Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keputusan Andreas sudah bulat. Tidak ada negosiasi, tidak ada masa percobaan. Baginya, udara New York sudah terlalu beracun untuk putra tunggalnya.
Satu minggu sebelum semester pertama di Harvard dimulai, Andreas memutuskan untuk mengirim Archelo lebih awal ke Cambridge. Ia ingin Archelo terputus sepenuhnya dari lingkaran Hernand dan kawan-kawannya yang hancur.
Malam sebelum keberangkatan, suasana di Mansion St. Clair terasa begitu sunyi. Archelo sedang mengemasi barang-barangnya dengan gerakan mekanis ketika pintu kamarnya terbuka. Seraphina masuk dengan langkah anggun yang selalu menenangkan, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam, luka seorang ibu yang melihat putranya memilih kegelapan.
Sera duduk di tepi ranjang, memperhatikan Archelo yang sedang melipat kemeja hitamnya. "Chello," panggilnya lembut.
Archelo berhenti, namun tidak menoleh. "Aku tahu, Mom. Aku mengecewakanmu. Aku tidak perlu ceramah tentang bagaimana aku merusak nama keluarga."
Sera menghela napas, ia bangkit dan memutar tubuh putranya agar menghadapnya. Ia menangkup wajah Archelo yang sangat mirip dengan Andreas itu, namun ia mencari binar yang dulu selalu ada di mata putranya saat masih kecil.
"Ibu tidak peduli tentang nama St. Clair atau Vanderbilt saat ini," ucap Sera, suaranya bergetar namun tegas. "Ibu tidak mengharapkan nilai sempurna, gelar prestisius, atau kau menjadi CEO dalam semalam. Ibu hanya ingin satu hal, Tolong hargai dirimu sendiri."
Archelo terdiam. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan.
"Setiap kali kau menenggak alkohol itu atau berada di lingkungan beracun itu, kau sedang menghancurkan mahakarya yang Ibu dan Ayah jaga dengan seluruh nyawa kami," lanjut Sera, air mata mulai menggenang.
"Disana, jadilah dirimu sendiri, Archelo. Bukan bayang-bayang ayahmu, bukan pelarian dari teman-temanmu. Temukan siapa 'Chello' yang sebenarnya."
Sera mengecup dahi putranya lama sekali. Pesan itu sederhana, namun menjadi beban paling berat yang dibawa Archelo dalam tas punggungnya menuju bandara keesokan paginya.
Bandara JFK pagi itu sangat sibuk. Archelo berjalan melewati terminal keberangkatan internasional dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang lelah. Ia tidak ingin diantar oleh supir, ia ingin pergi sendiri, merasakan sedikit kebebasan sebelum masuk ke penjara baru bernama universitas elit.
Saat sedang mengantre di konter check-in kelas satu, sebuah suara yang sangat ia kenali, suara yang menyebutnya pengecut dua hari lalu, terdengar dari arah belakang.
"Yah, lihat siapa yang sedang mencoba melarikan diri dari dosa-dosanya."
Archelo menoleh perlahan. Di sana, bersandar pada koper rimowa peraknya, berdiri Florence Edison. Ia mengenakan jaket bomber hijau militer dan boots hitam, tampak sangat kontras dengan kerumunan orang yang berpakaian rapi. Flo menatapnya dengan tatapan meremehkan yang sama seperti malam penggrebekan itu.
"Edison," gumam Archelo dingin.
"Kau sedang bertugas menguntitku?"
Flo tertawa sinis, melangkah maju hingga mereka berdiri berhadapan. "Jangan terlalu percaya diri, St. Clair. Aku juga punya kehidupan. Kau mau ke mana dengan wajah murung itu? Kabur ke panti rehabilitasi?"
"Aku akan ke Harvard," jawab Archelo datar.
Detik itu juga, tawa Flo meledak. Ia tertawa begitu keras hingga bahunya terguncang dan air mata muncul di sudut matanya. Beberapa calon penumpang lain menoleh ke arah mereka, namun Flo tidak peduli.
"Harvard?" Flo mengusap air matanya sambil tetap tertawa. "Pengecut sepertimu akan ke Harvard? Menjijikkan!"
Wajah Archelo mengeras. "Apa yang lucu? Aku memiliki nilai untuk berada di sana."
Flo berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan dingin dalam sekejap. Ia mendekat, memperpendek jarak hingga Archelo bisa mencium aroma peppermint yang sama lagi.
"Dengar ya, St. Clair. Mungkin malam itu kau memang sedang tidak memakai barang haram itu. Tapi penampilanmu yang acak-acakan, matamu yang merah karena alkohol, dan fakta bahwa kau betah berada di markas sampah itu membuktikan bahwa kau juga sampah," desis Flo.
Ia menunjuk dada Archelo dengan jari telunjuknya. "Harvard adalah tempat bagi orang-orang yang ingin mengubah dunia, bukan tempat persembunyian bagi anak kaya yang hobi minum untuk melupakan betapa pengecutnya dia menghadapi kenyataan. Kau hanya akan mengotori asrama itu dengan bau vodka-mu."
Archelo menggenggam tali tasnya erat-erat. "Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, Flo."
"Aku tahu cukup banyak hanya dari melihat lingkaran pertemananmu," sahut Flo. Ia kemudian mengambil paspornya dan mulai berjalan menjauh. "Jangan sampai kita bertemu di sana, St. Clair. Aku tidak sudi menghirup udara yang sama dengan orang yang menyia-nyiakan hidupnya."
Archelo terpaku di tempatnya berdiri. Ia melihat punggung Flo yang menjauh dengan langkah yang begitu penuh keyakinan. Kata-kata Flo tentang "menjijikkan" dan "sampah" terngiang-ngiang di telinganya, bersaing dengan nasehat ibunya tentang "menghargai diri sendiri".
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Archelo St. Clair tidak merasa seperti seorang pangeran. Ia merasa telanjang, seolah Flo telah menguliti semua kemewahannya dan menyisakan seorang pemuda yang memang sedang tersesat.
Saat ia naik ke pesawat, Archelo menatap ke luar jendela ke arah cakrawala New York yang mulai menjauh. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu Flo lagi di Cambridge, tapi satu hal yang pasti: Florence Edison telah menyulut api kemarahan sekaligus tantangan di dalam dirinya. Ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar sampah yang bersembunyi di balik nama besar orang tuanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰