kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kekacauan di Perbatasan
Desa Norval di perbatasan utara Aethelgard, yang biasanya damai dengan rumah-rumah kayu yang kokoh dan ladang-ladang gandum yang menguning, kini hanyalah puing-puing sunyi. Asap tipis masih mengepul dari sisa-sisa bangunan yang terbakar, aroma hangus memenuhi udara dingin. Kabut hitam pekat yang oleh rakyat disebut "Kekosongan" telah datang dan pergi, meninggalkan jejak kehancuran total. Tanah yang dulunya subur kini kering kerontang, pohon-pohon besar tumbang dengan daun-daun layu seolah hidup mereka telah tersedot habis.
Rombongan prajurit kerajaan, yang dipimpin oleh Kapten Kael, tiba di lokasi. Wajah-wajah mereka pucat pasi, bukan hanya karena hawa dingin pegunungan, tetapi karena pemandangan mengerikan di hadapan mereka. Kael, seorang perwira muda yang ambisius dengan mata tajam dan fisik yang atletis, mencoba untuk tetap tenang, namun benang kecemasan yang terpancar darinya tak luput dari indra Pangeran Ryo.
Ryo, yang tetap berada di menaranya di ibu kota, ribuan mil jauhnya, merasakan kengerian Kael melalui benang eterik yang terhubung samar dengan sang kapten. Ryo tidak secara langsung mengendalikan Kael, namun ia telah melonggarkan benang-benang yang mengatur keraguan dan ketakutan dalam diri Kael, sedikit menguatkan benang keberaniannya, sehingga sang kapten bisa memimpin pasukannya tanpa patah semangat. Ini adalah bentuk kontrol yang halus, hampir tidak terasa oleh Kael sendiri. Ryo menggunakannya sebagai sarana untuk mendapatkan informasi, seolah Kael adalah perpanjangan indranya.
Melalui mata Kael, Ryo melihat reruntuhan. Dia merasakan putus asa yang menggantung di udara, dinginnya kematian yang abadi. Yang paling menakutkan, ia melihat beberapa penduduk desa yang selamat. Mereka tidak terluka secara fisik, tetapi mata mereka kosong, tatapan mereka menerawang. Pikiran mereka telah terkuras habis, ingatan mereka tercabut. Mereka bergerak seperti boneka, ironisnya, tapi tanpa Dalang.
"Ini bukan musuh biasa," gumam seorang prajurit di samping Kael, suaranya bergetar. "Ini... penyihir gelap?"
Kael menghela napas. "Tidak. Ini lebih buruk dari penyihir. Penyihir meninggalkan jejak sihir. Ini meninggalkan... kehampaan."
Melalui benang eterik, Ryo merasakan pikiran Kael. Sang kapten sedang memikirkan strategi, mencoba memahami sifat musuh yang tak berwujud ini. Ryo, sedikit mendesak benang pemikiran Kael, menyalurkan ide tentang perlunya mencari pola, bukan hanya melawan kabut itu secara membabi buta. Kael merasakan kilasan ide itu, seolah-olah itu adalah pemikirannya sendiri, dan segera memerintahkan pasukannya untuk mencari setiap detail, setiap petunjuk, bukan hanya jumlah korban.
Laporan-laporan mulai berdatangan ke istana, mengganggu ketenangan Ryo. Desa-desa di perbatasan utara diserang oleh "Kekosongan"—kabut hitam pekat yang melahap apa saja yang disentuhnya, meninggalkan kehampaan. Para prajurit kembali dengan cerita horor tentang ilusi yang memecah belah pikiran dan kekuatan yang menguras kehidupan. Raja tampak gelisah, para penasihat panik. Ryo, bagaimanapun, tetap diam di kamarnya, boneka di tangannya terasa sedikit lebih berat. Dia mengirimkan kesadarannya melalui benang-benang eterik, merayapi pikiran para prajurit yang ketakutan, merasakan kengerian mereka, dan mencoba memahami bentuk baru dari ancaman ini. Dia melihat komandan-komandan yang ragu, pasukan yang kehilangan arah. Sebuah desakan halus pada benang salah satu kapten, membuatnya mengambil inisiatif untuk memperkuat garis pertahanan tertentu. Tindakan kecil, tapi bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Hari-hari berlalu. Kekosongan terus merayap, melahap desa demi desa. Ryo semakin sering menggunakan kekuatannya. Ia tidak lagi hanya memata-matai, tapi mulai secara aktif memanipulasi benang-benang para perwira militer dan pejabat istana. Ia membuat mereka mengambil keputusan yang lebih baik, mengalihkan sumber daya ke tempat yang lebih membutuhkan, bahkan kadang menekan benang ketakutan pada beberapa prajurit yang nyaris desersi, menggantinya dengan percikan keberanian.
Namun, setiap penggunaan kekuatan ini datang dengan harga. Setiap kali ia menyentuh benang jiwa orang lain, ia merasakan sebagian dari beban jiwa itu, sebagian dari emosi dan pikiran mereka. Pikiran Kael, yang awalnya berani, kini bercampur dengan keputusasaan yang tumbuh. Pikiran para prajurit dipenuhi ketakutan dan kelelahan. Semua ini mengalir ke dalam diri Ryo, membuatnya semakin letih, semakin sulit membedakan emosinya sendiri dari emosi ribuan orang lain. Matanya yang merah tampak semakin cekung, lingkaran hitam di bawahnya semakin pekat. Boneka kayu di tangannya terasa semakin dingin, seolah menyerap kehangatan dari dirinya.
Suatu malam, Ryo melihat Kael berlutut di tengah reruntuhan sebuah desa yang baru saja dihantam Kekosongan. Air mata mengalir di pipi sang kapten. Ryo merasakan benang putus asa Kael begitu kuat, begitu menyakitkan, seolah itu adalah putus asanya sendiri. Ia merasa mual, kepalanya pusing. Ia nyaris memanipulasi benang Kael untuk menghilangkan kesedihannya, untuk memberinya kekuatan palsu. Namun, ia berhenti. Ingatan tentang wajah yang dicintai kembali menghantamnya, peringatan akan bahaya bermain-main dengan emosi tulus seseorang.
Ia memutuskan untuk tidak mengendalikan Kael secara langsung, melainkan mencari cara lain. Ia mulai memanipulasi benang-benang dari para penasihat raja, menyalurkan ide tentang perlunya mengirimkan bala bantuan dari wilayah selatan, di mana Kekosongan belum mencapai. Ide itu muncul di benak penasihat seolah-olah itu adalah pemikiran orisinal mereka, dan segera dilaksanakan. Ryo tersenyum pahit. Mengendalikan tanpa terlihat mengendalikan, itulah seni Dalang Jiwa. Sebuah seni yang sangat mematikan bagi jiwanya sendiri.
Ia kemudian memproyeksikan kesadarannya lebih jauh, mencoba merasakan sumber Kekosongan. Ia merasakan benang-benang jiwa dari makhluk-makhluk di hutan terlarang yang selama ini dihindari. Makhluk-makhluk itu ketakutan, benang-benang mereka bergetar hebat. Mereka tidak diserang, tapi mereka merasakan kehadiran Kekosongan. Mereka mencoba melarikan diri, namun Kekosongan itu bergerak lebih cepat dari yang ia duga.
Ryo menyadari satu hal yang mengerikan. Kekosongan ini tidak hanya menguras jiwa, ia juga menyerap benang-benang eterik. Setiap desa yang dilahap, setiap jiwa yang terkuras, benang-benang mereka tidak putus begitu saja. Mereka diserap, diinternalisasi oleh Kekosongan itu sendiri, menjadikannya semakin kuat, semakin besar. Itu berarti Kekosongan ini bukan hanya bencana, melainkan entitas yang belajar, entitas yang tumbuh dari jiwa-jiwa yang telah direnggutnya.
Keringat dingin membasahi pelipis Ryo. Jika Kekosongan ini adalah Dalang Jiwa lain, atau sesuatu yang lebih purba yang memiliki kemampuan serupa, maka ini adalah perang yang sama sekali berbeda. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan Aethelgard, tetapi tentang menyelamatkan esensi jiwa semua makhluk hidup.
"Pangeran Ryo!" Suara Nana terdengar dari balik pintu. "Sudah larut malam. Anda harus beristirahat."
Ryo menatap keluar jendela, menembus kegelapan malam yang pekat. Ia merasakan desakan Kekosongan yang semakin dekat, seperti gelombang pasang yang tak terhindarkan. Ia memegang erat boneka kayu itu, satu-satunya penghubung fisiknya dengan kekuatan yang begitu dahsyat. Tidur? Bagaimana ia bisa tidur ketika benang-benang kehidupan ribuan orang bergetar di tangannya, menunggu Dalang mereka untuk bergerak?
Di sisi lain, Kapten Kael, setelah hari yang panjang dan melelahkan, akhirnya tertidur pulas di barak darurat. Ia bermimpi tentang pertempuran, tentang kabut hitam yang merayap. Namun dalam mimpinya, ia merasakan sebuah tangan tak terlihat membimbingnya, memberinya kekuatan untuk terus maju. Ia tidak tahu, bahwa tangan itu, milik sang Dalang Jiwa, sedang berjuang lebih keras lagi dalam kesendiriannya.