NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4: Teknik Naga dan Saingan Baru

Sinar matahari pagi menyinari ruangan pelatihan melalui celah-celah jendela kayu, menciptakan pola bayangan yang indah di lantai yang mengkilap. Chen Feng berdiri dengan sikap tegak, kedua tangannya terentang di sisi tubuhnya sambil memperhatikan setiap gerakan Ye Tianhong dengan seksama.

“Hari ini kita akan mempelajari teknik dasar Pertempuran Tujuh Gerakan Naga,” ujar Ye Tianhong sambil mengeluarkan pedang kayu yang panjang dan ramping. “Setiap gerakan mewakili bagian tubuh naga yang berbeda—kepala, leher, tubuh, ekor, sayap, cakar, dan hati.”

Ia mulai menunjukkan gerakan pertama dengan kelincahan yang luar biasa untuk usianya. Tubuhnya melengkung seperti ular, lalu dengan cepat menyerang ke depan seperti kepala naga yang menjulurkan lidahnya. Setiap gerakan diiringi dengan aliran energi yang terlihat sebagai kilatan kebiruan tipis di sekitar tubuhnya.

“Perhatikan bagaimana energi mengalir seiring dengan gerakan tubuhmu,” jelasnya saat berhenti sebentar. “Jangan memaksakan kekuatan—biarkan energi itu mengikuti aliran alamiah dari setiap gerakan. Itu adalah kunci utama dalam menggunakan kekuatan naga.”

Feng mencoba menirukan gerakan pertama. Awalnya, gerakannya kaku dan tidak terkoordinasi. Energi yang keluar dari tubuhnya tidak stabil, terkadang terlalu kuat hingga membuatnya kehilangan keseimbangan, terkadang terlalu lemah hingga tidak ada efek sama sekali.

“Jangan terburu-buru,” suara Linglong terdengar dari sisi ruangan. Ia sedang duduk di atas bangku kayu, menyaksikan pelatihan sambil mengoleskan ramuan obat pada luka di lengannya yang belum sembuh total. “Setiap gerakan perlu waktu untuk dikuasai. Bahkan aku membutuhkan hampir sebulan untuk bisa melakukan gerakan pertama dengan benar.”

Feng mengangguk dan mencoba lagi. Kali ini, ia fokus pada perasaan aliran energi di dalam tubuhnya, mencoba menyelaraskannya dengan gerakan tubuhnya. Perlahan-lahan, gerakannya menjadi lebih lancar. Saat ia melakukan serangan seperti kepala naga, kilatan keemasan muncul dari telapak tangannya, menyatu dengan gerakan tersebut.

“Bagus sekali!” puji Ye Tianhong. “Sekarang gerakan kedua—Gerakan Leher Naga yang Melengkung!”

Sebelum mereka bisa melanjutkan, suara kaki berjalan yang kuat terdengar dari pintu masuk ruangan. Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun dengan rambut hitam yang rapi dan wajah tampan namun penuh dengan kesombongan memasuki ruangan. Ia mengenakan baju latihan berwarna ungu tua dengan bordiran emas di tepinya.

“Paman,” sapanya dengan sedikit menyembah kepada Ye Tianhong. “Aku dengar ada anak baru yang sedang dilatih dengan teknik khusus keluarga kita.”

“Ini Ye Chen, sepupuku,” bisik Linglong kepada Feng. “Dia adalah salah satu murid terbaik di kompleks kita, tapi terkadang terlalu percaya diri.”

Ye Chen mengalihkan pandangannya ke Feng dengan tatapan yang penuh dengan rasa tidak senang. “Bukankah kamu itu anak desa yang orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam? Apa yang membuat kamu layak belajar teknik keluarga Ye?”

“Ye Chen!” suara Linglong terdengar dengan tegas. “Feng adalah tamu kita dan juga keturunan Keluarga Chen yang mulia. Kamu tidak berhak berbicara seperti itu!”

Tetapi Feng mengangkat tangannya untuk menghentikan Linglong. Ia menatap Ye Chen dengan mata yang tenang tapi penuh dengan tekad. “Aku tahu bahwa aku masih banyak yang harus pelajari. Tapi aku akan bekerja keras untuk menjadi cukup kuat untuk menghadapi musuh kita bersama-sama.”

Ye Chen hanya menyeringai. “Kata-kata mudah saja. Bagaimana kalau kita lakukan ujian kecil? Jika kamu bisa mengalahkan aku dalam pertarungan tanpa menggunakan energi naga, aku akan menerima kamu sebagai murid di kompleks ini. Jika tidak… kamu harus pergi dan tidak pernah kembali.”

“Ye Chen, itu tidak adil!” teriak Linglong. “Kamu telah berlatih selama bertahun-tahun, sedangkan Feng baru saja memulai!”

Namun Ye Tianhong mengangkat tangannya untuk membungkamnya. Ia melihat kedua pemuda dengan mata yang penuh dengan pertimbangan. “Saya setuju dengan ujian ini. Tapi dengan satu syarat—hanya menggunakan teknik dasar pertempuran, tanpa energi apapun. Ini akan menjadi cara yang baik untuk mengukur kemampuan dasar Feng.”

Feng mengangguk dengan tegas. “Baiklah. Saya siap.”

Mereka berdua berdiri di tengah ruangan pelatihan, saling menghadapi. Ye Tianhong berdiri di sisi sebagai wasit, sementara Linglong menyaksikan dengan tangan terkepal khawatir.

“Pertarungan dimulai!” perintah Ye Tianhong.

Ye Chen menyerang dengan cepat, menggunakan serangkaian tendangan dan pukulan yang sudah terlatih dengan baik. Ia jelas memiliki keahlian yang tinggi dalam pertempuran jarak dekat. Feng terpaksa mundur terus-menerus, hanya bisa menghindari serangan-serangan itu dengan cepat.

Namun seiring berjalannya waktu, Feng mulai mengamati pola gerakan Ye Chen. Ia mengingat apa yang diajarkan ayahnya tentang pertempuran—bagaimana setiap penyerang memiliki kelemahan yang tersembunyi di balik serangan mereka. Saat Ye Chen melakukan serangan dengan tangan kirinya yang kuat, Feng melihat celah di pertahanannya.

Dengan kecepatan yang tiba-tiba, Feng menyelinap ke sisi kanan Ye Chen dan menggunakan gerakan lempar yang diajarkan oleh ayahnya saat dia masih kecil. Ye Chen terkejut dan kehilangan keseimbangan, hampir terjatuh ke lantai. Ia berhasil menstabilkan diri pada saat terakhir, lalu melihat Feng dengan ekspresi yang tidak percaya.

“Bagaimana kamu bisa mengetahui gerakan itu?” tanyanya dengan suara sedikit terkejut.

“Ayahku mengajarkannya padaku sebelum…” Feng berhenti sejenak, mengingat momen terakhir dengan ayahnya. “Dia bilang bahwa terkadang kekuatan bukanlah segalanya—kecepatan dan kecerdikan juga penting.”

Ye Chen menyerang lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. Pertarungan menjadi lebih seimbang. Feng menggunakan kecepatannya untuk menghindari serangan-serangan kuat Ye Chen, sementara Ye Chen mencoba menggunakan kekuatannya untuk mengatasi kelincahan Feng. Setelah beberapa menit bertempur, mereka berdua berdiri menghadapi satu sama lain, napas mereka sedikit tersengal-sengal.

“Saya mengakui bahwa kamu memiliki bakat,” ujar Ye Chen dengan suara yang lebih hormat. “Tapi kamu masih memiliki banyak yang harus pelajari. Saya akan mengizinkanmu untuk tetap dan belajar di sini—asal kamu bersedia bekerja keras dan tidak menghalangi jalanku.”

“Terima kasih,” jawab Feng dengan senyum kecil. “Saya juga punya banyak yang ingin pelajari darimu.”

Ye Tianhong mengangguk dengan puas. “Baiklah, itu sudah cukup untuk hari ini. Chen Feng, kamu menunjukkan bahwa kamu memiliki dasar yang baik dan kecerdikan yang dibutuhkan untuk menjadi pembela yang hebat. Besok kita akan melanjutkan pelatihan teknik naga, dan Ye Chen akan membantu kamu dalam latihan pertempuran jarak dekat.”

Setelah pelatihan selesai, Linglong mendekati Feng dengan wajah yang ceria. “Kamu hebat sekali! Aku tidak menyangka kamu bisa bertahan melawan Chen seperti itu!”

“Dia memang sangat kuat,” ujar Feng sambil menggosok bahunya yang sedikit sakit karena benturan. “Saya punya banyak yang harus pelajari darinya.”

“Jangan khawatir,” kata Linglong sambil mengambil tangannya dengan lembut. “Aku juga akan membantu kamu setiap hari. Kita bisa berlatih bersama setelah pelatihan dengan ayahku.”

Rasa hangat kembali muncul di hati Feng saat ia merasakan sentuhan tangan Linglong. Ia mengangguk dengan senyum, merasa bahwa mungkin ada harapan untuk kehidupan baru di Kota Yunlong selain hanya balas dendam.

Di luar ruangan pelatihan, Ye Chen berdiri di teras melihat mereka berdua. Wajahnya yang tadinya penuh dengan kesombongan kini digantikan oleh ekspresi yang lebih berpikir. Ia mengambil sehelai kertas dari saku bajunya—kertas dengan gambar lambang Sekte Ular Hitam yang sama dengan yang dimiliki Ye Tianhong. Ia meraih dagunya dengan serius, menyadari bahwa dengan datangnya Chen Feng, permainan kekuasaan di Tanah Seribu Pegunungan akan mulai berubah.

Malam itu, Feng kembali ke kamarnya dan mengambil kalung peraknya. Ia mulai merasakan energi yang mengalir darinya dengan lebih mudah sekarang. Ia berlatih mengendalikan aliran energi itu dengan lembut, membuatnya menyala dengan cahaya yang stabil dan terkontrol. Ia tahu bahwa perjalanan panjang masih menantinya, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia berada di jalur yang benar.

1
takupr
gass tur
ajanh
good
ajanh
gass truss ye chen🔥🔥
mamak
semangat
mamak
🔥🔥🔥
aure
🔥🔥
aure
mantap luar biasa
zoro
gass🔥
zoro
uraaa💪
zoro
luar biasa
tyson
keren
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!