya, jubah emasnya berkibar. Wajahnya bukan lagi wajah manusia, melainkan topeng kebencian murni. Matanya merah, rambutnya acak-acakan.
Aura Pembentukan Fondasi Tingkat Lima menekan seluruh hutan.
"Kau membunuh anak buahku... Kau mempermalukanku di pelelangan... Kau menghancurkan masa depan anakku..."
Tetua Li mengangkat tangannya. Ratusan pedang energi emas muncul di belakang punggungnya, mengarah ke Ye Yuan.
"Malam ini, bahkan Dewa tidak akan bisa menyelamatkanmu. Aku akan mencincangmu menjadi sepuluh ribu potong!"
Ye Yuan berdiri tegak di atas dahan pohon. Dia menyeka darah di sudut bibirnya, lalu menatap langit.
Dia mengangkat pedang patahnya, menunjuk lurus ke wajah Tetua Li.
"Turunlah, Anjing Tua," tantang Ye Yuan.
"Tanah ini sudah basah oleh darah. Sangat cocok untuk menjadi kuburanmu."
Pertarungan terakhir yang menentukan nasib mereka berdua akhirnya dimulai.
[Bersambung ke Bab 20]